Menulis Adalah Ekskresi

Posted: Senin, 03 November 2014 by Divan Semesta in Label:
3

Menulis itu apa?

Menulis adalah ekskresi: adalah mengeluarkan banyak khayalan yang ada di dalam diri, didalam angan supaya kondisi kita kembali normal adanya. Ini benar logh!. Mari kita sederhanakan. Ekskresi muncul karena input. Kita makan maka keluarlah itu ampas melalui keringat, --melalui sesuatu yang saya tidak tega menyebutkannya. Ketika kita ditempa sekian banyak informasi yang datang, input itu mau kita apakan?. Dibiarkan menjejal dikepala? Kalau sesudah makan kita nggak ekskresi, badan bakal jadi septictank yang berjalan. Kita pasti kesakitan.

Kalau kita sudah melahap informasi –atau dipaksa memakannya--, kejadiannya bakal sama. Pening kepala ini kalau tidak segera mengeluarkannya. Itulah mengapa saya bilang menulis itu ekskresi sebab menulis –bukan saja-- terkait dengan kesehatan tubuh melainkan –kesehatan-- mental juga.

Menulis bisa di analogikan dengan apa saja, --sekena yang kita mau. Kalau bermusik adalah seni melukis dengan nada, melukis adalah seni ekspresi menggunakan kanvas, maka menulis itu apa?

Menulis itu merupakan seni melukis dengan kata. Melaluinya kita dapat mengekspresikan kegundah-gulanaan mengenai fenomena; mendeskripsikan khayalan-khayalan absurd didalamnya; dan merekonstruksi dunia yang ada di dalam benak manusia.

Dalam kaitannya dengan hal yang terakhir, seorang filsuf China pernah mengatakan bahwa, dengan menulis kita dapat menurunkan bulan yang ada di atas angkasa menuju dunia manusia.
Meski terlalu berlebihan, saya meng-akur-kan pernyatan filsuf itu.
Mudah-mudahan kamu mengerti tentang ini :).

Nah setelah bicarakan perumpamaan menulis yang kurang serius. Sekarang saya akan memaparkan usaha menulis menurut pandangan saya pribadi.

Menulis itu apa?
Bagi saya, menulis adalah usaha untuk masuk ke dalam. Melukis adalah memasuki jiwa untuk memecahkan misteri diri --kita-- selaku manusia. Menulis adalah kegiatan meneropong neumena yang ada dibalik fenomena. Ada sebuah cerita pendek mahsyur, yang bakal menjelaskan bagaimana kegiatan menulis dapat menjadi kegiatan meneropong neumena.

Ceritanya begini:

Suatu saat seorang pemuda kebingungan mencari kunci di beranda rumahnya. Setelah sejam dua jam –pabaliut-- mencari dan tidak menemukan kunci, seseorang bertanya padanya.
Dimana kau jatuhkan kunci itu?.
Sambil garuk-garuk giginya (?) si pemuda berkata
Saya jatuhkan di dalam rumah.
Aneh-aneh saja kau ini!. Kalau terjatuh di dalam rumah kenapa mencarinya di beranda?.
Dengan mimik lugu, pemuda itu bilang.
Abisnya di dalam gelap, sedangkan diluar terang!.

Bagi saya cerita itu begitu membekas didalam diri saya. Saya menganggap bahwa di --yang menulis cerita—adalah manusia yang senantiasa meneropong pendalaman dirinya. Ia menemukan bahwa manusia selalu, mencari jawaban diluar jiwa. Manusia takut untuk mengeksplorasi padahal diri manusia kaya akan jawaban kehidupan. Manusia takut untuk ‘mengekskavasi’ padahal di dalam diri manusia, terdapat penyembuh bagi kesakitan jiwa; padahal di dalam jiwa terdapat antibodi* yang bakal menyembuhkan kegelisahan --yang jika dibiarkan dapat menyebabkan manusia jadi penghuni tetap ... rumah sakit jiwa.

Barang Siapa Yang Mengenal Dirinya Maka Ia Akan Mengenal Rabb-nya
Barang Siapa Yang Tak Mengenal Dirinya Maka Tak Mengenal Rabb-nyaMenulis berarti menguak berbagai macam penyadaran. Menulis berarti membedah dan menemukan diri menggunakan teropong neumena. Seandainya neumena ditemukan maka –penemuan-- itu akan memperkuat penghambaan diri seseorang pada-Allah-nya.

