Pecahan Semangka

Posted: Kamis, 24 April 2008 by Divan Semesta in Label:
4

Sepuluh ribu lima ratus meter dpl

Awan yang tipis, terlihat tenang, berenang malas di angkasa yang terlihat biru dari permukaan. Lekukan lembah gunung mulai terlihat. Aliran sungai, berkelak-kelok menuju muara pembuangan segala macam kejernihan, yang menyatu dengan sampah kampung dan perkotaan. Angin membuat ia merasa dingin, tapi ia tidak menggigil. Burung-burung melayang, ia tidak bisa memastikan jenisnya apa. Beberapa saat lalu lelaki itu melihat dua ekor lebah. Ia pikir dengan ketinggian se-ekstrim itu pastilah yang dilihatnya seekor lebah madu betina, dan lebah jantan yang tengah melakukan apa yang disebut biologi sebagai usaha reproduksi. Ratu lebah madu memang memiliki keunikan ketika melakukan reproduksi, ia terbang melangit, sementara lebah jantan saling berlomba mengejar ketinggiannya. Makin tinggi satu demi satu pejantan gugur dan yang bertahanlah yang berhak membuahi sang ratu.

Lelaki itu jadi teringat proses persalinan yang baru saja ia tangani sebelum mengambil cuti. Di sebuah ruangan berwarna putih, lampu-lampu super terang berbentuk bulat raksasa, dan suasana yang tenang namun mencekam, seorang ibu melolong seakan ruangan itu hanya miliknya. Seonggok daging bernyawa keluar dari rahim melalui lubang kemaluannya. Lelaki itu mengambil gunting, memutuskan tali pusar bayi yang kemudian dibersihkan untuk diberikan, di-adzani dan di-iqomati oleh bapaknya.

Ia teringat dosennya, menjelaskan di hadapan kelas bagaimana kerja keras sel sperma, melakukan perjalanan berbahaya menuju sel telur ...hingga penjelasan mengenai retaknya tengkorak bayi semenjak di dalam rahim untuk mempermudah persalinan. Supaya kepalanya tak pecah karena tekanan.

Di akhir perkuliahan, wajah kawan-kawan lelaki itu, yang semula butek karena rumusan, berubah menjadi bercahaya. Mereka kagum oleh cara menghubungkan ilmu kedokteran dengan pemahaman mengenai keajaiban penciptaan, Kemahaluarbiasaan Sang Pencipta. Lelaki itu, mengingat bagaimana di akhir perkuliahan ia mendatangi dosennya, dan bertanya.

”Mengapa manusia tiba-tiba lahir ke dunia? Mengapa manusia tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan alam yang membingungkan? Manusia diciptakan seperti yang bapak katakan, lantas apa yang menjadi tujuan penciptaannya? Saya tiba-tiba saja ada di dunia ini tanpa diberi kesempatan untuk memilih ... untuk apa hidup ini? Hidup ini gelap bagi saya, terlampau suram untuk diketahui tujuannya.”

Dosen duduk kembali di bangkunya. Ia memandang lelaki itu.

”Siapa namamu?”

”Nyawa.”

”Alangkah bagus namamu.” sambil melihat wajah lelaki yang diliputi kerawanan, kegelisahan. Ia seakan paham dengan keadaan yang dialami mahasiswa di hadapannya, ”Nyawa... manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya ... hanya untuk beribadah saja. Bukan yang lainnya...”

Nyawa tidak puas, bukankah jawaban itu pernah didengarnya sebanyak ratusan ribu kali.

”Tapi saya tidak pernah memilih untuk diciptakan, hingga menyetujui melakukan konsekuensinya ketika saya sudah tercipta: beribadah. Tidak pernah ada yang mengajak saya rembug untuk urusan apa yang harus saya lakukan di dunia ini.”

”Nyawa ...” Dosen memandangnya bijak, ”Manusia pernah diberi pilihan di sebuah alam sebelum kelahirannya di dunia. Enam milyar manusia yang meramaikan bumi ini, sebelumnya telah memilih kehadirannya di dunia.”

Nyawa merasa aneh dengan jawaban itu, ”Kalau pernah diberi pilihan, kenapa saya tidak mengingatnya? Apa bapak pernah mengingatnya?”

