Hati-Hati Teracuni Sun Tzu

Posted: Kamis, 29 Oktober 2009 by Divan Semesta in
2

Allah akan menimakakan kehinaan pada orang-orang yang menimpakan keburukan pada orang lain.

Perusahaan memang mirip sebuah pasukan perang. Maka, ketika perusahaan menganggap diri sebagai pasukan tempur dan bertempur untuk mengalahkan orang lain, maka perusahaan itu tengah mengundang Allah untuk menghinakan orang-orang yang ada di dalamnya.

Bertempurlah bukan untuk mengalahkan pasukan lain. Bertempurlah untuk mengalahkan diri. Mengalahkan ketidakefektifan, menghancurkan kemalasan dan kesombongan, mengalahkan ketidakkreatifan dan amoralitas.

Jika itu dijalankan maka takdir bukanlah merupakan hasil dari ajang mengalahkan melainkan sebuah ajang pencapaian prestasi.

Hati-hati, dan bijaklah dalam menafsirkan.

READ MORE!

Menikmati Hidup bersama Pengkhianat Yang Telah Musnah (Interview Gak Jelas)

Posted: Senin, 26 Oktober 2009 by Divan Semesta in
4

Namanya penanya cukup panjang, Pengkhianat Yang Telah Musnah, tapi dia merasa nama itu cukup disingkat dengan PYTM.

Orang yang pernah bertanggung jawab terhadap pembuatan dan penerbitan sebuah zine dan web site ini sudah saya kenal beberapa tahun lalu. Bahkan keluarganya pun sudah seperti keluarga bagi sy. Rumahnya sering dijadikan sebagai tempat pelarian sewaktu dulu, ketika kuliah uang bulanan sy dihabiskan untuk membeli buku-buku yang saat ini ingin sy bakar.

Pria yang dulu pernah mengenyam (namun sekarang sepertinya mengecam) ini pernah pula memanas-manasi sy untuk mengacungkan salam tiga jari sewaktu wisuda. Alasannya sederhana, ”Van, bosen ngeliat orang-orang (di wisuda) aktingnya gt-gt doang!” Dan memang banyak hal, darinya, yang membantu saya untuk berbuat dan melakukan sesuatu. Dia termasuk dalam lingkaran terdekat sy dan dengan lingkaran itu kami banyak menikmati hidup: pergi ke air terjun dan berlibur kala pemilu dilaksanakan, mencoret-moreti dinding kota Bandung dengan tulisan-tulisan tak jelas, atau bahkan mewawancarai jelema burung (mewawancarai orang setengah gila)

Dengannya, kami bersama-sama menikmati hidup. Memaknai bahwa melakukan aksi, mempertahankan kefundamentalisme-an, tidak melulu harus bersikap serius, karena Rasulullah pernah mengatakan bahwa terlalu serius akan membuat hati kita seperti batu. Mungkin dia, kami kadang keterlaluan, tetapi itulah, kami akan selalu belajar, dan kalaupun salah seorang tidak lagi belajar maka diantara kami akan saling memanas-manasi. Dan diapun seperti itu karena oran ini pada dasarnya memang tukang kompor sejati. Hati-hati jika berdekatan dengan dia, karena sy adalah salah satu korbannya.


Lantas, check this worthless interview bergaya wadam ini. Selamat mendulang.


1. Bagaimana memandang penghormatan terhadap sebuah bendera? Apa sama dengan menghormati patung Dewi Kuan Im atau patung-patung yang dijadikan simbol agama-agama? Dan katanya Yeiy keluar dari Akabri gara2 masalah itu?

Fenghormatan bendera afa dulu nich? Klo eike disuruh menghormati Ar Rayah ketika fersiafan jihad, insyallah eike bakal “hormat grak” seketika itu juga. Tafi kalau yang dimaksud melakukan penghormatan ala militer fada bendera merah futih, maaf eike sudah tidak bisa melakukan fenghormatan terhadap thagut lagi. Ya meskifun tanfa dilandasi akidah -seferti ketika menghormati Dewi Kuan In dll- tafi merah futih adalah manipesto dari sebuah akidah yang ngawur. Eike lebih baik menghormat ke celana dalam yang dikerek di tiang bendera darifada hormat yang begituan. Celana dalam tidak memiliki freperensi akidah tertentu selain bermakna kenikmatan dan “kabusiatan”. Hahaha….. Eike out dari Akmil bukan masalah seferti yang dikau bilang. Sumfah bukan itu!

Dulu (maaf)eike orang yang nasionalis (sengaja eike gunakan kata maap yang dikurungi karena hal tersebut menjijikan seferti halnya tai). Hanya saja eike ini nasionalis yang rasionalis & moralis (damn!). Menghormati bendera bukan masalah buat eike. Walaupun begitu, eike anti menangis-nangis ketika membekafkan bendera di wajah. Eike fikir ngafain sampai menangis seferti itu. Gila tu orang!

Keluarnya eike dari “sana” lebih karena eike merasa terlalu banyak kemunafikan disana. Yang lebih farah, banyak frinsif-frinsif di agama eike yang menurut eike sih itu sudah dimarjinalkan. Bagaimana mau memimfin negeri ini kalau hal-hal frinsifil begitu malah dilabrak

2. Itu artinya pola pendidikan AKABRI nggak sesuai dengan identitas yeiy saat ini dong?

Kalau bicara sekarang ya iya lah. Eike sekarang “Teroris” sedangkan disana “Femberantas teroris” (bagi mereka yang belum faham). Sebenarnya fola fendidikan disana itu bagus di satu sisi. Tapi di sisi yang lainnya adalah sebuah kerusakan. Eike masih oftimis & mencoba untuk berbaik sangka, kalau saja kerusakan tersebut mau diganti dengan yang haq, eike yakin militer-militer di negeri ini akan menjadi fejuang-fejuang dan femimpin ummat yang lurus dan ditakuti lawan.

3. Bagaimana pun buruknya apa imbas positif pendidikan disana buat yeiy? Apa ada perbedaan disiplin sebelum dan sesudah masuk kesana?

Seferti yang eike bilang. Disana ada sisi fositifnya. Tidak selamanya buruk. Banyak lah yang fositifnya.

Namun kalau untuk masalah disiflin, eike merasa kedisiflinan disana itu bullshit. Disiflin hanya sebuah tofeng femanis yang didoktrinkan ke dalam otak-otak femuda lugu & peminim seferti eike. Sejatinya kedisiflinan itu tidaklah pernah terbentuk kecuali rasa feodalistik yang semakin menjadi. Sebab buat eike sekarang, kedisiflin tidaklah ferlu dengan seferti afa yang diajarkan disana. Disiflin akan terjadi ketika mindset kita dirubah. Dan itu harus berasal dari kesadaran dan keyakinan yang tanpa tekanan

4. Dari photo2 yang yeiy liatin, keliatannya dulu yeis masuk scene anarki ya? Sempet buat band apa? Dan wacana/lirik yang diangkat seperti apa?

Eike sebenarnya hanya seorang poser, abal-abal dan sejenisnya. Kalaulah dikatakan masuk scene anarchy ya tidak samfai segitunya. Sebab dulu eike hanya jadi kroco yang ikut-ikutan keluyuran sana sini. Dari FAF hingga FPH sambil menenteng beberafa buah zine yang disuguhi oleh kawan-kawan yang sudah terlebih dahulu terjerumus. Maklumlah scene punx kental dengan nuansa anarchy. So, lambat laun eike fun ikut teracuni sedikit ide-ide Anarchy. Makanya ketika masa “transformasi” eike masih menyakini bahwa ideologi eike saat itu adalah Anarchyreligiusromantis. Hahaha….

Membuat band mah banyak. Dari yang froyekan sampai yang sedikit serius. Sayang liriknya masih lirik-lirik tidak bermutu. Kawan-kawan di band kurang setuju dengan lirik-lirik frogresif ferlawanan yang eike tawarkan. Tapi alhamdulillah, karena itulah akhirnya eike tidak berlama-lama lagi di dunia seferti itu. Tak tahu afa jadinya kalau kawan-kawan mau dengan afa yang eike mau.

5. Ada beberapa teman yang menyanyikan lagu Burger Kill misalnya (…akan kuhisap bau neraka….), atau Antiflag atau yang standar Jhon Lenon lah (… Imagine there is no heaven…), sejauh mana peran lagu tersebut dalam pembentukan, atau pengeroposan keyakinan?

Well, secara musikalitas eike suka dengan Burgerkill & Antiflag. Keduanya band yang benar-benar kick ass. Berada di tengah-tengah gigs mereka lalu moshing merufakan kenikmatan “ sakit gila” yang tiada tara. Itu yang eike rasakan. Adafun masalah lirik, eike tidak merasakan adanya pengerofosan akidah dalam diri eike. Ini mungkin karena eike merasa kalau fara fembuat lagu tersebut sebenarnya hanya sekedar bermain euphoria kata. Gagayaan kalau bahasa Sunda nya mah. Hanya saja menurut eike lagu-lagu semacam ini adalah racun bagi mereka yang belum dafat memilah-milah mana yang menjadi landasan keyakinan atau tidak. Ini bahayanya.