Dengan menulis saya –senantiasa--, berusaha --dalam dosa dan pahala-- untuk menghadirkan diri, sebaik-baiknya dihadapan Dia... dihadapan Allah selaku pemilik saya.


Bagi saya, menulis adalah kegiatan melawan. Saat menulis dalam diri saya tumbuh kesadaran bahwa das sein tidak sesuai dengan das sollen, bahwa realita tidak sesuai dengan bayangan di dalam benak. Dengan menulis saya menyadari bahwa realitas sosial, tidak sesuai dengan kemanusiaan. Saya menyadari bahwa banyak anak manusia, mati karena negara tidak memberikan jaminan kehidupan untuknya. Saya menyadari bahwa banyak ketimpangan terjadi; menyadari bahwa banyak dari kalangan kita, yang dizalimi ... maka –disanalah-- menulis menjadi sebuah alat untuk mengembangbiakan ‘subversivisme’. Maka untuk itulah saya berharap, kalian mau menulis dan menjadikan realitas sosial sebagai pemantik untuk mengkabarkan kebobrokan dan penindasan sistemik yang nyata dan merajalela.

Ayo ...Jadikanlah tulisan sebagai lambang keterjijikan diri pada sistem bobrok yang menghegemoni ini. Ayo muntahkan!
Ayo ... Jadikanlah realitas sosial sebagai detonator jiwa.
Ayo ledakan... sebab menulis adalah berkata-kata, sebab berkata-kata adalah: SENJATA!

Gimana jadi Penulis Hebat

Nah, sekarang kita bicara bagaimana caranya jadi penulis hebat. Gimana caranya?, saya juga tidak tahu karena saya jarang merasa hebat. Lagipula hebat itu kan relatif. Kehebatan menurut kamu –mungkin-- berbeda dengan kehebatan saya.

Kamu --mungkin—menganggap bahwa penulis terhebat di Indonesia itu adalah Dee Supernova, Djenar Maesa, atau Helvy Tiana. Namun, bagi saya, penulis terhebat adalah Pramudya. Itulah, mengapa –saat ini-- saya jadi kesulitan membuat tips untuk menjadi penulis hebat (karena saya merasa seperti Liliput di hadapan ke-Gulliveran-nya dia.
Tapi baiklah, karena saya harus profesional mengisi acara ini, maka saya bisa berpura-pura, melakonkan diri jadi penulis hebat, dan kamu pun jangan lupa, untuk membayangkannya.

Bagaimana caranya menjadi penulis hebat?
Hm ... saya bisa menyelesaikan bahasan ini hanya dengan satu kata, yakni, menulislah!.
“Ah, kamu mah nge-bete-in aja.”
“Lha mau gimana lagi?. Ya satu-satunya cara cuma begitu. Nulis itu kan sama aja dengan naek sepeda, berenang atau maen bilyar. Kalau mau bisa jadi penulis hebat praktek!. Jalani proses penulisan. Jangan menyerah.”
“Kalo jawabannya cuman gitu doang, saya jadi nyesel ngundang kamu!. Perasaan dalam pelatihan-pelatihan penulisan, sarannya nggak gitu doang deh. Kamu menyesatkan saya ah!.”
“Ye, dibilang nggak percaya. Nih saya kasih tau. Begini ... meski kamu ikut pelatihan dua ribu kali sama Ustad Roy, kamu tetep nggak akan jadi penulis hebat, kalau kamu nggak menulis. Fungsi pelatihan penulisan itu sebenarnya bukan apa-apa selain memotivasi, supaya kamu mau nulis, dan mau menjalani proses untuk menjadi penulis hebat.”
“Perasaan nggak gitu-gitu amat. Seingat saya, kalau mau jadi penulis hebat, harus baca buku.”
“Nah itu tau, tapi apa baca buku itu menulis?. Baca buku ya baca buku!. Bukan menulis!.”
“Tapi, bukannya dari membaca, kita bisa dapat inspirasi..., dapet pemantik seperti yang kamu bilang diatas tadi.”
“O, nanya tentang inspirasi toh?. Okey saya kasih tau. Siap mendengarkan?.”
“Siap!.”
Banyak orang yang ingin menulis tetapi tak mendapat inpirasi. Dia menunggu-nunggu inspirasi seolah-olah inspirasi adalah bayi yang bakal jatuh dari paruh bangau. Tidak-tidak!. Jangan seperti itu, jangan menunggu, seolah-olah inspirasi akan datang langsung begitu saja. Undanglah inspirasi datang. Pancinglah dia!
Bagaimana cara memancingnya?
Ada banyak cara, misalnya dengan jalan-jalan, nonton film atau membaca buku. Kita akan bahas satu persatu.

