Mendahulukan Golongan yang Memusuhi Para Sahabat Rasul Ketimbang Mendahulukan Golongan yang Melakukan Pembelaan Atas-nya

Posted: Kamis, 06 November 2014 by Divan Semesta in
0







Bismillahirrahmaanirrahim ...

Dimasa itu, bahkan engkau akan mengetahui dari tulisan-tulisanku entah berapa essai dan novel, aku mencantumkan tokoh tokoh revolusi Iran seperti Murtadha Muthhari, Khomainy atau Ali Syariaty.

Buku buku mereka kumamah dengan baik, kudiskusikan dengan hangat di selasar masjid Universitas Padjadjaran. Di kos-kosan atau di tempat kami menyantap makan pagi, siang atau malam. Aku juga mempelajari retorika dari tokoh Syiah Indonesia Jalaludin Rakhmat. Bahkan aku memiliki beberapa orang teman yang mengambil Syiah sebagai keyakinan yang dulu kuanggap sebagai madzhab seperti halnya madzhab Syafie, Hambali, Hanafi dan lain sebagainya.

Beberapa tahun kemudian akupun masih seperti itu, masih sering mengutip tokoh tokoh yang menjadi think-tank-nya revolusi Iran 79 bahkan meceritakan kisah kesederhanaan Ahmadi Nejad. Beberapa tahun kemudian buku-buku yang kukonsumsi, pergaulan yang kujalani itulah yang menyebabkanku berdebat dengan seorang anak komunitas Pasti Mati, yang mengatakan bahwa Syiah begini dan begitu. Bahwa Syiah itu kafir.
Dalam perdebatan itu kusampaikan pendapatku mengenai Syiah, kubagi-bagi Syiah itu ada berapa dan lain sebagainya. Bahkan kukatakan bahwa jihad yang terjadi di Suriah, jika aku diberi kesempatan oleh Allah, maka jihad-ku akan kuniatkan bukan untuk memusuhi Syiah melainkan memusuhi tiran, ketidak adilan Bashar al Assad.
            Aku masih mengingat pada saat itu sahabat-sahabat di band-ku, bassis GunXrose dan seorang temannya sedikit terkejut dengan cara pandangku. Mereka, sahabat-sahabatku itu kebingungan. Mungkin –karena mereka menganggap—bahwa aku memiliki pandangan tauhid yang dianggap cukup baik, tetapi absurd-nya tidak memahami Syiah itu seperti apa, tak memahami taqiyah itu bagaimana. Mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.

            Kemudian Allah memperjalankanku ...

Aku menambah kenalan lagi dengan beberapa orang Syiah di Indonesia dan melakukan perbincangan hangat mengenai banyak hal: mengenai 12 imam, mengenai Ali dan mengenai para sahabat Rasulullah.

Pada umumnya orang yang kukenal ini tidak menyudutkan Abu Bakar, Umar, Utsman dan sahabat lainnya. Mereka semua –hampir-- mengatakan hal yang sama. “Jika ada seorang yang mengaku Syiah kemudian menjelekkan ketiga orang Khalifah tersebut maka bakarlah mimbarnya, seandainya ia tengah berkhotbah!”

            Lantas, perkataan itu kusimpan didalam memoriku dan terus mengikuti beberapa page Syiah dan perdebatannya, hingga kemudian menemukan sesuatu yang aneh. Aku menemukan orang-orang yang acapkali kuajak berbincang di media sosial kehilangan integritas tatkala beberapa orang Syiah lainnya menampakkan kebencian menyala-nyala, kebencian yang berada di luar nalar terhadap sahabat-sahabat Rasulullah.

Diantara mereka --yang akunnya kalau tidak salah--, Abu Bakar Gosong (atau apalah) mengatakan bahwa Abu Bakar berada di kerak neraka, Aisyah adalah pelacur, pezinah, sementara Utsman adalah biangnya nepotisme sekaligus akar benalu munculnya dinasti/kerajaan di dalam pemerintahan Islam.

Lain lagi yang ekstrim lainnya. Diantara mereka ada yang menyatakan. “Umar itu punya penyakit di kelaminnya, gonorhoe, dan cara untuk menyembuhkan gonorhoe-nya adalah dengan menyodom anak anak remaja! Umar gemar melakukan hal itu!”

            Aku tentu marah dengan omongan semacam itu, tetapi aku lebih marah kepada kenalanku. Orang-orang yang mengatakan bakarlah mimbarnya itu berdiam diri, bahkan dari pesan-pesan, komentar komentarnya terkesan mengizinkan dan tidak mempermasalahkan. Mereka saling berkomentar, saling berpagutan kata-kata seolah mereka adalah teman mesra di dunia nyata. Aku mulai kehilangan kepercayaan. Inikah yang dinamakan taqiyah?
           
Ada lagi kisah lainnya.
Di tempat kerja aku memiliki rekan yang shalatnya sangat khas Syiah. Ia dan beberapa teman kerjaku lainnya (ada dua orang) jarang mengikuti shalat Jumat. Kalaupun shalat Jumat mereka selalu shalat lagi setelah shalat Jumat selesai ditunaikan.

Gaya mereka shalat tidak bersidekap (ada madzhab ahlusunnah lain pula yang shalatnya seperti ini). Ketika berbicara dengan mereka, ada beberapa yang santun, namun ada satu yang agresip tapi sepanjang pergaulanku dengannya, aku tidak pernah menemuinya melecehkan tiga sahabat Rasulullah. Yang masih ku ingat ia hanya pernah menyampaikan, bahwa Khalid bin Walid pernah menikahi orang yang sudah bersuami. Yang masih ku ingat, ia hanya menyampaikan pertanyaan-pertanyaan --yang kini kurasa-- dikeluarkan untuk menggoyangkan kredibilitas mereka yang di hormati oleh orang-orang Sunni sepertiku. Hingga kemudian Allah menyibakan hijab.

Pada satu ketika, pada saat kami makan siang sebuah perbincangan terjadi. Kami membicarakan pembantaian yang dilakukan oleh Sisi terhadap Ikhwanul Muslimin. Aku tidak menyukai IM saat ini (IM Hasan al Banna dan Sayyid Quthb aku menyukainya) karena pendapat mereka tentang Demokrasi dan percampuran mereka dengan sistem kufur hingga ada begitu banyak syubhat yang mereka tebarkan, akan tetapi hal ini tidak menyurutkanku untuk membela (Neo) Ikhwanul Muslimin saat di bantai Sisi. Aku kemudian menghangatkan obrolan dengan sebuah pertanyaan. “Bagaimana mungkin Sisi mengkudeta pemerintahan berdasarkan kesepakatan yang sudah dipilih mayoritas masyarakat Mesir, kemudian ketika masyarakat dan aktivis IM menuntut keadilan dengan berdemonstrasi maka apa yang mereka lakukan dianggap sebagai bughat, sebagai pengkhianatan? Siapa yang berkhianat? Siapa yang mengkhianati siapa? Bukankah presiden sebelumnya adalah presiden sah yang kemudian digulingkan, dikudeta oleh pihak Sisi? Yang mengkudeta balik mengatakan dikudeta!”

