Kaliber Nyawa

Posted: Rabu, 11 Februari 2009 by Divan Semesta in
1

KAMI baru saja mendapat poster boikot dari sebuah majalah. Lalu kami pun mengamati produk-produk yang memiliki kontribusi untuk menguatkan kepalan zionis Israel.
Aku kemudian mengurutkan satu-persatu icon yang tertera.

Sampai di perusahaan IBM, sahabatku Ira bertanya. “Biskuit Ibm kena?”

“Lha emang ada biscuit yang mereknya IBM?” tanyaku.

“Ada,” jawab dia dengan tampang serius.

“Masa? Emang IBM apa?”

Dia tetap menjawab biscuit, dan aku tertawa. “IBM itu perusahaan computer!”
Dia kebingungan. Jawabanya mengingatkanku pada kejadian serupa tapi tak seutuhnya sama.

Teman satu kosan ku di Jatinangor dulu pernah memberi saran pada Abadi (nama salah satu temanku) untuk mengkonsumsi susu beruang. Waktu itu Abadi memang terlihat kecapaian (Siapapun yang pernah kuliah di arsitek tahu bagaimana gilanya jika dosen arsitek memberi pekerjaan rumah)
Maka ketika mendengar susu beruang sebagai saran,
Abadi yang berasal dari kuningan pun tersentak!
“Halah susu beruang!? Gimana ngambilnya?”

Sudah bisa ditebak Aku dan Sukma yang acap mengaku dirinya Zorro pun ngakak.

Abadi tidak tahu jika susu beruang itu sebenarnya susu kaleng Bear Brand.

Beruang ya cuma brandnya doang. Cuma mereknya.

Kalau memang susu kaleng itu berasal dari susunya beruang bagaimana mengambilnya? Tentu si pemerahnya harus maen cakar-cakaran.
Bagaimana dengan susu rodeo?
Apa susunya diambil oleh rodeo pada saat kuda liar ngamuk menolak untuk ditunggangi.

Bagaimana dengan susu bison?
Ah tak usahlah dilanjutkan.
Pembicaraan ini tak baik di baca oleh lelaki yang masih lajang.

Hm, aku kembali melihat produk yang harus kami boikot.

“A,” tanya Ira lagi. “Kalau ngebajak untuk ngelawan Zionis nggak papa kali ya?”

Ku bilang tidak masalah. Justru bagus itu. tapi memang tidak selamanya pembajakan itu ditujukan untuk perlawanan.

“Sialan!” umpatku. “Kemaren kan baru nonton bioskop yang diproduksi 21 Fox Century!”

Dan aku pun bersumpah untuk tidak menonton film 21 Fox Century kecuali dari dvd rentalan atau bajakan.

(Lalu Nyawa, anak kecil itu teriak-teriak. Hi takuuut. Ujung rambutnya yang kriwil bergoyang-goyang. Gesturenya dibuat-buat.
Takutnya tidak terkait Palestina.
Aku yakin dia mencontoh dari lingkungan.
Entah dari siapa, hingga saat ini hal itu menjadi pekerjaan rumah buat kami)

“Trus apa lagi yang udah kita boikot bulan ini?” tanyaku kembali.

Ira berpikir. Kami masih melihat gambar.

Coca cola, fanta, MC Donald sudah sejak dulu kami berhenti mengkonsumsinya.

“Nah lho,” aku menunjuk Kraft. “Keju si Nyawa kan dari Kraft…”

Dari dulu kami selalu mencampur makanan Nyawa dengan keju,

“Kalau begitu coret dari list belanjaan. Ganti keju yang lainnya!”

Aku berusaha mengingat. “Nah loh, kemaren kan beli Oreo… kalau gitu oreo gak usah dibeli”

“Semua produk Nestle…. Ogah!” Ira menyergap.

Aku tak tahu sejak kapan Ira ngomong dengan lagak macam begitu.

(Nyawa pun datang lagi. Ia teriak-teriak diberi sikat gigi
Gigi Nyawa bagus, rapi.
Kariesnya sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada.
Nyawa mondar mandir dihadapan kami.
“A… a…” memasukan sikat gigi kedalam mulutnya lalu berkata “ompong…ompong…. Aki ompong.”
Mungkin kalau sudah besarnya ia bisa diikutsertakan dalam drama)

“Nih ada lagi De! Carefour!” aku menambahkan.

Dari dulu kami memang berniat ke Carefour karena produknya yang murah,
tapi untunglah tulisan di majalah ini menghentikan niat kami.

Nyawa kemudian merengek-rengek.
Ia minta diperhatikan.

Ah,
Sudah terlalu malam.
Saatnya tidur.
Lampu dimatikan.
Aku berbalik membelakangi tubuh Ira dan Nyawa.

Saat itu aku memikirkan boikot sebagai senjata memperlambat pembunuhan di Palestina. Tapi sesungguhnya senjata itu kini tengah tertidur di samping Ira.

Percayalah …
Mendidik adalah mengokang senjata….
Semakin baik didikan, semakin besar caliber senjatamu…
Karena itu ….padanya kami menitipkan perlawanan.
Dan Kami pun ikhlas, Kau boleh menitipkan perlawananmu pada Nyawa
tapi …bukankah lebih baik jika kau membuat senjatamu sendiri.

Haha.

1 komentar:

  1. badai says:

    ha ha.. lucu nih dibanding artikel yang lainnya di OM.
    eh, ini divan Open Mind kan?
    OM apa kabar?
    salam kenal dari -chio- badaiotak-majalah mini juga dari jogja.

    ada waktu berkungjunglah ke anomalibadaiotak.multiply.com
    -jzk-

be responsible with your comment