Ziarah

Posted: Kamis, 05 Agustus 2010 by Divan Semesta in
5

Mascha yang sudah menjadi Nini-Nini itu melakukan napak tilas. Dulu, jauh sebelum Mascha lahir, Sinyo dan Noni Belanda saling jatuh cinta. Monumen tanda cinta mereka memang tak se-edan Taj Mahal, tak sekudus Jabal Rahmah yang menjadi ‘monumen’ cinta moyang manusia. Tapi, bagaimanapun juga cinta Antonius cukup bisa buat die romantic. Maria Zwijen yang merupakan anak opsir Belanda dari Sukabumi itu ia hadiahi sebuah resort yang indah. Terletak di Lido, di pinggir danau yang di kanan kirinya di tanam padi dan pohon pinus, yang kini menjadi sebuah resort sejarah, andalan Jawa Barat.

Manusia selalu demikian. Setidaknya aku senantiasa seperti itu.


“Van, apa yang kamu cari di Bandung?” Tanya seorang rekan kantor.

Bagi sebagian orang, kuliner adalah tujuan. Mereka rela menjelajahi pelosok pelosok perkampungan, masuk ke gang sempit untuk mendapatkan citarasa. Ada pula yang mengambil cuti 12 hari, untuk melakukan petualangan di entah di kota besar, pegunungan atau pantai.

Ada sejuta macam alasan mengapa seseorang begitu mencintai sebuah lokasi. Bagiku, Bandung layak kunobatkan sebagai salah satu kota yang sangat berarti bagiku.

“Nostalgia!” demikian kujawab pertanyaan rekanku itu.


Ya, tidak jauh, sama seperti si nini Mascha, aku memiliki sejarah hidup yang senantiasa aku rindukan.

Dulu aku pernah di Malang, dan rasanya pun sama dengan Bandung. Kota itu selalu memanggilku kembali.

Kemarin panggilan itu kutunaikan.

Entah mengapa, setelah aku menginjakkan kaki di sana, justru aku kebingungan di buatnya. Yang kulakukan hanyalah berziarah, melewati jalan Dago dan memperhatikan gang-gang yang dulu pernah kulewati sambil berjalan kaki, blasak-blusukan menawar ensiklopedia di Palasari (yang sialnya jauh-jauh lebih mahal ketimbang ketika aku membelinya di pinggir rel Universitas Indonesia), main ke book fair Braga dan masuk ke kompleks pesantren Darut Tauhid.

Kupikir aku akan merasa senang, bakal merasa terharu biru atas keberadaanku, kelalang kelilingku di angkot dan taksi kota itu. Tapi aku masih merasa gelisah. Dan itu artinya ada teka teki yang nyantol dikepala, dan yang nyantol itu harus kujawab.

***
Sebaris pesan sms masuk, menanyakan keberadaanku. Tak berapa lama kami pun bertemu. Setelah sedikit berbincang, kami masuk ke dalam sebuah warung tenda pinggir jalan yang menjual gulai dan sate.

Tak begitu lama kami berada di tempat itu, di Braga. Mungkin hanya satu setengah atau dua jam kurang. Tapi batinku, terisi. Tidak penuh memang. Karena kupikir, itu wajar sebab pertemuan itu cuma kejapan.

Di bus, saat menuju Bogor, aku kembali mengingat masa-masa ketika kuliah dulu. Saat kami berdiskusi hingga seringnya aku bangun dan baru shalat subuh jam sembilan pagi. Saat kopi benar benar menjadi teman yang bisa diandalkan. Saat kami merasa sungguh sangat muda, dan kuat berlama-lama untuk berbincang, memaki, bahkan memiliki pemikiran yang nakal dan solidaritas yang cukup membanggakan.

Ya itulah. Di warung itu, aku justru menemukan, bahwa inti ziarah di sebuah kota sebenarnya tidak sepenuhnya terletak pada mengunjungi lokasi-lokasi yang dulu pernah kita sambangi.

Segemerlap apapun, sebuah kota hanyalah sekumpulan benda.

Dimanapun itu, ziarah hampir selalu melibatkan ikatan, melibatkan cinta dan yang memberi arti sebuah kota adalah hubungan yang agung antar manusia.

--------------------
(Sory, nggak mengadiri wisudamu Aemte. Di doakan, ilmu yang di dapatkan bisa menjadi berkah untuk lingkungan, setidaknya orang-orang disekitarmu. Dan mudah-mudahan harapan oran tua/harapanmu di masa depan, terkabul.)

5 komentar:

  1. arushidup says:

    Makasih K' udah ditraktir :)jazakumullah khairan-katsiran.

    Hm... sebenernya malam sebelum ketemuan, saya mimpi Alda sama Adip datang ke rumah saya. Petanda apa ya, K'? hehe makanya pas pagi saya nanya: "kang dah ketemu Adip?"

    ...

  1. sama-sama :)
    mungkin cinta lama bersemi kembali :) atau...

  1. aemtemite says:

    Barangkali, saat itu kita tidak jodoh ya?

    Kalau waktu itu datang ke UPI, mungkin ketemu sama Adip (sy juga belum semput ketemu sih waktu wisudaan sama dia :p).

  1. Anonim says:

    terkadang ziarah itu bukan tergantung tempat dan "sesuatu" di situ, tetapi lebih ke orang-orang yang membentuk sesuatu layak diziarahi.

    Seperti sekarang, buat saya Bandung is nothing, sepi, karena teman2 itu sudah hengkang dari Bandung, seperti Kang Divan ini :)


    hasan abadi kamil

  1. Kang Hasan: Beruntunglah orang tua yang dari dulu, sampai mereka punya cucu, cicit rumahnya disitu-situ saja. Dengan tetapnya sebuah tempat, kita bisa merasa benar-benar kembali :). Tapi tetap saja, kita tetap rindu tempat itu Kang, rindu masa lalu.

be responsible with your comment