Ketakutan yang Kelam

Posted: Kamis, 19 November 2009 by Divan Semesta in
1

Aku yakin ada banyak hal di dunia ini yang benar-benar ingin kita hindari. Kita diharuskan untuk menghindari Dajjal, atau kamu harus menghindarkan diri dari orang-orang yang membuat energi kamu terkuras habis.
Demi Allah, hal seperti ini pun saya khawatirkan terjadi pada diri saya. Bahkan untuk memikirkannya pun hal itu membuat saya panas dingin. Hal ini sama dengan yang dialami pasangan hidup saya. Hanya memikirkan bagaimana sakitnya melahirkan, menjadikan tulang-tulangnya linu.
Saya benar-benar bingung dengan apa yang terjadi dengan diri saya. Sebenarnya saya tergolong manusia yang lumayan mampu mengendalikan emosi, tapi untuk hal yang satu itu rasanya bagaikan siksa. Ketakutan itu membuat saya serasa didera.

Saya tak habis pikir, orang-orang dikantor saya, di pergaulan saya, kadang diangkutan kota, atau dalam sebuah training acapkali mengucapkan kata-kata, kalimat yang membuat saya trauma. Memang, mereka tidak berkata-kata kasar, tak berkata-kata macam Diamput, bagong, atau Diancuk! Tapi mengapa setiap mereka bersendandung, bersiul seolah-olah apa yang mereka lakukan menggerogoti keberanian saya, membuat saya mengigil.
Saya tak habis pikir mengapa mereka melakukan itu, berulang-ulang. Saya tak mau apa yang mereka lakukan akhirnya, membuat saya pun melakukannya. Saya sungguh-sungguh bersumpah, bagaimanapun beratnya saya tidak akan melakukan hal itu!

Untuk saat ini saya hanya mampu berdoa: Ya Allah jangan jadikan aku menjadi golongan mereka. Perkuatlah 'keimanan'ku agar aku mampu menjaga lisanku. Ya Allah turbahi aku, jubahi aku, lindungi aku...
Bismillahirrahmanirrahiim... dengan nama Allah yang maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, sejak hari ini, dan di hari yang akan datang, ku bersimpuh, aku jatuh dihadapan-Mu, agar kau menjauhkan lidahku dari keinginan untuk berkata:

Pernah ku mencintaimu... tapi tak begitu....
Kau hianati aku.... huhuhu.....

Ampuni Aku Ya Allah...
jauhkanlah aku dari lagu Anang itu....
Amin.

READ MORE!

Simo Hayha as a White Death

Posted: Selasa, 17 November 2009 by Divan Semesta in
1


Simo Hayha hanyalah seorang petani dan pemburu yang telah melewati masa wajib militer 1 tahunnya. Ketika Uni Soviet menyerang Finlandia di tahun 1939, dia memutuskan untuk membantu kampung halamannya.Karena area perperangan kebanyakan di dalam hutan,Hayha menentukan taktik terbaik adalah dengan bersembunyi di pepohonan ditemani sepucuk senapan dan beberapa kaleng makanan.


"The White Death", nama yang diberikan oleh tentara Russia ketika mengetahui puluhan pasukan mereka tewas oleh hanya seseorang dengan pakaian kamuflase putih dan sepucuk senapan. Kecemasan mulai melanda pasukan Russia dan misi-misi pun dijalankan hanya untuk membunuh seorang penembak jauh misterius.


Ketika pasukan khusus yang dikirim Russia untuk menghabisi Hayha semua tewas, Russia mengumpulkan sebuah tim counter-snipers untuk mengimbangi kemapanan Hayha dalam menembak jauh (sniper VS sniper). Namun tidak ada satu pun dari mereka yang selamat dari bidikannya. Dalam masa 100 hari, Hayha membunuh 542 prajurit dengan senapannya. selebihnya dia habisi dengan SMG. Total kill-countnya mencapai 705 orang.Pada akhirnya, tidak ada satupun prajurit Russia yang berani mendekati area-area dimana Hayha diperkirakan bersembunyi. Tentara Russia kemudian melaksanakan carpet-bombing di area-area yang diperkirakan sebagai tempat Hayha bersembunyi. Namun Hayha berhasil selamat dari taktik carpet-bombing Russia yang dilancarkan hanya untuk dirinya seorang.