Dosen itu diam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Nyawa sebab ia memang tak pernah mengingat apa ia pernah ditanya, diberi pilihan untuk hidup atau mati sebelum menghirup udara bumi yang ia tahu semakin sumpek oleh polusi.

”Pak ... seandainya saya bisa memilih, saya lebih baik mati, ketimbang hidup di dunia yang sesak ini. Ketimbang keluyuran kesana-kemari, melangkah dan bekerja tanpa mengetahui arti yang saya lakukan. Saya lebih memilih tidak dilahirkan. Lebih baik memilih hilang, ketimbang mengalami kehampaan yang kekal, kehampaan yang bisa membuat saya gila.”

Dosen itu merasa bangku yang didudukinya direkatkan sedemikin rupa hingga ia tak mampu untuk bangkit selama beberapa detik. Ia hanya melihat punggung mahasiswa semester empat itu meninggalkan ruangan yang mulai berubah suram, karena awan yang berarak mulai membeku. Langkahnya gontai.

Delapan ribu lima belas meter dpl

Dingin. Kawan di sampingnya tertawa, mengacungkan jempol. Tak jauh di bawah, dua kawannya dari Selandia Baru bergaya. Salah seorang di antara merekalah yang empat tahun lalu menyuntiknya menggunakan dexter sewaktu tersesat di Mount Cook. Mereka berputar-putar sebagaimana bor berputar.

Nyawa telentang, membalikkan tubuhnya, ia terseret sejauh dua puluh meter, dan melihat tiga orang meluncur deras menyusul dirinya. Seorang pelatih angkatan udara yang baru dikenalnya di kapal, bergaya seperti kodok berenang. Hal itu membuatnya tertawa. Sejenak ia teringat petuah seorang general manager rumah sakit tempatnya kini bekerja. Petuah yang akhirnya mengantarkan dia untuk mengikuti kegiatan ekstrim semacam ini.

”Kalau benar-benar ingin sehat secara mental, jangan pernah injakan kakimu di rumah sakit, bahkan jangan pernah injakan ban mobilmu di tempat parkir, bengkel manusia ini.”

Nyawa tahu lelaki itu sangat jarang memperbincangkan sesuatu yang filosofis, namun hal itu menyentakkannya.

”Jangan-jangan sakit mental saya karena itu pak?” Nyawa tertawa lirih.

”Mungkin saja. Apa yang pernah kau lakukan untuk meredakan sakit mental itu?”

Nyawa ragu-ragu. Apa sih yang diketahuinya tentang penyakit mental? Namun ia tetap menjawabnya, tidak mengacuhkannya. Nyawa berpikir namun ia tidak menemukan jawabannya. Apa yang telah kulakukan?

”Berbagi dengan orang lain. Namun itu tak menyelesaikan permasalahanku. Capai aku dianggap gila.”

”Siapa yang gila? Jangan-jangan orang yang mengatakan dirimu itulah yang gila? Tak ada yang salah dengan berbagi, setidaknya mengurangi beban perasaan yang menghimpit hidupmu, tapi memang ... tergantung siapa yang kau ajak berbagi ... kalau kita salah memilih teman untuk itu, dan terus menerus seperti itu, kupikir lama-kelamaan kita bakalan menjadi skeptis. Skeptis yang baik bagus, tapi bagaimana jika kita malah menafikkan seluruh kepercayaan terhadap keterangan orang lain dan bukan sekedar menormalkan keterangan itu, untuk dipertimbangkan kebenarannya.”

Mendengar apa yang diutarakan lelaki itu, Nyawa merasa ada cahaya yang sudah sekian tahun meninggalkan dirinya. Yang ia tahu, semua yang ia pandang sore itu menjadi berbunga. Orang terlihat senantiasa tertawa, anak-anak tersenyum dan knalpot yang pada faktanya membuat bising, ia anggap sebagai sekedar sikap kekanak-kanakan. Ia memanfaatkan hari liburnya sebaik mungkin. Pergi menjelajah pesisiran, melihat dedaunan yang luruh di sebuah hutan, bahkan mencoba untuk menikmati keindahan bukan dari detail-detailnya.: terjun payung, melihat keadaan pegunungan, aliran sungai, hutan, secara keseluruhan, dari ketinggian.