6. Jika orang-orang mengatakan bahwa moralitas agama-agama adalah moralitas kaum tertindas, bagaimana pandangan yeiy tentang teman-teman yang sering mengutip Nietzche, Heidegger, Marx atau bahkan musisi-musisi Punk Rock yang atheis atau agnostik?

Menurut eike, sah-sah saja orang memandang bahwa moralitas agama adalah moralitas kaum tertindas. Sebab toh itu adalah sebuah bentukan dari afa yang dinamakan femikiran manusia. Ia akan senantiasa ada dan akan senantiasa berbeda meskifun telah ditetafkan terlarang atau malah berdosa. Mau bilang itu cara fikir kaum tertindas atau fun tidak, itu semua tergantung fada afa yang ada diotak dia. Seferti juga halnya ketika beberafa golongan atheis menanyakan Tuhan fada mereka yang mengakui adanya Tuhan. Fasti bantahan mereka (atheis) adalah Tuhan itu ada karena kamu ciftakan di otakmu. Nah, begitu juga dengan orang yang mengatakan moralitas agama-agama adalah moralitas kaum tertindas. Bagi eike, tertindas itu diciftakan diotak kalian. Sebab bagi eike tidaklah demikian.

Kalau masalah mengutif-mengutif dari fendafat beberafa orang terdahulu, menurut eike sich sah-sah saja. Wong ada bukunya. Wajar kalau mereka membaca dan mengatakan seferti afa yang dikatakan oleh si penulis buku tersebut. Hanya saja saran eike, segera tobat sebelum hal tersebut menjadi akidah bagi dirinya. Dan sebelum ajal menjemfut dia. Sebab semua yang tadi itu adalah samfah! Yang hanya akan mengotorimu ketika di hari nanti.

7. Yeiy mungkin dulu pernah tidak mempercayai Islam bagaimana awalnya? Apa lagu dan liriknya mempengaruhi yeiy? Setau eike yeiy suka lagu Bad Religion, atau band punk dung pret crot?

Kata siafa eike dulu tidak memfercayai Islam? Dari dulu juga eike fercaya Islam. Cuman tidak sampai taraf yang memahami. Sekedar KTF doing. Hehehe… eh astagfirullah deng.

Eike tidaklah samfai ke taraf seorang atheis. Ini mungkin karena fada waktu itu eike masih belajar en mencari jati diri. Maklumlah anak muda. Bandung fula. Tau kan Bandung?!

Hanya saja samfai sekarang masih ada satu fertanyaan yang selalu mengganjal eike. Klo fas eike inget fertanyaan itu, maka eike merasa kacau fikirannya. Sengaja tidak eike katakana, soalnya kalau eike katakan efeknya eike ingat. Dan fusinglah kefala eike. Ini fun sedang eike coba-coba tidak ingat. Hehehe…

Balik lagi ke ketidakfercayaan eike pada Islam. Lebih tefatnya mungkin bukan tidak fercaya tafi eike dulu belum tahu Islam itu sebenarnya seferti afa. Kalau saja eike tahu sejak dulu kalau Islam itu sebuah idelogi (meski tidak fantas dikatakan ideologi)maka sudah sejak dulu eike memfercayai Islam.

Yuf eike suka band-band punx. Menurut eike, tone iramanya fas ajah di telinga eike. Mulai dari Bad Religion, Crass, Pennywise, Ramones, NOFX, Social Distortion, Blag Flag, Not Available, Dead Kennedy, Baken Beans, Vandal, Fugazi, Varukers, No Use For Name, Exploited, Anti Flag, Tiger Army, Rancid,No Fun At All, The Business, Jeruji, dll semua suka lah.

Kalau Bad Religion, mhmmmm…… eike suka music & sikaf folitiknya. Juga kefedulian mereka terhadaf kondisi dunia yang sudah terjerat kafitalisme ini. Selebihnya tidak. Afalagi kefercayaan si Greg Graffin yang atheis itu. Atheis mah bodo! Tafi leuwih bodo nu fercaya demokrasi. Hahaha…

8. Melihat blog yeiy, keliatannya yeiy suka sekali hal-hal berbau kekerasan, bagaimana pandangan yeiy terhadap kekerasan? Dan bagaimana menerapkannya dalam skup lokal?

Eike sebenarnya orang yang tidak suka kekerasan.Selama hidup eike, berkelahi kayaknya belum fernah dech. Kalau fun semfat berkelahi, saat itu eike diam aja karena ditonjokin ma orang tafi ga terasa sakit afa-afa. Trus faling satu lagi ma tawuran. Sudah bawa balok gede & faling defan barisan tafi urung eike fukulkan. Mungkin karena fas mau berkelahi eike ditodong M16 oleh felatih di kesatrian. Hahaha…

Balik lagi, fada intinya eike orang yang tidak suka kekerasan. Mungkin bisa dibilang anti. Tafi untuk masalah diblog eike, itu lain ceritanya. Bagi eike, selain karena gagayaan, konsef blog yang berbau sedikit keras itu merufakan usaha eike menghentikan kekerasan terus terjadi. Sebab ketika “kekerasan” terhadap manusia dan kemanusian coba dihilangkan dengan “kelembutan” maka sejatinya itu sudah menapikan pitrah manusia itu sendiri.

Terlefas dari semua itu, saya lebih fercaya bahwa hantaman fena lebih keras efeknya darifada hantaman bogem berates kali.

9. Setau eike adik yeiy kan cantik ya, nah, eike kan pernah baca mengenai masalah moralitas Nietzche pernah bilang kalau kita harus buat stadar moralitas sendiri terlepas dari agama. Menurut moralitas ente apa dibenarkan incest dengan adik sendiri/dengan ibu atau dengan bapa?

Hahaha…. Gelow! Beruntunglah eike bukan Nietzche. Tafi eike juga yakin Nietzche tidak akan berbuat demikian fada adik/kakak feremfuannya. Flus juga fada ibu dan bafaknya. Tolong kasih tahu buku/sumbernya eike klo ada biograpi Nietzche yang menjelaskan klo doski melakukan ferbuatan itu. Eike sich yakinnya Nietzche tidak atau belum fernah melakukan hal demikian. Sebab pilem-pilem bokef yang temanya incest belum ada saat itu. Pilem-pilem gitu baru ada sekarang-sekarang aja. Dan itu fun tidak akan fernah Miyabi lakukan dengan bafaknya yang galak itu. Hahaha……

Standar moralitas bila diberikan fada setiaf fribadi manusia maka akan terjadi komfleksitas moralitas yang isinya begitu beragam dan tak karuan.

11. Bagaimana pandangan yeiy tentang baik dan buruk harus diserahkan pada pikiran manusia?

Ketika baik dan buruk diserahkan fada manusia maka tunggulah kehancuran manusia itu sendiri. Sebab, selamanya, baik dan buruk itu tidak akan fernah dafat sama antara sesama manusia. Contoh kecil; Bagi saya boker sambil membaca buku adalah sesuatu yang baik. Namun belum tentu bagi yang lain. Bisa jadi sebagian yang lain mengatakan hal tersebut terlaknat. Atau malah layak mendafatkan hukuman fenjara. Semua serba tidak fasti kalau distandarkan pada fikiran manusia. Karena tiaf-tiaf kefala manusia memiliki beragam alasan dan nilai-nilai yang tentu saja tidak sama dengan manusia lainnya.

Contoh lainnya adalah dalam kasus mobil. Dengan asumsi manusia tidak tahu mobil sebelumnya, mereka sudah fasti akan berdebat fanjang mengenai afa yang harus diisikan dalam tangki bensin. Bisa jadi sebagian mengatakan harus diisi batu. Sebagian lagi darah. Atau ada juga yang mengatakan harus diisi air kencing. Semua orang memiliki jawabannya masing-masing. Mereka mengklaim bahwa filihan merekalah yang baik sedang yang lain adalah buruk. Kalau sudah begindang mau afa coba?

Filihan dari eike, Tanya fenciptanya. Kalaufun tidak dafat bertemu dengan fenciptanya, lihat saja manual book yang telah diciptakan fenciptanya. Eike yakin kalau semua disandarkan pada afa yang ada dalam manual book penciptanya, segala baik dan buruk untuk mobil itu akan terjawab sudah.