Tanggal 6 Maret 1940, seseorang yang beruntung berhasil menembak Hayha di kepala dengan peluru peledak. Ketika ditemukan dan dibawa kembali ke markas, setengah dari kepala Hayha telah hancur The White Death telah berhasil dihentikan.....untuk waktu seminggu . Hayha kembali siuman yang mengakibatkan dirinya mengalami trauma "shot-in-the-face syndrome" pada tanggal 13 Maret 1940, hari dimana perang berakhir. "Hayha kemudian melewati masa-masatuanya sebagai pemburu dan peternak anjing setelah perang dunia kedua berakhir. (Nyolong tulisan dari yang nyolong)

READ MORE!

Negara Kecil Bernama Keluarga

Posted: Senin, 16 November 2009 by Divan Semesta in
5

"Abah! cari aku dong..!" teriak najma, putri sulung saya, yang lagi ngumpet bareng Ayla. "maap ya, mbak...! abah lagi kerja...!" jawab saya tidak beranjak dari depan laptop. "abah..! ayo cari dong...!" teriak najma lagi. "abah lagi sibuk, mbak...! maen ama adek ayla aja ya...?!" saya msh terpasung di depan laptop. tapi lalu selintas muncul pikiran baik saya, saya ingin kasih kejutan bwt putri2 saya.. saya pun keluar ruangan menuju ruang tamu tempat najma dan ayla bersembunyi di balik gordyn. "mana ya mbak najma ama mbak ayla...?! qo ga keliatan...?!" saya pura2 tidak melihat meski mereka nampak jelas ada di balik gordyn, mereka pun tertawa. saya terus mencari di samping mereka dan membuka gordyn tapi tetap pura2 tidak melihat, najma dan ayla semakin keras tertawa, mereka tau bahwa saya pura2 tidak melihat. "abah! aku disini..!" seru ayla, tapi saya msh saja terus mencari sambil pura2 tidak melihat mereka, tawa najma n ayla pun semakin keras.

itulah permainan favorit najma n ayla, main petak umpet tapi yang nyari pura2 ga tau mangsanya, saya sering mencari najma n ayla di ketiak mereka atau di kantong mereka sendiri bahkan mencari di lubang hidung atau mulut mereka sambil bilang "mana ya mbak najma ama mbak ayla...?! qo ga keliatan..?! ngumpet dmn ya..?!", saya jamin mereka akan tergelak ketika saya melakukan itu dan mereka akan terus berteriak "abah! aku disini!" sampai mata kami saling bertemu baru saya akan mengakui keberadaan mereka, "oh.. ternyata di sini... td abah cari kemana2 ga ketemu...!". mereka akan meminta saya melakukan permainan itu sekali lagi dan lagi. mereka bahagia.

ternyata, mudah sekali membuat anak2 bahagia, tidak perlu dibawa ke dufan atau mekarsari, cukup kita luangkan waktu dan perhatian kita juga sedikit tenaga kemudian mereka pun bahagia. sederhana sekali. namun jujur saya akui, saya sering menolak ajakan anak2 untuk bermain dengan alasan sibuk, padahal saya hanya bekerja di rmh di depan laptop.
"abah lagi kerja ya?" tanya ayla putri saya yang berusia 2 tahun jika saya nampak khusyuk di depan laptopp.
"iya.."
"cari uang..?"
"iya.."
"bwt beli susu?"
"iya..."
pertanyaan ayla persis seperti yang saya ajarkan. saya mgkn bisa berbahagia karena menganggap anak saya pengertian dengan kesibukkan ayahnya, tapi dari sudut pandang yang berbeda bisa jadi saya sedang mengajarkan ttg pemakluman terhadap anak2 saya, sama seperti pemakluman yang diajarkan pemerintah kepada rakyatnya ketika menaikkan harga BBM, menjadikan kampus sebagai BHMN, melakukan privatisasi BUMN. pemakluman atas suatu ketidakadilan.

pernah suatu ketika saat najma yang belum genap 4 tahun menghampiri saya yang sedang khusyuk di depan laptop,
"abah lagi kerja ya?!"
"iya sayang..." saya jawab tanpa berpaling dari lcd laptop (betapa kejamnya saya)
"abah qo kerjanya ga selesei2,sih...?!" ucap najma santai tapi jelas saya menangkap ungkapan itu sebagai protes (kecil2 sudah jadi demonstran).

