ISIS, Mujahidin, dan Siapa Kita?

Posted: Minggu, 13 April 2014 by Divan Semesta in
0




 






















Di Indonesia, di forum-forum sosial media, di perbincangan kedai kopi, di situs-situs, orang yang duduk duduk (qaidun), mereka yang tidak berjihad membincangkan bagaimana konflik yang terjadi antara Jabhah Nusrah dan Islamic State of Iraq dan Syams!

Diantara mereka mengeluhkan. “Mengapa konflik antar mujahidin terjadi!?” lalu muncullah statement. Seharusnya mereka berdamai. Ini lah bukti bahwa peperangan yang terjadi di Suriah itu sangat riskan!” selebihnya alam bawah sadar merekalah yang berbicara. “Lebih baik kita disini saja. Berjuang semampu kita!”

Ada pula yang menjelek-jelekkan Jabhan Nusrah. “Dasar Jabhah Nusrah tak tahu diri! Tak tahu diuntung! Mereka mengkhiati ISIS. Pengkhianat! Pengkhianat!”

Ada pula yang balas menyerang ISIS

“Jabhah Nusrah sudah benar dalam tindakannya! Jabhan Nusrah menginginkan ISIS tidak masuk ke Suriah. Siapa itu al Baghdady. Orang yang tak bisa berperang! Siapa dia? Orang yang tak dikenal.” Dan lain sebagainya.

Maha suci Allah.

Inilah pertanyaan sederhana yang saya ajukan untuk Anda semua, untuk kita para Qaidun! Orang-orang yang duduk duduk saja.

Bagaimana mungkin kita menjelek-jelekkan mereka, manakala mereka, para ahli tauhid itu berselisih paham, sementara, mereka telah melewati, manakala  mereka telah tuntas menjawab pertanyaan yang Allah berikan: 

Katakanlah: "Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, dan saudara-saudara kamu, istri istrimu, dan keluarga kamu, harta benda yang kamu usahaka dan perniagaan yang kamu khawatirkan akan merugi, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, -(jika semuanya itu) menjadi perkara yang kamu cintai lebih dari Allah daan Rasul-Nya (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab siksa) karena Allah tidak akan memberi perunjuk kepada orang-orang yang fasik (durhaka)." At Taubah : 24

Mereka telah melampaui ayat itu.

Kita? Masya Allah, bahkan mengangkat tangan ketika perusahaan kita membuat aturan manusia  yang menabrak hukum syara pun kita masih maju mundur, bahkan malah mengaminkannya. Bahkan untuk berinfak untuk Allah via dakwah harokah pun kita masih memperhitungkan apakan uang kita masih cukup untuk anak istri atau tidak. 

Bahkan kita begitu mencintai perhiasan yang melekat di tubuh kita, dasi yang mahal, mobil yang mentereng, makanan lezat penuh kolesterol, kuping kita masih mendengarkan musik ah eh oh berlirik mesum, bermegah megahan melalaikan diri kita, berniaga dengan menipu, menjual baju tak perduli mencetak tubuh wanita atau tidak, yang penting laris manis mengisi pundi-pundi harta, menzinahi ibu kita berulang kali dengan melakukan riba, dan tindak tanduk memalukan, berseteru karena komisi kita kurang, menjelekkan rekan kerja karena alam bawah sadar kita tak menyetujui kenaikan pangkat mereka, ribut bukan karena hal-hal yang signifikan.

Kita, hubbud dunya, mencitai dunia dan takut mati. Kita belum lulus ujian ayat itu, sementara mujahidin yang tengah berselisih itu telah melewati ayat itu. Sementara perselisihan antara mujahidin itu –kemungkinan besar-- sudah sampai di tingkat seperti halnya perselisihan antara Ali Ra dan Ibunda kita: Aisyah Ra.