            Aku gunakan logika seperti itu –sekali lagi-- bukan karena aku menyetujui akan tetapi untuk memberikan tempat pada sikap fair. Lalu teman kantorku yang selalu mengingatkanku pada karakter lawyer ILC itu membantah habis-habisan dengan menekankan bahwa semua yang terjadi adalah kesalahan IM. Tak disangka perbincangan kemudian menghangat, dan menjadi panas manakala kami mengetengahkan kasus Suriah. Ia mengatakan bahwa yang terjadi di Suriah dipelintir oleh media massa. Bahwa yang melakukan pembelaan disana bukanlah jihad.

Aku katakan tentang pembunuhan yang dilakukan rezim Bashar, digunakannya senjata kimia di Ghouta yang mengakibatkan ribuan anak-anak mati, dibongkarnya keberadaan kuburan masal pembunuhan yang dilakukan rezim Bashar, adanya milisi Syiah Shabiha yang menyiksa muslim Ahlusunnah tanpa batas peri kemanusiaan menggunakan gergaji, mencongkeli mata, menyayat-nyayat, memperkosa dan membunuh anak-anak tak berdosa aku sampaikan semua.

Ia berkata sumberku bermasalah. Aku pun mengatakan sumber mu pun bermasalah. Ia mengutip Reuters, Kompas, CNN, BBC. Aku tertawa dan aku katakan aku tak mempercayai media macam itu. Ia kebingungan, hingga aku tak ingat lagi memperbincangkan apa selain kami kemudian memperbincangkan mengenai sahabat Rasulullah. Kami berdebat mengenai muslim Ahlusunnah dan Syiah.

            Ia bersikeras “Itu masalah politik!”
            “Iya ini masalah politik tetapi masalah kezaliman juga yang dilakukan oleh orang-orang yang menghina sahabat Rasulullah. Menghina Abu Bakar, Umar dan Utsman.”
            Wajahnya mulai berubah.
            “Abu Bakar itu mengambil kekuasaan dari Ali Ra. Demikian halnya dengan Umar dan Utsman.” Ia menyampaikan pendapatnya, dan tiba tiba aku menemukan sesuatu.
Mengapa ia tidak pernah menyematkan radiallahuanhu (ra.) doa semoga Allah me-ridhai-nya terhadap Abu Bakar Umar dan sementara ia menyematkan ra. untuk Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat Rasul yang juga kucintai.
            Aku kemudian menyudutkannya tiba-tiba.
            “Abu Bakar itu muslim atau bukan?”
            Dia terpekur. Kebingungan dengan pertanyaan mendadak itu. Matanya tak berani menatap mataku.
            “Abu Bakar itu muslim atau bukan?” Aku mengulanginya.
            “Abu Bakar itu Khalifah dan..” terbata.
            “Gua gak nanya Abu Bakar itu Khalifah! Gua nanya Abu Bakar itu muslim atau bukan?”
            “Dia itu Khalifah, Mas...” nadanya mulai merendah. Ia sepertinya menyusun sesuatu. Tapi tetap kutanyakan kembali, kutatap matanya tajam.
            “Abu Bakar itu muslim atau bukan?!”
            Ia mengalihkan pandangan matanya seperti putus asa. “Dia Khalifah.”
            Aku tak ingin melanjutkan. Aku bukan hanya kecewa, tetapi merasa jijik. Kemudian kukatakan padanya. “Sekali aja elu ngejelekin sahabat yang mulia, hm...” kupandangi matanya.
Aku tak meneruskan kalimatku. Biar ia yang menginterpretasikannya.

Maka semenjak saat itu aku mulai kehilangan kepercayaan kepada kebaikan kebaikan orang-orang Syiah. Aku mulai berpikir ulang mengenai taqiyah. Apa mungkin apa yang dikatakan orang-orang bahwa orang Syiah gemar taqiyah atau berdusta demi menyembunyikan keyakinannya benar adanya?

Berulang-ulang aku menemukan penandanya. Maka, kemudian kuputuskan berhenti ber-husnudzan. Cukup sudah aku menelaah buku buku mereka. Cukup sudah –hampir satu dekade--aku mengagumi cara berutur mereka --yang memabukan secara bahasa karena mereka memang mempelajari filsafat. Cukuplah kini aku mendengarkan ucapan Salafussalih, para imam Madzhab mengenai Syiah itu seperti apa.

            Kamu, ya Kamu yang kini tengah membaca tulisanku. Kini giliran  kalian aku memperbincangkan hal yang penting ini.

Kalian, ya ...  diantara kalian ada pula sahabat-sahabatku, yang sama sekali tidak mengenal Syiah.
Ya, tulisan ini aku tujukan untuk kalian. Tulisan ini kutujukan untuk mencari ridho Allah dengan menyampaikan salah satu risalah Ahlussnnah mengenai Syiah.
           
Engkau sahabatku, engkau kawan kawanku. Aku mengetahui dari berbagai media sosial dari berabagai postingan yang aku ikut menjadi bagiannya, bahwa saat ini kalian berusaha menjauhkan kepercayaan orang terhadap Islamic State yang saat ini tegak di belahan bumi Syam.

Aku mengetahui bahwa apa yang kalian lakukan itu merupakan perpanjangan seruan seruan seruan dari orang yang kalian percayai mengenai Syiah, ya Syiah.

Melalui seruan atau yang kita kenal sebagai bayan itu kalian menyampaikan bahwa IS melakukan pembunuhan keji terhadap kaum muslimin, karenanya hal itu merupakan salah satu hal yang kalian ajukan untuk menolak IS.

Kalian menyampaikan seruan untuk persatuan antara Suni dan Syiah. Kalian yang berusaha kucintai, kalian sahabatku, kalian kawan-kawanku yang berusaha kukasihi lalu mengadakan seminar seminar untuk menjatuhkan kredibilitas IS, membuat poster poster dengan mengambil background pembunuhan yang dilakukan oleh tentara IS terhadap militer dan milisi bersenjata Syiah Bashar dan rezim Syiah Iraq sebagai tindakan barbar, sebagai tindakan yang tidak Islami jauh dari gambaran Kekhilafahan Minhajjin Nubuwwah.

Maka, perkenankan aku untuk mempertanyakan seruan penyatuan itu. Maka kembalilah disini, berkumpul disini untuk mendiskusikan kembali, untuk merenungkan kembali siapakah yang kalian anggap muslim itu?
Siapa yang ingin kalian persatukan itu?
Bagaimana imbas politis ucapan itu?
           