Degh!! saat itu sepertinya ada yang membentur jantung saya, saya sudah sejak pagi di depan laptop hingga sore hari, jadi seharian saya di rumah tapi belum juga meluangkan waktu untuk anak2 saya. luar biasa! ini sungguh bertentangan dengan alasan saya kenapa dulu sejak kuliah bertekad untuk tidak mencari kerja kantoran dan memilih berwirausaha dengan konsep small office home office.saya memilih berwirausaha dengan harapan bisa punya waktu lebih banyak untuk keluarga dan sahabat2 saya, saya membayangkan kapan pun saya bisa bercengkrama dengan istri dan anak2 juga mengunjungi saudara dan sahabat tanpa harus menunggu weekend atau tanggal merah.

di tengah malam ini saya merenung sambil mengingat kejadian sore tadi saat bermain petak umpet bersama putri2 saya, ternyata kebahagiaan bagi anak2 begitu sederhana, paling tidak begitulah kesimpulan saya berdasarkan pengamatan terhadap anak2 saya sendiri. kebahagiaan bagi mereka adalah adanya curahan kasih sayang dari orang2 terdekat mereka. kebahagiaan bagi mereka adalah kebersaaman dalam kasih sayang. kebahagiaan bagi mereka sgt berbeda jauh dengan arti kebahagiaan bagi para koruptor yang meletakkan kebahagiaan pada pencapaian materi semata.

saya pun kemudian berpikir lagi, jangan2 orang tua yang sibuk dan enggan meluangkan waktu untuk anak2nya lah yang scara tidak langsung ikut andil dalam menciptakan manusia2 materialstik dan pada ekstrimnya akan menghalalkan segala cara demi kepentingan duniawi. betapa tidak?! orang tua yang sibuk dan enggan berbagi waktu dan kasih sayang dengan anak2nya lebih suka membelikan sekarung mainan agar anaknya bisa bahagia, jika mainan yang biasa2 saja sudah tidak dapat membahagiakan anak2nya maka ia membelikan mainan yang lebih canggih lagi hingga jika memungkinkan ia akan membelikan mainan yang paling canggih saat itu. mungkin tidak salah jika saya menyimpulkan bahwa orang tua yang seperti ini telah mengalihkan arti kebahagiaan bagi anak2 yaitu kebersamaan dalam kasih sayang menjadi sekedar ketersediaan materi semata. ketika anak2nya beranjak dewasa maka orang tua seperti ini lebih suka memberikan setumpuk uang daripada mendampingi saat2 penting dalam hidup mereka.

sepertinya tidak banyak orang yang akan menyangkal jika saya menyatakan bahwa kondisi negeri yang kita cintai ini sedemikian kacau balau, keadilan sulit untuk ditemukan, rakyat kecil tidak diperhatikan dan tidak mendapatkan haknya, kepentingan para pemilik modal diutamakan sedangkan kepentingan rakyat diabaikan, tapi mudah2an kita tidak turut memperburuk keadaan dengan tidak memperhatikan anak2 kita. anak2 kita adalah harapan masa depan, kita harus mendidiknya dengan kasih sayang, kita ajari mereka tentang kebersamaan dan menjauhi sifat individualistis, kita pahamkan mereka tentang makna kehidupan yang sejatinya adalah pengabdian kepada Rabb Semesta Alam dengan menjalankan segala aturanNya, anak2 kitalah nanti yang akan berada di garis terdepan dalam upaya menjadikan dunia ini lebih baik untuk semua ummat dengan kebersamaan dalam ketundukkan pada tuntunan Sang Pencipta. mudah2an kita semua berhasil menjadi pemimpin yang baik yang memperhatikan rakyatnya di negara kecil kita yang bernama keluarga. (ali mufti)


------------------------


Tulisan tsb merupakan tulisan Ali Mufti. Dia curhat, katanya kemampuan menulisnya sudah tumpul. Alasannya, dia sudah lama tidak menulis. Mungkin tulisan serius yang dia buat itu di Openmind edisi terakhir, sebelum tidak muncul-muncul lagi.