Sayang, warna-warna cerah yang mulai mendominasi hati Nyawa hanya berlangsung sebentar. Lelaki yang ia harap meredakan kekalutan, menjadi dokter jiwanya, meninggal dunia. Di erangan nafas terakhirnya ia mendapat firasat bahwa dirinya bakal mengalami kekelaman yang tak berjangka, tak berwaktu.

Ada hikmahnya.

Empat ribu lima ratus meter dpl

Nyawa melihat laut berkilauan. Rumah-rumah yang terlihat bagai kesatuan ketika ia berada di ketinggian sepuluh ribu dpl, kini nampak memisahkan dirinya. Samar-samar ia dapat membedakan satu sama lainnya. membedakan gedung tinggi dan gubug-gubug kumuh yang menjamur di pinggiran kali, bianglala raksasa sebuah arena fantasi, mercusuar Onrust, pulau lambang kejayaan kolonialisme yang dilihatnya pada ketinggian sepuluh ribu sudah tak tampak lagi.

Satu kilometer di bawah tubuhnya, dua payung mengembang seperti jamur. Berulang-ulang melihatnya dalam ratusan kali penerjunan yang Nyawa lakukan, tidak membuat dia kehilangan apresiasi terhadapnya. Lepas dari sana, ia tahu bagaimana hentakan yang dirasakan ketika seseorang menarik tali, yang akan menahan terjun bebanya. Rasanya jantung seperti bakal lepas. Sensasi yang dirasakan hanya bisa Nyawa samakan ketika ia mencoba terjun menggunakan tali dinamic kernmentel di sebuah menara di Bali.

Sempat terpikir, rasanya mati, mungkin seperti itu. Metabolisme tubuh, peredaran darah dan asupan oksigen di otak yang tadinya berjalan normal, tiba-tiba mengalami kondisi radikal, tiba-tiba ketenangan yang membuat seseorang hilang kesadaran selama beberapa detik. Mungkin perbedaan kematian dengan hilang kesadaran ketika membuka payung dan hentakan bunggy jumping hanya durasi waktunya saja. Kematian adalah kekosongan yang kekal. Bedanya tipis.

Setelah cukup lama, bertahun-tahun melarikan diri dari permasalahannya dengan mendekati kematian melalui olahraga yang memacu adrenalin, Nyawa tetap tak menemukan apa yang diinginkannya. Ketenangan. materi yang telah ia dapatkan tak bisa ia gunakan untuk membeli ketenangan. Ia cemburu dengan seseorang yang wajahnya dihinggap pancaran kedamaian. Melihat imam-imam surau di daerah terpencil seolah memiliki kedamaian sempurna, seolah tidak memiliki beban kehidupan yang menghimpit, beban yang terus menerus mengancam untuk memecahkan kepalanya. Ia iri bagaimana ketika seorang pengayuh sampan yang mengantarkannya menuju hulu meander papua, tertawa lepas memancarkan kearifan di tengah keterbatasan materi.

”Apa materi telah menjerumuskanku sedemikian rupa?”

Salah seorang temannya, pekerja kantoran yang juga sama-sama menyukai petualangan berkata.

”Kenapa lo nyalahin materi, nyalahin uang, nyalahin mobil, nyalahin? Padahal materi nggak punya kehendak, nggak punya keinginan, nggak punya nafsu! Kenapa nyalahin sesuatu di luar diri lu?!”

Dia benar, Nyawa tahu dia benar. Kesalahan ada di dalam dirinya. Tapi, kesalahan macam apa?! Karena kadang dalam perenungannya, dalam kesendiriannya, Nyawa mengadu, ”Ya Tuhan tunjukanllah kesalahanku?! Apa kesalahanku!?” ia tersedu. Ia tak tahu. Ia tak menemukan jawaban. Ia kebingungan dengan dirinya sendiri. Ia seperti hilang di dalam rimba pikirannya. Masuk ke dalam labirin, dan labirin itu mendekap Nyawa erat hingga membuat dadanya sesak. Membuatnya retak.