Aku tak akan langsung membahasnya. Aku akan mengajak kalian untuk berjalan masuk kedalam lorong sejarah yang aku yakin kalian pun mengetahuinya.
Aku mengajak kalian, untuk sedikit memahami mengapa pandanganku kini berubah mengenai Syiah.
 Aku hanya akan menambahkan logika syar’i mengenai salah satu diantara hal yang menyebabkan para imam Madzhab memusuhi Syiah.
Aku akan memulainya dari serangkaian pertanyaan:

Sebuah Jembatan Kepercayaan
            Coba renungkan pertanyaan ini:
Sahabatku, kawan-kawanku... siapa yang dimintai Rasulullah Muhammad, untuk menyertai-nya hijrah?
Engkau akan menjawabnya, Abu Bakar.
Engkau benar.
Siapa yang memapah Rasulullah Muhammmad saat tiba di gua Tsur, mengikatkan badan beliau dengan badannya hingga sampai di mulut guanya?
Abu Bakar.
Sesampainya di gua, lalu Abu Bakar berkata. “Demi Allah janganlah engkau masuk kedalamnya sebelum aku masuk terlebih dahulu. Jika didalamnya ada sesuatu yang tidak beres biarlah aku terkena asal tidak mengenai engkau.  Lalu Abu Bakar masuk kedalamnya, membersihkan segala,  mempersilahkan Rasulullah untuk istirahat.
Lantas, dimanakah Rasulullah menelekan kepalanya?
Batu?
Perbekalan?
Tidak. Rasulullah tidur di pangkuan Abu Bakar seperti seorang anak yang tidur dipangkuan ibunya.
Pada saat tidur sebuah peristiwa terjadi, Abu Bakar tersengat binatang. Ia menahan kesakitan itu mati-matian. Ia menahan sakit karena tubuhnya yang bergoyang akan membangunkan Rasulullah. Akan tetapi, air mata Abu Bakar menetes jatuh ke wajah Rasul. Rasulullah terbangun dan menyaksikan wajah Abu Bakar merah menahan sakit. Beliau lantas meludahi dan mengoleskan bagian tubuh Abu Bakar yang tersengat hingga kemudian sakitnya hilang. Inilah persahabatan. Inilah cinta.

Dialah Abu Bakar, dialah lelaki yang kemudian ayat Quran turun untuk menghibur-nya melalui lisan Rasulullah yang mulia. Laa tahzan innalaha maana. Jangan bersedih Allah bersama kita. Inilah ucapan yang kemudian terkenal dan dijadikan judul buku spektakuler Aidh al Qarni yang mungkin pernah kita baca.
Dialah Abu Bakar.
Sosok lelaki mulia ashabiqunal al awwalun. Salah satu tokoh mulia yang masuk kedalam golongan, gelombang awal orang yang pertama kali masuk Islam.
Dialah Abu Bakar, seorang lelaki yang memberikan masukan mengenai tebusan tawanan perang hingga ayat Quran turun berkenaan dengannya.

Dialah Abu Bakar, yang ketika perjalanan Isra Mikraj dilakukan, dari Mekkah menuju Baitul Makdis lalu melesat hingga ke langit ke tujuh, hingga ke alam yang tak bisa dibayangkan, kemudian mengatakan. Aku mempercayai Rasululullah bahkan jika ada peristiwa lain yang melebihi peristiwa itu, Aku mengimaninya! Dialah orang yang keimanannya seteguh pegunungan granit ketika ketika banyak orang yang semula muslim, berbalik kebelakang, dan murtad dari keyakinannya. Peristiwa inilah yang menjadikan Abu Bakar diberi gelar As-Sidiq. Orang yang membenarkan, orang yang mempercayai. Mempercayai siapa? Muhammad Rasulullah.

Dialah Abu Bakar yang memilih keimanannya, menempur anak yang dibesarkannya karena bergabung dengan pasukan Musyrik. Dialah Abu Bakar yang memberikan pendapat mengenai nasib orang-orang musyrik harus diapakan pasca kekalahan mereka di Badar dan Rasulullah menjalankan pendapatnya bersama para sahabat. Dialah Abu Bakar yang senantiasa makan hanya dengan roti dan minyak samin pada masa kepemimpinannya sebagai Khalifah pasca wafatnya Rasulullah. Ada lagi kisah yang disampaikan dalam sebuah riwayat yang penyeleksiannya sangat ketat melebihi kaidah jurnalistik masa kini, bahwa sewaktu Abu Bakar wafat, beliau hanya meninggalkan sehelai kain usang sebagai selimut dan unta (yang itupun merupakan milik negara).

Dialah Abu Bakar yang Umar pun kemudian menangis saat melihat pemimpinnya (Abu Bakar) melakuakan sesuatu yang menjadi tolak ukur seorang pemimpin yang populis, seorang pemimpin yang konsisten mengikuti jejak yang dicintainya, yakni Rasulullah. Dialah Abu Bakar.

Sahabatku-kawan-kawanku...
Ada 1001 kebajikan yang dilakukan oleh Abu Bakar ra. pra ataupun pasca wafatnya Rasulullah hingga beliau menjadi Khalifah.
Jika saja engkau membuka sirah atau sejarah sahabat yang mulia ini, niscaya engkau akan melihatnya laksana kisah-kisah kebajikan para penguasa yang sulit ditemukan di masa kita saat ini.
***

Mari kita berpaling kepada Umar bin Al Khattab ra. Siapakah dia? Adalah seorang lelaki berkepala plontos yang jika orang berdiri ia beda sendiri. Tubuhnya menjulang sendiri diantara kerumunan orang-orang yang tinggi.

Dialah lelaki yang menjadi juara gulat di festival Ukadz dimana para penyair maupun petarung berkumpul untuk berjibaku, berkelahi, tarung, membuktikan siapa yang terbaik. Dialah lelaki yang sebelum dicelup oleh celupan Islam, --mungkin jika hidup dimasa ini, ia akan masuk ke arena Unlimited Fighting Championship, masuk ke gelanggang pertarungan brutal menantang Louis Gracie atau Sakuraba. Dialah lelaki yang kemudian didoakan oleh Rasulullah secara langsung, agar Allah menguatkan Islam dengan kekuatan dan kegagahannya.

Doa itu dikabulkan. Dan seumur hidupnya Umar ra. kemudian menjadi pembela Islam. Bersikap keras terhadap orang musyrik yang menzalimi muslim, dan bersikap santun, lembut terhadap sesama muslim yang lurus.
Dalam diri Umar bin al Khattab ra. Kita akan melihat keadilan, sikap kejujuran pada saat berhadapan dengan sorang wanita yang memprotes sikap-nya (Umar) tatkala menentukan mahar bagi wanita, sementara wanita tersebut mengingatkan bahwa Umar salah (wanita mulia itu mengutip al Quran dan mengutip ucapan Rasulullah).

Makam dihadapan kebenaran Umar tunduk.
Ia tidak memiliki sikap al kibr bathorul haq wa ghamtum naas, menyombongkan diri dihadapan kebenaran (nash) ketika nash muncul dihadapan dan menafikannya juga merendahkan oranglain sebagai sebuah bentuk kesombongan.

Melalui figur belia Umar ra. Kita pun bisa melihat keagungan keadilan Islam.
Pada satu peristiwa terdengar kabar, seorang anak gubernur Mesir (yang merupakan sahabatnya) memukuli seorang Yahudi karena masalah sepele (anak gubernur tersebut kalah lari). Karena tidak mau menerima perlakuan tidak adil tersebut, Yahudi dzimmi/yang baik dan mengikat dirinya dengan perjanjian itu, kemudian melaporkan hal ini kepada Amirul Mukminin.
Setelah melakukan serangkaian proses Umar memanggil sang Gubernur dan meminta Gubernur tersebut untuk menghukumi anaknya dengan dilecut.
Hukuman dilaksanakan, akan tetapi ternyata hukuman tersebut dilakukan diruangan tertutup.
Ini artinya hukuman itu tidak akan menjadi ibrah/bahan pelajaran, maka Umar meminta Gubernur itu untuk mengulangi hukumannya di hadapan khalayak ramai.
Umar bukan saja ingin memberi jera pada anaknya, dan ia pun berkata, bahwa ia (si pemuda) menjadi sombong dikarenakan kedudukan ayahnya. Maka ayahnyapun dihukum.