Dia meminta saya untuk menilai tulisannya. Dengan memasukannnya ke dalam blog ini, tulisan bos openmind itu sudah sy nilai. Dan... saya sama sekali tidak mengeditnya.

READ MORE!

Uncivilized

Posted: Rabu, 04 November 2009 by Divan Semesta in
0

Nama motornya sesuai dengan cepatnya kejadian yang kami sekeluarga rasakan: Thunder. Ya, seperti halilintar motor itu menghantam knalpot motor yang kami pinjam dari seorang kawan. Akibatnya, istri saya yang tengah mengandung melayang, jatuh di aspal. Demikian pula dengan anak kami.

Saat itu, tak ada lagi yang saya ingat selain ucapan astagfirullah serta reflek untuk memastikan bahwa keluarga saya baik-baik saja.

Alhamdulillah, istri saya hanya benjol dan memar di kepala. Sementara seperti banyaknya kecelakaan yang dialami anak-anak kecil, anak kami tidak kurang satu apapun. “Anak kecil biasanya dilindungi malaikat,” ucap seorang sahabat, tetapi saya mengangkat tangan, saya tidak faham tentang hal gaib seperti itu. Sedangkan kondisi saya? Kaki kiri saya lebam di tabrak ban, sementara kulit kanan mengelupas berdarah digerus aspal. Usai memastikan kami sekeluarga baik-baik saja, saya langsung menemui pria yang menabrak motor yang kami pinjam. Saya melihat kakinya bengkak. Sebelum saya sampai di hadapannya, ia sudah menuding. "Mas ini bagaimana?! Kok belok tiba-tiba!" protesnya sengit.

Sebenarnya saya sudah menyalakan lampu motor, tetapi saya lupa apakah saya berbelok tiba-tiba atau tidak. Karenanya, saya hanya diam. Saya memilih untuk tidak berargumentasi. Saya meminta maaf, padanya. Saya bertanggung jawab dengan tak membantah apapun perkataan pria itu, meski bisa jadi dia pun salah: motornya terlalu cepat, atau dia sedang melamun dan beraneka macam kemungkinan lainnya untuk meringankan tanggung jawab menjadi tanggung jawab bersama.

Tetapi itu hanya bisa jadi. Kemungkinan bahwa dia salah bukanlah sebuah kebenaran. Kemungkinan tentunya berbeda dengan kebenaran.

Saya tidak mau menyalahkan orang. Dan entah karena diam itu wajah lelaki itu melunak. Saya memberikan tisu basah untuk membersihkan lukanya. Ada keikhlasan tampak di wajah dan matanya.

Singkat kata, kami pun saling meminta maaf. Ia mengikhlaskan kejadian itu. Dan setelah mengusap anak-kami yang masih menangis ia pun pergi setelah saya memberinya kartu nama. “Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya.

Cerita ini masih berlanjut, ketika kami tengah mengemas pakaian dan barang, pria itu pun mengirimkan short message pada saya. “Mas bisa datang ke tempat saya? Maaf karena saya harus ke Sangkal Putung. Kaki saya retak.”

Saya terhenyak, sebab kami harus segera meninggalkan Malang. Dengan menyesal kemudian saya memberitahukan bahwa Di Malang, kami tengah berlibur. Waktu cuti saya habis, dan malam ini kami harus pulang. Sebagai bentuk tanggung jawab saya pun mentrasfer uang kepadanya. Tak hanya itu saja, saya pun menguras atm untuk mengganti kerusakan motor yang saya pinjam.