12. Yey sekarang ngurusin apa nih sehari2 LY? Atau ada hal lain yang dikerjain? Misalnya ngerjain tukang sekoteng.

Sehari-hari eike sekarang mengurus anak. Dan tentu berusaha membuat anak lagi. Syukur-syukur kalau sukses mencari fabrik anak baru. Hahaha… Biar tar anak-anak eike bisa mengincingi Israel dari atas pesawat samfe Israel-nya tenggelem. Hahaha…

LY? LY is dead man! Kalau fun mau, yang ada juga LJ a.k.a Liberation Jomlo. Misi & pisinya membebaskan status jomlo di kalangan femuda Islam agar mereka dafat menggenafkan sefaruh agamanya dan menjadi dirinya sebagai bagian dari ummat Rasulnya. Bahasa gaulnya menjadi Lembaga Take Me Out yang insyallah syar’i. Hahaha…

13. Bagaimana mengaitkan antara kasus Miyabi, Intifada, Koil dengan akidah?

Damn! Fertanyaan yang super dufer lieur. Eike ga tau harus jawab afa. Yang jelas Koil (khususnya Otong Koil), eike yakin adalah fenggemar berat Miyabi aka Maria Ozawa. Nah kalau saja akidah mereka bisa diluruskan sesuai dengan manhaj ahlu sunnah wal jamaah, eike yakin mereka bakal menjadi barisan terdefan dalam jihad intifadah. Saya yakin lagu-lagu mereka; Semoga Kau Sembuh, Untuk Kemenangan kami, Murka, Mendekati Surga, Aku Lupa Aku Luka, Kita Dapat Diselamatkan, Apa Yang Kita Percaya, dll, isi liriknya akan berubah menjadi tema-tema jihad & intifadah. Amin. Hehehe…

14. Ketika yeiy memandang bahwa ada musuh yang harus diperangi, bagaimana yeiy mendidik anak dengan cara pandang itu? Dan gerak seperti apa yang bakal ente lakukan untuk itu?

Jelas eike sedini mungkin mengajarkan bahwa didalam hiduf ini selalu ada fertarungan fada anak. Afafun bentuk atau namanya. Pitrah manusia hidup memang seferti itu. Sejalan itu, eike juga ajarkan bahwa dirinya (anak eike) memfunyai musuh yang nyata-nyata ada. Namun bukan dengan mengajarkan fermusuhan yang tanfa tedeng aling-aling. Melainkan rasa kebencian atas nilai-nilai yang tidak sesuai dengan afa yang menjadi ideloginya saat ini (baca: Islam)

Gerak yang eike lakukan ya (seharusnya) tidak lain adalah jihad fisabilillah. Sebab saat ini status hukum jihad adalah fardhu ain bagi seluruh ummat Islam di dunia. Tafi jujur eike masih belum funya kemamfuan kesana. So, darifada tidak sama sekali, eike akhirnya memutuskan untuk menjadikan diri eike bagian dari ferjuangan jihad itu sendiri. Entah itu termasuk dalam kategori jihad atau tidak, eike berharaf semoga saja filihan-filihan seferti; memberikan receh pada keluarga mujahid & mujahidin, mengkabari berita-berita jihad, memanas-manasi orang untuk berjihad, latihan fisik, termasuk dalam kategorisasi jihad. Sebab kalau tidak, maka eike masih belum melakukan aktivitas jihad yang fardhu ain itu.

15. pret!
Kentut lu bau Jap!!! Sialnya eike suka bau kentut. Uh yeahhh…..

READ MORE!

Melayani orang gila

Posted: Rabu, 21 Oktober 2009 by Divan Semesta in
2

"Di mana anakku, di mana ibukku."
(Orang gila, di si Unyil)

Di kalangan orang-orang gerakan banyak sekali orang-orang gila.

Entah pria atau wanita, sama-sama gila. Demikian pula di tempat tinggal kita, di tempat diskusi, di lingkungan kerja banyak sekali orang gila.

Hati-hati menimpalinya jika tak ingin ikut-ikutan di grebek satpol untuk dimasukan ke rumah sakit jiwa.
Jangan pernah melayani orang gila, karena:

Melayani orang 'gila' akan ikut menjadikan kita 'gila'

:)

READ MORE!

Caliphate will Rise!

Posted: by Divan Semesta in
2

Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Demokrasi, demokrasi, demokrasi pasti mati…
Khilafah, Khilafah, akan tegak kembali…
Khilafah, Khilafah janji Allah yang pasti…


Itulah salah satu yel-yel yang dinyanyikan lebih dari 5000 mahasiswa-mahasiswi Islam dari berbagai perguruan tinggi dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, Bali, Madura dan Jawa dalam Kongres Mahasiswa Islam Indonesia (KMII), Ahad (18/10) di depan Basket Hall, Senayan, Jakarta.



Dengan penuh semangat, dari pagi hingga matahari tepat di atas kepala, mereka berulang kali melompat-lompat menerikan yel tersebut di sela-sela orasi para cendikiawan Muslim diantaranya adalah Fahmi Amhar, Dwi Condro Triono dan Fahmi Luqman di samping orasi dari para perwakilan mahasiswa.



Meskipun tidak turut melompat-lompat, sekitar seribu mahasiswi yang berdiri di sebelah kanan yang terpisah secara tegas dengan barisan mahasiswa, tidak kalah semangatnya, sambil mengangkat tangan terkepal, seirama menerikan yel tersebut.



Itulah salah satu ciri yang membedakan mahasiswa Islam dengan mahasiswa sekuler. Sehingga bukan hanya di masjid, barisan laki-laki dan perempuan terpisah. Di lapangan terbuka pun hukum Islam terkait dengan interaksi pria-wanita tetap diamalkan. Sehingga campur baur yang biasa terjadi dikalangan mahasiswa sekuler, tidak akan ditemukan dalam kelompok mahasiswa yang menjunjung tinggi syariah Islam.



Tonggak Perubahan


Kongres yang diselenggarakan Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) tersebut ialah sebagai koreksi atas pergerakan mahasiswa yang selama ini ada. Kongres menilai pergerakan mahasiswa yang ada selama ini lebih bersifat pragmatis dan demi kepentingan sesaat.



Fenomena itu bisa dilihat dari berbagai angkatan termasuk mahasiswa angkatan ’98 maupun ’66. Demi kepentingan perut semata mereka berebut kursi kekuasaan mengorbankan idealisme mereka sendiri ketika masih mahasiswa.



Bahkan lebih jauh dari itu, seperti yang dinyatakan Erwin Permana, Koordinator Badan Eksekutif Nasional BKLDK kepada Media Umat di sela-sela kongres, KMII ini merupakan koreksi total terhadap Sumpah Pemuda yang dilaksanakan pada 28 Oktober 1928 lalu.



KMII ini merupakan momentum dan tonggak perubahan sejarah mahasiswa atau pemuda kelak. "Kita bisa mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda 1928, sumpah tersebut dapat membawa arus perubahan dalam pergerakan pemuda untuk lepas dari penjajahan yang ada saat itu," ujar mahasiswa pasca sarjana UI tersebut.



Sumpah Pemuda mengubah persepsi para pemuda sehingga sadar dan bangkit bersama-sama mengusir penjajah. Namun sayangnya, mereka hanya berhasil mengusir penjajahan militer. Sedangkan penjajahan di bidang lain seperti penjajahan dalam bentuk politik, ekonomi, pergaulan, dan pendidikan masih terus berlangsung hingga saat ini.



Itu bukan karena perjuangan mereka yang melanggar sumpah. Tetapi konteks sumpahnya itulah yang bermasalah sehingga mereka hanya berkutat pada perjuangan melawan penjajahan militer.



"Sehingga kalau kita lihat konteks Indonesia kekinian memang penjajahan secara fisik itu tidak ada, tetapi secara ekonomi, politik, budaya, kita dijajah. Mengapa penjajahan non fisik ini tetap ada? Karena memang intelektual kitalah yang dijajah," ujarnya.



Oleh karenanya, Erwin menandaskan pemuda sekarang haruslah sadar dan bangkit secara intelektual. Terkait dengan itu, mahasiswa Islamlah yang sudah seharusnya menjadi garda terdepan dan menjadi motor penggerak untuk menyatukan dan membangun visi intelektual menuju Indonesia yang lebih baik.



Terbebas dari penghambaan terhadap manusia sehingga hanya perintah dan larangan dari Allah SWT saja yang layak diikuti karena memang hanya Allah SWT yang layak disembah seperti yang telah dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.



Jadi pergerakan mahasiswa Islam ke depan bukanlah perjuangan revolusioner radikal yang memiliki cita-cita pendek dan dangkal yang akan menggantikan sistem yang satu dengan sistem buatan manusia lainnya. Bukan pula perjuangan yang hanya menggantikan penguasa tiran dengan penguasa tiran lainnya.



Akan tetapi pergerakan mahasiswa Islam ideologis. Berjuang dengan misi pembebasan umat manusia. Membebaskan manusia dari penyembahan kepada manusia menuju penyembahan kepada Allah, Tuhannya manusia. Membebaskan manusia dari sistem buatan manusia menuju sistem buatan Allah SWT, Tuhan semesta raya.



Sumpah Mahasiswa



Semua duduk, hening, khusyu’ saat dibacakan ayat-ayat suci Alquran bahkan menangis ketika dibacakan do’a. Namun sorak sorai kembali membahana ketika mereka meneriakkan, "Allahu Akbar…! Allahu Akbar…! Allahu Akbar…!"



