Cermin (Bab 32)

Posted: Senin, 31 Agustus 2009 by Divan Semesta in
0

Dalam pembicaraannya mengenai pencarian, pergulatan manusia dengan keyakinan, Fidel tidak menyertakan figure pembela eksistensi Tuhan paling mutakhir dan figur penyangkal Tuhan terbesar yakni Dawkins dengan teori mengenai meme, virus akal budi yang mendapat pencerahan dari bapak evolusi, Darwin.

Riang hanya dipahamkan mengenai sebuah fondasi. Ia hanya diberikan pemahaman mengenai tiang pancang keimanan dan dijelaskan kembali mengenai sandaran informasi yang pernah Fidel sampaikan saat mereka menginap di danau Merbabu. Bahwa, setelah manusia meyakini keberadaan Tuhan, setelah seseorang menyimpulkan adanya informasi yang diberikan Tuhan untuk mengelola kehidupan, maka ia akan berhadapan dengan berbagai klaim keagamaan bahwa kitab inilah, atau kitab itulah yang merupakan wahyu Tuhan untuk manusia.

Dalam taraf seperti ini manusia akan melakukan serangkaian pengujian mengenai otentisitas kitab termasuk di dalamnya mengenai penelitian bahasa atau salah satu cara yang paling sederhana dan bukan yang paling canggih ialah dengan meneliti sejarah bagaimana kitab suci itu di bukukan: apakah pencatatan kitab suci tersebut dilakukan ketika Nabi --yang dianggap pembawa kabar ayat-ayat Tuhan-- masih hidup, dalam artian, pencatatannya langsung dilakukan ketika nabi mendapatkan wahyu atau penulisan kitab suci itu dilakukan jauh-jauh hari setelah sang nabi wafat? Hal ini perlu dipertimbangkan karena perbedaan waktu antara pencatat dengan orang yang dicatat ucapannya, akan mempengaruhi tinggi atau rendahnya distorsi informasi yang disampaikan Tuhan pada sang nabi.

Mencari kitab yang tidak terdistorsi, atau yang paling rendah tingkat distorsinya akan menunjukan bahwa manusia tersebut adalah manusia yang serius melakukan pencarian. Ia tidak dengan mudahnya meyakini seluruh keyakinan itu benar atau bahkan semua agama salah, sebelum ia melakukan penelaahan yang dalam bukan hanya penelaahan terhadap kesamaan imbauan moral atau beberapa tuntunan etika yang tertera di dalam kitab kitab yang berserakan di dunia, tetapi penelaahan yang lebih dari sekedar itu. Dan penelahan yang sistematis seperti itu tentu membutuhkan waktu yang panjang melebihi panjang coki-coki atau bahkan tubuh ular boa.

Riang akan menjalani tahapan untuk memahaminya, akan tetapi –setidaknya--, saat ini Riang sudah memahami sistematika sederhana mengenai pencarian keimanan terhadap sumber informasi.

TAK ADA JAM yang bisa memastikan posisi matahari di angkasa. Riang tertdur tanpa ada yang membangunkan. Malam kemarin, usai merenung ia kembali menuju ruang bawah tanah. Riang tak berniat tidur di atas sebab Fidel tidak ada semenjak sore kemarin di rumah kayunya. Riang bangun, menuju ke atas ruang bawah tanah. Ia membersihkan dirinya di kamar mandi, menghangatkan sarapan dan memastikan tidak ada kerjaan yang harus ia lakukan di lahan. Riang lantas kembali lagi ke ruang bawah tanah.

Riang membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia mengambil novel yang Fidel sarankan. Baru beberapa belas halaman ia membaca dari atas terdengar suara aneh yang mencurigakan. Konsentrasi Riang terpecah. Suara langkah kaki terdengar berketuk-ketuk. Ada seseorang yang berjalan bolak balik di atas sana. Langkah kaki itu lalu menjauh, hilang perlahan. Sunyi kembali datang. Lalu langkah kaki itu kembali datang.

Riang menunggu yang terjadi, ia tak mengenal bunyi langkah kaki itu. Sesorang berhenti tepat di pintu masuk ruang bawah tanah. Suara gerendel pintu terdengar di buka paksa. Suara itu terdengar kasar. Riang melihat berkeliling. Ia khawatir. Tak ada alat. Tak ada yang bisa ia jadikan senjata. Ruangan ini hanya berisi buku. Riang membalikan ranjang. Alas ranjang terbuat dari kawat, ia tak menemukan kayu di baliknya. Mata Riang kembali berputar. Ia mengeluarkan buku yang paling besar dan tebal dari rak buku. Riang menanti.

Suara paksaan terdengar lagi. Riang tak ragu. Tak mesti ragu. Yang di atas bukan Fidel. Keringat turun mengelap dadanya. Ia menanti. Suara gerendel pintu tiba-tiba berhenti. Langkah kaki menjauh lagi. Lalu hilang sama sekali. Orang itu pergi.

Riang menunggu cukup lama. Ia menenangkan diri lalu naik ke atas, membuka pintu perlahan. Ia menyamarkan langkahnya, memeriksa seluruh ruangan.

Tak ada orang. Riang melihat keluar melalui jendela. Di bukanya pintu. Ia tak menemukan siapa pun di sana. Ia menuju ruang tengah, duduk dan membiarkan besi panjang yang ia temukan menemaninya.

Di ruang tengah itu cuaca terlihat mendung. Riang lalu beranjak menekan saklar, menyalakan lampu. Lampu berkedip-kedip lantas mati. Ada yang salah dengan kincir air di dekat air terjun. Riang menutup jendela dan mengambil peralatan lalu mengunci pintu dan memeriksanya hingga ia merasa yakin.

Riang menuju kincir air. Ia melihat air sungai luber. Ada kemungkinan banjir di hulu. Riang mengecek pandangannya. Mendung di ujung. Ia berlomba dengan awan hitam. Air terasa semakin deras. Kincir air yang tampak dari kejauhan, berhenti berputar. Ada sesuatu yang membuatnya tersendat. Tak hanya itu saja, Riang melihat seorang wanita melompati batu menuju hulu.

“Hei! Jangan ke atas. Banjir bandang!” Riang berteriak berkali-kali tetapi suara air meredam teriakannya. Ia menyusul. Wanita itu hilang.

Sampai di kincir air Riang melihat bongkahan batu besar yang menghambat putarannya. Ia mencari kayu, menjadikannya pengungkit. Batu terlempar. Kincir kembali berputar perlahan lalu bertambah cepat hingga kecepatan yang Riang lihat tidak seperti biasanya. Riang segera menyusul wanita itu.

Setelah terpeleset dua kali, ia sampai di hulu sungai. Di danau yang dingin tempat curahan air terjun ditampung, debit air bertambah tinggi. Riang melihat wanita itu berada di atas batu. Riang merasa mengenal raut wajahnya. Ia melihat wanita itu diam untuk sementara lalu mengembangkan tangannya dan melompat seolah kedua tangannya adalah sayap. Tubuh wanita itu meluncur deras. Air berbusa dan Riang berharap sayap itu membuatnya mengambang di atas air.

Riang mulai berpikir tentang kematian. Ia berlari, melompat-lompat di atas batu dan keseimbangannya muncul paripurna. Sampai di tepian danau Riang menajamkan matanya dan di dalam danau yang berwarna hijau remang itu ia melihat tubuh wanita bergerak liar jauh di kedalaman. Ia melihat tubuh wanita itu menggeliat lalu berhenti. Nafasnya habis.

Riang langsung meluncur. Ia masuk ke dalam danau dan berusaha keras mengayuh tangannya hingga berhasil menyentuh tubuh wanita itu. Dipeluknya pinggang wanita itu lalu ia membawanya ke atas dan membiarkan kepala wanita itu tepat berada di atas permukaan. Dalam pada itu Riang tiba-tiba merasa sesak. Ia tak bisa bernafas. Ketika mengangkat tubuh wanita itu, Riang masih memeluk pinggangnya. Ia menggunakan teknik bodoh: membawa kepala wanita kepermukaan tetapi kepala dia sendiri masih berada di dalam air dengan posisi lengan berada di pinggang wanita yang ingin ia tolong. Riang tak bisa bernafas. Untung, air yang yang bergerak ke tepian mempercepat masa kritis itu.

Saat kakinya menjejak batu di pinggiran danau Riang langsung menyembur keluar. Nafasnya terengah-terengah. Ia menyeret wanita itu ketepian pada sebuah batu besar yang datar. Ia mengenalnya, benar-benar mengenalnya. Wanita itu pernah ia temui di Dr. Nurlaila Wanita itu Milea.