Para mujahid itu --insya Allah, sekali lagi-- telah melampaui ayat di atas. Mereka hijrah, meninggalkan negerinya, meninggalkan saudara-saudara yang mereka cintai, ayah ibunya, anak-anaknya yang tengah tumbuh lucu-lucunya: menjadi perhiasan mata, meninggalkan perusahaan dengan gaji yang biasa saja hingga luar biasa, meninggalkan penghasilannya yang milyaran dalam sebulan sebagai pemain bola club elite internasional, meninggalkan hiruk pikuk dunia musik rapcore (Desso Dog) yang disetiap panggung audiens mengelukan namanya, meninggalkan kebanggaannya sebagai pegulat nasional, meninggalkan 'pemujaan' begitu banyak wanita di tempat asalnya karena diantara mereka ada yang berwajah tampan, meninggalkan ibunda dan ayahandanya, meninggalkan perniagaan, kebun-kebun, bisnis, meninggalkan.... ya, meninggalkan semua untuk hijrah ke daulah Islam atau area peperangan antara al haq dan batil karena mereka benar-benar mencintai dien-Nya. 

Kemudian, mereka diuji oleh Allah dengan ujian yang dirasakan oleh-orang-orang terdahulu semasa Rasul Muhammad, ujian yang dialami oleh orang-orang Shalih di masa Nabi Isa, nabi Ibrahim, diantara mereka ada yang digergaji di masukan kedalam penggorengan hingga tubuhnya menjadi krispi, di panggang, ditusuk dari kelamin, dubur hingga kepala. Saat ini mereka mengalami hal itu, ditembaki, di rudal, di buru, ada diantara mereka yang diserang oleh jet-jjet tempur, di bom, gua runtuh dan tertutup, berminggu minggu berada di dalam gua yang berisi air bersama ratusan orang yang kebanyakan dari mereka kemudian mengambang menjadi mayat, berkubang dengan air seni dan berak, kehausan, meminum air yang terkontaminasi seperti yang dialami mujahid Walker Lindh, di sembelih… ya... dan ujian lainnya, ya... --sekali lagi saya ingatkan bahwa-- mereka telah melampaui ayat itu (At Taubah : Ayat 24)

Ujian mereka adalah ujian yang kemungkinan besar adalah ujian yang tertinggi. Lantas kita?

Maha suci Allah, jauh sekali perbandingan itu. Jauh sekali perbandingan keberanian mujahidin ISIS dan Jabhah Nusrah ketimbang kita.

Lantas, mengapa kita banyak ceta, banyak mempertanyakan dengan gempita seolah-olah perselisihan Jabhah Nusrah dan ISIS, beberapa faksi jihadis dengan faksi lainnya adalah sesuatu yang seolah engkau berada di dalamnya, berada di area perselisihan itu, seolah engkau tahu.

Bicaralah jika engkau sudah melampaui ayat itu, jika engkau sudah ada disana.

Bicaralah seperlunya, jangan seolah-olah kita mengetahui yang sesungguhnya terjadi karena menganggap kita memiliki orang disana, padahal yang lainnya pun memiliki informan yang sama di lapangan juga.

Berpihaklah, tetapi jangan mencerca, menghina.
Cobalah sadar diri, cobalah rendah hati, dihadapan mujahidin yang tauhidnya bersih: mujahidin Taliban, Imarah Kaukasus, mujahidin Chechen, Moro, Mindanao, JN, Islamic State of Iraq and Syam (ISIS), Al Qaida, Assabab, dan mujahidin lain, kaum Ansor dan Mujahirin  di daulah-daulah Islam yang saat ini ada.

Mujahidin bukanlah malaikat, bukanlah manusia dan harokah  atau daulah yang maksum. Jangan memaksa mereka melampaui fitrahnya sebagai manusia.

Mereka bisa saja salah, tetapi tak maukah kita menunjuk muka kita sendiri lebih dulu atas kesalahan ekstrim atas ketidak beranian kita, ‘kesok sucian’ ‘ke-sok gagahan’ kita?

Berusahalah tendah hati, berusahalah sadar diri.
Doakanlah mereka, dan yang lebih utama, doakanlah diri kita sendiri.


READ MORE!