Kemampuan leadership Umar ra. Lelaki mulia ini bisa kita lihat dalam ungkapan walk the talk atau ungkapan yang menjadi diktum pelatihan leadership, yakni lead by example: jalani yang kamu katakan dan memimpinlah dengan contoh, bukan dengan bacot.

Sekelumit kisah mengetengahkan kuatnya leadership Umar ra. pada saat kaum muslimin memenangkan peperangan di sebuah daerah. Harta yang didapatkan dalam peperangan itu mengalir ke Madinah. Harta peperangan dibagikan, salah satunya gulungan-gulungan kain.

 Tak menunggu waktu Amirul Mukminin membagi rata kain tersebut kepada seluruh penduduk. Masing-masing penduduk –taruhlah-- mendapatkan 2 meter kain untuk dijadikan sehelai baju/gamis.
Usai pembagian tersebut khutbah dilangsungkan, maka pada saat itulah terjadi peristiwa yang tak disangka. Seorang lelaki berdiri seraya mengatakan, aku tidak akan mendengarkan ucapanmu, wahai Umar! Mengapa, tanya beliau. Lelaki itu kemudian memprotes fenomena dan mempertanyakan keadilan. “Engkau tidak adil?”
“Mengapa bisa begitu?”
“Engkau membagikan setiap penduduk kain berukuran dua meter. Sementara aku melihat engkau mengambil kelebihan kain untuk engkau gunakan bagi kepentinganmu sendiri! Aku tidak akan mendengarkan omonganmu!”
Lelaki bermain logika. Ia melihat tubuh Umar yang tinggi tegap menjulang, sementara sehelai kain yang dibagikan hanya cukup untuk membuat baju dengan tubuh lelaki kebanyakan.
Logika mengatakan bahwa Umar yang tubuhnya lebih besar ketimbang lelaki lainnya, pasti mengambil kelebihan kain untuk membuat baju yang dikenakannya.
Umar ra. tidak lantas marah, ia tersenyum. Baginya hal itu baik --ketika rakyat berani mengajukan keluh kesah langsung dihadapan pemimpinnya. Ia kemudian memanggil anaknya, Ibnu Umar untuk menjelaskan bahwa baju yang dikenakan ayahnya adalah jatah kain berukuran sama dengan yang didapatkan rakyat Daulah. Bedanya, kain itu ditambahkan oleh kain yang dimiliki dirinya (anak Umar/Ibnu Umar menyedekahkan kain jatahnya untuk Ayahnya, Umar bin al Khattab)
Akibat pengakuan itu, lelaki yang semula mengajukan protes tersungkur. Ia kemudian mengatakan. “Jika begitu, aku akan mengikuti Umar!”

Kisah ini tentu saya modifikasi karena saya tidak menemukan buku Syalabi dalam perpustakaan kecil saya. Kalian bisa mencari buku itu dan menelaah secara detail bagaimana kehidupan Umar bin Khattab yang mulia. Kalian bisa menemukan begitu banyak contoh sejarah yang begitu menakjubkan sehingga seorang non muslim bernama Michael H. Heart, seorang sejarawan memasukan Umar ra. kedalam 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Kalian bisa mencari banyak buku mengenai sejarah kehidupan Amirul Mukminin ini dan cobalah untuk mencocokkan kisah-kisah dibuku tersebut dengan film yang –mungkin—pernah kalian tonton bersama keluarga di bulan Ramadhan (Omar). Jika saja kalian menyempatkan diri untuk menelaahnya, niscaya kalian, niscaya kita akan merasa kecil dihadapan Umar ra. Niscaya kita akan menggelengkan kepala melihat kualitas kepemimpinan, kualitas pribadi lelaki didikan Rasulullah ini.

Itulah Umar ra. lelaki yang Rasulullah akui kebaikannya kepada Islam. Lelaki yang perkataannya banyak dibenarkan oleh al Quran *)

Note:
*)         Salah satunya terkait usulan beliau agar tawanan perang Badar dipenggal, lalu Al-Qur’an turun memberikan persetujuan. Ia berpendapat agar istri-istri Nabi Muhammad berhijad, lalu Al-Qur’an turun memberikan persetujuan. Ia berpendapat untuk menjadikan tempat Nabi Ibrahim saat berdiri mendirikan Ka’bah sebagai tempat shalat, lalu Al-Qur’an turun memberikan persetujuan dan lain sebagainya. Ada begitu banyak hadist yang memuji kebaikan dan keagungan beliau pula.

***

Selanjutnya, setelah menelaah sekelumit keagungan Abu Bakar ra, Umar ra. mari sahabatku, kawan-kawan-ku, kita beralih pada salah satu istri Rasulullah yang bernama Aisyah ra.
Siapakah beliau?
Ia adalah sosok wanita cantik yang wajahnya bersemu kemerahan sehingga Rasulullah kemudian memberikannya panggilan mesra, humaira.
Siapakah beliau?
Adalah Ibunda kaum muslimin.
Dialah seorang wanita terhormat yang dituduh olah orang-orang munafik melakukan zinah, hingga hampir seluruh penduduk Madinah membicarakannya. Pembicaraan yang memalukan dan menjijikkan ini kemudian sampai sampai di-telinga Rasulullah hingga beliau bertanya:
 “Hai ‘Aisyah, bagaimana pendapatmu tentang ocehan orang mengenai dirimu?”
 Aisyah ra. menjawab. “Aku tidak akan memberikan sanggahan apapun hingga Allah menurunkan sanggahan dari langit.
Aisyah ra. berdiri dengan keyakinan dan dengan kebanggan. Benarlah. Tak berapa lama kemudian, wahyu turun. Allah membebaskan tuduhan dengan menurunkan surat an-Nur ayat 11-26, yang diantaranya adalah :

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. (An-Nuur: 26)

Ayat-ayat yang turun ini meneguhkan kehormatan Aisyah ra., mensucikan dirinya pada saat ia dirundung malang.

Keagungan Aisyah ra. pun tampak dari kutipan hadist yang menyatakan keputusan Rasulullah untuk menikahi Aisyah ra. berdasarkan petunjuk wahyu yg datang dari langit. Rasulullah pernah melihat Aisyah dalam mimpi selama tiga hari tiga malam. Dalam mimpinya Jibril dtg dengan membawa gambar Aisyah ra. dalam sepotong kain sutera hijau seraya berkata, " ini adalah isterimu di dunia dan akhirat." (Mutaffaq 'alaih dan HR. Tirmidzi)

Di dalam riwayat lainnya Rasulullah terlihat begitu mesra, menyayangi Aisyah ra. Beliau memperumpamakan bahwa Aisyah ra. istrinya itu melebihi kelebihan dari wanita wanita yang ada, dengan menyatakan bahwa Aisyah ra. itu seperti halnya roti yang diberi kuah, sementara wanita lainnya, seperti roti.