Dalam liburan itu saya akhirnya mengeluarkan biaya yang sangat tak terduga. Di bulan Oktober ini akhirnya saya hanya memiliki beberapa ratus ribu untuk bertahan karena tabungan yang sayangnya tidak bisa diuangkan segera dalam bentuk uang. "Kita mendadak jatuh miskin," istri saya tertawa renyah saat mengetahui kondisi keuangan keluarga kami. Saya pun mengiyakan dan mengatakan dengan optimis bahwa, "Kita masih memiliki kesehatan dan akal De’." Dan istri saya pun menambahkan kalimat yang kurang. “Bukan hanya itu,” ucapnya. “Kita tidak hanya memiliki kesehatan dan akal, tetapi kita memiliki Allah.”
(but thats not a fairy tale that have --almost-- a happy ending. check begundalmilitia88.blogspot.com)

***

Saat memandangi kota Malang dari balik jendela bis malam, kami bersyukur. Kami tak merasa rugi atas apa yang kami tanggung. Kami telah membelanjakan uang kami dengan sesuatu yang luar biasa. Kami menguras tabungan untuk membeli makanan immaterial immaterial bagi nurani. Kami membelanjakan uang untuk membeli makanan bagi nurani kami. Kami tak pernah merugi. Kami merasa semakin kaya.

Dan cerita itu hanyalah sebuah awalan.

***

Dalam sebuah kisah yang pernah saya baca, di masa para sahabat Rasul, ada seorang lelaki yang diajukan ke pengadilan karena melakukan pembunuhan. Untuk menegakan order, maka sang pembunuh kemudian dijatuhi hukuman mati dan sebelum hukuman mati dilaksanakan sang hakim pengadilan memberikan sang terdakwa untuk mengajukan keinginan terakhirnya.

Lelaki yang bersalah itu kemudian meminta izin untuk pamit kepada keluarganya, dan sang hakim pun mengizinkan, setelah sebelumnya member perintah pada pria itu untuk kembali pada hari eksekusi. Setelah menyetujui sang terdakwa pergi –entah mengapa-- tanpa kawalan.

Waktu berlalu, ketika hari eksekusi tiba, masyarakat dan sanak kerabat yang ditinggalkan menanti datangnya sang terdakwa. Mereka berpikir pria itu akan melarikan diri. Maka munculah teriakan-teriakan yang menyalahkan sang hakim atas tidakan gegabahnya (membiarkan sang terdakwa tanpa kawalan). Akan tetapi teriakan itu mereda sebab di menit menit terakhir sebelum eksekusi dilaksanakan, sang terdakwa datang dengan ketabahan. Pembunuh itu datang dengan keberanian yang bersumber dari pertanggungjawaban.

Masyarakat, hakim, sanak kerabat pria yang terbunuhpun mendecakkan lidahnya. Mereka terkagum-kagum atas bentuk pertanggung jawaban yang dilakukan sang pembunuh. Dan cerita ini berakhir mengharukan karena ketika eksekusi akan dilaksanakan, keluarga yang terbunuh berdiri, mereka bersepakat untuk mengampuni sang pembunuh.

***

Cara pandang manusia dibentuk oleh lingkungan meski pada dasarnya pertanggung jawaban harus diserahkan secara eksistensialis pada individu, karena apa yang masuk dan mempengaruhi cara pandang kita tergantung didiri kita sendiri. Alhamdulillah saya di bimbing oleh keluarga yang baik, dibimbing oleh bacaan-bacaan yang memperkenalkan saya akan bentuk tanggung jawab entah dari rasulullah, kisah para sahabat yang mulia, penjelajahan Old Shatterhand dalam Winnetou atau Karabennemsi, atau bahkan melalui filsafat eksistensialisme yang di paparkan oleh Kierkegaard atau bahkan Nietzche. Beruntung pulalah kita yang sudah mampu melakukan salah satu tahapan terkecil dalam melakukan pencarian terhadapan kebenaran.

Dalam buku-bukunya Thabatabai dan Khomainiy, juga Murtadha acap menyatakan bahwa pencarian kebenaran harus diawali dengan pesucian jiwa. Jiwa harus dibersihkan dari unsur-unsur yang menghalangi cahaya. Jiwa yang tercemar oleh kesombongan dan kedengkian harus di bilas, dicuci. Dan ketidak mauan seseorang untuk bertanggung jawab adalah kekotoran yang menghalangi kebenaran. Karena ketidakmauan untuk bertanggung-jawab itu berasal dari kesombongan untuk tidak mengakui bahwa kebenaran sudah datang di hadapan hati dan pikiran seseorang, tetapi seseorang itu menafikannya, seseorang berlari menjauhi padahal nurani dia selalu memanggilnya untuk kembali.

