Berandalan Bagi Para Tyran

Posted: Kamis, 19 Februari 2009 by Divan Semesta in
4

BANYAK hal yang ku alami saat ini, meski tidak banyak hal yang Aku lihat selama beberapa bulan belakangan ini.
Aku dalam kondisi menyepi.
Bukan menyepi dalam artian yang sangat puitis;
menyepi mengkerdilkan diri dalam kesenyapan hanya untuk Tuhan: Allah kita,
melainkan… menyepi dari buku-buku tertentu.

Ini berawal dari kepindahanku dari pekerjaan yang lalu.
Dulu Aku tidak menemukan hikmah kepindahan ini,
karena pekerjaan Aku di sebuah institute benar-benar membuat Aku kaya akan khasanah pemikiran dunia.

Aku masih mengingat bagaimana dulu, Aku masih bisa membaca buku-buku filsafat di gerbong kereta.

Satu jam perjalanan dari bogor menuju depok
selalu Aku habiskan dengan membaca,
sementara pulangnya pun demikian, (meski dengan syarat jika Aku mendapatkan kursi kosong)dan Aku tidak menemukan alasan moral apapun (seperti nenek-nenek kakek atau ibu-ibu dan hamil) untuk berdiri bersama penumpang kereta lainnya.

Waktu itu Aku benar merasa ingin mereguk semua… menyesap seluruh kelenjar prostate pemikiran. jika sebuah buku selesai.
Aku seolah dibakar oleh aprosidiak pemikiran yang membuat Aku ingin terus membaca, berusaha menyelam hingga kedasar khasanah pemikiran
yang pernah mempengaruhi alam berpikir manusia.

Ku akui, kepindahan itu sempat membuat Aku merasa tidak akan mendapatkan sebuah gairah pengetahuan yang baru.
Kepindahan ini Aku anggap sebagai kepindahan hanya untuk mempelajari bagaimana caranya meningkatkan benefit sebuah perusahaan.

Jika orang mengatakan Aku keliru karena bidang kecimpung-ku adalah human resource yang di dalamnya terdapat banyak pengetahuan kejiwaan yang belum tergali, dan Aku bisa mendapat banyak pengetahuan tentangnya,
maka Aku telah memiliki bantahannya.

Pekerjaan yang baru ini sungguh berbeda dengan pekerjaan yang lalu, karena dulu Aku tidak dikejar oleh target material melainkan hanya pembentukan sebuah pemahaman.

Sekarang Aku dikejar untuk mencapai sesuatu yang nantinya bisa Aku ukur dalam evaluasi setiap enam bulan sekali.
Dan itu materi.

Belajar untuk materi
tentu berbeda belajar dan mencari pengetahuan
untuk mengembangkan pemikiran.

Pada awalnya Aku merasa berakhir untuk melanjutkan ketertarikanku terhadap hiruk pikuk filsafat.
Ada sedikit penyesalan yang tersisa.
Aku mulai khawatir tidak bisa menulis lagi karena pada awalnya Aku sulit menemukan waktu menulis, kecuali Aku memaksa diri.
Aku khawatir tidak bisa mengalami lagi kenikmatan
dan keseriusan dalam membaca ketika di perjalanan.
Aku merasa kesulitan untuk bersilat dengan filsafat lagi.

Itu dulu.
Entah mengapa kini Aku malah bersyuukur.
Kevakuman yang Aku alami nampak sebagai sebuah titik cerah.
Aku tak bisa menentukan kapannya
Aku tidak mampu mendefiniskan

Yang kusadari saat ini, pemahamanku mulai terkupas sedikit demi sedikit.
Waktu jeda antara akses Aku terhadap buku-buku berat filsafat
Memberikanku waktu perenungan mengenai sebuah pertanyaan:
Apa yang Aku dapatkan dari buku-buku itu?

Aku yakin kalian bisa menjawab bahwa aku mendapatkan wawasan yang melintas batas, bahwa aku memiliki informasi yang luas.

Ya, ya, mungkin itu benar.
Tetapi apakah pengetahuan yang luas itu,
mendekatkanku akan kebenaran.
Aku mulai merenung.
Sepertinya aku tidak merasakannya.