            Nah, sudah cukup. Saya mencukupkan untuk membahas kebajikan, keagungan, keadilan, integritas ketiga sahabat itu, dan tidak membahas begitu banyak sahabat lainnya yang agung, yang ikut berperang, menumpahkan darahnya, men-darma-baktikan jiwa-nya, kekayaan yang dimilikinya untuk menjalankankan kaudah kausalitas agar Islam –atas izin Allah—bisa tegak.

Saya mencukupkan karena ruang tulis ini tidak akan cukup untuk membahasnya, dan karena saya pun –mengakui-- tidak memiliki kemampuan untuk menuliskan kebaikan-kebaikan mereka. Akan tetapi marilah kita renungkan sebuah ayat Al Quran yang menyimpulkan keagungan mereka. Bukalah Surat at Taubah 100. Dan kita akan menemukan teks seperti ini:

“Orang-Orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”

Siapakah orang yang dipuji oleh Allah di ayat tersebut?
Adalah orang yang pertama-tama masuk Islam *) ...  dan Abu Bakar, Utsman adalah gelombang pertamanya. (Adapun mengenai Muhajirin dan Anshar kalian bisa mengeksplorasinya sendiri. Ayat yang memuji sahabat/salaf ada banyak di Al Quran dan hadist).
Mari kita buat penekanan disini, dan kita kaitkan dengan apa yang ingin saya bagi sejak awal. Kali ini, saya hanya akan memfokuskan pada ketiga sahabat, Abu Bakar ra. Umar ra. Aisyah ra.
Apakah Allah dan Rasul-Nya mengetahui pengorbanan mereka untuk dien-Islam ini?
Ya.
Apakah Allah dan Rasul-Nya mengetahui integritas mereka untuk dien-Islam ini?
Ya.
Dan kemudian, Allah memuji dan menjanjikan surga-surga yang mengalir sungai di dalamnya, beserta pula hadis hadis jaminan Allah melalui Rasulullah bahwa mereka termasuk 10 orang sahabat yang dijamin masuk Jannah-Nya.
Maka, inilah titik kritisnya, point-terpentingnya. Perhatikan:
Ketika Allah memuji mereka, Rasulullah menyayangi mereka ....  kemudian ... orang Syiah mencela dan menistakannya! menjelekkannya dengan keburukan yang sangat ekstrim!
Maka, bukankah penafikan itu, penistaan itu, pencelaan itu berarti menafikan ayat Allah yang turun terkait mereka?
Maka bukankah penafikan, penistaan, penyelaan Syiah terhadap ketiga sahabat dan sahabiah itu berarti memburukkan perbuatan Allah ketika mengangkat derajat mereka?
Bukankah hal ini menunjukkan bahwa mereka mengkufuri ayat Allah dan mengkufuri hadist Rasulullah?
Apakah ini tidak kafir namanya?

Bagaimana mungkin seseorang tidak kafir sementara dirinya menghinakan Aisyah ra. ibunda kaum muslimin, istri Rasulullah?
Bukankah wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang buruk adalah untuk wanita yang buruk, Quran menyatakan demikian. Sementara Aisyah, masya Allah adalah istri Rasullah.
            Jika orang Syiah itu menghinakan Aisyar ra. maka niscaya secara tidak langsung mereka memvonis bahwa Rasulullah adalah lelakiyang keji karena beristrikan wanita (Aisyah ra.) yang mereka tuduh sebagai pezina, yang mereka katakan sebagai wanita pencemburu ekstrim, wanita gede adat, wanita tukang adu domba, wanita golongan munafik yang akan berada di kerak Jahannam.
Maka akibat omongan --yang bahkan diterakan didalam kitab kitab doa untuk melaknat ibunda Aisyah ra.-- kita dapat melihat bagaimana pejuang IS menendang mayat tentara rezim Syiah Iraq seraya berkata.
“Inilah bangkai-bangkai penghina ibu kita, ummul mukminin Aisyah.”

 
Maka saya kembali pertanyakan bagaimana tidak kafir ketika Allah dan Rasulullah meninggikan sementara mereka mencaci maki apa yang Allah tinggikan dan Rasulullah cintai?

Maka pertanyaannya lagi, ... apa kalian, sahabatku, kawan-kawanku, apakah Kamu tidak marah mereka dinistakan dalam buku buku doa yang kalangan Syiah buat?
            Kamu pasti menjawab, marah!
            “Kami marah!”           
“Marah! Kami meranggas!”
            Jika kamu marah, lantas mengapa kalian ingin menyatukan antara muslim Sunni yang mencintai para sahabat diatas dengan Syiah yang menghinakan para sahabat?
           
Saya ulangi sekali lagi pertanyaan ini, pertanyaan yang –insya Allah-- akan membekas di hati dan meninggalkan pertanyan besar dalam benak kalian:  
           
Jika kamu marah, jika kita marah mengapa kita ingin menyatukan antara muslim Sunni yang mencintai para sahabat diatas dengan Syiah yang menghinakan para sahabat?
Apakah kalian menganggap mereka adalah saudara kalian?  Menganggap mereka Muslim?

Mungkin kemudian kalian akan menjawab.
“Engkau, Divan! Engkau gagal paham terhadap seruan politis!”
           
Aku gagal paham? Maka aku pertanyakan jika aku gagal paham, lalu mengapa Kamu menghendaki sesuatu yang politis sementara politis-mu itu meninggikan Syiah yang menghina para sahabat?

Jika itu sebuah manuver maka mengapa manuver itu  memberi nafas pada Syiah kemudian gerakanmu, tempatmu berkecimpung itu merendahkan, menistakan, memonsterisasikan, men-zombie-kan mujahidin yang berperang untuk membela kehormatan para Sahabat, engkau menghororkan mujahidin IS yang berperang, menumpahkan darah, mengorbankan jiwanya untuk menegakkan keadilan atas diskriminasi Rezim Syiah terhadap muslim Ahlussunnah, dan menegakkan syariat Islam?
           
Mengapa kamu lebih mengutamakan seruan persatuan itu, sementara kamu meninggalkan persatuan dengan kaum yang mencintai para sahabat dengan alasan –kalaulah alasan itu alasan—politis?
           
            Apakah ini cinta?      
            Apakah ini cinta?
            Apakah ini cinta?
           
“Jangan sembarang ambil kesimpulan!” diantara Kalian sahabatku, mungkin akan menambahkan hal begini.
“Kami mengakui bahwa Syiah itu bukan muslim! Dan seruan itu harap ditafsirkan bahwa di dalam Khilafah Syiah dan Sunni bersatu. Bukankah non muslim seperti Kristen Yahudi, Majusi bisa hidup di dalam Khilafah?”
           
Subhanallah, maha suci Allah.
Hingga kini, aku tidak mendengar satupun perkataan petinggi-petinggimu yang menyatakan bahwa Syiah itu non muslim/kafir (itu yang pertama).
Aku beranggapan itu hanya interpretasimu sendiri atas seruan organisasi atau partai yang muncul.

Akan tetapi, baiklah, jika seperti itu pendapatmu, jika engkau menganggap Syiah yang mencerca dan menistakan sahabat yang dicintai Rasulullah dan sahabat-sahabat yang dipuji Allah, sebagai pihak yang harus dilindungi dipersatukan, artinya disayang dan dipersatukan dalam Khilafah, maka bagaimana pendapatmu dengan Ahmadiyah, sekte Mosadeq?  Akankah sekte sekte seperti itu dibiarkan hidup di dalam Khilafah?