Asupan Makanan dan Keberanian Ulama

Posted: Kamis, 27 Maret 2014 by Divan Semesta in
0


Asupan, bermula pada asupan.

Mampukah engkau menelaah perkataan seorang mujahid, ketika menyatakan bahwa keberanian seseorang itu tergantung pada asupan makanannya.

Perkataan itu bukan kopi paste, tetapi hanyalah ingatan yang saya bisa gali selepas membaca buku Syaikh Abdullah Azzam.

Beliau, mujahid besar yang wafat di bom itu menceritakan ketika beliau menyambangi sebuah rumah di Suriah, masa pendudukan Hafez Asad (Bapak Bashar al Assad). Padas saat itu beliau bersama seorang lelaki tua yang kebetulan menjadi ayah dari penghuni rumah yang mereka kunjungi.
Usai masuk kedalam rumah tersebut, anak sang lelaki tua, yang juga merupakan ulama terkenal, mereka disuguhi makanan.

Syaikh Abdullah Azzam memakan makanan yang disajikan. Tetapi ayah lelaki itu tidak. Hingga suapannya berakhir dan perutnya cukup kenyang, ayah sang tuan rumah sama sekali tidak menyentuh makanan tersebut.
Tahukah engkau penyebabnya?

Sederhana namun menggetarkan. Ternyata lelaki tua, itu tidak memakan makanan yang disediakan anaknya, karena anaknya itu diberi tunjangan oleh negara Suriah. Sang lelaki tua tidak mau memakan sama sekali makanan yang tersedia meski itu disediakan anaknya, hanya karena anaknya mendapat gaji dari pemerintah. Masya Allah.

Inilah salah satu bentuk wara.

***

Di sebuah perusahaan properti, hal itu pun terjadi.  Pada satu ketika, ruang bilik/kubikel HRD & P&GA kedatangan beberapa bingkisan. Sebuah kotak Dunkin Donuts dikirimkan. Beberapa orang antri mengambil donut yang lezat tersebut.

“Dari mana ini?” tanya seorang lelaki berjanggut, sementara donut sudah berada di ujung mulutnya.
“Hadiah dari asuransi!”

Saya melihat langsung bagaimana lelaki berjanggut yang telah mengigit donut itu kemudian mengambil kertas, lalu ia meludahkan kembali yang telah digigitnya.

Ia langsung membuang donut itu tanpa diketahui, kecuali oleh saya, dan Allah jua tentunya.
Ia mengatakan. “Bingkisan makanan itu sogokan. Kita baru saja mendengar mereka melakukan presentasi. Pertanyaanya, mengapa donut ini hanya dihadiahkan pada HRD saja? Kenapa nggak keseluruh departemen. Ini kemungkinan besar sogokan.”

Lelaki ini, dikemudian hari, berdiri menggugat berbagai kebijakan perusahaan yang memaksa dia untuk membuat hukum yang bertentangan dengan Syariat. Masya Allah.

***

Asupan makanan! Saya mempercayai bahwa makanan yang kita makan akan mempengaruhi keberanian kita.
Sulit untuk mencernanya, tetapi sebenarnya sederhana. Jika Kamu memakan makanan yang kamu beli dari gajimu sementara Kamu adalah seorang Ustad pemerintah, bagaimana kamu akan terang-terangan meluruskan pemerintah?

Jika kamu digaji oleh sebuah perusahaan apakah di dalam hatimu tidak akan muncul kebimbangan untuk menasehati perusahaanmu, Bosmu, ketika mereka terang-terangan melanggar dan menerapkan kebijakan yang bertabrakan dengan syariat. Ya, kebimbangan adalah ketakutan. Mengapa muncul kebimbangan? Karena keberanianmu disetir oleh perutmu. Oleh asupan makananmu.

Aku sering menemukan orang-orang yang menjadi macan, menjadi singa ketika mengkritik orang-orang, mengkritik banyak hal, seolah dia adalah orang yang memiliki keberanian luar biasa, tetapi ketika dihadapkan pada orang yang memberinya makan, ia meragu, bahkan ada yang saya temukan berdiam diri, bahkan lebih ekstrim lagi, bermuka dua, memiliki pendapat yang bukan pendapat ideal sebelumnya.
Runtuh sudah orang-orang seperti ini.