Riang merasa khawatir. Tak ada tanda kehidupan dari tubuhnya. Riang terpaksa menekan dada Milea dan memberinya nafas bantuan. Matanya terbuka. “Ka..” Milea menggumam. Kesadarannya hilang tetapi ia selamat. Detak nafasnya mulai teratur. Ia lantas menyalipkan tangan, mengangkat paha dan melingkarkan kaki MIlea di pinggangnya. Riang melompati batu, setengah berlari sembari menggendongnya. “Turunkan aku.” Kata Milea saat mereka melewati kincir air.

Riang tak percaya Milea dapat menyanggah tubuhnya. Benar saja, baru beberapa detik berkata, kesadaran Milea hilang. Sesampainya di rumah kayu. Riang segera membaringkannya di sofa. Ia tak tahu harus melakukan apa: untuk mengganti bajunya, Riang tak merasa mampu. Riang hanya memandangi Milea lalu suara dengung motor trail terdengar jelas dan Riang mulai merasa tenang.

Fidel datang. Ada Waluh tepat berada di belakang tubuhnya.

“Ia hampir tenggelam,” Riang menjelaskan.

Fidel mengecek urat nadi di leher Milea. Ia mengambil selimut untuk menghangatkan tubunya dan hati Riang tiba-tiba bergetar saat Fidel memandang lembut wajah Milea.

Minuman hangat datang. Waluh memberikan cangkir pada Riang sementara cangkir yang satunya ia letakan di meja.

“Kasihan anak ini.” Ujar Waluh saat mereka menunggu Milea siuman.
Fidel diam. Ia tak memberi komentar. Ia masuk ke dalam kamarnya lalu mengeluarkan alat tulis dan kaca. Ia meminta Riang untuk mengambar. Riang menolak namun Fidel memaksanya. Riang tak mengerti maksud kegiatan yang harus ia lakukan.

Tak berapa lama, wanita itu pun siuman dan melihat dua orang di antara tiga orang yang ada di hadapannya tersenyum. Fidel memberikan cermin padanya. Milea terperangah. Mulutnya tiba-tiba menjadi lebar, senyumnya semakin lapang, dan hampir saja rumah kayu itu rubuh diguncang tawa yang meledak-ledak. Milea bangkit, lalu memukuli Fidel.

“Bukan aku!” Fidel spontan menunjuk Riang. “Dia!”

Entah, setan dari mana yang lewat hingga Riang menuruti saja apa yang diperintahkan Fidel saat Milea tak sadarkan diri. Mulut Milea ia gambari kumis, patil ikan lele yang biasa tumbuh di dagu sesepuh kuntau film-film China. Riang menambahkan tahi lalat berbulu di bawah bibir Milea, tak ketinggalan bulatan merah di pipinya. Hasilnya mujarab! Riang tak bisa berkelit. Milea tak mau tahu. Ia mengarahkan kepalannya sekuat tenaga di tubuh Riang. Fidel dan Waluh langsung menghambur keluar rumah. Mereka mendahului Riang berlari.

“Kau ...kau!” Milea terus menyalahkan Riang.

“Apa salahku?!” Riang membela diri.

Milea memukul punggung Riang.

“Apa salahku?!” Riang berlari.

“Kau... kau... betapa teganya!” Milea jauh tertinggal di belakang. Ia hanya bisa mengancam lalu duduk di tanah. Fidel yang berada di dekat Milea masih mencoba menjahilinya. Ia mendatangi Milea, membawa kaca. Milea melirik dan lagi-lagi kaca itu hampir pecah karena tawanya! Milea mengatur nafasnya, namun beberapa detik kemudian, tawanya yang tertahan keluar lagi dari mulutnya. Milea kuatkan diri, lalu ia berdiri dan kembali mengejar Fidel.

Fidel terus saja menjahili Milea. Ia memperlambat langkah kakinya, namun dua meter sebelum tangan Milea menyentuh bajunya, Fidel kembali berlari seolah kerasukan. Fidel mengulanginya hingga dua kali, sampai menjadikan Milea kehabisan nafas. Milea menyerah. Fisiknya yang lemah memaksany untuk mengatur nafas dan duduk di samping ladang sayuran. Fidel merasa salah. Ia lantas duduk di dekatnya..

“Terima kasih,” ucap Milea lirih. Ia menangis.

Riang dan Waluh tidak tahu harus melakukan apa. Mereka membisu.

“Peluk aku … ” pinta Milea tiba-tiba.

Medengar permintaan itu, dunia Riang seolah berhenti berputar. Ia bersyukur melihat Fidel hanya menepuk bahu wanita itu.. Fidel tak bisa melakukan lebih. Ia hanya bisa memandang dan menghangatkan Milea menggunakan matanya.

MENJELANG MAGRIB saat matahari tenggelam tubuh Milea sudah terbungkus kain wol yang hangat. Hujan sudah berhenti sejak sejam yang lalu. Motor trail Waluh menggerung

“Sudah malam.” Fidel memberi isyarat padanya.

Milea cemberut. “Aku tak akan melakukan itu lagi,” janjinya pada semua.

Fidel menggulung koran, memukul kepalanya. “Ya, ya, ya, jangan melakukan tindakan bodoh lagi!”

Milea sebal. Figur wanita dewasa yang Riang lihat di tempat praktet Dr. Nurlaila hilang. Di mata Riang, Milea kini tampak seperti seorang adik yang ingin ia lindungi. Milea seperti adik bungsu yang manja, padahal pada kenyataannya Riang tak pernah dan tak akan memiliki adik. Maghrib itu Riang benar-benar sok tahu.

























READ MORE!

Aku Ingin Anak Lelakiku Menirumu

Posted: Minggu, 30 Agustus 2009 by Divan Semesta in
0

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"

Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku."

Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.
Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."

Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.
Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka
dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

Lalu kuambil tangan suamiku, meski kaku, kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si bayi sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya Allah menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah terungkapkan dengan kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata: Ya, Nabi. aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

Amin, Alhamdulillah (Oleh : Neno Warisman - 'Izinkan Aku Bertutur')

READ MORE!

Tuhan (Bab 31)

Posted: Selasa, 18 Agustus 2009 by Divan Semesta in
2

Riang memandangi album foto. Seperti kebiasaan orang, ia memandangi wajahnya sebelum melihat wajah dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Merapi terlihat tampak kukuh seperti raksasa rahwana: sombong dan culas, selain itu tampak kibaran bendera, tawa Pepei dan keseriusan Fidel, bolongan batu serta tebing-tebing yang gagah. Riang mematung. Ada jutaan kesan, yang menumpuk di kepalanya Ia mengetahui sekuat apa desir angin di sana, ia masih menangkap kesan ketakutan yang ditampakkan wajahnya saat suasana genting terjadi manakala gerombolan Kardi memburu mereka. Riang teringat Pepei. Rasanya kejadian itu baru saja berlalu sementara di rumah kayu Fidel ia sudah menjalani hidupnya selama enam bulan.

Riang memasukan album kenangan itu kembali. Ia melihat jajaran rak buku. Diambilnya buku yang belum ia selesaikan. Halaman terakhir yang ia baca dinodai tanah lahan pertanian yang kemarin ia olah. Buku itu menjadi salah satu bukti bagaimana pemuda itu membaca buku sekenanya di mana saja: di tepian kolam, di air terjun, di bangku teras rumah, di kamar mandi, di ruang bawah tanah. Di mana-mana Riang membawanya, mengejar sesuatu yang ia anggap tertinggal.

Ia pernah ditegur Fidel karena menaruh buku di atas batu. Kalau tak hujan sebenarnya tak apa, Fidel tak akan menegurnya, tetapi buku yang ia tinggal sembarangan itu menjadi tak karuan bentuknya, menjadi lepek. Antar antar halaman menjadi rekat tak bisa dibaca kecuali setelah Riang menjemurnya hingga menjadi kering. Kecerobohan Riang itu terjadi untuk yang kedua kalinya, setelah secara tak sengaja pula ia mengubur ensiklopedia ke dalam lubang yang akan Waluh jadikan lubang percobaan biogas.