Mampukah Engkau mengatakan bahwa sekte sekte yang:
mengambil ayat Quran, menginterpretasikan sembarangan,
memutarbalikan hadist dan menambah-nambahkannya akan diberi perlindungan,
sementara mereka menghancurkan fondasi Islam?
Tidak.
Kukatakan engkau tidak akan mampu menjawabnya.

Ahmadiyah berbeda dengan Kristen, Yahudi dsb, mereka, Ahmadiyah dan Syiah menggunakan ayat Quran dan hadist untuk mengaburkan pemahaman terhadap Islam.

Sekali lagi kuulangi: Kristen tidak, melakukan itu. Yahudi tidak melakukan itu karena mereka memiliki kitabnya sendiri yang berbeda dan tidak mengutip kitab suci kita, akan tetapi Syiah sama seperti Ahmadiyah, sama seperti sekte Mosadeq. Syiah, Ahmadiyah, Mosadeq menggerogoti Islam dari dari dalam.
Maka apakah akan engkau masih bertahan dengan pembelaanmu kemudian mengatakan bahwa tidak semua Syiah kafir, bahwa masih ada Zaidiyah.

Jika begitu, lihatlah, perhatikanlah siapa Syiah yang diperangi di Suriah dan di Iraq.
Apakah mereka Zaidiah?
Bukan! Mereka rafidhah, mereka bahkan lebih ekstrim dari itu dan melakukan pembunuhan dan diskiriminasi mengerikan yang terencana.  
Mereka bahkan lebih ekstrim lagi.

Lantas jika begitu lagi-lagi kupertanyakan, mengapa engkau menyatakan persatuan Sunni dan Syiah di Suriah dan Iraq, sementara Syiah yang di Iraq dan Suriah itu ghulat.”

Saudaraku, kawan-kawanku, sahabatku,
kalian menilai menggeneralisasi Syiah itu muslim hanya karena Zaidiah, sementara kalian tidak membuka mata, bahwa  Syiah Iraq dan Suriah adalah Ghulat, Syiah ekstrim.
Kalian mengambil yang satu untuk menggeneralisir, padahal yang lebih dekat dengan kebaikan adalah menggeneralisir dan memisahkan yang satu. Semua Syiah kafir, dan Zaidiah bukan Syiah.
            Jika kalian memahami bahwa Syiah kafir bukan hanya karena mereka menghina para Sahabat, akan tetapi akidah mereka berbeda terutama masalah Imam Ke-12 dan kegaiban-kegaiban para Imam serta kekuasaannya yang mengesankan kekuasaan Ilahiyah, yang mirip dengan tradisi teologi Persia dan India maka kemudian relevankah seruan penyatuan Syiah dan Sunni?

Maka kini saya akan pertanyakan tindakan lain yang sudah kalian lakukan beberapa bulan kebelakangan. Maka,

Patutkah kalian mengupload photo-photo pembunuhan yang kalian anggap dilakukan Islamic State/Daulah Khilafah sebagai pembunuhan terhadap muslim, sementara kalian mengatakan bahwa revolusi di Suriah adalah revolusi berkah, dan menyampaikan bahwa rezim syiah Bashar dan rezim Nur Al Maliki harus ditumbangkan? Patutkah?

Sementara ... ketika pejuang Islamic State melakukan pembunuhan milisi Syiah Nuhaisiriah, milisi Syiah Bashar sang tiran, kalian kemudian membombardir publik dengan  mengatakan bahwa IS membunuhi kaum muslimin.

Kalian sahabat-sahabatku, teman-temanku, saudaraku, kemudian memposting photo-photo pembunuhan terhadap militer Syiah, menyebarluaskannya di seminar-seminar spanduk-spanduk dan mempolitisasinya untuk mengamankan posisi gerakanmu di hadapan rezim saat ini dengan menjelekkan IS. Gerakanmu kemudian melangkah dengan menyerukan PERSATUAN SYIAH & AHLUSUNNAH untuk menggalang dukungan dan simpati atas –hanya untuk—gerakanmu saja. Maka, jika hal itu terus terjadi, maka renungkanlah pertanyaan ini baik-baik:

Mengapa Kalian lebih mendahulukan persatuan dengan golongan
yang memusuhi Sahabat Rasul

Ketimbang

Mendahulukan persatuan dengan golongan yang melakukan pembelaan atas-nya?

Mengapa?

Tidakkah kalian mempertanyakan itu?


READ MORE!

Menulis Adalah Ekskresi

Posted: Senin, 03 November 2014 by Divan Semesta in Label:
1

Menulis itu apa?

Menulis adalah ekskresi: adalah mengeluarkan banyak khayalan yang ada di dalam diri, didalam angan supaya kondisi kita kembali normal adanya. Ini benar logh!. Mari kita sederhanakan. Ekskresi muncul karena input. Kita makan maka keluarlah itu ampas melalui keringat, --melalui sesuatu yang saya tidak tega menyebutkannya. Ketika kita ditempa sekian banyak informasi yang datang, input itu mau kita apakan?. Dibiarkan menjejal dikepala? Kalau sesudah makan kita nggak ekskresi, badan bakal jadi septictank yang berjalan. Kita pasti kesakitan.

Kalau kita sudah melahap informasi –atau dipaksa memakannya--, kejadiannya bakal sama. Pening kepala ini kalau tidak segera mengeluarkannya. Itulah mengapa saya bilang menulis itu ekskresi sebab menulis –bukan saja-- terkait dengan kesehatan tubuh melainkan –kesehatan-- mental juga.

Menulis bisa di analogikan dengan apa saja, --sekena yang kita mau. Kalau bermusik adalah seni melukis dengan nada, melukis adalah seni ekspresi menggunakan kanvas, maka menulis itu apa?

Menulis itu merupakan seni melukis dengan kata. Melaluinya kita dapat mengekspresikan kegundah-gulanaan mengenai fenomena; mendeskripsikan khayalan-khayalan absurd didalamnya; dan merekonstruksi dunia yang ada di dalam benak manusia.

Dalam kaitannya dengan hal yang terakhir, seorang filsuf China pernah mengatakan bahwa, dengan menulis kita dapat menurunkan bulan yang ada di atas angkasa menuju dunia manusia.
Meski terlalu berlebihan, saya meng-akur-kan pernyatan filsuf itu.
Mudah-mudahan kamu mengerti tentang ini :).

Nah setelah bicarakan perumpamaan menulis yang kurang serius. Sekarang saya akan memaparkan usaha menulis menurut pandangan saya pribadi.

Menulis itu apa?
Bagi saya, menulis adalah usaha untuk masuk ke dalam. Melukis adalah memasuki jiwa untuk memecahkan misteri diri --kita-- selaku manusia. Menulis adalah kegiatan meneropong neumena yang ada dibalik fenomena. Ada sebuah cerita pendek mahsyur, yang bakal menjelaskan bagaimana kegiatan menulis dapat menjadi kegiatan meneropong neumena.