Mendekati puncak acara, yakni pembacaan Sumpah Mahasiswa, matahari semakin terik membakar, mendidihkan jiwa muda mereka yang semakin muak dengan sistem kufur yang selama ini diterapkan di Indonesia dan negeri-negeri Muslim lainnya.



Maka selain takbir dan yel Khilafah janji Allah yang pasti, dengan penuh semangat mereka pun meneriakan, "Demokrasi… hancurkan…! Kapitalisme… hancurkan…!", "Sosialisme… hancurkan…! Komunisme… hancurkan…!",



Mereka pun sangat rindu penerapan syariah Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah menggantikan sistem buatan manusia yang selama terbukti secara telak sangat menyengsarakan manusia di dunia ini. Apalagi di akhirat nanti seperti yang telah Allah SWT tegaskan dalam Alquran.



Maka dengan tubuh yang bermandikan peluh dengan lantang mereka meneriakan, "Syariah… tegakkan…!, Khilafah…Tegakkan…!". Allahu Akbar… kemudian teriakan "khilafah, khilafah, khilafah…!" bergemuruh.



Tibalah acara puncak, semua peserta mengankat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuk seraya bersumpah dengan sepenuh jiwa. Membaca serentak lima butir sumpah.



Mereka akan terus berjuang tanpa lelah untuk tegaknya syariah Islam dalam naungan Negara Khilafah Islamiyah di Indonesia dan negeri Muslim lainnya secara intelektual dan tanpa kekerasan.



Mereka pun bersumpah dengan sepenuh jiwa bahwa perjuangan itu dilakukan bukan karena sebatas tuntutan sejarah. Namun lebih dari itu. Perjuangan yang mulia tersebut merupakan konsekuensi iman yang mendalam kepada Allah SWT. (mediaumat.com ,19/10/2009)


--------------------
Tulisan di atas memberitakan bagaimana penegakan syariat Islam tengah dan akan terus bergulir hingga sistem Allah tegak di muka bumi. Saya mensupport segala sesuatu yang terkait penegakan izzah kaum muslimin.

Saya mensupport pergerakan Islam yang menggunakan jalur kekerasan dan mendukung sepenuhnya pergerakan Islam yang menggunakan cara damai selama geraknya senantiasa dilandasi keikhlasan dan penyandaran argumentasi berlandaskan hukum Allah.

Sungguh. Diantara kita tidak ada yang berbeda jika kita saling memahami, dan saling mencintai karena Allah. Tetaplah berpegang pada ikatan syahadat keimanan kita. Allah maha besar

Muslim sedunia bersatullah. (Divan Semesta)

READ MORE!

Nggak baek!

Posted: Selasa, 20 Oktober 2009 by Divan Semesta in
1

Minggu lalu sy menemani Nyawa berenang. Di kolam kecil itu saya melihat seorang anak kecil, bulat, gendut sipit, lucu, bermain bersama neneknya. Sang nenek menyuruhnya untuk keluar dari kolam karena waktu sudah mendekati pukul setengah sebelas.



"Ayo, ke kamar ganti kita pulang," Kata nenek dia membujuknya.

Si anak menggelengkan kepala, sambil mengecipakkan air ke arah anak-anak lain seusianya.


Dan tak bosan sang nenekpun terus membujuknya, "Ayo dong, cepetan. Udah panas nih mataharinya udah tinggi."




Si anak itu kemudian terdiam. Menatap sang nenek lalu berteriak. "Nggak mau! Nggak mau!" dan dia terus menatap sang nenek. Dan keluarlah kata-kata yang sangat tak sedap kedengarannya. "Bagong, Siah!" bentak si anak.
Wajah sang nenek berubah. Sy melihat ada sakit di wajahnya.
"Bagong itu apa sih, Panda?" Nyawa pun bertanya.
Saya hanya memberikan jawaban, "Nggak baek Nyaw. Nggak boleh ngomong gitu." Nyawa kelihatannya mengerti. Tapi, duh sedih sekali seandainya hal itu terjadi pada saya. Anak kecil itu memang rentan. Sangat-sangat rentan. Apa yang di dengar akan dipraktikkannya entah kapan.
----------------
bagong: babi!

READ MORE!

Taqwa Core (Generasi yang Kehilangan Akar atau Akal?)

Posted: Senin, 19 Oktober 2009 by Divan Semesta in
2

Pemuda Muslim Amerika yang frustasi bertingkah ke luar batas. Dengan alasan menyalurkan ekspresi lewat musik, mereka bergaya nge-punk dan berusaha menularkan "penyakitnya"Hidayatullah. com--Novel Michael Muhammad Knight, The Taqwacores, terbit tahun 2003, berisi kisah fiksi tentang para rocker punk yang menjalankan Islam sesuai kehendak hatinya. Ketika novel itu ditulis, Knight seorang mualaf, sedang merasa kecewa dengan agama barunya.
Novel itu terjual 15.000 kopi di seluruh dunia, termasuk di Texas. Di wilayah itu seorang remaja keturunan Persia, Kourosh Poursalehi, membaca buku itu dan mengira tokoh-tokoh dalam novel tersebut nyata."(Membaca buku itu) saya merasa, 'Wow, ternyata bukan saya seorang yang mengalami hal seperti ini'," kata Poursalehi. "Ternyata ada anak lain di luar sana yang bermain musik seperti ini."

Poursalehi mengambil sebuah puisi dari halaman pertama buku itu yang berjudul "Muhammad Seorang Rocker Punk", dan menggabungkannya dengan musik--mengubah halaman-halaman diam menjadi sebuah "lagu kebangsaan" yang nyata bagi anak-anak Taqwacore. Dalam satu bait puisi itu berbunyi, "Muhammad seorang rocker punk. Ia meruntuhkan segalanya."Poursalehi mengirimkan puisi versi musiknya kepada pengarang The Taqwacores, yang kemudian memberikannya kepada seorang musisi muda di Boston, Shahjehan Khan.


"Saya sangat merasa bersalah karena beranjak dewasa tanpa melakukan hal-hal yang benar, tidak menjadi Muslim yang baik, atau menjadi anak Pakistan yang baik," kata Khan.


"Dan setelah membaca buku itu saya menjadi yakin bahwa kebingungan itu, dan mungkin kekecewaan itu, adalah normal. Dan banyak orang mengalami hal itu, dan itu bukanlah hal yang keliru."


Dulu Khan juga merasa kecewa dengan teman-teman sekolah Amerikanya.


"Pada bulan Desember, setelah kejadian 11 September, saya masih SMA. Ketika berjalan memasuki ruangan kelas sebagian anak berkata, 'Yo, apa yang orang-orangmu lakukan?'"katanya.


"Dan saya tidak tahu harus menjawab apa."


Rasa frustasi menggiringnya membentuk sebuah band bersama temannya, Basim Usmani. Namanya The Kominas, menjadi salah satu band yang pertama dibentuk, seperti dalam dalam cerita Taqwacore.Lagu pertama The Kominas berjudul "Hukum Syariah di AS."


Lagu tersebut menyamakan hukum Islam dengan Undang-Undang USA Patriot Act. Khan bilang, itu hanya sekedar bercanda.


Tak lama kemudian, band musik seperti Taqwacore dari seluruh Amerika saling bertemu lewat situs jejaring sosial seperti MySpace dan Facebook. Banyak di antaranya yang kemudian jumpa darat pada musin panas 2007, ketika lima band mengadakan tur ke daerah timur laut Amerika. Mereka bersama-sama menggunakan bis sekolah berwarna hijau dengan tulisan "Taqwa" di depannya.


Bersama dengan The Kominas, ada juga band The Thawra. Penyanyi utamanya, Marwan Kamel. Ketika orang-orang berpapasan dengan kendaraan mereka, memberikan simbol penghinaan kepada Allah. Kamel berkata, musik memberikan senjata kepadanya untuk balik melawan.


"Saya, OK saja dengan diri saya," kata Kamel. "Yang punya masalah itu Anda--seperti orang penting saja."


Orang yang membantu mereka memulai semua itu, Michael Muhammad Knight, sendiri dikucilkan oleh orang-orang Muslim dan non-Muslim karena pandangannya terhadap Islam.


Anak-anak Taqwacore memang jauh dari kesan seorang Muslim yang bertakwa. Dengan gaya mereka yang liar, mengkritik dunia Timur dan Barat, terutama ajaran Islam. Mereka berpakaian seenaknya, dengan jaket yang bertambal-tambal, teler, menggunakan pipa hookah, mabuk, dan merokok. Selama perjalanan tur mereka juga tidak berhenti untuk melakukan shalat lima waktu.


Fatalnya, meskipun demikian mereka masih merasa sebagai Muslim yang taat."Saya mendapat (celaan) dari banyak orang," kata Knight. "Saya mendapati orang-orang neo-konservatif berkomentar di blog mereka, 'Oh ini hebat, anak ini menantang Islam. Anak ini membenci Islam, ia mencoba merusak segalanya.' Saya tidak sedang merusak Islam. Saya sedang berusaha agar Islam menjadi mungkin dalam kehidupan saya.