Membaca membawa perubahan berarti pada Riang. Ia membaca, kemudian bertanya, dan membahas hal-hal yang tidak bisa dijangkau pikiran, atau membahas pertanyaan yang senantiasa menziarahi dirinya. Saat membaca folklore Riang membandingkannya dengan pencatatan yang merupakan salah satu teknik pendokumentasian ilmiah. Menyadari kelebihan dan kekurangan metode itu Riang menjadi terobsesi untk melakukan pencatatan. Buku yang diberikan Taryan menjadi hadiah yang berguna baginya. Apa pun yang ingin ia tanyakan, yang ingin ia hafal dan yang ingin ia kembangkan ia tulis di dalam bukunya. Ketika membaca perikehidupan dan kronik peradaban serta biografi tokoh yang ada di dalamnya, Riang digugah oleh birahi keingintahuan akan kebangkitan dan keruntuhan bangsa-bangsa. Tatkala ia melakukan korespondensi antar alam pikiran, ia merasa menjadi pelari marathon yang tertatih-tatih kehabisan nafas.. Manakala eksplorasinya menerabas alam eksakta, ia mengakui kelemahan dirinya. O betapa mulianya ilmuwan yang membantu kehidupan material manusia. Ah Riang bukan saja menjadi pelari marathon. Ia melakukan thriathlon. Ia memasifkan kerja otak yang diimbangi dengan kerja fisiknya di lahan pertanian. Riang merasa segar. Fase ini ia rasakan seperti meminum jus bianglala melalui cangkir piala. Ini fase carpe diem, fase mimesis, momentumnya berdansa tango, menjadi swingger, bergoyang dombret sambil memainkan kolintang. Ini fase teriakan parau Sid Vicious pada lirik pertama Anarki in U.K menuju lengkingan lulusan les musik Sebastian Bach dalam lirik “good by to blues-nya” Yngwy Malmsteen.

Riang kesurupan! Kemasukan bukan dalam kegelisahan, tetapi gila dalam melakukan pencarian, menapaki kebijaksanaan. Riang merapihkan folder pikirannya. Ia satu langkah menuju pemikiran yang mapan. Ia berada di bawah alam kedewasan untuk memilah dan memilih madzhab pemikiran. Tempatnya berteduh kini memberi banyak makna. Semua yang pernah ia alami: asuhan orang tua, kehidupan masa SMA, pendakian yang mempertemukan dirinya dengan Fidel dan Pepei, jalanan, pondokan Bentar, rumah kayu, SNB dan bermacam peristiwa lain ia rasakan manisnya karena ia dapat menarik hikmah di balik kejadian yang telah ia lewati..

Riang mengembalikan kembali buku yang rusak oleh hujan. Sebelum keluar dari ruangan bawah tanah dan menaiki tangga, tiba-tiba Riang merasa ragu mengunci pintu besi. Ia mengambil senter dan berjalan hingga ke ujung lorong. Pintu sudah terkunci namun ia malah membukanya kembali. Suara jangkrik terdengar. Ia menyibak dan berjalan merebahkan semak-semak, menuju sebuah pekarangan luas di pinggiran hutan yang secara alamiah rumputnya lembut dan tumbuh sejajar, sama rata. Sampai di tempat itu ia duduk mencangklong.

Petak yang terbuka menghadapi lembah. Angin menyisir rambut Riang. Lahan datar yang Riang olah di bawah petak tanah --yang saat ini tengah ia duduki-- tinggal menunggu panen. Bulan menyirami lahan itu dengan sinarnya. Lampu jauh hotel berbintang lima menyorot ke angkasa . Riang teringat. Di awal kedatangannya ia merasa tidak bisa membatasi gondola pertanyaan yang berlayar di sungai pikirannya. Ia teringat bagaimana Fidel menjanjikannya kunci pembuka agar ia tak terlalu kewalahan menghadapi aliran pertanyaan yang mengendap di kepalanya. Ia mengingat bagaimana Fidel meletakan punggungnya lalu bersandar di batu.

“Pohon tumbang yang menghalangi jalan kita di Merbabu dulu pun dikeroposi waktu.”

Fidel memulai pembicaraan menggunakan bahasan siklus kehidupan. “Matahari yang merajai angkasa pun memiliki durasi. Umur! Setiap mahluk memiliki umur sendiri! Manusia adalah mahluk, yang juga akan mengalami akhir yang sama dengan mahluk lainnya. Manusia berada dalam kungkungan waktu dan dikeroposi oleh waktu secara alamiah. Kita lahir sebagai bayi, beranjak dewasa, merenta, kehilangan energi, lalu mati! Kesadaran akan keberakhiran ini akan melahirkan pertanyaan mengenai awal dan bagaimana menjalani kehidupan. Ini masalah klasik dari awalan manusia ada hingga saat ini saat.”

Masih terbayang di pikiran Riang, suatu masa ketika Pepei berkata dalam pertemuan penghabisan dengannya. ” ... kau bisa berlari dan boleh berlari dari pertanyaan mendasar mengenai tujuan hidup yang terus menerus menuntutmu!”

“Aku tidak mau hidup setengah-setengah Mas.” Kata Riang. “Aku harus menuntaskan pertanyaan yang memusingkan ini.” Riang mengeluh, “aku … aku, lelah dengan ketidakstabilan ini! Aku tidak ingin bersembunyi. Aku tidak ingin terus alami ketidakpastian! Aku ingin memecahkannya!”

“Ya, Kau akan memecahkan!” ujar Fidel memberi sugesti pada Riang, “Kau akan menstrukturkan, mensistematikakan pertanyaan juga pikiranmu!”

“Bagaimana agar bisa, bagaimana caranya?”

“Awalilah dengan mempercayai Tuhan, atau menafikannya, bahkan malah tidak memperdulikan keberadaan atau ketidakberadaan-Nya sekalian!”

Kepala kopong. Riang tak paham.

“Theis: percaya Tuhan, atheis: menafikannya, agnostik: tidak mempedulikan ada atau tidaknya.” Fidel memaksa. “Kau harus memilihnya!”

“Aku tak bisa memilih, aku tak tahu harus memilih apa!”

Riang tersenyum.

“Yang membuat kita kelimpungan, yang membuat kita gelisah dicereweti begitu banyak pertanyaan dikarenakan banyak hal. Bisa jadi karena kita belum menemukan untuk apa tujuan hidup di dunia, belum bisa menjawab dari mana kita berasal, dan akan kemana setelah tubuh kita ini habis fungsi, mati. Bisa pula, karena kita tidak mengetahui sejauh mana kinerja akal kita berkerja, seluas apa cakrawalanya, selebar apa jangkauannya.”

“Orang yang telah mendapat jawaban asal muasal sert tujuan akhir yang dicapai setelah kematian, biasanya akan mengetahui tujuan hidup dia yang sebenarnya. Kehalauan, kegelisahan akan mudah ia atasi. Hidupnya akan di warnai makna, dan lebih dari itu, ketika ia telah mengetahui sampai di mana batasan berpikir, maka ia akan dengan mudah mengumpulkan, mengorganisasikan pertanyaan mana yang benar-benar harus ia pikir dan cari jawabannya dan mana pertanyaan yang sekedar ia jadikan tamasya di alam pikirannya.”

Tentu, Riang tak memahami utuh apa yang diungkap Fidel, namun ia menangkap substansinya..

“Tamasya? Sepertinya asyik,” Riang membayangkan.

“Jika Kau sudah memiliki struktur berpikir dan mengetahui batasan-batasan yang tak mungkin Kau jangkau dengan kekuatan akalmu, maka pertanyaan yang dulu Kau anggap menyeramkan, menakutkan, mendirikan bulu kuduk akan Kau anggap sebagai hiburan. Jika Kau memahami tamasya pikiran, kau akan mengetahui mana pertanyaan yang mengalihkan, yang mengombang-ambingkan dan Kau hanya akan menganggap pertanyaan itu sekedar pengasah otak, sekedar hiburan di taman ria.”

Fidel tahu, seseorang tak mudah mengerti apa yang ia ungkap. Ia berusaha mencairkan kepekatan. “Sebelum kau bertamasya, kita harus mengetahui lebih dulu makna mengenai struktur pemikiran.” Fidel mengetahui perjalanan pemahaman Riang masih jauh dan panjang.

STRUKTUR. FIDEL MENGAMBIL KERIKIL dan melemparkannya.

“Coba kau raup bebatuan yang ada di bawah kakimu!” Fidel berteriak. “Anggaplah bebatuan itu kelereng berjumlah seribu. Lemparkan kelereng itu sekuat tenaga! Lempar!”

Riang meraup dan melemparkannya. Saat batu jatuh ke tanah. Fidel bertanya.

“Berapa kemungkinannya kumpulan kelereng itu membentuk bulat, bujur sangkar, persegi panjang atau membentuk sebuah garis lurus vertikal ke atas?”.

“Mana mungkin,”.jawab Riang.
“Apa!? Tak dengar!”
“Mana mungkin!”
“Teriak yang!”
“Mana mungkin!!!” Gema pantul kemana-mana. “Kin…kin…kin!”

