Emosa
Posted: Senin, 11 Mei 2009 by Divan Semesta inAcapkali orang mendengung-dengungkan, bahwa orang Islam yang mengikuti ijtihad ulama itu bodoh.
“Berpikirlah dengan kekuatan pikirmu, gali dirimu!” Ujar mereka. “Bertanggung jawablah terhadap diri masing-masing.”
Padahal jika mengikuti arus berpikir yang so called ilmiah itu, pada kenyataannya mereka pun taklid atau dicucuk hidungnya oleh ilmuwan yang mengahasilkan penemuan.
Mereka tidak pernah berkutat dalam laboratorium, membuktikan dengan penginderaan mereka sendiri. Mengutip atom, quark atau meson padahal kebanyakan dari mereka tidak pernah melihatnya.
Sy pernah melihat seorang dosen di UI yang menjadi penghamba Dawkins si penerus Darwin. Ia mencela agama, sementara ia tidak pernah melakukan terobosan ilmiah. Ia hanya membaca lalu mengutip, membaca lalu mengutip dan tidak lupa meyakininya.
Inilah si rambut gondrong sang ahli humaniora. Ahli yang tidak mengetahui dirinya. Ahli yang tidak mengetahui bahwa ia bersandar pada sebuah keyakinan yang ditemukan oleh orang lain.
Lalu dimana artinya: letak pertanggung-jawaban terhadap diri masing-masing? Dimana artinya mencela konsepsi islam dalam mengikuti ijtihad sementara ia sendiri hanyalah seorang atheis, agnostic yang wilayah kajian dan penelitiannya hanya di dalam lingkup humaniora?
saya masih bisa setuju dengan orang yang menyalahkan orang taklid
dalam artian mengikuti apa saja yang dikatakan ulama tanpa menimbang atau mengkaji lebih dalam -dengan membandingkan sumber lainya- tentang apa yang diikutinya (nderek ngendikani pak yai)
tapi saya juga mendukung mereka yang dibodoh-bodohkan karena kapasitas mereka hanya sebagai -awam-.
terlepas dari itu semua, mengambil hukum sendiri juga tidaklah sederhana dalam islam, ada banyak prasyarat yang harus dipenuhi
waida qila lahum aminu kama amananna su qolu anu'minu kama amanas sufaha'
ala innahum humus sufaha.... (albaqoroh: lupa ayat brp)
mereka yang membodoh-bodohkan orang berimanlah sesungguhnya yang bodoh