"Setelah tur pertama ini, semakin banyak band Taqwacore bermunculan. Mereka punya acara di festival musik South by Southwest pada bulan Maret, dan dua buah film sedang digarap mengenai Taqwacore. Tren itu juga merambah penulis buku komik dan para fotografer.


Meskipun musik heavy metal sudah merambah Timur Tengah, Taqwacore belum menyebar sejauh itu. Tapi, Knight yakin bahwa musik ini akan sampai ke sana.


"Menurut saya Anda harus tahu apa yang membuat orang kesal dan apa yang diperbincangkan orang," kata Knight. "Dan ungkapkan itu dengan cara yang bisa dipahami orang. Menurut saya, di mana-mana ada orang yang tidak berdaya, marah, dan kehilangan harapan. Mereka butuh orang yang menyuarakan hal itu."


Itulah yang membuat Knight yakin bahwa Taqwacore bisa menjadi corong bagi anak-anak muda Timur Tengah, sebuah suara yang keras, untuk mengekspresikan diri mereka. [di/npr, mug/www.hidayatullah.com]

READ MORE!

Interview dengan Chirek

Posted: Jumat, 16 Oktober 2009 by Divan Semesta in
0

Dulu saya pernah hadir dalam peluncuran buku karya-nya (Sebuah Pertanyaan untuk Cinta yang Buta?). Bersama dengan sahabat-sahabat lelaki yang selalu cepak dalam bergaya itu, saya melihat dia bersanding dan diwawancarai oleh Helvy T. Rosa dan penulis yang dia kagumi, Asma Nadia.

Nama lelaki yang nantinya sy wawancarai ini tentu tak usah disebutkan aslinya, tetapi sahabat-sahabat dia menyebut dia Chirek.

Dia dikenal pula dengan panggilan Tukang Tidur dan sambil bekerja sebagai sebuah editor sebuah penerbitan terkenal, nampaknya pria yang memiliki wordpress: zonakosong tersebut, masih memiliki banyak keinginan untuk memaksimalkan potensinya.

Ia merealisasikan zine Wake Up! Dan tak lama lagi, --bersama sahabat-sahabatnya di Proklam--, pria yang berdomisili di Depok itu akan menerbitkan zine keroyokan bernama Jurnal Omong Kosong (yang entah sudah beberapa edisi)

Dan hadirin sekalian, mari kita tampiling, eh maaf maksud saya mari kita tampilpun, eh… maksud saya mari kita tampilkan, eh… mari kita menikmati wawancara ini. :)


Asalamualaikum Rex..gimana Kabar The Gang, kok nggak kedengeran lagi lagu-lagunya? Lu udah keluar bukan? Bagaimana kabar persahabatan kalian? Hatinya masih terpaut kan?

The Gangs alhamdulillah baik. Tanggal 10 Oktober 2009 kemarin The Gangs manggung. Tapi bukan gue yang ngedrumin, melainkan gitarisnya, si Iyun. Masih matengin lagu-lagu baru, neh. Sebenarnya gue belum sepenuhnya keluar dari The Gangs. Tapi gue sama teman-teman di The Gangs udah sepakat bahwa gue bisanya untuk latihan dan rekaman aja, tapi untuk manggung, gue udah nggak mau. Dan temen-temen di The Gangs setuju. Tapi gue tahu, sebentar lagi gue akan benar-benar keluar dari The Gangs. Gue udah nggak ada passion lagi. Udah nggak ada nyawanya lagi. Badan gue berada di balik drum, tapi pikiran gue melanglang buana. Tapi gue nggak tahu bilangnya mesti gimana sama teman-teman. Hehehe. Soalnya gue pikir, The Gangs nggak akan maju kalo masih ada gue. Kalo soal persahabatan mah nggak akan hilang. Gue dari SD main sama Awal, nongkrong dan begadang di Proklamasi, aksi May Day, bikin perpustakaan jalanan di Margonda, dan masih banyak lagi. Gue besar dan mengerti tentang hidup di sana, dan yang lebih penting, gue mendapat “hidayah” itu dari sana. Nggak mungkin gue lupain sahabat-sahabat gue itu.

Kalau liat tulisan yang lu posting akhir-akhir ini keliatan banget ada perubahan wacana. Gimana lu memandang perubahan itu?



Wacana tentang Islam maksudnya? Sebenarnya udah sejak lama gue pengen banget seperti yang sekarang ini. Dulu gue masih takut kalo ingin menulis tentang Islam. Nggak pantes, gitu istilahnya. Makanya dulu gue sering nulis tentang hal-hal yang sepele aja, tanpa pernah sama sekali mengikutsertakan perspektif Islam. Dalam Islam, gue cuma jadi penggembira aja. Yang penting dukung doang, tapi kalo mau lebih dalam lagi, entar dulu. Gue mesti membenahi diri dulu. Masih banyak kontradiksi di dalam diri gue. Tapi sekarang Alhamdulillah perasaan itu udah nggak ada lagi. Insya Allah gue sekarang udah mulai berani menulis tentang kebenaran Dien gue, yang penting jangan sok tahu. Mudah-mudahan sih begitu.

Gw yakin hal itu nggak tiba-tiba terjadi, ada banyak tahapan yang lu lewati hingga sampai ke pemikiran yang sekarang, bisa diceritain tahapannya secara garis besar nggak perjalanan spiritual lu?

Setiap orang pasti memiliki perjalanan spiritual yang berbeda-beda. Ada yang gara-gara mimpi mati, akhirnya tuh orang taubat. Ada yang gara-gara ngeliat sosok berjubah putih ketika lagi terbaring di rumah sakit, akhirnya memutuskan untuk taubat. Dan masih banyak lagi, dan semua itu tentu menarik untuk dituliskan, soalnya beda-beda, kan jadi semarak. Tapi kalo gue, hmm... jujur, gue tertarik mendalami Islam gara-gara melihat teman gue, Kelly, berubah 180 derajat. Dulu dia tuh nge-punk banget, malah perutnya sempet ditato, eh malah jadi Islam banget. Bisa dibilang, di situlah titik awal gue mulai tertarik untuk mempelajari Islam lebih dalam. Sampai sekarang. Tapi jangan lantas dikira gue mempelajari Islam hanya lantaran ikut-ikutan orang. Hehehe.



Di tulisan yang terakhir lu bicara tentang roots, bagaimana menjelaskan tentang hal ini? Tentu jawabannya harus berbeda dengan jawaban di multiply, kalaupun ternyata lu punya cara pandang sendiri, bagaimana lu memandang scene skinhead secara positif, hal positif apa yang lu bisa ambil dari scene ini.

Oh tulisan itu bukan gue tulis di multiply, tapi di wordpress. Sebelumnya gue kasih tahu dulu, bahwa sebenarnya gue nggak pernah jadi skinhead. Pernah sih, tapi cuma empat hari doang. Soalnya saat itu gue pikir lagu-lagu skinhead itu nggak enak. Hahaha! Saat itu gue denger lagunya 4-skin, lambat banget. Beda banget sama Chaos UK, The Casualties, dan band-band punk lainnya. Tapi sekarang gue baru tahu ternyata lagu skinhead ada juga yang enak. Termasuk The Gangs. Hehehe. Saat itu gue lebih tertarik sama punk. Nggak ada yang lain!
Mengenai makna roots yang gue tulis itu adalah karena gue cuma ingin berbagi perspektif sama temen-temen di scene. Dalam perspektif Islam makna roots itu seperti ini lho. Terserah mereka mau menerima apa nggak. Sekali lagi, gue cuma mau berbagi perspektif di antara begitu banyak perspektif dominan yang membahas makna roots itu.
Gue nggak mau ngebahas soal skinhead lebih jauh. Soalnya gue bukan skinhead. “Kalo lo mau tahu tentang skinhead, jadilah skinhead!”, begitu istilahnya. Sedangkan gue bukan seorang skinhead. Untuk hal positif yang gue dapet dari anak-anak Proklam (yang sebagian besar adalah anak-anak skinhead) banyak banget. Dan itu nggak bisa disangkutpautin sama skinhead. Soalnya di mata gue, mereka itu adalah sahabat-sahabat gue, tidak peduli apakah mereka punk atau skinhead.

Beberapa waktu lalu kita sempat bicara mengenai keinginan untuk mengkaji di INSIS, dan kebetulan lu nemuin kajian tentang Wahabi, bagaimana lu menghubungkan antaran news yang diberitakan di media massa dengan masalah wahabi ini? Lebih baik berpemikiran Wahabi atau berpemikiran Miyabi?