“Kemungkinan kelereng yang jatuh ke tanah kemudian membentuk formasi bulat, bujur sangkar, persegi panjang atau membentuk sebuah garis lurus vertikal ke atas adalah: 0,0000000000000000000000000. Tidak ada ujung pangkalnya! Mustahil! Lantas bagaimana dengan bintang yang ada disana?! Bagaimana dengan planet-planet di luar bumi manusia! Bagaimana keberadaan Bima Sakti yg terdiri dari bilyunan bintang! Bagaimana galaksi lainnya! Bagaimana degan semua planet dan bintang yang ada dan memiliki garis edarnya masing-masing?!”

“Mereka tak saling berbenturan kecuali pada masa tertentu! Mereka memiliki keteraturan garis edar! Rumit! Keteraturan itu lebih rumit dari sudut-sudut pada bujur sangkar dan trapesium!”

“Bumi melayang dalam sebuah ruangan kosong! Begitu pula Matahari, Mars dan lainnya! Mana penyangganya? Mana tiang beton cakar ayamnya? Mungkinkah itu terjadi karena kebetulan sementara sesuatu yang sederhana, sepatu, gelang, diciptakan pengrajinnya, gedung dan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, kita yakini diciptakan manusia. Kita pahami tidak ada dengan sendirinya.”

“Jika ada yang mengatakan alam terbuat dari materi, apa yang harus kusangkal. Aku mengakui bahwa alam terbuat dari materi. Tidak masalah untuk meyakini itu, tetapi siapa yang menciptakan awal pembentukan alam semesta dari materi yang setitik itu? Materi itu sendiri? Apa materi yang setitik itu dapat mengatur rotasi planet dan bintang pada porosnya? Apakah titik kecil (materi) itu yang melakukan penjagaan, agar bumi dan bulan menyepakati garis edarnya masing-masing hingga tidak saling bertumbukkan?”

“Mungkinkah seonggok materi, mengatur Pluto, Jupiter atau Sedna agar mereka, agar planet tersebut melayang di sebuah ruangan besar yang kosong? Mungkinkah itu semua? Mungkinkah kemunculan hukum alam, hukum peredaran bintang, hukum planet dan bintang yang menggantung di ruangan kosong terjadi dan ada dengan sendirinya?”

Riang berpikir. Ia membisu.

“Bahkan bukti penciptaan bisa kau lihat di sana.” Fidel menunjuk.

Riang meraba alisnya.

“Setelah kau dewasa, pendek rambut di atas matamu hampir pasti selalu seperti itu. Mengapa rambut alis tidak tumbuh seperti rambut yang menempel di kepalamu?”

Riang membayangkan alisnya, memanjang seperti rambutnya yang lama tak dipang
kas. Ia membayangkan bulu matanya menempel di makanan, menyapu jalanan, alisnya menjadi rumbai-rumbai seperti tirai dan surai keledai membuat mata dan kepalanya menjadi berat. Riang bahkan terlalu jauh berpikir. Pikirannya beranak pinak. Riang berkhayal hidup sejahtera karena dirinyalah yang pertama membuka salon pangkas alis dan bulu mata dalam sejarah. Ia bahkan telah menyiapkan pengembangan usaha creambath bulu idung dan rebonding ketiak.

Khayalan yang jika dibiarkan akan mengalahkan khayalan J.K. Rowling serta Danarto itu dimatikan oleh perkataan Fidel. “Bukti penciptaan ada di salah satu inderamu juga!” Fidel menunjuk mata Riang. “Pernahkan berpikir mengapa mata kita memiliki keterbatasan? Mengapa kita tidak bisa melihat benda yang super kecil seperti virus bakteri dan amuba? Mengapa telinga kita tidak bisa mendengar suara yang jauh? Bukankah asyik jika kita memiliki ketidakterbatasan jangkauan indera. Kita bisa menjadi sekuat Clark Kent, bisa berubah seperti mimikri, digjaya seakan Wisanggeni, dan kalau kau wanita kau bisa menjadi Mantili dalam serial cantik Brama Kumbara, menjadi wanita Amazon yang hebat, menjadi manusia super di antara manusia super lainnya.”

Riang berpikir.

“Semua ada aturannya.” Papar Fidel. “Penciptaan tidak dibuat ibarat sirkus ketangkasan. Penciptaan bukanlah sesuatu yang dibuat main-main. Jika kita memiliki kekuatan: kemampuan melihat benda super kecil, memperhatikan detail, memperhatikan lipatan-lipatan kecil maka kita tidak akan menyukai wanita secantik apa pun parasnya. Dalam detail wajah si cantik akan berubah menjadi mengerikan. Kulit wajahnya bolong-bolong oleh pori-pori. Jerawat kecil akan menjadi kawah. Lemak yang menyumbatnya akan kita lihat seakan nanah yang menjijikan dan menakutkan. Kita akan melihat seribu satu macam ancaman karena mata kita melihat ribuan hewan mikroskopis yang bentuknya berbuku-buku, berlendir, berbulu tajam dan mengerikan di permukaan wajah kita bukan hanya wajah kita tentunya. Wanita cantik yang kita bicarakan tadi akan menampakan diri seperti siluman!”

“Bukan hanya mata, jika telingamu peka, Kau akan kesulitan menikmati tidur. Kecoak yang merayap di pipa akan terdengar seperti suara garukan gabus pada dinding yang kasar. Obrolan-obrolan yang puluhan meter dari tempatmu berbaring akan terasa nyata berada hanya beberapa senti dari kupingmu. Derum mobil, suara motor satu kilometer dari tempatmu, buah yang jatuh, penyewan game, dingdong, tangisan anak, akan membuatmu depresi. Suara akan menjadi terror, melemahkan mental, membuatmu gila!”

“Jika kita mau melihat tubuh kita sendiri kita akan melihat beragam keagungan, melihat keteraturan. Kulit yang kita kenakan ini, tidak sembarangan melekat. Kulit merupakan benteng agar tubuh tidak mudah cedera ataupun mudah terkena organisme yang membahayakan kesehatan tubuh, kulit menjaga agar tubuh kita stabil suhunya dan tidak kering. Kerangka manusia berfungsi untuk menahan guncangan, menjadi penopang daging, otot serta organ bagian dalam tubuh kita. Otot menjadi semacam kabel yang menarik tulang untuk menimbulkan gerakan. Peredaran darah yang bergeraknya satu arah. Peredaran yang memiliki panjang sekitar sembilan puluh enam ribu kilometer yang di pompa oleh jantung yang hanya sekepalan, kemudian berputar di dalam tubuh kita, yang dalam sekali putarannya hanya memakan waktu kurang dari satu menit. Dan kegiatan yang rumit serta menakjubkan itu terjadi tanpa membutuhkan istrirahat, terus berkerja sepanjang hidup kita. Belum lagi kalau kita berbicara otak manusia, berbicara tentang organ tubuh lainnya.”

“Yang …” ucap Fidel lembut. “Kau, aku, manusia, alam semesta, tidak ada karena permainan. Manusia tidak muncul tiba-tiba. Desain diri kita dan mahluk lainnya, terlampau sempurna untuk dikatakan muncul dari kebetulan atau ketidaksengajaan yang tidak bisa dideskripsikan.”

Riang tiba-tiba mengingat sesuatu “Tapi,” Ia menyanggah, “jika memang Pencipta itu ada, bisakah Pencipta yang maha kuasa itu menciptakan batu besar, batu yang super besar, hingga Ia tidak bisa mengangkatnya?”

Fidel tertawa. “Kau dapat dari mana pertanyaan itu?”

Riang mengaku. “Buku yang diperlihatkan mas Pepei!” lugas.

“Itu pertanyaan yang mengalihkan.” Fidel menegaskan. “Ada banyak pertanyaan yang mengalihkan keyakinan kita untuk mempercayai Tuhan. Yang kau utarakan salah satu diantaranya. Atau yang lain, misalnya: untuk apa kita menyembah Tuhan yang tak berkuasa atas iblis? Bukankah dia yang maha kuasa seharusnya mencegah iblis yang telah meneebarkan wabah kejahatan di dunia? Seharusnya Tuhan menjadikan iblis baik, atau kisah tentang anak taman kanak-kanak yang diminta berdoa agar Tuhan memberinya gulali dan sekantung permen.”

Riang teringat kembali akan pertanyaan Mahdi di Yogyakarta. Ia teringat kembali pernyataan sperma tuhan dan biawak. Tak sadar ia menggumam. “Sperma tuhan mengalihkan?!”

“Apa.” Fidel memastikan.

“Tidak Mas.” Riang mengelak. Tadi ia mengeluarkan pernyataan yang ditujukan bagi dirinya.

“Mas… untuk apa kita menyembah Tuhan, apa guna kita bersujud pada-Nya, untuk apa kita mempercayai-Nya, toh manusia tidak akan mati kalau tidak mempercayai Dia?”