Ceritanya begini:

Suatu saat seorang pemuda kebingungan mencari kunci di beranda rumahnya. Setelah sejam dua jam –pabaliut-- mencari dan tidak menemukan kunci, seseorang bertanya padanya.
Dimana kau jatuhkan kunci itu?.
Sambil garuk-garuk giginya (?) si pemuda berkata
Saya jatuhkan di dalam rumah.
Aneh-aneh saja kau ini!. Kalau terjatuh di dalam rumah kenapa mencarinya di beranda?.
Dengan mimik lugu, pemuda itu bilang.
Abisnya di dalam gelap, sedangkan diluar terang!.

Bagi saya cerita itu begitu membekas didalam diri saya. Saya menganggap bahwa di --yang menulis cerita—adalah manusia yang senantiasa meneropong pendalaman dirinya. Ia menemukan bahwa manusia selalu, mencari jawaban diluar jiwa. Manusia takut untuk mengeksplorasi padahal diri manusia kaya akan jawaban kehidupan. Manusia takut untuk ‘mengekskavasi’ padahal di dalam diri manusia, terdapat penyembuh bagi kesakitan jiwa; padahal di dalam jiwa terdapat antibodi* yang bakal menyembuhkan kegelisahan --yang jika dibiarkan dapat menyebabkan manusia jadi penghuni tetap ... rumah sakit jiwa.

Barang Siapa Yang Mengenal Dirinya Maka Ia Akan Mengenal Rabb-nya
Barang Siapa Yang Tak Mengenal Dirinya Maka Tak Mengenal Rabb-nyaMenulis berarti menguak berbagai macam penyadaran. Menulis berarti membedah dan menemukan diri menggunakan teropong neumena. Seandainya neumena ditemukan maka –penemuan-- itu akan memperkuat penghambaan diri seseorang pada-Allah-nya.

Dengan menulis saya –senantiasa--, berusaha --dalam dosa dan pahala-- untuk menghadirkan diri, sebaik-baiknya dihadapan Dia... dihadapan Allah selaku pemilik saya.


Bagi saya, menulis adalah kegiatan melawan. Saat menulis dalam diri saya tumbuh kesadaran bahwa das sein tidak sesuai dengan das sollen, bahwa realita tidak sesuai dengan bayangan di dalam benak. Dengan menulis saya menyadari bahwa realitas sosial, tidak sesuai dengan kemanusiaan. Saya menyadari bahwa banyak anak manusia, mati karena negara tidak memberikan jaminan kehidupan untuknya. Saya menyadari bahwa banyak ketimpangan terjadi; menyadari bahwa banyak dari kalangan kita, yang dizalimi ... maka –disanalah-- menulis menjadi sebuah alat untuk mengembangbiakan ‘subversivisme’. Maka untuk itulah saya berharap, kalian mau menulis dan menjadikan realitas sosial sebagai pemantik untuk mengkabarkan kebobrokan dan penindasan sistemik yang nyata dan merajalela.

Ayo ...Jadikanlah tulisan sebagai lambang keterjijikan diri pada sistem bobrok yang menghegemoni ini. Ayo muntahkan!
Ayo ... Jadikanlah realitas sosial sebagai detonator jiwa.
Ayo ledakan... sebab menulis adalah berkata-kata, sebab berkata-kata adalah: SENJATA!

Gimana jadi Penulis Hebat

Nah, sekarang kita bicara bagaimana caranya jadi penulis hebat. Gimana caranya?, saya juga tidak tahu karena saya jarang merasa hebat. Lagipula hebat itu kan relatif. Kehebatan menurut kamu –mungkin-- berbeda dengan kehebatan saya.

Kamu --mungkin—menganggap bahwa penulis terhebat di Indonesia itu adalah Dee Supernova, Djenar Maesa, atau Helvy Tiana. Namun, bagi saya, penulis terhebat adalah Pramudya. Itulah, mengapa –saat ini-- saya jadi kesulitan membuat tips untuk menjadi penulis hebat (karena saya merasa seperti Liliput di hadapan ke-Gulliveran-nya dia.
Tapi baiklah, karena saya harus profesional mengisi acara ini, maka saya bisa berpura-pura, melakonkan diri jadi penulis hebat, dan kamu pun jangan lupa, untuk membayangkannya.

Bagaimana caranya menjadi penulis hebat?
Hm ... saya bisa menyelesaikan bahasan ini hanya dengan satu kata, yakni, menulislah!.
“Ah, kamu mah nge-bete-in aja.”
“Lha mau gimana lagi?. Ya satu-satunya cara cuma begitu. Nulis itu kan sama aja dengan naek sepeda, berenang atau maen bilyar. Kalau mau bisa jadi penulis hebat praktek!. Jalani proses penulisan. Jangan menyerah.”
“Kalo jawabannya cuman gitu doang, saya jadi nyesel ngundang kamu!. Perasaan dalam pelatihan-pelatihan penulisan, sarannya nggak gitu doang deh. Kamu menyesatkan saya ah!.”
“Ye, dibilang nggak percaya. Nih saya kasih tau. Begini ... meski kamu ikut pelatihan dua ribu kali sama Ustad Roy, kamu tetep nggak akan jadi penulis hebat, kalau kamu nggak menulis. Fungsi pelatihan penulisan itu sebenarnya bukan apa-apa selain memotivasi, supaya kamu mau nulis, dan mau menjalani proses untuk menjadi penulis hebat.”
“Perasaan nggak gitu-gitu amat. Seingat saya, kalau mau jadi penulis hebat, harus baca buku.”
“Nah itu tau, tapi apa baca buku itu menulis?. Baca buku ya baca buku!. Bukan menulis!.”
“Tapi, bukannya dari membaca, kita bisa dapat inspirasi..., dapet pemantik seperti yang kamu bilang diatas tadi.”
“O, nanya tentang inspirasi toh?. Okey saya kasih tau. Siap mendengarkan?.”
“Siap!.”
Banyak orang yang ingin menulis tetapi tak mendapat inpirasi. Dia menunggu-nunggu inspirasi seolah-olah inspirasi adalah bayi yang bakal jatuh dari paruh bangau. Tidak-tidak!. Jangan seperti itu, jangan menunggu, seolah-olah inspirasi akan datang langsung begitu saja. Undanglah inspirasi datang. Pancinglah dia!
Bagaimana cara memancingnya?
Ada banyak cara, misalnya dengan jalan-jalan, nonton film atau membaca buku. Kita akan bahas satu persatu.

Jalan-jalan.

Kamu bisa melakukannya kemana saja. Misalkan melalui jalan yang jarang kamu lalui. Lihat keadaan, lihat pagar, lihat tukang surabi, lihat solokan yang kamu lewati. Nah, itu yang keuangannya pas-pasan --kayak saya. Kalau kamu punya uang banyak, kamu bisa pergi naek mobil ke daerah-daerah yang belum pernah kamu singgahi; tinggal di pedesaan dan berinteraksi dengan orang-orang baru yang bakal membuat kamu fresh; pergi kepantai; naek gunung dan lain sebagainya.

Nonton Film.