Bisa dikatakan sebagian besar orang yang berbicara di televisi mengenai wahabi itu nggak ada yang bener. Masak ajaran wahabi dibilang menyebarkan ajaran teroris. Yang saya tahu, wahabi itu ngajarin kita gimana caranya mengusir syirik dan bid’ah. Perkara wahabi itu bekerjasama dengan Inggris untuk kemudian memisahkan diri dari kekhilafahan Islam yang saat itu masih berdiri, saya angkat tangan. Saya nggak ngerti kalo udah menyangkut masalah konspirasi kayak gitu. Yang pasti, Muhammad bin Abdul Wahab itu seorang mujadid. Titik. Kalo ditanya lebih baik mana pemikiran wahabi atau pemikiran miyabi, saya nggak mau jawab. Soalnya pertanyaan itu bercanda, sih. Hehehe. Kalo pun dipaksa untuk jawab, tentu saja saya lebih memilih untuk berpemikiran Islam sesuai seperti yang telah diajarkan Rasul kepada kita.
Gw dah nggak denger (dari temen-temen) lu ngegebug drum lagi. Trus sekarang apa yang lu gebuk Rex?

Gue nggak ngegebuk apa-apaan, Van. Gue mah sekarang kerja doang, sama bikin zine deh. Oh iya, sekarang-sekarang ini gue seringnya pacaran mulu sama Istri tercintaJ Haha!
Bagaimana pandangan lu mengenai lyric Anti Flag yang mengatakan bahwa Heaven and Hell its just a myth so youshould listen to this moment?

Wah, gue belum pernah denger, tuh. Minjem, dong. Kalo obrolan tentang surga dan nereka itu mitos mah udah sering. Nggak unik lagi. Udah nggak keren lagi. Jadi males gue bahasnya. Hehehe. Ada lagi yang lebih keren, Pak Haidar Bagir, dedengkotnya Mizan, mengatakan bahwa surga dan neraka itu adalah sama. Sama seperti dengan air es. Kalo sedang haus, air es itu menjadi surga. Tapi kalo lagi sakit demam dan flu, air es itu menjadi neraka. Jadi, surga sama neraka itu nggak ada bedanya. Sama seperti analogi air es tadi. Tapi tentu saja gue nggak menerima itu. Soalnya, selain wacana yang digelontorkan oleh Pak Haidar Bagir itu mungkin hanya sebagai lelucon, Allah juga udah ngasih penjelasan yang sangat gamblang mengenai surga dan neraka. Surga dan neraka itu bukan mitos, dan keduanya adalah berbeda. Kita tinggal memilih, mau ke surga apa ke neraka? Jangan kayak orang-orang sok yang mengatakan, “Aku tak pantas memasuki surgamu, tapi aku juga tak ingin masuk ke dalam nerakamu.” Nah lho? Berarti mau ke mana? Tapi mudah-mudahan kita dijauhi dari api neraka. Aamiin...
Sejauh mana band-band merubah cara pandang kita yang lu bilang seharusnya memiliki roots yang berusmber dari Madinah (rootsof madinah dong).

Sori. Gue nggak ngerti pertanyaanlo nih :)

Band-band apa yang menurut lu memusuhi Islam. Diluar negeri dan dalam negeri.

Waduh, gue nggak tahu. Sumpah! Gue nggak kerja di majalah Hai! sih. Hehehe. Referensi musik gue tuh bener-bener nol! Yang gue tahu cuma Bad Religion doang. Bukan karena mereka ateis, tapi musik mereka tuh keren banget! Nah, apakah Bad Religion itu memusuhi Islam? Yang gue tahu sih, mereka memusuhi semua agama! Hehehe.
Nah, di blog lu kan nada lambang anarki, dan ada blognya si Bowo, juga si Pam, setau gua scene mereka nggak pernah membuat link di blogdrive/multiply dengan blog atau multiplynya muslim-muslim radikal. Dan sebaliknya diblog lu dan blog muslim lain ternyata mencantumkan link yang jelas-jelas idenya vis a vis dengan ideology yang kita percaya. Kasarnya kita mengiklankan mereka, mereka nggak mengiklankan kita. Apa pembelaan lu tentang hal ini?

Hahaha! Mampus gue! Yang pasti logo anarki itu tidak sepopuler logonya komunis. Gue pake logo anarki di depan ibu gue, nggak akan ada masalah, karena ibu gue gak tahu. Tapi kalo gue pake logo komunis, pasti gue dilarang. Intinya, logo anarki itu cuma sedikit orang aja yang tahu. Lagi pula, semasa gue nge-punk, gue memang pengagum anarki. Jadi mungkin kebawa-bawa sampai sekarang. Tapi insya Allah logo anarki itu sekarang cuma sekadar fashion aja bagi gue. Nggak lebih. Nggak ada maksud untuk ngiklan juga. Kalo pun ternyata itu dilarang oleh syara’, maka saya akan menghapusnya. Di blog gue malah gue kasih link ke blog-blognya kaum anarkis, food not bom, apocalyps, dan lain semacamnya. Gue cuma mau berbagi aja.

Btw, nyempal dari pertanyaan serius, gimana kabar zine lu?

Wake Up! insya Allah bulan ini atau bulan depan terbit. Makanya tadi gue wawancarai elo, biar halamannya keisi. Hehe. Tapi doain aja, ya....
Bagaimana peran pasangan hidup buat lu? Apa pasangan hidup membuat lu jadi jarang ngomong mencret lagi dan merokok ha, ha!
Besar banget. Fifi tuh penyemangat gue banget. Pas lah untuk seorang tukangtidur kayak gue. Hehe. Yang jelas, merokok udah jaraaaaaaaaaaang banget! Hehehe. Tapi kalo ngomong mencret mah teteuuup. Apalagi kalo nonton berita yang ngeselin, pasti dah gue ngomong mencret! Tapi nanti kalo udah punya anak baru deh kebiasaan ngomong mencret itu gue hilangkan sehilang-hilangnya. Hahaha!
Apa yang pengen lu dapatkan secara materi akhir2 ini?

Gue mau kuliah, ngambil jurusan Bahasa Indonesia. Gue mau jadi dosen! Ini serius!
Apa yang pengen lu dapatkan secara spiritual?

Keimanan yang setangguh karang!

Kalau mau ikut kajian, kajian apa yang lu rasa cocok dengan diri lu?

Kajian Al-Quran dan Hadis. Tapi sekarang gue pengen banget mendalami ilmu hadis. Kayaknya di mata gue ilmu hadis itulah yang paling rumiiiit banget. Kalo kajian tentang pemikiran mah buat selingan aja.

Terakhir, apa yang membuat lu bangga ketika lu nantinya berhadapan dengan Allah?

Gue cuma bisa bilang Alhamdulillah dan bersyukur berkali-kali. Itu aja. Lupa sama apa yang mesti membuat gue bangga ketika sedang berhadapan dengan pencipta gue.
Cukup bro!. love u
Luv u 2.....

READ MORE!

Miyabi dan Qory

Posted: Selasa, 13 Oktober 2009 by Divan Semesta in
2

Raditya Dika dan Qory telah menjadi buah bibir di seluruh Nusantara belakangan ini. Yang satu adalah blogger yang telah mengembangkan karirnya menjadi penulis naskah film, sedangkan yang satunya lagi baru saja terpilih sebagai Putri Indonesia 2009. Akan tetapi, yang menyedot perhatian banyak orang bukanlah karir mereka, melainkan cara mereka menjalaninya. Raditya menulis naskah untuk sebuah film yang diberi judul Menculik Miyabi, sedangkan Qory mengorbankan jilbabnya demi kompetisi.

Apa yang terjadi pada mereka, atau pilihan yang mereka buat, bukanlah sebuah gejala semalam. Pemikiran tidaklah dibangun secara tiba-tiba, melainkan dengan melalui beberapa tahapan fundamental. Apalagi jika seorang blogger memutuskan untuk mempromosikan seorang bintang film porno – baik itu tujuan utamanya atau tidak – dan seorang putri Aceh sampai memutuskan untuk menanggalkan identitas keislamannya, bahkan kemudian mengumumkannya di atas panggung. Sesuatu telah terjadi pada mereka, dan kita akan sangat rugi jika tidak menjadikannya sebagai bahan pemikiran, tentunya dengan menjadikan kontruksi pemikiran Islam sebagai pembandingnya.

DualismeKedua kasus menunjukkan masalah dualisme yang sangat berat, sebagaimana kerap terjadi dalam peradaban Barat. Ust. Hamid Fahmi Zarkasyi telah menjelaskan fenomena ini dengan sangat menarik. Kepercayaan Zoroaster memandang dunia sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Orang Mesir kuno menjadikan Ra sebagai simbol kehidupan dan kebenaran, berlawanan dengan Apophis yang merupakan simbol kegelapan dan kejahatan. Mitologi Yunani juga selalu menampilkan pertarungan antara Zeus dengan para Titan. Jiwa dan raga dipandang sebagai dua hal yang terpisah.