Dunia filsafat, Marx, Nietzche, Sartre, Heidegger, … dan apalah namanya
malah membuat struktur berpikirku mengenai Islam melemah.
membuatku tidak bisa merenung lebih jernih mengenai Islam ini.

Aku masih teringat bagaimana ketika sahabat-sahabatku usai melakukan rapat mengenai keikutsertaan dalam Mei Day,
dan setelahnya aku melakukan pembahasan mengenai Eksistensialisme.
Dan aku mengatakan bahwa aku adalah muslim eksistensialis.
Eksistensi yang kuanut,
sedikit banyaknya sama dengan eksistensialisme Kierkegard.

Aku tidakmau berpanjang menjelaskan ini.
Intinya –pada saat itu-- aku ingin menyatakan, meyakinkan!
bahwa eksistensialisme itu ada dalam islam.

Hal yang hampir serupa pun jauh-jauh hari pernah ku katakan pada seseorang di Malang. Di sebuah kamar yang cukup lembab
aku terus menerus membantah statement pria itu,
bahwa di dalam islam itu ada filsafat.

Aku terpancing untuk mengutarakan hal tersebut,
karena dia membawa buku seorang tokoh cerdas yang didalamnya terdapat pembahasan mengenai filsafat.

Aku melihat logika berpikir tokoh cerdas itu, dan dia tidak tepat
karena banyak hal yang bisa dikonfrontasikan
bahkan dengan ide-ide yang tertuang di dalam bukunya.

Hingga saat ini aku masih menganggap logika berpikir tokoh tersebut dan temanku itu salah.
tapi … yang menyisakan pertanyaan saat ini adalah:
Untuk apa aku membela filsafat?
Apa untungnya buatku?
Untuk apa aku mati-matian membela harkat martabat filsafat.
Apakah aku hanya ingin menjaga sikap fair?

Ah persetan dengan sikap fair
jika sikap fair itu malah mengotori pemahaman kebanyakan orang mengenai akidah.

Lebih baik memperkenalkan Islam tanpa menyinggung
mengenai filsafat islam atau islam filsafat.

Lebih baik melakukan itu untuk menjernihkan keyakinan mengenai Islam.

Saat ini aku jadi lebih sering mengejek diriku.
Mentertawakan apa yang dulu ku bela, dan yang hingga saat ini orang lain bela
entah mengenai sosialisme islam atau anarkisme Islam (maaf sahabat).

Aku jadi menserupa-serupakan:
sepertinya kelakuanku di masa lalu sama seperti profesor
atau doctor lingusitik bahasa Indonesia yang setiap minggu sekali
mengisi rubric bahasa di harian Kompas

Mereka memperbincangkan kesalahan-berbahasa
seolah-olah dengan tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, akan mengakibatkan sebuah kiamat akbar,
atau akan menimbulkan perang dunia,
atau bahkan menerbitkan Dajjal.

Cukup kuhela nafas.

Bagiku kini,
Islam adalah Islam
tak perlu mengakulturasikan term pemikiran
untuk melakukan pembelaan terhadap ketinggian dan kesuciannya.

Di titik inilah aku merasakan sistematika,
dan kepercayaanku terhadap islam semakin tumbuh,
semakin menguat.

Aku merasa ada ajakan-ajakan gaib yang kurasa muncul dari hati nuraniku
untuk menempuh jalan ini.
Untuk terus mempurifikasi pemahaman keislaman yang kumiliki.

Inilah hikmah waktu jeda yang kurasakan
ketika aku dijauhkan oleh keadaan dari dunia filsafat yang antah barantah.

Ketertarikanku terhadap dunia --yang kebanyaknya minim aksi-- itu makin terkupas.
Saat ini, aku tidak mau peduli terhadap hinaan yang tertuju pada filsafat,
pada eksitensialisme, pada anarkisme atau tasawwuf atau apapun namanya itu.

Aku tidak akan membela,
dan sebaliknya aku tidak akan menganggap itu salah untuk orang lain.