”Buset! Kena penyakit hati kali lo! Bersihin!” kata temannya yang malas berpikir berat.

Kata-kata yang diucapkan sambil lalu itu membuatnya berpikir setengah-setengah. Jangan-jangan iya.

”Deterjen merek apa?!”

”Maksud lo?!”

”Kan kata lu gua kudu ngebersihin ati! Gua juga mau! Cuman deterjennya, mereka apa?”

”Omo, ngkali! Rinso!”

Sialan! Nyawa kira temannya sudah berubah sejak terakhir bertemu dengannya. Sama saja! Ia tidak bisa mengharap.

Mungkin ada yang bermasalah dengan masa laluku? Nyawa berusaha mencari akar penyebab kehampaan yang menudungi dirinya. Apa kenikmatan-kenikmatan yang mudah didapatkan semenjak muda membuatnya memiliki waktu luang untuk berpikiran seperti itu? Tapi teman-temannya yang bernasib sama, bahkan lebih dibandingkan dia tidak mengalami kejadian serupa. Mereka santai saja dengan hidupnya. Mereka sepertinya tidak pernah merasakan: apalagi yang harus kulakukan, sementara semua yang kuinginkan sudah kulakukan! Sudah kudapatkan!

”Cobalah memberikan arti pada sesama, dengan menolong orang di sekitarmu!” Ujar seorang psikolog agama dalam suatu seminar yang mengikut sertakan dirinya sebagai keynote sepaker dalam masalah penggunaan napza.

Namun percuma. Apa yang dikatakan psikolog itu seperti yang dikatakan dosennya, klasik. Ia bosan, sebab bukan saja telah menemukan jawaban tersebut di dalam dirinya, namun ia telah lama melaksanakannya. Menyekolahkan anak jalanan, membantu biaya seminar dan wisuda teman-temannya, berderma pada pasien yang tak mampu dengan mengratiskan biaya pengobatan. Semua sudah Nyawa lakukan.

”Aku sudah memberi arti pada hidup mereka. Tapi mereka tidak memberi arti pada hidupku. Aku tak mengetahui arti keberadaanku.”

Sejak saat itulah tak ada lagi yang mampu menghentikan kesuraman yang dialaminya. Sejak saat itulah tak ada lagi yang mampu menghentikan Nyawa. Awan datang membayang menghilangkan, bahkan bayangan dirinya. Nyawa berjalan tanpa bayangan. Seolah ia memang sudah tidak ada di dunia ini. Ia letih. Sudah bosan dengan keadan ini. Dan sebuah resolusi terakhir ia tuliskan usai mengajukan pengajuan cuti untuk tahun ini.

Malam hari itu, Nyawa membuka pintu operasi tanpa menimbulkan suara. Ia ingin lama di rumah sakit malam ini. Menikmati lampu putih yang terang di luar kamar operasi, mendengarkan alat bantu elektronik yang bunyinya lirih merayap di lorong tempat dia menghisap kopi usai melaksanakan operasi. Nyawa tersenyum pada perawat yang tengah mendorong pasien yang sudah lama mengalami koma.

Ia turun keluar menuju ruang depan dan menyapa costumer service laki-laki berwajah tampan dan ramah. Ia melangkah menuju tangga, turun hingga kakinya menjejak di aspal. Nyawa jongkok. Jemarinya dihangatkan cangkir kopi, ia memandang ke angkasa yang hitam. Yang akan dicurahi hujan. Cahaya terlihat di langit malam yang tak berbintang. Beberapa detik kemudian petir menggelegar. Nyawa tak merasa tegang. Biasa saja. Bahkan malam itu ia merasa bahagia sebab keputusan yang sudah semenjak lama ia tahankan, akan ia laksanakan.

Esok lusa ia sudah tidak mendapati dirinya tersiksa oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya. Ia tidak usah lagi merasakan gerakan cepat setiap memejamkan mata ketika hendak berangkat tidur.

Nyawa berdiri, seorang satpam menyapanya sambil lalu. Nyawa merogoh kantung. Bunyi bip bip terdengar dua kali. Saat melangkah menuju mobil, dari dalam rumah sakit istri dokter yang dulu menjadi dosennya memanggil.

”Mas Nyawa! Tasmu ketinggalan!”