Fidel mengulum senyumnya. “Itu termasuk yang mengalihkan,” katanya.

Riang diajak untuk kembali menata pikiran.

“Mempercayai Tuhan tidak agar kita mati karena mau percaya pada Tuhan atau tidak manusia akan mati juga. Mempercayai Tuhan, menyembahnya merupakan beragam tanda: tanda penyerahan kita atas rahasia yang tidak bisa kita singkap, tanda terimakasih manusia, tanda penghambaan, tanda-tanda lainnya.”

“Jika Tuhan maha kuasa mengapa Dia tidak menjadikan iblis memiliki kebajikan?”

“Tebak apa yang kupikirkan?” tanya Fidel tiba-tiba.

“Aku tidak tahu,” Riang menjawab spontan.

Kau tidak bisa menebak pikiranku, apalagi pikiran Tuhan yang dahsyat,” Fidel tertawa. “Tuhan memberi pilihan agar mahluknya memilih yang baik dan yang salah, agar mahluknya memilih konsekuensi perbuatan yang telah ia kerjakan dan Iblis telah memilihnya. Kalau Tuhan menciptakan segala sesuatu penuh kebaikan, nanti akan ada pula manusia yang bertanya … kalau begitu Tuhan Maha tidak Demokratis. Kata manusia, seharusnya setiap mahluk diberikan pilihan. Serba salah. Apa yang kau tanyakan, kenapa iblis tidak diciptakan saja penuh kebaikan seperti malaikat merupakan salah satu rahasia kehidupan terbesar. Yang paling penting dari semua yang kita bicarakan ini, apakah hanya dengan pertanyaanmu itu, apakah dengan pertanyaan lain yang terlontar lantas Tuhan menjadi tak?”

“Ini rahasia mas…” Riang berbisik meski hanya ada dua manusia yang berada di lahan itu. “Fred pernah mengatakan di pondokan, bahwa mahluk Tuhan yang paling beriman itu Iblis.” Riang mengadu.

“Fred?” Fidel merasa aneh. Dahinya berkerenyit.

Riang melanjutkan. “Iblis tidak mau bersujud pada manusia sebab iblis tahu yang patut di sembah itu bukan Adam, melainkan Tuhan, Allah.”

“Ya,” Fidel mengakui. “Kisah tidak mau sujudnya iblis itu ada di injil dan Quran…”

Riang memotong, “lantas untuk apa Tuhan menghukum Iblis atas kesalahan yang tidak terbukti? Kalau pun Iblis memang salah, kesalahannya kecil. Tidak ada bandingannya dengan dosa yang dibuat manusia. Manusia membunuh ribuan orang dalam perang, memperkosa, menyiksa manusia lainnya, sementara salah iblis hanya tidak mau bersujud pada Adam. Dimana kesalahan besarnya?”

“Mengutip Fred lagi?” Fidel curiga.

Riang mengangguk.

“Aku tak tahu penjelasan sahabat-sahabat Kristianiku mengenai hal ini tapi dalam pandang keyakinanku, perintah sujud Tuhan pada iblis bukan perintah penghambaan, bukan perintah agar Adam menjadi majikannya, menjadi sembahan-nya. Sujud dalam kitab-ku memiliki banyak pengertian, dua diantaranya: sujud penghambaan seperti halnya ketika aku shalat dan sujud penghormatan layaknya yang malaikat lakukan terhadap Adam. Tuhan meminta Iblis bersujud kepada Adam bukan untuk menghamba tetapi menghormati mahluk yang memiliki pengetahuan. Iblis membangkang melakukan penghormatan, ia menolaknya karena di dalam diri dia ada kesombongan, padahal iblis mengetahui yang memerintah dia bukan manusia, bukan malaikat, tetapi pemilik alam semesta. Iblis mengetahui bahwa yang memerintahkan adalah Zat yang menciptakan dirinya, maka pembangkangan macam apa yang terbesar ketimbng pembangkangan mahluk yang sudah mengetahui Penciptanya, yang sudah berhadapan langsung dengan pembuatnya?”

“Bukankah Adam membangkang juga? Bukankah Adam memakan buah larangan?”

“Adam membangkang, tetapi ia menangis setelah melakukan kesalahan, ia bertaubat. Ini berbeda dengan iblis. Dia malah mengancam Tuhan untuk terus menggoda manusia untuk menjadi temannya di Neraka.”

Riang sedikit lega. Seolah tak percaya.

“Ada banyak pertanyaan, ada banyak hal tentang kisah Tuhan, tentang Iblis dan manusia.” Fidel melebarkan. “Ada yang mengatakan bahwa diturunkannya Adam ke bumi dikarenakan Tuhan cemburu. Tuhan takut akan kekuatan manusia setelah memakan buah Khuldi. Kata mereka, Tuhan takut jika manusia menyainginya. Mereka katakan juga bahwa sesungguhnya Iblis bukanlah penjahat. Iblis adalah penolong manusia untuk mencapai kekuatan, merebut keabadian. Persepsi ini berusaha disamakan dengan kisah Yunani mengenai Promoteus yang mencuri api keabadian dari Zeus untuk ia berikan pada manusia. Api keabadian merupakan kekuatan dan Zeus dalam mitologi itu diidentikkan dengan Tuhan. Padahal, satu kisah lain dengan kisah lainnya tidak bisa disamakan, dipaksakn untuk dicocokkan, karena sumbernya pun berbeda. Mengenai buah khuldi, , dalam pandangan pemikiran keagamaan Islam, buah tersebut banyak di terjemahkan sebagai buah kejahatan kemanusiaan. Adam dihukum karena tidak menggunakan akal pikirannya untuk menjauhi kejahatan. Penafsiran lainnya mengenai diturunkanya Adam oleh Tuhan, bukan dikarenakan hukuman memakan buah khuldi, melainkan karena memang perencanaan Tuhan bagi manusia untuk mengolah planet biru ini, untuk mengolah bumi … lagipula kalau yang dituduhkan oleh mereka bahwa Tuhan ketakutan jika Adam mengalami keabadian dan mendapatkan pengetahuan setelah memakan khuldi, apa yang perlu ditakutkan, jika Ia memang Tuhan? Sejak kapan Tuhan yang menciptakan takut pada yang diciptakan? Apa magma yang bergejolak di bawah bumi itu tidak bisa Ia gunakan untuk membinasakan manusia? Apa kehancuran bintang-bintang oleh kekuatan alam yang Ia pegang tidak cukup untuk membuat manusia menjadi ampas abu? Dialah pemegang kekuatan, mengapa dia takut kepada ciptaan yang besarnya cuma sepertrilyun dari besaran bumi yang diciptakan oleh-Nya?”

“Tuhan maha gagah!” ucap Riang. Kesehatannya pulih.

“Jika kau memahami struktur keimanan, kau akan mengetahui mana pertanyaan dan ungkapan yang mengalihkan. Manusia boleh kesulitan untuk memberi jawaban mengenai pertanyaan ketuhanan. Orang boleh membuat bingung manusia lainnya tentang keberadaan Tuhan dengan aneka pertanyaan, tetapi apakah hanya dengan pertanyaan itu, dengan akrobatik kata itu Tuhan lantas jadi tak ada sementara bukti penciptaan-Nya, bukti keberadaan-Nya merentang di keajaiban dan keagungan alam semesta, di tubuh kita.”

“Lantas siapa yang menciptakan Tuhan?” Riang tak yakin dengan pertanyaan yang ia ucapkan.

“Kalau Tuhan ada yang menciptakan,” Fidel tersenyum, “apakah kita akan tetap menafikan keberadaan Pencipta manusia? Apakah pertanyaan itu menghapus keberadaan Pencipta kita di dalam semesta yang teramat nyata?”

“Maksudku bukan itu…” Riang berusaha menjabarkan tetapi ia tak menemukan.

Fidel menolongnya, berusaha mengerti pikirannya. “Sebenarnya, kalau Tuhan diciptakan, berarti dia bukan Tuhan. Kalau kejadianku dibentuk hukum alam, katakanlah yang orang lain katakan sebagai tuhan adalah hukum alam, maka dalam kepercayaan yang menjadi sandaranku, dalam keyakinanku: Tuhan adalah tempat segala sesuatu berawal. Termasuk tempat bersandar hukum alam yang membentuk kejadian diriku.”

“Tapi menurut Mas sesuatu yang menakjubkan itu diciptakan. Tuhan itu menakjubkan, berarti dia diciptakan. Siapa yang menciptakan diri-Nya?” Riang gemetar. Ia merasa takut dengan pertanyaannya sendiri.