Ketidakmauan untuk bertanggung jawab akan merugikan siapapun juga yang mempraktikannya. Dan hal ini langsung saya rasakan di bis Malam yang mengantarkan kami pulang. Puluhan penumpang sebuah bis malam jurusan Malang-Bogor kecewa, karena staff bus eksekutifnya tidak mau bertanggung jawab bahkan untuk meminta maaf setelah kenyamanan kami terganggu oleh air ac yang bocor di kursi lima orang penumpang, serta toilet yang baunya sangat menyengat juga atas mesin mogok yang terjadi tiga kali.

Ketidakmauan untuk bertanggung jawab, meminta maaf staff bus itu sungguh mengecewakan sehingga beberapa penumpang mengatakan dengan suara yang keras, "cukup sekali saja naik bus ini!" Saya yang sudah tiga kali naik bus ini pun kecewa karena selama ini tidak terjadi perbaikan oleh management. Tidak ada pembelajaran berarti sebagai bukti tanggung jawab yang dilakukan.

Maka bayangkan puluhan orang yang sudah mempersaksikan diri untuk tidak menumpangi bus tersebut akan berbicara-mempromosikan keburukan pelayanan bus tersebut, sedangkan sebuah teori mengungkapkan bahwa pelayanan baik hanya akan dipromosikan kehadapan 3 orang sementara pelayanan buruk orang. Bayangkan bagaimana bentuk tanggung jawab memiliki korelasi terhadap perusahaan atau bisnis yang kita kembangkan.

Bagi sebuah perusahaan tanggung jawab adalah sesuatu yang harus menjadi core value. Apabila dalam sebuah perusahaan berkumpul individu-individu yang tidak bertanggung jawab maka tunggulah kehancurannya.

Ingatlah sebuah kalimat mulia yang mengatakan bahwa sejarah akan dipergilirkan. Manusia-manusia yang uncivilized akan digantikan oleh masyarakat baru yang mulia. Dan salah satu bentuk kemuliaan adalah bentuk pertanggungjawaban. Hanya individu, masyarakat, perusahaan, dan negara yang memiliki penduduk mulia sajalah yang mampu menjalani 'evolusi'. Pertanyaan pamungkas sebelum saya menutup tulisan ini, ialah, maukah, maukah kita melakukan evolusi jiwa dengan bertanggung jawab terhadap apa yang kita perbuat?

READ MORE!

Boikot

Posted: by Divan Semesta in
1

Pulpy Orange itu sedang laku-lakunya. Pulpy Orange itu buatan Coca Cola.

Karena Coca Cola menyetorkan uang untuk mengukuhkan eksistensi Zionis Israel maka mari ajak kawan, ibu bapak, keluarga, rekan kerja untuk memboikot Pulpy Orange.

Memboikot tentu lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa atau sekedar mengutuk tapi terus mengkonsumsi produk untuk dijadikan peluru.
Doa akan lumpuh tanpa aksi. Demikian halnya kutukan. Lebih baik minum air keran dari pada minum produk penyokong Zionis.

READ MORE!

Mencari Syamsuddin at Thabriz

Posted: by Divan Semesta in
0

Entah, saya tidak mengingat judul filmnya apa, tetapi yang jelas malam itu saya tidak merubah-rubah saluran televisi seperti lazimnya. Sebuah film tampak di layar liquid, menarik sekali dan pemainnya anak-anak kecil yang benar-benar cantik yang tentu saja menarik.

Sebuah film yang bercerita tentang bagaimana menghidupkan mimpi, bahwa dunia ini tidak hanya bisa dinikmati oleh indera, tetapi oleh fantasi, dan di pertengahan muncullah sebuah dialog unik.

Seorang anak lelaki ditanya: kenapa wajahmu muram?“Karena aku malas pergi ke gereja,” jawabnya santai. “Untuk apa pergi ke tempat yang tak kau percaya?” ia menambahkan.“Aku senang-senang saja pergi ke tempat itu,” Sang anak perempuan pun menyela. “Karena aku tidak membebani diriku untuk percaya atau tidak.”