Nyawa melihatnya mengangkat tas menggunakan tangan kanan, sementara anaknya yang masih kecil memegang jempol kiri.

Mesin yang sudah bekerja ia matikan. Membuka pintu, Nyawa turun.

”Halo Raina ...”

”Halo om” Ia tersenyum manis, dan merasakan tangan Nyawa hangat mencubit pipinya.

”Raina senang punya adik?” Nyawa jongkok.

”Senang om.”

Ibu Raina tersenyum. Ia mengelus perutnya yang besar dan bulat.

Nyawa mengalihkan perhatian, ”Kapan kepastian melahirkannya?”

”Sudah lewat. Mungkin malam ini. Mungkin lusa, entahlah.” Ia tersenyum.

Nyawa membalas, dan mengucap basa-basi doa keselamatan untuknya. Lalu ia berpaling, ”Ingat nggak, kalau kamu pernah diperut bunda? Gimana rasanya coba?” Nyawa menunjuk perut ibu Raina.

“Lasanya bagaimana ya?” Anak kecil itu berpikir cukup lama, alis matanya yang tebal hampir menyatu. Matanya menyempit. Dahinya berkerut. ”Rasanya, lupa om!”

Ibunya tertawa.

”Om ingat?”

”Om nanya, justru karena lupa...” Nyawa tersenyum bijak.

”Om ...?”

”Ya sayang?”

”Pernah inget waktu om masih bayi nggak?”

Nyawa bingung, ”Maksudnya?”

”Om masih inget pas kelual dali pelut bundanya om?”

”Ya nggak. Bagaimana mungkin ingat? Kejadiannya kan sudah lama sayang.”

”Jadi ... yang sudah lama nggak mungkin bisa diinget ya om?”

”Ya ... Bisa saja begitu.”

”Kok aneh ya om... kita nggak inget, padahal, waktu itu kita kan udah ada ya om? Waktu dipelut ...” Raina berpikir lagi, ”waktu di pelut bunda, Laina udah ada. Tapi Laina nggak inget! Om juga nggak inget! Tapi om ma Laina ada! Aneh ya om!”

Mendapati hal yang demikian, waktu-waktu Nyawa seperti dihentikan oleh sebuah keajaiban. Semua menjadi lambat, hingga ia mendengar suara mengingatkan.

”Raina sudah dulu nanya-nanya-nya ya? ... om Nyawa capai. Orang capai butuh apa?” Ibu Raina bertanya lembut.

“Istilahat!” Jawab Raina cepat.

“Kalau begitu, bunda kasih tasnya om ya?”

”Iya bunda.”

Nyawa masih tertegun. Ia tak sadar sudah mengucapkan terimakasih tanpa mengatakan apa-apa lagi. Sewaktu kesadarannya pulih, ia melihat Raina, membalikkan badan. Anak manis itu melambaikan tangan.

Apa ini perpisahan? Nyawa membalasnya. Ia masuk ke dalam mobil lalu menyandarkan tubuhnya di jok. Satu menit kemudian ia nyalakan mesin mobil dengan kebahagiaan yang berlipat-lipat melebihi kebahagiaan ketika ia memutuskan untuk mati dalam penerjunan bebas keesokan harinya.

Dua ribu lima ratus meter dpl

Terpaan angin yang keras memaksa Nyawa tersenyum lebih lama. Ia mencium wangi garam. Kebahagiaan berlipat menguasai dirinya. Ke depannya hidup akan ia control. Tidak seperti sebelumnya.

Sepulang dari rumah sakit kemarin malam, ia melayang di atas ban mobilnya. Hujan datang membuat kaca berembun. Ia mengarahkan air conditioner ke arah kaca, tak lama kaca tebal mobilnya berubah menjadi jernih kembali. Ia mendengar hujan mengetuk kap dan atap mobilnya. Ketukan yang lembut, suara yang indah. Ia merasa paru-parunya lapang. Jok yang ia duduki terasa demikian empuk. Kepenatan dan keletihan dihapus kesadaran yang melingkupi diri. Seluruh panca inderanya terbuka.