Fidel menyentuh tubuh Riang, ia menenangkannya. “Kalau tuhan di ciptakan, berarti dia bukan tuhan. Pertanyaan lanjutan dari pertanyaan tersebut adalah … siapa yang menciptakan yang tidak bisa diciptakan? Ini pertanyaan yang membingungkan, dan selamanya akan membingungkan bukan hanya untukmu saja, tapi untuk orang yang mau berpikir dan bertanya sejauh itu dan sedalam itu.”

Fidel memandang Riang. “Coba jawab pertanyaanku. Apa dengan pertanyaan itu Tuhan menjadi tidak ada?” Fidel melepaskan tatapannya. “Pertanyaan itu hanya untuk mengalihkan.” Fidel mengingatkan. “Keteraturan semesta merupakan jawaban yang memuaskan mengenai eksistensi Pencipta. Keteraturan alam merupakan jawaban yang logis ketimbang menihilkan, menolkan, menafikan ketiadaan Pencipta di balik segala macam keteraturan yang dahsyat yang melingkupi seluruh alam. Bagaimanapun juga, ada Sesuatu yang menciptakan diri kita. Kita diciptakan dan dibentuk mungkin oleh pembantu-Nya Tuhan, mungkin malaikat yang memegang hukum alam atau entah oleh siapa yang kita tidak mengetahuinya, namun pada hakikatnya kita tidak bisa menyangkal bahwa kita diciptakan.”

“Lantas siapa yang ciptakan Tuhan.” Riang tahu ia mengulangi pertanyaan. Ia merasa tegang.

“Hm,” Fidel mendesah. “Di sanalah batas berpikir manusia. Di sanalah tapal batasnya. Bukan hanya kau dan aku, bukan hanya kita, seluruh manusia tidak bisa melampaui hal itu. Di sanalah keterbatasan manusia sebagai mahluk yang serba bisa. Di sanalah kegelapan yang tidak mungkin bisa kita sibak. Sampai di sini tamasya pikiran kita berhenti. Di luar itu batas berpikir manusia, kita memerlukan sandaran dan jika memaksakan maka kita berkhayal.”

Riang berpikir, ia menciptakan sebuah sistem berpikir di kepalanya untuk memecahkan pertanyaan siapa yang menciptakan tuhan. Ia tak menemukan. Ia merasa gamang.

Fidel menepuk Riang. “Kehampaanlah yang akan kita peroleh jika berusaha mengungkit sesuatu yang tak mampu kita pikirkan. Kehampaanlah yang akan kita dapatkan jika berusaha melampaui batas kemampuan berpikir kita, melewati tamasya pikiran manusia. Jika terlarut dalam pikiran seperti itu, Kita akan merasa sia-sia, lebih jauh lagi, merasa bahwa hidup yang kita jalani ini serasa begitu mengerikan. Ketidak tahuan akan rahasia tersebut membuat pikiran kita kacau, galau. Sesal akan datang. Kita menyesal dilahirkan. Kesal ada dan menjalani kehidupan di dunia, lantas, apa penyesalan tersebut dapat menjadikan kita musnah, menjadi tidak dilahirkan? Tidak. Kita telah ada di dunia. Hidup adalah untuk berjuang. Hidup tidak untuk disesali. Kita ada untuk memperjuangkan sesuatu yang kita yakini. Manusia yang dikepung kebingungan, kegelisahan, dan tidak mampu menyingkap rahasia yang teramat gelap seharusnya menjadikan dirinya sadar bahwa ia memerlukan sandaran dan seharusnya sandaran itu merupakan sesuatu yang berkuasa terhadap dirinya. Kita menyebutnya Tuhan.”

“Kalau Tuhan ada, mengapa tak bisa kita lihat, tak bisa kita raba?”

“Memang bentuk Tuhan untuk saat ini tak bisa dilihat. Tapi, keberadaanya dapat manusia rasakan melalui perasaan dan dibuktikan keberadaan-Nya melalui pikiran. Kita tidak melihat pesawat, tetapi kita mendengar suaranya. Pesawat terbangnya jenis apa, kita tak tahu, tapi kita tahu pesawat itu ada. Tuhan itu nyata, namun bentuk dan wujud Zatnya seperti apa kita tak tahu. Dan suatu saat, mungkin, kita akan melihat-Nya.

“Kalau begitu Tuhan ada.”

“Keteraturan adalah bukti keagungan sebuah desain penciptaan. Kagungan desain penciptaan adalah pikiran yang masuk akal ketimbang menafikan Tuhan tetapi tidak memiliki bukti selain asumsi mengenai aneka macam kejadian yang dianggap sebagai kebetulan.”

“Untukku, keberadaan Tuhan itu masuk akal,” ungkap Riang.

“Terserahmulah,” ujar Fidel tertawa.

Riang mengingat betul apa yang terjadi setelah perbincangan itu. “Jangan gampang teralihkan dengan pertanyaan yang mengalihkan. Jadilah api yang tak terpadamkan!” kata Fidel mentransfer energi. “Buku-buku di ruang bawah tanah itu adalah salah satu bahan bakarnya.”

Dengan tekun, satu persatu buku-buku Riang baca dan Riang pelajari. Ia melalap-lalap, membakarnya satu persatu, hingga satu persatu buku-buku gosong menjadi abu. Ketika Riang menemukan sesuatu yang membingungkan, ia mendiskusikan segala sesuatunya hingga apa yang ia pelajari menjadi kobaran api yang semakin besar nyalanya, semakin panas tariannya, semakin haus, semakin ritmis geliatnya.

READ MORE!

Meteor (Bab 30)

Posted: by Divan Semesta in
0


Fidel mengetahui bagaima posisi Taryan di mata Riang. Ia mengetahui bagaimana kekosongan yang dialami, ketika seseorang yang lama mengisi hidup kita tiba-tiba hilang. Ada kekosongan yang membuat kenyataan seperti soda pada sebuah kaleng minuman. Fidel memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membantu Riang --secara alami-- cepat keluar dari situasi yang membuatnya selambat moluska.

Saat membaca buku catatan Pepei, Fidel melihat Riang tengah memperhatikan ikan di tepian kolam. Fidel memanggilnya. “Ada yang ingin kuberitahu,” ujar Fidel usai memberi batasan pada buku yang baru saja ia tutup.

Fidel keluar dari rumah dan mengambil banyak langkah. Riang mengikutinya. Di dekat bukit suara jangkrik makin berisik. Krik krik krik! Membuat kuping terasa berdenyit. Fidel masuk ke dalam hutan. Tak begitu jauh dari batas hutan dan lahan pertanian, ia berhenti di depan sebatang pohon yang dikelilingi semak-semak. Fidel menerobos. Riang mengikuti jejaknya di atas semak lebat yang terkuak. Gundukan semak-semak hampir kembali pada posisinya saat ketika Fidel jongkok, meraba-raba sesuatu di kakinya. “Mundur,” Fidel memberi perintah. Suara penghalang terdengar. Ada sesuatu yang terlepas. Sebuah pintu kecil besi yang menempel di tanah terbuka.

Riang tegang Tempat apa ini. Fidel menuruni tangga. Riang mengintip di luar.
Fidel memberi isyarat pada Riang untuk terus mengikutinya. “Tutup pintunya!” Riang mengambil gagang pintu, menutup pintu karatan itu dari tangga yang kemudian ia jejak. Ia terus turun ke bawah, masuk ke tanah.

Bertemu lorong yang datar Riang melihat sebuah ruangan kecil yang nyaman. Udara di ruangan itu terasa dingin tetapi tidak terasa lembab. Sebuah lorong rahasia –lainnya-- tempat angin bertukar sapa sebelum keluar masuk membersihkan udara, membuat tempat itu sehat. Di sudut ruangan sebuah meja tertancap di lantai tanah. Tangga berulir yang terbuat batu bata tak disemen menjadi penghubung ruang yang ada di atas. Sebuah ranjang besi, termos dan gelas kosong tertata rapi. Rak-rak buku berjejer melebihi koleksi yang pernah Riang lihat di tempat Pepei.

“Ini, untuk membuka pintu besi yang tadi kita lewati.” Fidel memberikan duplikat kunci pada Riang yang terperangah. “dan ini,” lanut Fidel, “untuk jalan masuk yang satunya.” Fidel melemparkan satu duplikat lagi. Riang menangkapnya.

“Habiskanlah waktumu di sini. Tapi jangan ingkar. Kau tidak boleh memberitahu siapa pun mengenai ruangan ini.”