Lantas anak lainnya di antara mereka mempertanyakan. “Mengapa kau tidak mempercayai Tuhan? Bukankah itu dosa dan kau nanti akan masuk neraka”

Perempuan yang ditanya tersenyum riang. “Aku yakin tuhan itu tidak disibukkan untuk memperhatikan kita, karena Tuhan sudah sibuk mengurus hukum alam.”

Sahabatku terpengaruh oleh senyum perempuan kecil yang riang itu. Rupanya hal itu yang ingin dimasukkan oleh sang penulis scenario film. Sahabatku memandang diriku. Aku tak memandangnya. Kami sama-sama tahu bahwa dunia memang diisi oleh pertarungan ide dan salah satu syarat untuk survive/memenangkan hidup adalah: kita tak boleh cengeng. Kita tak boleh cengeng, mengeluh tentang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak bisa kita jawab.

Untuk menjawab pertanyaan sang anak perempuan, aku yakin kalian bisa menjawabnya. Bagi kita pertanyaan itu terlalu gampang dan dan tidak mungkin membuat gamang karena kita mempercayai bahwa sang Pencipta memiliki satu system untuk tetap memonitoring pengakuan keimanan manusia (peratikan statement: Tuhan tidak disibukkan untuk memperhatikan kita karena tuhan sudah sibuk mengurus hukum alam) tanpa harus Ia terbungkuk, terjangkit asthma dan terkena tbc seperti halnya satpam tua yang kebanyakan menghisap bako (tembakau) sembari memonitoring situasi melalui cctv.

Allah memiliki system yang --kita yakini-- sangat canggih untuk dapat melakukan multitasking, memonitoring banyak hal dan hal ini sudah dijawab dalam Al Quran.

***
Ada-ada saja manusia jika berbicara dan bertanya. Diantara manusaia pernah ada yang menginginkan untuk menjadi malaikat, dan ada pula yang menginginkan menjadi Tuhan.

“Enak ya jadi Allah,” kata seorang pria sambil menjentikkan rokok putih pada asbak bamboo.

“Memang kenapa?” tanya temannya. “Dimana enaknya?”

“Ya enaklah jadi Allah, soalnya kita bisa liat cewek-cewek yang mandi telanjang di jamban. Bisa ngelongok toket yang disembunyikan bra.”

Kedua orang pria itu ngakak. Lalu, selang beberapa detik kemudian petir menyalak, glegar!

Mereka langsung berlari. Wajah keduanya pias. Dan setelah lari cukup jauh mereka istirahat sambil mengangkat tangan di kepala, ya hampir mirip dengan gaya jonggos ketika bertemu preangeplanter majikannya, sambil menguik.

“Itu kenapa ya? Kenapa bisa ada petir ya?”
“Allah marah kali ke kita,” kata temannya.

Kedua orang itu merinding.

Aneh, aneh saja manusia.

Ada lagi yang menggunakan hal-hal absurd dalam leluconnya. Ketika bermain judi acapkali kita melihat orang-orang mengoyang-goyang bahu sebelah kirinya. Hal itu mereka lakukan supaya malaikat salah menuliskan perilaku yang secara tidak langsung mereka akui keburukannya. Tidak cukup di sana, adakalanya seseorang mengajak untuk bermain di sebuah tempat.

“Hayu, hayu kita ke bawah atap seng. Kita main judi disana.”

Saat teman-temannya bertanya kenapa, keluarlah pernyataan kalau maen judi di bawah seng aman sebab, “Nggak mungkin keliatan Tuhan,” sambil menunjuk ke atas.

Dan awan pun bertumbukkan. Guntur menggelegar.

Sahabatku, mengatakan cerita yang kudapatkan dari seorang teman itu merupakan peristiwa kebetulan, tetapi aku mengatakan tak tahu.

Bisa kebetulan bisa pula teguran wallahualam.

Bagaimanapun juga (adanya teguran atau kebetulan) seseorang yang mengaku beriman kadang tak pantas untuk mengungkapkan hal-hal yang terkesan menyepelekan sesuatu yang diagungkan olehnya (atau menyepelekan perbuatan-Nya).