Ditempat saya bekerja, ada dua orang yang memiliki jabatan cukup baik dan dia berjanggut, omongannya nggak jauh dari subhanallah, masya Allah, tetapi tatkala perusahaan mendapuk Sexy Dancer, maka orang ini mengatakan. “Ya, wajarlah. Namanya juga wisata air. Masa pembukaan wisata air pakai kerudung!”

Subhanallah. Masya Allah

Jika saya menjadi dia, sekurang-kurangnya saya lebih baik diam. Menjadi ‘setan bisu’ ketimbang mengatakan perkataan yang mendekatkan diri pada kekafiran.

Subhanallah, maha suci Allah. Ampuni saya, ampuni kami ya Allah.

* * *

Sahabat-sahabat saya, pernah bertanya mengenai musik. Maka Saya katakan, jangan bertanya mengenai musik karena saya menyukainya. 

Sahabat-sahabat saya yang lain kemudian menanyakan bagaimana hukumnya bekerja di sebuah konveksi,-- tempat yang di bulan-bulan ini-- banyak menerima orderan dari partai-partai.

Saya  katakan: “Keluar saja.”

Tetapi saya hanya memberi pertimbangan. Ya sekedar pertimbangan, karena saya tahu siapa saya ini. Namun, alhamdulillah akhirnya ia dikuatkan oleh kepercayaannya pada sahabat saya yang lain. Sahabat yang menjaga benar asupan makanannya. Ia mempercayainya. Saya ucapkan alhamdulillah.

Inilah. Sampailah kita dimasa ketika banyak sekali manusia, mungkin termasuk engkau juga dan saya, mengkonsumsi makanan dengan sedikit mempertanyakan, menyelidiki, menelitinya. Janganlah mempercayai sepenuhnya apa yang nanti kami katakan. Jangan. Kami masih memakan makanan yang bisa jadi haram (bahkan haram dan halal pun menjadi samar), bisa jadi syubhat.

Jika engkau ingin mempercayai seorang ulama, salah satu kriterianya sederhana. Carilah ulama yang benar-benar zuhud, wara dan menjaga makanannya.

Perhatikanlah televisi. Bagaimana ketua partai yang ingin mencalonkan diri sebagai presiden, menggunakan mobil mewah (bukan mobil yang sesuai fungsinya), memiliki rumah yang megah. Cincinnya? Puluhan juta. Jamnya? Rolex. Maha Suci Allah, bisakah orang seperti ini kalian percaya? Bisakah orang seperti ini kalian jadikan pemimpin sementara sifat sifat hubbuddunya, cinta dunia dan takut mati sudah tampak daripadanya?

Bisakah kalian menjadikannya sebagai pemimpin sementara orang yang dulu membuat partai, orang yang zuhud lagi –insya Allah—wara disingkirkan? Bisakah kalian mempercayai Ustad-ustad yang saat ini berbicara mengenai halal dan haram, sementara perhatikan kehidupannya: bergelimang harta, dikelilingi kecantikan duniawi, rumahnya layaknya istana?

Bukankah ustad ustad saat ini memiliki trend yang sama: menggunakan cincin, jam mobil istri yang menggunakan kerudung-kerudung yang megah dan blink blink? Sementara orang-orang yang mereka dakwahi bagaimana nasibnya?

Ustad-ustad seperti ini tidak akan pernah bisa diharapkan untuk membantah produser sebuah acara televisi. Ustad-ustad seperti ini akan dikendalikan oleh mesin industri. Jangan percayai mereka! Percayailah para ustad yang zuhud, yang wara.