Jalan-jalan.

Kamu bisa melakukannya kemana saja. Misalkan melalui jalan yang jarang kamu lalui. Lihat keadaan, lihat pagar, lihat tukang surabi, lihat solokan yang kamu lewati. Nah, itu yang keuangannya pas-pasan --kayak saya. Kalau kamu punya uang banyak, kamu bisa pergi naek mobil ke daerah-daerah yang belum pernah kamu singgahi; tinggal di pedesaan dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang bakal membuat kamu fresh; pergi kepantai; naek gunung dan lain sebagainya.

Nonton Film.

Film ini benar-benar membantu, untuk mendatangkan sesuatu yang kita obrolkan. Mengenai film, saya pernah punya pengalaman pribadi. Suatu waktu –iseng--, saya menonton film India. Film itu mengkisahkan tentang cinta (standar), dan disana, ada dialog yang mengharuskan saya untuk menulis --karena saya terinspirasi.
Suatu saat Sanjay membuat Prita menangis. Prita masuk ke kamar dan mengurung diri selama berhari-hari. Karena keperihan yang dalam, saat disuruh orang tuanya makan ia selalu menolaknya.

Orang tua Prita khawatir kesehatan anaknya, maka diutuslah nenek yang sangat menyayangi Prita. Setelah mengetahui apa yang menyebakan tubuh Prita menjadi kurus, neneknya memberikan pertanyaan yang menyadarkan “jika hati terluka, mengapa justru perut, yang kau sakiti?”

Jdak! Kalimat-kalimat itu mengiang-ngiang di kuping. Setelah selesai nonton, saya langsung menulis dan mengembangkan perkataan itu dalam bentuk essay.
Selanjutnya ...

Membaca buku

Kata seseorang, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula. Seorang kawan mengatakan demikian. Membaca adalah salah satu cara terbaik dalam mengembangkan imajinasi dan mendatangkan inspirasi. Jika kamu menonton, --kamu-- terlalu dimanjakan oleh visualisai sehingga benak kamu tidak terlalu memainkan imajinasi. Membaca itu berbeda, dengannya kita dapat membuat imajinasi yang tak terkira

Pokoknya, cobalah baca novel, ensiklopedia, atau kumpulan puisi, essay, dan cerpen. Jika bacaan itu bagus, saya yakin kamu bakal tersentak dan tiba-tiba ... inspirasi yang kamu tunggu-tunggu itu datang.
“Bang!?. Kalau inspirasi sudah datang, apa yang harus saya lakukan?.”
“Bang bang bang ... kamu yang bang, BANGKONG!:)”.
“He..., he... :D. Gimana dong!?”.
“Gimana apanya?.”
“Kamu ini kayak anak kecil yang maunya dihuapan!
Pokonya nulis!. Nulis!. Nulis! Dan nulis!. Kalau udah dapet inspirasi nulis!. Kalo belum dapet, undang itu inpirasi, terus nulis!”.
“Kalau udah dapet inspirasi, harus segera ditulis ya bang?.”
“Ya jangan didiemin. Kalo dalam prinsip bisnis men, uang itu harus diputerin supaya nggak abis, nah ... inspirasi juga kayak gitu!. Kalau inspirasi nggak langsung ditulis, nanti jadi basi. Kalau udah basi rasanya nggak enak, jadi hambar!.”
“Hambar kayak nasi goreng, yang kemaren abang masak itu ya?.”
“Heu...kumaha sia we lah!. Tapi gimana nih, udah dapet pointnya belum?.”
“Lumayan!, pokonya kalau ada inspirasi langsung ditulis.”
“Nah begitu dong!. Sekarang dari obrolan ini, kamu dapet inspirasi nggak?”.
“Dapet bang!.”
“Kalau gitu langsung tulis... omong-omong inspirasinya tentang apa?.”
“He... he... he ... jangan ah. Nanti marah!.”
“Ye mau bikin penasaran ya?. Tentang nasi goreng ya?.”
“Bukan!.”
“Tentang apa atuh?.”
“Tentang upil! ... upil yang nyempil di gigi abang!.”
“Huarggggggggggh!.”