Biasa sajalah berbicara, tak usah terlalu gaya. Karena gaya seperti itu tak berguna bahkan untuk megeroposkan keyakinan seorang manusia, ya setidaknya manusia seperti kita.

Sebuah radio pernah mengatakan bahwa kita harus berhati-hati dengan omongan, karena omongan bisa membuat kita murtad/keluar dari Islam berkali-kali.

Omongan seperti itu mampu membuat hati menjadi batu atau seperti halnya besi, menjadi karat.

Mungkin, dipikir orang-orang yang suka guyon tentang Tuhan, penyiar radio tersebut tidak pernah berpikir ekstrem dalam melakukan pengembaraan. Inti kata, sang penyiar tidak pernah memiliki keberanian.

Mungkin saja, tapi tidak untuk Salahuddin Lc. Sang penyiar dengan gelar Lc. Dibelakang namanya.

Suaranya, seringkali terdengar saat aku merebahkan tubuhku. Suara lelaki yang konon lulusan Yaman itu terdengar lembut dan tegas tetapi ia tidak terkesan seperti tukang khotbah yang yang dari mulutnya keluar api. Ia terdengar santai, jawaban-jawabannya sarat oleh ilmu bahkan tidak hanya itu saja, aku rasa ia memang seorang pemikir yang menggali banyak perenungan mengenai ketuhanan bukan saja dari Al Quran dan hadist tetapi melalui pengalaman hidupnya.

“Ustadz, kenapa Allah menurunkan para nabi bukannya turun sendiri untuk membereskan permasalahan dunia?” Tanya seseorang saat ia mengasuh sebuah rubric radio di malam hari. “Kalau dia yang turun sendiri permasalahan di dunia ini pasti beres sudah.”

Tak ada emosi. Sang Ustadz sepenuhnya terkendali. “Pernyataan semacam itu, sudah ada sejak zaman dahulu kala,” ujarnya. “Memang bukan tentang Allah tetapi mengenai malaikat. Al Quran menjelaskan bagaimana orang-orang kafir bertanya mengapa malah kamu (nabi) yang diturunkan Allah. Padahal kamu tidak berbeda. Kamu manusia yang sama seperti kami. Mengapa tidak malaikat saja yang diturunkan Allah?”

“Pertanyaan orang zaman sekarang mungkin terkesan lebih canggih karena mereka bukan saja menginginkan malaikat untuk membereskan masalah, melainkan menginginkan Allah yang langsung datang ke hadapan (mereka).”

Sang Ustadz, mengambil nafas. Saat itu saya mulai berpikir bahwa ia akan menambahkan jawaban: jangankan manusia seperti kita, Musa sang utusan terpilih saja tak mampu melihat kilau cahaya-Nya. Ternyata, tidak. Ia menjawab di luar perkiraan.

“Pertanyaan itu (mengapa tidak Allah saja yang turun/malaikat) tidak ada bagi Allah. Ia tidak akan pernah ditanya mengapa ia melakukan suatu perbuatan, karena yang akan di tanya itu adalah dirimu. Yang akan di tanya itu adalah manusia. Kita!”

Dalam bahasa kasar ala bandung Cicadas, mungkin sederhananya adalah: Kumaha aing we sia! Karena Allah memang lebih berkuasa atas kita. Karena Allah tidak sama dengan manusia ciptaannya yang harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Jawaban itulah yang membuat saya memiliki keinginan untuk menemui sang Ustad. Jawaban itulah yang membuat saya menyimpulkan bahwa dia sudah pernah melalui titik ekstrem di dalam pemikiran dan melakukan pengembaraan dalam diskusi-diskusi teologis yang filosofis.
Seperti halnya Jalalludin Rumi, yang tak lekang untuk mencari sahabat sekaligus guru tercintanya, Syamsuddin at Thabriz maka akan saya peringatkan kalian, bahwa orang-orang seperti yang seperti saya ceritakan itu sangatlah langka, dan karena keterbatasan edisinya, carilah mereka, temuilah mereka dimanapun kau berada.

READ MORE!