*  * *

Beberapa waktu lalu, pada saat saya kebingungan untuk menelaah kehalal-haraman pegawai negeri, polisi dan bagaimana posisi ketika seseorang bekerja di bank, tiba-tiba seseorang mengabarkan padaku, bahwa dirinya yang –insya Allah—tauhidnya bagus, di kafirkan oleh seorang Ustad 1 terkenal dalam pengajiannya, karena ia berstatus pegawai negeri. Ia tertawa saja. Tidak dimasukan ke hati. Sungguh tidak dimasukan ke hati. Tetapi, di satu sisi saya mendapati dari ceritanya bahwa ada seorang Ustad 2 yang mengatakan kehalal-haraman menjadi pegawai negeri, pegawai bank, harus disertai perincian terlebih dahulu.

Tahukah kamu, bahwa saya memilih pendapat Ustad 2 yang merinci permasalahan tersebut karena apa? Karena Ustad yang menggeneralisir, ucapannya tidak terlihat bijak (tegas tentu berbeda dengan bijak), dan saya masih meragukan kredibilitasnya karena asupan yang masuk ke perutnya. Sementara, ustad yang membuat rincian itu kini berada di Lapas Nusa Kambangan. Siapa namanya?

Namanya Ustad Aman. Suaranya sangat santun, adab bicaranya jangan ditanya (cara bertutur, kehalusan suaranya melebihi AA Gym). Beliau nomor satu di LIPIA/Lembaga pembelajaran bahasa Arab dan memperdalam ilmu keislaman dalam kuliah-kuliahnya. Belum ada yang menandingi kecemerlangannya.
Sebelum kelulusannya, Ustad ini diberi beasiswa menuju Haramain. Tetapi ia menolaknya karena saat itu ia mendapat pencerahan bahwa rezim Saudi sangat memusuhi ide-ide tauhid.

Lantas kini, bagaimana beliau memenuhi kebutuhanya dipenjara?

Masya Allah, ia sama sekali tidak pernah mau menggunakan pulpen untuk menuliskan risalah, Ia sama sekali tidak pernah mau makan dari dari Sipir penjara dan negara. Ia makan dari bantuan murid-muridnya yang berada di luar penjara.

Melalui asupan makanan yang sudah ia jaga semenjak pemuda, keberaniannya menjulang. Ia berdiri bahkan berani sendiri meski menghadapi negara. Masya Allah. Ia berdiri tegak, menampakkan keberaniannya, menjadi mercusuar bagi orang disekelilingnya yang masih bergelimang harta haram, maupun yang syubhat.

Ustad, Ulama seperti inilah memegang –atas izin Allah—memegang masa depan Islam. Ulama seperti inilah yang layak aku dan engkau percaya, manakala berfatwa. Bukan ‘ulama-ulama’ yang hidup mengais rezeki dari penguasa, bukan  ulama-ulama tambun yang bergelimang harta.
 




READ MORE!

Hijrah Ke London

Posted: Selasa, 04 Februari 2014 by Divan Semesta in
0

Konon menurut segelintir orang yang saya temui --mereka mengutip para Syaikh Saudi-- jahil dalam berjihad. Lantas saya bertanya, terus apa yang harus muslim Palestina lakukan? Mereka koor, sama-sama mengatakan: "Hijrah!" Hal itu sama seperti yang dilakukan Rasulullah. Pada saat di Mekkah beliau di zalimi, maka untuk menyelamatkan dien-Nya beliau dan para sahabat hijrah. Nah, ini pun harus dilakukan oleh orang Palestina.

Ok, kita bedah argumentasi semacam ini. Argumentasi yang insya Allah bakal kalian temukan dan berulang kalian hadapi. Tepisannya simple.

1. Rasulullah dan para sahabat itu hijrah sebelum berdirinya negara/Daulah Madinah. Nah ini Palestina sudah berbentuk negara. Masakan di zalimi, langsung aja harus pindah. Jadi FAKTAnya tidak sesuai dengan fakta sejarah perpindahan Rasulullah. Rasulullah waktu hijrah, Mekkah itu bukan negaranya Rasulullah/wilayah yang Rasulullah terapkan aturan. Palestina itu bentuknya negara.