Setelah mendapatkan inspirasi
Kemudian? Menulislah.
Film mengajarkan bahwa di awal awal menulis kita harus melakukannya dengan hati. Setelahnya, baru gunakan fikiran.

Menulis dengan hati membuat penulisan kita lancar --tidak patah-patah, karna dalam menulisnya kita tidak menggunakan pikiran. Karenanya, wajarlah setelah tulisan selesai, kamu pasti akan menemukan, tulisan yang tidak terstruktur. Hei!, jangan dulu kecewa, karena seperti halnya, sesuatu yang tertumpah, kata-kata, --yang tertumpah-- bakal ada yang tidak klop dengan tema penulisan. Nggak apa-apa, jangan cemas, karena rata-rata penulis sekaliber apa pun pasti memiliki pengalaman seperti itu.

Setelah tertumpah baru tulislah dengan fikiran. Edit tulisan kamu. Strukturkan!. Kamu pilih-pilah kata, bolak-balikan susunannya sampai pas seperti yang kamu inginkan -- keinginan yang sekiranya sesuai dengan pemahaman pembaca yang bakal menilai kerja kamu. Setelah edit berulang kali. Selesailah itu tulisan. Lalu?
Sebarkan!

Mengenai-sebar menyebar tulisan ini juga bukan sesuatu yang mudah. Diawal penulisan kamu sudah harus mengetahui kalangan mana yang kamu bidik. Kamu sendiri udah tau kan, kalau secara alamiah, ketika ada sesuatu yang disuka, pastilah ada sesuatu yang tidak disuka. Kalau kamu menulis sesuatu yang berat, misalnya ideologi dengan bahasa yang ilmiah maka ‘jangan kasih’ itu tulisan ke orang-orang yang kurang faham mengenai bahasan yang menjelimetkan. Kecuali, kamu mampu membahasakan dengan baik, sesuai dengan --bahasa—kalangan, yang ingin kamu berikan --taruhlah ... pencerahan.

Maksudnya bagaimana?

Begini, saya akan menuliskan pandangan mengenai ideologi.
Menurut Marx, ideologi adalah kesadaran palsu, tetapi menurut Annahani berbeda lagi. Ideologi merupakan sebuah pemahaman fundamental, pemahaman yang radic, mengenai alam semesta manusia dan kehidupan. Yang dari landasan pemahaman itu, direkonstruksi way of life mengenai kehidupan.

Kalau saya bicara pada orang-orang kayak kamu, maka kita bisa nyambung, tanpa perlu menjelaskan lagi, mengenai ‘kesadaran palsu’, makna ‘fundamental’, ‘radic’, ‘rekonstruksi’ dan ‘way of life’. Tentang hal itu, kita sudah bisa connect satu sama lainnya. Tapi coba utarakan hal itu pada ibu-ibu yang suka jualan gado-gado dekat kosan kita. Wah, pasti sangat sulit untuk dipahaminya.

Oleh karenanya, saat melakukannya, kamu harus menulis tulisan yang sesuai dengan segmentasinya. Sesuaikanlah!. Pas-kan-lah, supaya kata-kata kamu, supaya pemikiran kamu bisa segera dimamah biak dan dicerna.

Saat informasi --yang kamu sampaikan—sudah pas dengan segmentasinya kemudian massif dibaca ‘kalangannya’. Maka --lama-kelamaan-- kalangan itu, akan mengalami keinginan ekskresi seperti yang dulu pernah kamu rasakan. Mereka akan mengalami keinginan untuk memuntahkan, dan meledakan.

Menyambung dengan bahasan kita sebelumnya, --maka sejak saat tulisan itu dibaca--, kamu sudah berperan sebagai pengembangbiak ‘subversivisme dalam berfikir. Maka sejak saat itulah, kamu menjadi seorang yang ikut berpartisipasi untuk menutup zaman yang usang, kemudian menggantikannya dengan zaman yang baru. (DS)

3 komentar:

  1. Hahahahaha... ini tulisan masih saya simpen, waktu akang ngasih pelatihan kepenulisan sekitar 7 tahun yang lalu :)

  1. luarr biasa...energinyah

be responsible with your comment