Sebagai kritik atas dualisme, ada pula paham monisme. Zeus dan Titan ternyata berasal dari nenek moyang yang sama. Dalam kepercayaan Zoroaster, kebaikan inisbatkan kepada Ahura Mazda, sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahriman. Akan tetapi, keduanya adalah saudara kembar. Jiwa adalah pasangan raga, sedangkan keduanya adalah satu kesatuan. Akan tetapi, karena dominasi pemikiran sekuler yang mengobarkan arogansi akal tanpa wahyu, maka monisme tersingkir dan dualisme pun berkibar.




Masalah ini sebenarnya sudah terpecahkan oleh konsep tauhidullaah. Semuanya adalah ciptaan Allah SWT. Pendukung kebenaran dan kejahatan memang senantiasa bertarung, namun yang haq sudah dipastikan kemenangannya, sedangkan yang bathil sudah pasti akan kalah.




Seorang dualis, menurut ust. Hamid, memandang fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa dan raga tidak saling terkait karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci, atau akal selalu baik dan raga dianggap jahat. Kebenaran pun menjadi dua: obyektif dan subyektif. Di era post-modern, kebenaran bahkan ada yang absolut, ada pula yang relatif. Karena itu, manusia pun berandai-andai mengenai ‘pelacur berhati suci’, ‘penjahat yang santun’, ‘pahlawan yang mesum’, ‘ateis yang baik’ dan seterusnya. Dalam akhir uraiannya, ust. Hamid menjelaskan bahwa dualisme ini akhirnya menjadi semacam perselingkuhan intelektual. Hati ber-dzikir pada Allah SWT, tapi pikirannya menghujat-Nya.




Cara berpikir dualis juga yang telah digunakan oleh Raditya dan Qory dalam memilih jalan hidupnya. Raditya mengakui bahwa Miyabi telah menjalani hidupnya dengan sangat hina, namun kapasitasnya dalam film yang digarapnya hanya sebagai bintang film biasa. Karena itu, Miyabi dalam hal ini tak perlu diperlakukan seperti bintang film porno, melainkan sebagai bintang film biasa. Qory pun mengalami masalah yang sama ketika ia menganggap bahwa melepas jilbab – dengan ijin siapa pun, entah benar atau tidak – untuk memenangkan sebuah kontes kecantikan tidak membuatnya menjadi Muslimah yang buruk. Sebagaimana kaum dualis lainnya, Qory mengaku lebih mementingkan ‘menjilbabi hati’ daripada ‘menjilbabi kepala’, karena hati dan tubuh memang dianggap sebagai dua hal yang terpisah. Raditya mengira bahwa Miyabi bisa menjadi bintang film porno yang tidak merusak, sedangkan Qory menyangka bahwa dirinya bisa menjadi Muslimah yang baik tanpa harus menutup auratnya.




Dalam Islam, dualisme semacam ini sama sekali tidak dikenal. Jika hatinya suci, maka tubuhnya pun harus secara rutin disucikan, bahkan hartanya pun ikut disucikan. Iman pada konsep tauhidullaah harus tercermin dalam perbuatan. Seorang pelaku kemaksiatan adalah pelaku kemaksiatan, selagi ia belum bertaubat. Bukan hanya yang membuat dan yang mengkonsumsi minuman keras yang mendapat dosa, tapi juga yang mempromosikannya, yang menjualnya, bahkan mereka yang bersikap seolah-olah hal itu tidak ada salahnya. Maka, yang berdosa bukan hanya yang membuat dan menonton film porno Miyabi, tapi juga yang membuat Miyabi dikenal luas, termasuk juga yang bertingkah seolah-olah gaya hidupnya itu dapat dibenarkan. Pemikiran Qory juga kontradiktif. Jika memang merasa bahwa rambutnya begitu indah, mengapa ia tidak mensyukurinya dengan menjalankan perintah Dia yang telah memberinya rambut indah?




RelativismeDalam kasus Raditya, penyakit relativisme sangat menonjol. Dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi swasta, ia mengatakan bahwa penolakan orang terhadap film Menculik Miyabi itu biasa-biasa saja, kurang lebih sama seperti ketidaksukaannya pada sinetron yang jalan ceritanya absurd. Alasan ini biasa digunakan oleh kaum relativis untuk menghindari perdebatan. Semuanya dianggap relatif, tergantung siapa yang menilai. Maka menolak bintang film porno pun dianggap sama bobotnya dengan menolak sinetron yang digarap dengan buruk.



Ketika Ahmadiyah didebat, relativisme menjadi ‘pintu daruratnya’. Kata mereka, dulu pun Rasulullah saw. dicela dan dicemooh orang, dituduh sebagai nabi palsu, tukang sihir, dan sebagainya. Karena sama-sama dicela, maka Ghulam Ahmad dianggap sebanding dengan Nabi Muhammad saw. Tapi mereka tak suka jika Ghulam Ahmad diperbandingkan dengan Hitler, padahal Hitler juga dicela. Mungkin sekarang Raditya dan Qory pun merasa bagai pahlawan, yang pada awal perjuangannya harus berdarah-darah, sebelum akhirnya mendapat bintang tanda jasa.



Tangga Kemaksiatan



Mereka yang hidup di alam nyata pasti menyadari bahwa kemaksiatan sebenarnya bekerja seperti anak-anak tangga; dosa yang satu mengantar pada dosa berikutnya yang lebih parah. Orang yang mengkonsumsi minuman keras biasanya tidak mengakhiri ‘petualangan maksiatnya’ di titik itu. Setelah mabuk, terjerumuslah ia pada dosa-dosa lainnya, misalnya zina. Satu-satunya cara untuk memutus tangga kemaksiatan ini adalah dengan bertaubat. Sekarang Qory telah merelakan sebagian auratnya demi gelar Putri Indonesia. Entah aurat yang mana lagi yang akan direlakannya untuk gelar Miss Universe.






Qory bukan Miyabi, namun tindakan Qory bisa jadi menciptakan Miyabi-Miyabi baru di kemudian hari. Jika agama dan aurat pun digadai untuk mendapatkan gelar Putri Indonesia – yang sebenarnya nyaris tak bermakna dan hanya berlaku setahun – maka dalam 10-20 tahun ke depan akan lebih banyak lagi yang dikorbankan. Jika sekarang Qory merelakan rambut dan beberapa bagian tubuhnya untuk menjadi konsumsi publik, maka bisa jadi di masa depan akan ada perempuan-perempuan Indonesia yang merelakan seluruh tubuhnya diperlihatkan dan dijamah siapa saja di depan kamera asalkan bayarannya cukup. Islam telah memperingatkan manusia agar menjaga dirinya supaya tidak menjadi pelopor dan inspirator dalam perbuatan dosa.



Kontroversi soal Miyabi yang ditimbulkan oleh Raditya juga telah memperlihatkan puncak gunung es yang selama ini belum terlihat. Sebelumnya, menonton film porno masih dianggap sebagai hal yang memalukan. Sekarang, ramai para artis mengaku dengan bangga bahwa dirinya juga kerap menikmati hasil kerja Miyabi. Seolah-olah dengan begitu mereka terhindar dari predikat munafiq. Padahal, melakukan dosa dan bersikap bangga dengan dosanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Jika yang pertama bisa memberatkan timbangan amal buruk di akhirat, maka yang kedua bisa melemparkan pelakunya dalam kekafiran.



Dulu, umat Islam takut menonton film porno. Kemudian film porno beredar di mana-mana, termasuk di tempat-tempat terbuka yang sudah pasti diketahui juga oleh polisi. Orang menonton film porno dengan sembunyi-sembunyi dan sendiri-sendiri. Kemudian yang menonton merasa terasing karena ‘kesendiriannya’, lalu ia mengajak teman-temannya, dan mereka pun menonton bersama. Setelah itu, yang tadinya dianggap memalukan kini malah dianggap lumrah. Kalau tidak menonton film porno, tidak dianggap laki-laki. Sekarang, akibat kontroversi Menculik Miyabi, orang tidak malu lagi mengaku sebagai penikmat film porno. Kalau bintang film porno pun diapresiasi, maka bintang-bintang panas lokal seperti Julia Perez, Kiki Fatmala, Sarah Azhari dan semacamnya akan ‘mendapat angin’, karena Miyabi jelas lebih bejat. Beberapa dasawarsa ke depan, Indonesia mungkin bukan lagi sekedar pasar besar untuk industri pornografi, melainkan juga produsennya. Sebenarnya hal ini sudah dirintis dengan menjamurnya teknologi ponsel yang memiliki kamera dan perekam video. Raditya dan Qory, baik mereka mengakuinya atau tidak, memiliki andil besar dalam meruntuhkan moral bangsa ini.


Boikot Sosial


Mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa judul artikel ini tidak menyebut-nyebut nama Miyabi. Kedatangan Miyabi ke Indonesia memang bukan inti permasalahannya. Tanpa sepengetahuan kita, bisa jadi telah banyak bintang film porno yang datang berkunjung ke tanah air. Banyak bintang Hollywood – yang moralitasnya juga diragukan – telah berkunjung ke Bali. Permasalahannya: mengapa seorang Muslim telah mempromosikan seorang bintang film porno, mengundangnya secara khusus ke tanah air, dan bersikap seolah-olah ia setuju atau tidak bermasalah dengan gaya hidupnya?