Nyawa menangis, ia bernyanyi
♫ ..Don’t blow your head
Don’t blow your head

No, no, not alone
♫ …
♫ .. Every body heart sometimes
every body cry.
Every body heart sometimes
every body cry.
♫ …Just hold on
Hold on
Hold on

Entah mengapa, MP3 komputer sebuah radio memutar lagu lawas, REM.

Nyawa menyeka air mata. Selama bertahun-tahun, tak pernah lagi ia merasa lega semacam ini. Ia mencapai puncak ekstase malam itu.

Kebahagiaan berlipat yang ditemukan olehnya adalah kebahagiaan untuk terus melanjutkan hidup. Anak kecil yang manis itu benar, meski ia tidak sadar apa yang dikatakannya.

Nyawa berpikir ia tidak pernah sanggup mengingat, bagaimana dulu ia merasa hangat berada di dalam perut ibunya, bagaimana ia berenang-renang di dalam cairan ketuban ibunya. Betapapun keras usahanya ia tak bisa mengingat, bahkan rasa sakit ketika tali pusarnya di gunting, bahkan ketika jarum suntik imunisasi menginjeksi cairan melalui pantatnya. Nyawa tak bisa mengingat, namun ia bisa meyakinkan bahwa saat itu ia ada.

Meski masih dalam tahapan spekulasi Nyawa berpikir, ... mungkin manusia pernah membuat perjanjian dengan Tuhan, ketika ruh akan ditaruh ke daam tubuhnya. Mungkin perkataan itu ada benarnya.

Skeptisisme yang telah lama menyertai hidupnya, menyertakan kata mungkin. Yang berarti juga, ia harus mencobai kemungkinan lain untuk memperdalam apa yang pernah dikatakan dosennya dulu, bapaknya Raina. Bahwa, hidup manusia ialah untuk beribadah. Setidaknya, semangat Nyawa untuk hidup kini terbit. Setidaknya hati dia mulai dicerahi cahaya hangat, dan disaluri energi semangat yang berlimpah.

Di atas ketinggian itu Nyawa merasa lega. Merasa bahagia. Saatnya ia mengembangkan payung. Sebelum benar-benar menarik talinya, ia melihat ke atas. Dua payung yang dikenal coraknya, melayang ke arah tenggara. Lima buah payung lain, yang dimiliki penerjun yang belum seberapa ia kenal melayang-layang laksana elang. Nyawa menarik talinya. Tak ada hentakan yang menghentikan laju terjun bebas tubuhnya. Ia mencoba sekali lagi. Talinya tak berfungsi. Ya Allah, Nyawa menggigil. Ia panik. Ia berusaha lagi. Ditariknya tali sekuat tenaga. Tak juga terbuka. Ditariknya lagi berkali-kali! Tangannya berkeringat. Angin berkesiuran. Ya Allah! Nyawa kembali menyebut namaNya. Ia menarik untuk terakhir kalinya. Kekuatan yang entah datang dari mana membuat talinya lepas. Ranselnya robek. Nyawa meluncur deras. Ia tak mungkin selamat. Ya Allah, ya Tuhan.

Nyawa tiba-tiba teringat akan tujuannya terjun sebelum ia bertemu Raina. Aku tidak takut mengakhiri hidupku saat itu, mengapa kini aku takut? Nyawa sadar ia tak mungkin selamat. Ia sadar kematian bukan miliknya. Bukan keputusannya. Ada sesuatu di luar dirinya yang berkuasa penuh.

Nyawa menenangkan diri. Dilihatnya tanah semakin dekat. ”wahai Allah, inilah aku. Terimalah tubuhku.” Nyawa tersenyum tenang, bahkan hingga tubuhnya menjadi serpihan kecil seperti pecahan semangka...

4 komentar:

  1. Salam div,terimakasih pada tulisanmu yang memacuku untuk berbuat lebih...

  1. Salam juga untuk Miftah. Terimakasih karna ngebuat yang nulis jadi terbebani oleh tulisannya :).

  1. che_frey says:

    mas boleh saya garong tulisan mas ga??
    asli
    bagus banget tulisannya.
    sampe merinding pas ngebacanya...

  1. dr dulu sy nggak pernah marah sama kucing yang ngambil dendeng ... he he ... garong aja.

be responsible with your comment