2. Lucu amat ya, kalau sebuah negara diserang, solusinya migrasi dengan embel embel/pemanfaatan term dien yakni hijrah. Indonesia diserang, solusinya hijrah. Biar aja Indonesia jadi milik Amerika. Afganistan diserang. Solusinya hijrah. Biar aja, Afghanistan jadi milik boneka Amerika. Sisanya silahkan diperpanjang.

3. Hijrah? Hijrah kemana? Saudi? Emang Saudi mau nampung? Pernahkah ada, rilisan resmi dari Saudi seperti ini: "Wahai muslim Palestina, hijrahlah semuah muahnya ke Saudi, pintu terbuka untuk seluruh penduduk Palestina." Hehe, yang bener aja, Saudi itu lebih mendahulukan warga negara aslinya ketimbang warga yang lain. Boro-boro pindah semua. Pindah kemana? Bangsa muslim Rohingnya aja sampai sekarang pas hijrah dari Burma ke Malaysia, diuber-uber sama imigrasinya. Dipersulit. Di Indonesia juga sama. Diuber-uber dipalakin imigrasi. Terus hijrah kemana?

4. Hijrah ke planet Nibiru mungkin, naek angkot Cicaheum Ciroyom.
5. Kalau kamu punya rumah. Rumah kamu didatangi rampok, kemudian istri dan anak kamu diperkosa. Terus yang kamu lakukan. "Sudah sudah cukup! Ambil saja rumah ini untuk kalian. Seluruh isinya! Biar kami pindah cari kontrakan saja." Masukkah kedalam akal sehat kita. Kita buat jembatannya. Palestina itu negara merdeka. Kemudian diekspansi oleh Zionis. Nah karena mereka dizalimi kemudian muncul suruhan untuk meninggalkan 'rumah-nya' (negaranya) untuk diserahkan, dimiliki 'rampok'? Bagaimana menurutmu logika semacam itu? 

Jika kamu bertemu dengan orang yang berpendapat seperti itu, coba sodorkan ketiga hal diatas. Mengenai yang ke-4 janganlah. Itu sih eror.

READ MORE!

Koalisi Perang Ahzab?

Posted: by Divan Semesta in
0

Engkau pasti pernah bertemu dengan orang yang membela Saudi Arabia dengan mengatakan, dan mengutipkan cuplikan sejarah Rasulullah, bahwa dahulu juga sewaku perang Ahzab (kalau tidak salah(, Rasulullah dan kaum muslimin bersekutu dengan kabilah kabilah non muslim untuk berperang melawan koalisi Ahzab. Jadi, sebenarnya tidak apa-apa ketika Amerika kemudian membuat pangkalan militernya di Arab Saudi.

Nah apa engkau akan mengiyakan mereka?

Tak tahulah saya.

Tapi saya katakan begini saja. Bahwa: salah jika kita menyamakan antara koalisi Rasulullah dan kabilah non muslim dimasa lalu dengan dilazimkannya bercokolnya pangkalan militer Amerika di Arab Saudi. Karena:

Di masa lalu, Rasulullah melakukan koalisi untuk melindungi masyarakat Islam. Melindungi negara Madinah.

Sementara, tak tahukah kamu bahwa adanya pangkalan militer Amerika di Saudi, menyebabkan Amerika dengan mudah membombardir kaum muslimin di Afghanistan, Libia, Iraq, bahkan –kemungkinan besar—nantinya di Suriah dengan bom yang diluncurkan dari jet-jet tempur.
               
Dengan adanya pangkalan militer di Arab Saudi maka sangat mudah Amerika mengirimkan pesawat untuk membunuhi kaum muslimin di negeri-negeri sekitar jazirah Arabia. Dan itu kejadiannya/pembunuhan dengan bom bom pesawat tempur Amerika itu sudah banyak terjadi.

Jadi, Arab Saudi menyediakan pangkalan apakah sama seperti motif Rasulullah untuk melindungi masyarakat Islam? 

Bukan, bukan untuk melindungi kaum muslim tetapi untuk melindungi kerajaannya.

Jadi?
Silahkan dipikirkan.



READ MORE!