Film ini benar-benar membantu, untuk mendatangkan sesuatu yang kita obrolkan. Mengenai film, saya pernah punya pengalaman pribadi. Suatu waktu –iseng--, saya menonton film India. Film itu mengkisahkan tentang cinta (standar), dan disana, ada dialog yang mengharuskan saya untuk menulis --karena saya terinspirasi.
Suatu saat Sanjay membuat Prita menangis. Prita masuk ke kamar dan mengurung diri selama berhari-hari. Karena keperihan yang dalam, saat disuruh orang tuanya makan ia selalu menolaknya.

Orang tua Prita khawatir kesehatan anaknya, maka diutuslah nenek yang sangat menyayangi Prita. Setelah mengetahui apa yang menyebakan tubuh Prita menjadi kurus, neneknya memberikan pertanyaan yang menyadarkan “jika hati terluka, mengapa justru perut, yang kau sakiti?”

Jdak! Kalimat-kalimat itu mengiang-ngiang di kuping. Setelah selesai nonton, saya langsung menulis dan mengembangkan perkataan itu dalam bentuk essay.
Selanjutnya ...

Membaca buku

Kata seseorang, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula. Seorang kawan mengatakan demikian. Membaca adalah salah satu cara terbaik dalam mengembangkan imajinasi dan mendatangkan inspirasi. Jika kamu menonton, --kamu-- terlalu dimanjakan oleh visualisai sehingga benak kamu tidak terlalu memainkan imajinasi. Membaca itu berbeda, dengannya kita dapat membuat imajinasi yang tak terkira

Pokoknya, cobalah baca novel, ensiklopedia, atau kumpulan puisi, essay, dan cerpen. Jika bacaan itu bagus, saya yakin kamu bakal tersentak dan tiba-tiba ... inspirasi yang kamu tunggu-tunggu itu datang.
“Bang!?. Kalau inspirasi sudah datang, apa yang harus saya lakukan?.”
“Bang bang bang ... kamu yang bang, BANGKONG!:)”.
“He..., he... :D. Gimana dong!?”.
“Gimana apanya?.”
“Kamu ini kayak anak kecil yang maunya dihuapan!
Pokonya nulis!. Nulis!. Nulis! Dan nulis!. Kalau udah dapet inspirasi nulis!. Kalo belum dapet, undang itu inpirasi, terus nulis!”.
“Kalau udah dapet inspirasi, harus segera ditulis ya bang?.”
“Ya jangan didiemin. Kalo dalam prinsip bisnis men, uang itu harus diputerin supaya nggak abis, nah ... inspirasi juga kayak gitu!. Kalau inspirasi nggak langsung ditulis, nanti jadi basi. Kalau udah basi rasanya nggak enak, jadi hambar!.”
“Hambar kayak nasi goreng, yang kemaren abang masak itu ya?.”
“Heu...kumaha sia we lah!. Tapi gimana nih, udah dapet pointnya belum?.”
“Lumayan!, pokonya kalau ada inspirasi langsung ditulis.”
“Nah begitu dong!. Sekarang dari obrolan ini, kamu dapet inspirasi nggak?”.
“Dapet bang!.”
“Kalau gitu langsung tulis... omong-omong inspirasinya tentang apa?.”
“He... he... he ... jangan ah. Nanti marah!.”
“Ye mau bikin penasaran ya?. Tentang nasi goreng ya?.”
“Bukan!.”
“Tentang apa atuh?.”
“Tentang upil! ... upil yang nyempil di gigi abang!.”
“Huarggggggggggh!.”

Setelah mendapatkan inspirasi
Kemudian? Menulislah.
Film mengajarkan bahwa di awal awal menulis kita harus melakukannya dengan hati. Setelahnya, baru gunakan fikiran.

Menulis dengan hati membuat penulisan kita lancar --tidak patah-patah, karna dalam menulisnya kita tidak menggunakan pikiran. Karenanya, wajarlah setelah tulisan selesai, kamu pasti akan menemukan, tulisan yang tidak terstruktur. Hei!, jangan dulu kecewa, karena seperti halnya, sesuatu yang tertumpah, kata-kata, --yang tertumpah-- bakal ada yang tidak klop dengan tema penulisan. Nggak apa-apa, jangan cemas, karena rata-rata penulis sekaliber apa pun pasti memiliki pengalaman seperti itu.

Setelah tertumpah baru tulislah dengan fikiran. Edit tulisan kamu. Strukturkan!. Kamu pilih-pilah kata, bolak-balikan susunannya sampai pas seperti yang kamu inginkan -- keinginan yang sekiranya sesuai dengan pemahaman pembaca yang bakal menilai kerja kamu. Setelah edit berulang kali. Selesailah itu tulisan. Lalu?
Sebarkan!

Mengenai-sebar menyebar tulisan ini juga bukan sesuatu yang mudah. Diawal penulisan kamu sudah harus mengetahui kalangan mana yang kamu bidik. Kamu sendiri udah tau kan, kalau secara alamiah, ketika ada sesuatu yang disuka, pastilah ada sesuatu yang tidak disuka. Kalau kamu menulis sesuatu yang berat, misalnya ideologi dengan bahasa yang ilmiah maka ‘jangan kasih’ itu tulisan ke orang-orang yang kurang faham mengenai bahasan yang menjelimetkan. Kecuali, kamu mampu membahasakan dengan baik, sesuai dengan --bahasa—kalangan, yang ingin kamu berikan --taruhlah ... pencerahan.

Maksudnya bagaimana?

Begini, saya akan menuliskan pandangan mengenai ideologi.
Menurut Marx, ideologi adalah kesadaran palsu, tetapi menurut Annahani berbeda lagi. Ideologi merupakan sebuah pemahaman fundamental, pemahaman yang radic, mengenai alam semesta manusia dan kehidupan. Yang dari landasan pemahaman itu, direkonstruksi way of life mengenai kehidupan.

Kalau saya bicara pada orang-orang kayak kamu, maka kita bisa nyambung, tanpa perlu menjelaskan lagi, mengenai ‘kesadaran palsu’, makna ‘fundamental’, ‘radic’, ‘rekonstruksi’ dan ‘way of life’. Tentang hal itu, kita sudah bisa connect satu sama lainnya. Tapi coba utarakan hal itu pada ibu-ibu yang suka jualan gado-gado dekat kosan kita. Wah, pasti sangat sulit untuk dipahaminya.

Oleh karenanya, saat melakukannya, kamu harus menulis tulisan yang sesuai dengan segmentasinya. Sesuaikanlah!. Pas-kan-lah, supaya kata-kata kamu, supaya pemikiran kamu bisa segera dimamah biak dan dicerna.

Saat informasi --yang kamu sampaikan—sudah pas dengan segmentasinya kemudian massif dibaca ‘kalangannya’. Maka --lama-kelamaan-- kalangan itu, akan mengalami keinginan ekskresi seperti yang dulu pernah kamu rasakan. Mereka akan mengalami keinginan untuk memuntahkan, dan meledakan.

Menyambung dengan bahasan kita sebelumnya, --maka sejak saat tulisan itu dibaca--, kamu sudah berperan sebagai pengembangbiak ‘subversivisme dalam berfikir. Maka sejak saat itulah, kamu menjadi seorang yang ikut berpartisipasi untuk menutup zaman yang usang, kemudian menggantikannya dengan zaman yang baru. (DS)

READ MORE!