Stay Strong!

Posted: Senin, 13 Mei 2013 by Divan Semesta in
4

Dalam kesendrian kadang saya sedih, saya sangat bersedih. Perasaan itu datang kembali saat kami tengah mengadakan kemping di area air terjun Bulao. Yah, ada haru terlintas di hati.

Saat ini, kondisi ekonomi saya jika saya melihat ke bawah tentu sangat jauh baiknya. Saya pun merasa cukup atas apa yang Sang Pemberi Rizki sampaikan ke saya. Tapi, kadang saya juga bersedih karena ada kekhawatiran jika keluarga saya, terutama istri saya tidak memiliki pandangan kecukupan yang sama dengan saya.

Ya, beberapa kali saya melamar pekerjaan agar saya bisa mendapat penghasilan/gaji yang lebih tinggi, jauh lebih tinggi dari yang saya dapat saat ini. Alasannya? saya hanya ingin melihat istri saya, keluarga saya berlimpah. Tapi itu munculnya bukan dari keinginan saya. Sekali lagi saya katakan bahwa saya sudah merasa cukup. Tapi apakah keluarga saya, terutama istri saya sudah merasa cukup? Pertanyaan itu yang selalu membuat saya gelisah.

Hingga saat ini panggilan bekerja belum datang, meski saya sudah menyampaikan beberapa aplikasi ke beberapa perusahaan besar. Dalam hati saya sebenarnya tidak mau, sungguh tidak mau kehilangan pekerjaan yang saya dapatkan saat ini, karena saya mendapatkan banyak waktu luang untuk mengejar cita-cita saya, untuk ikut dalam kereta perubahan, untuk sama-sama dengan yang lain menggulung celana jeans sy dan turun langsung.

Tapi, itu tadi. Saya dikejar perasaan bersalah.

Saya mencintai benar istri saya. Bahkan ketika menulis ini rasa sayang itu bercampur dengan kesedihan ketika saya baru bisa memberikan sesuatu yang mungkin tidak mencukupi keinginannya.

Saya merasa sebagai lelaki kadang tercederai hati, karena saya mencari materi tidak dengan perjuangan heroik seperti orang lain, karena saya lebih memilih tersita waktu dengan sesuatu yang tidak ada uangnya. Saya mencederai hati saya sendiri karena saya tahu bahwa saya memilih pikiran saya untuk tegang, tubuh saya untuk letih pasca bekerja bukan dengan mencari penghasilan lagi. 

Saya berharap Allah mengaruniakan kesehatan yang luar biasa bagi saya bagi kalian, agar saya, agar kalian juga bisa fokus dalam bekerja, melakukan kegiatan di luar pekerjaan dan tentu mencari tambahan penghasilan.

Saya, kalian jika mengalami hal yang sama tidak bisa mundur. Tidak boleh mundur. Tetaplah bekerja dan melakukan kegiatan meskipun tanpa penghasilan karena transaksi yang kalian lakukan itu langsung dengan Allah, bukan yang lainnya. Tetaplah seperti itu dan jangan mundur, karena kita tidak bisa mundur. Yang kita bisa adalah berdoa agar Allah memberikan keteguhan, kesabaran pada saya dan pada istri --yang ingin saya peluk dan mintai maaf--, juga pada istri-istri kalian.

Kita akan menemukan jalan kesejahteraan, keberlimpahan bukan dari jalan yang kita titi saat ini, bagaimanapun caranya kita akan menemukannya. :)
 

4 komentar:

  1. Anonim says:

    Stay Strong!

  1. mbakje says:

    we've been there too! Percayalah Allah Maha Adil. Ia akan memberi indah tepat pada waktunya.
    IMHO: Sebagai istri, perempuan seringkali berada pada posisi dilematis dimana ia bertanggung jawab atas cash flow rumah tangga sekaligus motivator suami. Maka ketika harga sembako makin mahal, maka hanya dua cara yg bisa ia ikhtiarkan: memotivasi suami untuk mendapat lebih banyak penghasilan atau mencari penghasilan tambahan....

  1. Thanks Anonim, stay alert! :)
    Mbakje pastinya --insya Allah-- kamu dikaruniakan watak yang tangguh. Subhanallah, sungguh bahagia bisa mengenal ada seorang wanita yang seperti kamu. Sampaikan salam saya untuk suami dan anak-anakmu. Terimakasih :)

  1. Sundawi says:

    Manusia memang dhoif, Allah-lah yang Mahakuasa. Nasehat dari seorang ustadz, lebih baik kita titipin aja semuanya sama Allah, sambil tetep ikhtiar yang sempurna. La haula wa la quwwata illa billah.

be responsible with your comment