Mendemo Miyabi bisa jadi hanya buang-buang waktu saja, atau minimal tidak terlalu urgen untuk dilakukan. Kecil sekali kemungkinannya penolakan umat Islam Indonesia akan berpengaruh pada Miyabi yang masa lalunya sudah sangat kelam, apalagi Miyabi sendiri bukan seorang Muslimah. Kalaupun film Menculik Miyabi tidak jadi diproduksi, Miyabi takkan kekurangan order di industri yang telah dikuasainya. Kita juga tidak menemukan celah dalam hukum negeri ini untuk menolak kehadiran Miyabi di Indonesia.



Pandangan seharusnya dihadapkan pada Raditya dan Qory, karena kita punya kewajiban untuk menyuarakan kebenaran, karena mereka Muslim, dan karena kita punya kewajiban untuk mengembalikan keduanya pada jalan yang benar. Hemat saya, demonstrasi seharusnya diarahkan pada kedua tokoh ini. Oleh karena itu, demonstrasi tidak mesti digelar di bandara (tempat Miyabi disangka akan mendarat), tapi justru lebih tepat untuk dilaksanakan di depan rumah dan sekitar lingkungan tempat tinggal Raditya dan Qory, kampus tempat mereka kuliah, dan seterusnya. Mereka yang punya akses langsung untuk bergaul dengan mereka memiliki kewajiban lebih untuk memperlihatkan dengan gamblang ketidaksetujuannya sebagai seorang Muslim. Ini adalah kewajiban, bukan sekedar kebolehan. Tidak bersikap bukanlah sebuah pilihan. (Tulisan ini di rampok dari akmal.multiply.com oleh zonakosong, dan dicolong lagi oleh divansemesta.blogspot.com, dan diubah pula judulnya. Siapa lagi yang mau nyolong? Nyopet?)

READ MORE!

BLA

Posted: Jumat, 09 Oktober 2009 by Divan Semesta in
0


Melihat kesatuan itu membuat haru. Selalu.

READ MORE!

Hei Ho! Lets Take A ‘Fifteen Minutes’ a Nap

Posted: Minggu, 04 Oktober 2009 by Divan Semesta in
4

Saya baru saja melihat iklan National Geographic. Seperti biasa, iklannya cukup menarik: ada seorang pemimpin perusahaan yang menemukan seorang staffnya tertidur. Semua pekerjaan di kantor tiba-tiba berhenti. Staff lain menduga-duga bahwa pemimpin perusahaan itu akan murka. Sang pemimpin perusahaan berjalan ke arah meja yang digunakan staff itu untuk tidur. Setelah sampai, ternyata sang pemimpin perusahaan tidak melakukan apa-apa, ia tidak membangunkan tidur staffnya. Ia hanya mematikan lampu meja yang bohlamnya tengah menyala.



Seluruh staff yang berada di satu lantai sama dengan staff yang tengah tertidur itu bernafas lega. Dan diakhir iklan tersebut kemudian muncul sebuah iklan yang menyatakan bahwa memanfaatkan lima belas menit jam istirahat akan membuat produktivitas kita tinggi dan kehidupan harian kita lebih kita bahagia.

READ MORE!

Murtadlah

Posted: by Divan Semesta in
0

Di pelataran itu, ia datang tiba-tiba. Seorang pria yang diantara telunjuk dan jempolnya terdapat symbol yang kukenal: the eye of Amon Raa, mata dewa tertinggi dalam mitologi Mesir.
Pria itu pernah berkata, bahwa Islam merupakan produk sebuah: budaya Arab sebelum Islam muncul. Pria yang penampilannya sangat biasa dan bercelana jeans serta tubuhnya berbalut kaus hitam itu menambahkan bahwa hal tersebut bisa disimpulkan dari hal yang sangat sederhana, yakni ritual hajji.
“Orang Arab sebelum Muhammad turun sudah lebih dulu melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah.” Dan itu artinya Islam merupakan sebuah produk akulturasi. “Setiap agama, termasuk Islam selalu berevolusi,” tutupnya gamblang.

Saya sempat berbicara banyak dengannya, dan kami merasa cukup dekat hingga bisa melakukan komunikasi yang saya anggap sehat dan sangat baik untuk orang yang baru saja bertemu. Pria itu lantas meminjamkan sebuah buku, yang hingga hari ini belum sy kembalikan karena sy tak tahu mengembalikannya ke siapa. Saya lupa namanya dan pria itu tidak menyisipkan alamat atau no contact di bukunya.

Sebelum bertemu dengannya, sayapun pernah bertemu dengan ungkapan yang di sampaikan pria itu di dalam beberapa buku, dan beberapa tahun kemudian saya kembali berhadapan lagi dengan pertanyaan itu lagi, melalui seorang pria yang berbeda.
Saya pikir munculnya statement seperti itu --setidaknya-- lebih baik karena bertujuan mengadakan transaksi (diskusi), ketimbang mengeluarkan makian Ragunan yang mengasosiasikan Islam dengan binatang-binatang yang menurut kisah dibawa oleh Nuh dalam rangka menyelamatkan –binatang-binatang.
Bagi saya itu lebih baik berbincang ketimbang mengeluarkan makian-makian yang justru tampak sebagai produk hysteria. Dan orang yang histeris itu sekilas tampak berani, namun sesungguhnya ketakutan mereka itu sangat dalam.

Kembali pada maksud menuliskan hal ini ialah:

Ada beberapa ritual Islam yang memang merupakan perjalanan sejarah yang panjang mengenai ritual ketauhidan dan ada pula yang memang merupakan produk ritual Islam yang muncul pada saat Muhammad diangkat sebagai rasul untuk menyempurnakan.

Ketika dikatakan bahwa ritual Islam mengenai tawaf sudah muncul dan dilakukan oleh orang-orang jahiliah, saya akan mengatakan, bahkan jauh sebelum zaman jahiliah ritual tawaf sudah dilakukan oleh Ibrahim. Mungkin sama halnya dengan ritual shalat.

Lantas muncul pertanyaan

Apakah dengannya membuktikan Islam merupakan hasil kreasi manusia?

Tidak bisa dikatakan demikian, karena menurut sejarah pula, agama tauhid adalah agama yang sama diturunkan oleh Allah, maka wajar saja jika terdapat satu kemiripan.
Justru, jika tidak ada kemiripan, atau garis penghubung atau sidik jari antara satu ritual ketauhidan di sebuah masa dengan masa sesudahnya, maka hal itu bisa menimbulkan pertanyaan pula, kok tidak sama, kalau agama tauhid kan seharusnya sama.
Alquran menyebut orang-orang terdahulu yang mengesakan Allah sebagai orang-orang yang lurus. Ini kuncinya, setelah agama tauhid sebelum islam turun, setelah rasulnya wafat, Ibrahim, Daud, Musa, Isa, maka agama-agama itu terdistorsi.
Sejarah mengenalkan kepada kita konsep ketauhidan nasrani kemudian berubah menjadi trinitas dalam perjalanan sejarahnya. Termasuk pula Zoroaster dan lain sebagainya. Maka, turunlah Islam untuk menyempurnakan. Islam datang untuk membersihkan ritual-ritual agama yang sudah tercampur dengan hawa nafsu manusia. Ketika islam datang, berhala-berhala yang merupakan produk budaya Arab di singkirkan (termasuk ritual haji yang sudah terdistorsi) Islam mempurifikasi, mensucikan kembali ajaran dan ritual agama samawi sebelumnya dan bahkan mengembangkan dan memperbaharuinya, menyempurnakan kemudian menutup perubahan itu dengan sebuah jaminan bahwa Islam melalui tuntunan Al Quran konsepsinya akan dijaga hingga akhir zaman (agama samawi sebelum islamtidak mendapatkan jaminan seperti ini. Mengapa? Oh maaf saja sy belum bertemu Allah untuk bertanya tentang hal itu)

Inilah sedikit hal yang sering sy utarakan, bahwa kesamaan atau kemiripan ritual kemudian menjadi alas an yang cukup untuk membuktikan bahwa Islam merupakan produk budaya. Apalagi budaya Arab. Karena budaya Arab jahiliah sebelum zaman rasul adalah penyembahan pagan latta uzza sementara Islam menghilangkannya, karena budaya sebelum masa rasul adalah berjudi, mengundi anak panah, mengubur anak-anak wanita, melakukan riba, merampok, ‘telanjang’ bagi wanita dan lain sebagainya sementara Islam kebalikannya. Jadi, kamu-teman-temanku, saudaraku, jangan murtad hanya karena ungkapan bahwa Islam adalah produk budaya. Murtadlah kalau kau bisa membuktikan bahwa Al Quran (fundamen terkuat) adalah ciptaan Muhammad, ciptaan manusia. Mampukah?

READ MORE!