Aku hanya akan tersenyum dan mengatakan untuk apa?
Ketika aku melihat: masih terlalu banyak aksi yang harus kulakukan.

Semakin hari aku semakin meyakini,
bahwa aksi akan senantiasa menguatkan afirmasi.

Aku mempercayai Islam
dan aku berdoa suatu saat nanti,
bahwa aku tidak hanya menyumbangkan tulisan,
bahwa aku tidak hanya menyumbangkan uang,
melainkan menyumbangkan darah untuk keyakinan ini.

Aku berdoa agar kami senantiasa konsisten
untuk terus menjadi berandalan …
bagi para tyran!

4 komentar:

  1. Akupun juga tak membela filsafat, namun bukan berarti tidak menjadikan kita untuk berfikir cemerlang bahkan berpikir sungguh2 untuk merealisasikan sesuatu...
    Akuupun berpikir kenapa aku harus berpikir cemerlang...
    lihatlah ketika kuda telah tergantikan dengan sepeda motor..ketika kipas kayu tergantikan dengan baling2 kipas angin...
    bahkan ketika mesin ketik yang juga tergantikan dengan komputer...
    bukankah itu semua hasil pemikiran..
    disanalah pemikiran cemerlang dan sungguh2 lebih hebat dari semangat yang merupakan naluri temporal dan kekuatan jasmani yang memiliki begitu banyak keterbatasan..
    jadi An nabanipun tak salah Bliau justru melarang kita untuk sekedar berpikir dan tidak mengaplikasikannya, Syaikh Taqqiyuddin An nabani berkata dalam kitab al-fikru al-islami bahwa islam gak boleh cuma dijadiin informasi-informasi untuk dihafal and sekedar pemikiran-pemikiran buat kepuasan Akal (kepuasan ilmiah) tapi lebih dari itu islam merupakan pemahaman yang harus di aplikasikan manusia buat pengikat tingkah lakunya and sebagai solusi-solusi terhadap fakta (permasalahan) yang ada dalam kehidupan. Dengan demikian SANGATLAH BERBAHAYA apabila islam Cuma di dijadiin Sebatas Pengajaran (informasi2) dan Bersifat Teoritis belaka. Cz Ngremehin Aplikasi sama halnya dengan Musnahin pengaruh islam dalam kehidupan dan mengubur warna aslinya yakni sebagai undang-undang buat ngikat tingkah laku.
    Maaf klo terlihat menggurui..saya hanya belajar menulis apa yang sedikit saya pahami...
    mas divan yang sering nulis di OM ya??Alhamdulillah sekarang ku juga nyoba nulis di SEVENLEVEL BULZ(hwe pamer) sekali lagi Afwan JIDDAN klo Q blum bgitu banyak paham soal islam...

  1. Sebenernya sesuatu yang nggak membuat sy cocok "tentang filsafat" dengan Annabhani, nggak disana. Tp sayangnya saya sedikit menutup diri untuk membahas hal ini. Sy sepakat dengan tulisan sevel level mengenai teori dan aplikasi. Terima kasih.
    Btw kalau kamu ada kelemahan, tentu pasti ada kelebihan. Begitulah saya, begitulah manusia.
    Blogmu menarik, sy coba masukan blog sevenlevel ke dalam link blog sy. Nggak usah make izin ya. Langsung aja.

  1. Sebenernya sesuatu yang nggak membuat sy cocok "tentang filsafat" dengan Annabhani, nggak disana. Tp sayangnya saya sedikit menutup diri untuk membahas hal ini. Sy sepakat dengan tulisan sevel level mengenai teori dan aplikasi. Terima kasih.
    Btw kalau kamu ada kelemahan, tentu pasti ada kelebihan. Begitulah saya, begitulah manusia.
    Blogmu menarik, sy coba masukan blog sevenlevel ke dalam link blog sy. Nggak usah make izin ya. Langsung aja.

  1. halah gak usah make minta izin gak po2, silahkan dibajak, di copy, di teh(warung anggite), dipamerin (cek pedene) pokok'e gak di gadein..cz gak da harganya. makasih pujiannya buat blog amatiran itu...JUVE(Tujuh Level)

be responsible with your comment