Rilis Buku I am Muslim Dont Panic #2

Posted: Rabu, 04 Mei 2011 by Divan Semesta in
3


Diantara tumbuhan kaliandra, bebatuan dan debu debu pegunungan milisi Taliban menjadikan lembah Korengal sebagai the valley of the shadow death bagi tentara Amerika. Meski acapkali menggunakan bantuan chinook, radar dan artileri berat yang mampu menembus dinding tanah liat rumah lumpur Afghanistan, elit-elit G.I Joe dan berbagai tentara gabungan kesultan membungkam milisi Taliban dan Al Qaida didikan mullah Umar dan Usamah bin Ladin.

Reuters, BBC Chanel dan media international lain acapkali merilis apa yang dilakukan tentara mereka lakukan di negeri para singa tersebut. Para journalis ikut beringsut, tiarap, berlari ketika penyergapan dilakukan dan melihat langsung betapa pemuda-pemuda tentara Amerika dikirimkan hanya dengan bayangan heroisme masa muda, kehilangan harapan. Wajah-wajah anak muda ini sangat mengkhawatirkan. Tak ada yang perlu ditakutkan dari tekad mereka, kecuali persenjataan dan alat-alat beratnya. Keberanianpun acapkali di upgrade dari gebukan drum, betotan bas liar, raungan gitar musik punk rock atau thrash metal yang mereka setel di dalam jeep humvee ber-AC. Lirik fuck! kill! slaughtering! acapkali diperdengarkan untuk menaikan adrenalin. Tapi, itu bukan keberanian. Itu hanya pengalihan dari situasi psikologis yang dinamakan histeria macam permainan baru Dunia Fantasi. Histeria tentu berbeda dengan keberanian yang ditumbuhkan oleh keyakinan.

Berbagai video yang dirilis oleh media macam Al Shahab dsb memperlihatkan bagaimana kematangan psikologis milisi Taliban, Al Qaida dan para mujahidin muda yang datang ke Afghanistan untuk mengusir tentara pendudukan.

Saat menembakkan roket untuk menghancurkan chinook mereka hanya berkata (nyaris bergumam) Allahu Akbar, Allahu Akbar hampir tanpa tanda seru. Saat akan meledakan LED atau bom rakitan yang ditanam di jalan berdebu untuk memberaikan konvoi Humvee dan tank, situasinya hampir sama. Kalau tidak perkataan Allahu Akbar yang hampir menyerupai bisikan, maka bismillah dilafaskan. Roket lepas, LED meledak, ada suara memekakan yang menakjubkan. Sasaran dilumpuhkan. Dan merekapun bersujud syukur.

Bandingkan, betapa kualitas terlihat kentara diantara kedua pasukan tersebut. Itulah mengapa muslim yang memang memegang diktum tidak kompromi, al wala wal bara diberbagai segi sangat ditakuti. Di sisi keberanian mereka menunjukkan itu, di sisi pemikiran mereka demikian membanggakan.

Dengan risalah mulia yang dibawa M.O.G.S.A.W cukuplah ucapkan don’t panic I am muslim menjadi palu godam disetiap samudera keadaan, disegala benteng Korakoram ideologi buatan manusia. Dan buku yang anda pegang ini adalah salah satu palu godam itu! Selamat membaca dan hati-hatilah dalam menggunakannya!


DON’T PANIC I AM A MUSLIM #2 Dirilis oleh penerbit Anomali Jogjakarta.
Silahkan hubungi godfather saya: Chio atau Budi Saputra 0852.652.654.67.

3 komentar:

  1. apa bedanya sama yg prtama ya?gak ada link pembajakan ya?:)

  1. Anonim says:

    Congratulation... for the new book.
    Sae...sae.

    anyone

  1. divan says:

    Pro: Bedanya. Isi di tulisannya. Link pembajakannya. Dari dulu dah saya masukin di blog ini.

    Nuhun anyone

be responsible with your comment