Fidel membuka pintu diatas kepalanya, keluar dari ruang bawah tanah. Naiki tangga yang sama, Riang masih mendengar langkah orang di atasnya, namun setelah kakinya menjejak lantai atas, ia tak mendengar langkahnya bergema, menandakan ada ruangan kosong di bawahnya. Riang mendapati dinding dapur mengepung dirinya. Riang berdecak. Riang kembali ke bawa, matanya terpaku pada rak-rak yang terkesan tua namun bersih, tidak tampak kusam. Di dalam ruangan bawah tanah ini, Riang menemukan kesenangan mengakses ilmu pengetahuan yang dipenjarakan ke dalam onggokan kertas. Riang menjelajahi rawa, ngarai, gurun pasir, pasir hidup, atmosphere, ia meniti jalan menuju mercusuar pemikiran. Ia melewati batas-batas negeri tanpa harus membeli visa dan paspor, masuk ke dalam situasi genting dunia, mengintip tragedi, menyaksikan ironi, beringsut menuju pemakaman cerdik cendikia dan mempelajari satire dunia. Ia merasa lingkungannya yang dulu mengecil. Semakin lama ia berada di ruangan ini, ia semakin merasa mungil melebihi kecilnya proton dan neutron. Riang menganggap dirinya disterilisasi, di bakar api spirtus yang menjadikan kesadarannya gerah berkobar-kobar.

RUMAH KAYU FIDEL berada di tengah lahan di antara puncak bukit berbentuk seperti laguna. Dengan halaman depan yang menantang matahari, rumahnya disinari cahaya matahari sampai jam 10.00 pagi. Setelahnya, tak beda dengan cuaca di Thekelan. Tempat itu menjadi dingin. Jika sore datang hampir semua benda-benda di sana jadi berbayang.

Fidel mebersihkan tangan, dan kakinya di aliran air yang mengucur deras ke dalam kolam. Ia mengelap muka dengan handuk putih. Riang menunggunya, melihat rumah-rumah dan jalan tol yang memanjang seperti sungai. Pabrik-pabrik yang mengeluarkan asap setiap hari membuat nafas orang-orang menjadi sesak.

“Apa yang Kau pikirkan?” Fidel datang setelah menyelesaikan ibadahnya.

Riang menanti Fidel untuk membicarakan ruang bawah tanah yang beberapa jam lalu ia masuki. Riang memberi Fidel air putih yang hangat, menanti. Ia tak mendengar penjelasan apa pun. Fidel tidak menganggap apa yang ia tunjukkan sebagai suatu keanehan. Hingga malam tiba Riang merasa Fidel tak akan membicarakan hal itu. Ia pun berusaha menganggap ruang bawah tanah sebagai sesuatu yang biasa.

Malam ini Riang merasa tubuhnya letih, usai mengolah lahan pertanian, tetapi ia masih menyempatkan diri mengambil setumpuk buku dari ruang bawah tanah. Lelah tidak membuat keingintahuan Riang lenyap. Ia menekuni lembaran demi lembaran ensiklopedia di tangannya. Di sampingnya Fidel diam tak bicara. Ia memandangi tulisan tangan Pepei sahabatnya. Setelah agak lama, ia menutup buku catatan itu. Di samping Fidel terdapat sebuah radio transistor.

“Apa arti Pepei untukmu?” tanyanya tiba-tiba.

Riang memandangi Fidel. “Mas tahu Emha?” Ia melantur. Ia tak mendengar pertanyaan itu. Fidel membiarkan Riang untuk sementara. Ia melantur tanpa dosa.

“Di Yogyakarta kami mencari Emha. Aku meminta tolong mas Pepei membantuku mencarikannya.”

“Emha Ainun Nadjib?”

“Sebenarnya bukan Emha yang itu.” Riang menceritakan kesalah pahaman yang diakibat jawaban ngasal bapaknya. “Emha lain yang mengajari kakekku untuk mengenal lebih dalam tentang Islam.”

“Tapi, akhirnya Kau bertemu Emha?”

Riang tertawa. “Tidak, akhirnya ya hanya numpang tidur di tempat mas Pepei. Mas …” tanya Riang hati-hati seolah di tempat itu ada orang lain selain mereka. ”Aku bertemu orang aneh di sana!”
“Orang aneh?”
“Mas kenal Mahdi?.”
Fidel tak menjawab. Wajah Fidel sedikit berubah. “Apa yang ia katakan?” tanyanya
“Aku diajak Mahdi membunuh Tuhan!” jawab Riang tanpa tendeng aling.

Fidel tersenyum. Ia memainkan tombol on transistor yang dekat dengan tangan kanannya. Sebuah lagu terdengar lamat..

“Aku tak suka Mahdi mendesak-desakku, Mas. Dia seperti orang kerasukan! Mahdi atheis!” ” Riang mengadu.
“Waktu itu ada Pepei di sampingmu?”
“Tidak ada, tapi Mas Pepei mendengar apa yang diucapkan Mahdi. Aneh,” ungkap Riang. “Mas Pepei justru membelaku.”
“Di mana letak keanehan itu?” tanya Fidel.
“Waktu antar aku pulang, Mas Pepei juga begitu.”
“Begitu bagaimana?.”
“Ia tak percaya Tuhan. Dia atheis,”
“Anehnya di mana?”
“Kenapa dia malah membelaku?” “Bukannya membela Mahdi maksudmu?” tanya Fidel

Riang memberi isyarat setuju. Nafas Fidel lembab. “Ada konsep keadilan di kepalanya … Pepei fair.” Jawab Fidel. “Ia mempercayai manusia tidak bisa dipaksa untuk mengambil sebuah keyakinan. Keyakinan adalah kesadaran, bukan proses pemerkosaan, bukan pengagahan kesadaran.” Fidel menghirup air hangat di tangannya. “Pepei atheis yang shalih … atheis yang santun,” sahutnya.

“Mereka sama-sama tak percaya Tuhan, mengapa mereka saling berseteru?!” tanya Riang.

“Dia …” nafas Fidel tak berarturan, tak beritme. Ia merindukan sahabatnya. “Pepei, satu diantara lelaki yang paling fair yang pernah kutemui. Ia akan mengatakan benar seandainya benar. Ia akan mengungkapkan salah seandainya salah. Ia membela siapa saja tanpa memperdulikan keyakinan seseorang itu apa. Ia menganggap apa yang Mahdi lakukan bukan saja keliru tetapi salah”

“Mengapa Mahdi harus membenci Mas Pepei separah itu?”

Fidel berusaha berkelit. “Tak baik membicarakan orang,” katanya, namun kemudian ia berpikir, “tapi, okelah, ... maaf,” Fidel menimbang, “Mahdi itu salah didik. Pikirannya yang sudah terbuka ia hamba sahayakan pada mentornya yang batu. Atheis kepala batu merusak Mahdi, menghilangkan kemanusiaannya. Mereka memecah belah hubungan persahabatan antara Mahdi dengan Pepei. Mereka menanamkan kebencian pada diri Mahdi untuk membalas pikiran Pepei yang tidak sesuai dengan maksud yang mereka inginkan. Mereka menjadikan Mahdi manusia liar. Mahdi dididik untuk menganggap orang lain sebagai sahayanya. Mahdi dididik beranggapan bebas untuk memperlakukan orang lain di luar keyakinan dia sekehendak hatinya.”

“Mereka siapa?!” tanya Riang sok-sok menyelidiki. “Siapa orang atheis batu yang Mas bilang itu, apa aku mengenalnya?”

“Tak perlu tahu sedetil itu,” senyum Fidel terlihat samar. “Aku malas bergosip,” kata Fidel singkat.

“Yang masih sulit kupahami,” sambung Riang, “mengapa orang yang tak mempercayai Tuhan bisa berseteru, padahal keyakinan mereka sama?”

“Aku sudah menjawabnya, Yang?” Fidel tertawa memikirkan jawaban yang baru saja ia sampaikan kurang tepat sasaran.

“Yang mana…?”

“Sssst…sst…” bisiknya. Nada piano yang dikenal Fidel, tiba-tiba mengalun. “Dengarkan ini.” Transistornya bernyanyi

“Imagine there’s no heaven
It easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people
Living for today
Imagine theres no country
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion to
Imagine all the people
living life and peace
you may say i am dreamer
but iam not the only one
I hope someday you will join us
And the world will lives as one.

Riang memperhatikan Fidel. Wajahnya menuntut jawaban. Apa maksudnya?

“Jhon Lenon!” pekik Fidel.

“Masa jawabannya Jhon Lenon?”

Tawa Fidel pasang. Usai tawanya surut ia menjelaskan. “Yang menyebabkan manusia saling berseteru bukan hanya karena satu hal. Banyak faktor Yang! Manusia itu bukan benda! Manusia itu memiliki jiwa dan jiwa bisa dipengaruhi beragam hal! Dendam! Kebencian yang mengakar! Kecemburuan! Banyak hal! Atheis dengan atheis bisa saling menghantam! Agnostik dengan agnostik bisa saling berseteru, yang beragama dengan yang beragama bisa saling memutilasi karena persoalan sepele! Manusia itu tidak sepenuhnya berjalan dengan nilai yang diyakini, karena manusia adalah manusia .. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkah lakunya. Sumber kericuhan di dunia ini, bukan serta merta karena agama atau anti agama, tetapi terkadang, karena manusia itu sendiri.”

Perkataan Fidel mengganggu kesimpulan Riang tentang agama. Dulu ia berpikir untuk apa beragama? Ia tak mau agama yang timbulkan kekacauan. Ia tak mau beragama karena beragama pun bisa menimbulkan konflik.

“Apa mas Pepei tidak pernah menimbulkan kericuhan, tidak pernah menjadi penyebab konflik?!”

“Bukannya tidak suka, tetapi sangat jarang,” jawab Fidel. “Konflik hanya jika dibutuhkan. Apa yang terjadi di gerbang kuburan Thekelan itu, perlawanan yang kita lakukan adalah konflik. Di pihak kita, dan pihak siapa pun juga yang masih memiliki akal yang jernih, sesuatu yang gerombolan Kardi lakukan merupakan kesalahan, dan karena Pepei memiliki keberanian, dan karena kamu juga memiliki keberanian, kita melawan mereka. Konflik yang Pepei lakukan tidak muncul karena dengki, iri hati. Bukan karena permasalahan sepele, bukan karena ingin merampas hak, menindas orang lain hingga menimbulkan kekacauan. Pepei jarang menimbulkan kericuhan.”

“Mengapa jarang?” Riang masih tidak puas.

Fidel hanya menjawab. “Karena almarhum adalah manusia!”

“Apa mereka yang berseteru bukan manusia?”

“Manusia! Mereka manusia …” ” untuk pertama kalinya, Riang melihat Fidel menggaruk kepala. “Sulit aku memaparkan…”ujarnya. “Suatu saat, suatu masa, kau akan mengerti, kau akan memahaminya, bahkan hingga tulang ekor.” Fidel tersenyum.

“Tulang ekor?”
“Tulang sulbi maksudnya.”
“Tulang sulbi? Aku tak mengerti.”
“Sudahlah!” Fidel kesal.
“Tak bisa sekarang?”

Fidel Head banger, ekstrim goyangkan kepala.

“Kok bisa-bisanya Mas berteman dengan mas Pepei? Apa karena kalian manusia?”

Fidel tersenyum. “Kami bukan manusia! Kami primata sejenis anoa!”

“Anoa bukan primata Mas.” Riang membantah. “Anoa itu mamalia!”

Fidel menggelengkan kepalanya, Penjelasan Riang hampir patahkan lehernya. Susah juga berbicara dengan pemilik ilmu biologi sekaliber Riang. Bagaimana jika dihadapannya adalah ahli biologi molekul, bagaimana dengan kimia biologi? Apa yang harus Fidel sampaikan jika Riang adalah profesional dalam kajian biologi moral versus biologi prostitusi? Fidel menyerah.

“Sejak dahulu kami bersahabat,” kata Fidel. “Segala hal yang paling buruk dan yang paling baik pernah kami lalui bersama. Aku mengetahui sejak kapan ia berubah dan sebaliknya pun demikian. Kami sadar, setiap manusia memang harus berubah. Semua orang harus mencari jati dirinya sendiri. Semua punya pilihan, tapi, untuk persahabatan … aku menerima Pepei apa adanya seperti saat pertama kali aku mengenal dia. Aku menghargai prinsip Pepei. Aku memaklumi atas pilihan yang dilakukannya. Jalan orang memang berbeda, tetapi perbedaan keyakinan itu tidak akan membuat persahabatan kami hancur.”

”Tidak seru kalau tidak ada musuh-musuhan!”

“Kami pura-pura musuhan.” Fidel meyakinkan. “Biar terkesan membiarkan, meskipun terkesan tak saling memperdulikan keyakinan masing-masing, sebenarnya proses alami melalui diskusi tengah kami jalani. Tidak ada doktrinasi. Kami saling menyayangi, lagipula apakah Pepei memang pantas dimusuhi?”

Kata-kata Fidel menghunjam.

“Mas?”

“Ya?”

“Aku ingin segera melewati kegelisahanku!”


“Kenapa harus dilewati?” Fidel mengetes Riang.

“Karena kegelisahan adalah jembatan!” jawab Riang menduplikasi perkataan Fidel beberapa hari yang lalu.

Fidel protes. “Itu perkataanku, bukan perkataanmu!”

”Terlalu banyak pertanyaan yang tidak bisa ku selesaikan,” Riang memberengut. “Terlalu banyak pertanyaan yang membuatku tidak waras!”

Suara panggilan tiba-tiba terdengar.

“Sudah maghrib,” Fidel mengingatkan. Waktu berbincang sudah habis. “Mudah-mudahan aku memiliki kunci agar Kau mampu membatasi pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat hidupmu tak nyaman.”

Riang mengerti. Ia berdoa agar kuncinya pas.

Fidel menggulung celana. “Jadi…”

“Jadi apa Mas?.”

“Jadi … apa arti Pepei untukmu?”

Riang tak menemukan kata yang tepat. Ia tidak bisa memastikan adonan pada loyang yang pas. Riang hanya mengungkapkan perasaannya pas-pasan. “Mesti sekejap, bagiku … Mas Pepei demikian berarti.”

Mata Fidel berair. “Seperti meteor!” ucapnya lirih.
Riang tak berani melihat Fidel. Ia mengalihkan pandangan ke atas bukit yang sepi. Malam ini Riang tak mau menganggunya. Ia membiarkan Fidel menyepi … menggali sunyi.

READ MORE!

Perpisahan (Bab 29)

Posted: by Divan Semesta in
0

Kertas-kertas yang semalam berserakan rapih kembali. Rumah kayu menjadi bersih seperti sedia kala. Beberapa orang yang berdiskusi tadi malam, pulang. Beberapa lainnya berangkat memancing.

Riang tidur terlampau nyenyak. Ia seperti di-anastesi. Bentar dan rombongan pondokan –termasuk Taryan—telah lama pulang. Sarapan mie yang disediakan Eva telah berubah menjadi dingin. Riang bangun setelah lampu mulai berkelap-kelip seperti arklilik. meredup, nyala, meredup, nyala selama beberapa detik hingga Riang yang tengah berbaring di bawahnya khawatir terkena ledakan bohlam.

Fidel masuk ke dalam rumah menyaksikan pekerjaannya lalu kembali membenahi peralatan.

“Taryan pulang dini hari.” Jelasnya sambil mematikan saklar. Fidel mengajak Riang sarapan. Mereka menyelesaikannya lalu keluar rumah, jalan-jalan, bertawaf mengitari lahan pertanian.

“Tanah ini luasnya hampit dua hektar.” Fidel menunjuk batu. “Dari ujung sana …” ia mengalihkan telunjuknya menuju pohon cemara bercabang dua, “Bentar yang mengajakku mengelola tanah ini. Baru sepetak yang kami tanami sayuran.” Fidel menoleh. “Kau mau membantu mengelolanya? Kami, aku dan Bentar tak sanggup melakukannya.”

“Mengelola tanah ini Mas?”
“Iya.”
“Taryan bagaimana?”
“Dia boleh ikut.”

“Asyik! Asyeeiiik!” Diliputi kesenangan tingkat tinggi karena mengetahui bahwa dirinya akan kembali bekerja seperti halnya seorang pemuda Thekelan bekerja, Riang berlari ke sana-kemari seolah lahan itu merupakan pekarangan taman bermain anak-anak. Riang terus berlari, hingga suruk di rawa-rawa, membuat baju dan celana dia satu-satunya kotor terendam lumpur.

Siang harinya Riang menuju kepondokkan. Ia mengambil pakaian tanpa diantar, menemui Taryan dan membujuknya.

“Bantu aku Yan!”
“Bagaimana dengan kerjaanku?” Taryan diam.
“Aku yang bilang ke Bentar!” Riang pasang badan.

“Bukan itu,” Taryan tertawa. “Apa Situ ndak kasihan sama Bentar kalau aku harus keluar kerja? Ini masalah kepercayaan. Kalau aku keluar akhir bulan ini, bagaiman nasib orang baru di pondokan, orang baru yang nantinya butuh pekerjaan? Apa Situ ndak mikir? Nanti atasanku bakalan ndak percaya sama Bentar karena orang seperti aku ini, seenak udelnya keluar karena alasan sepele. Alasan bisa di buat tapi aku pantang berbohong. Lagipula …” Taryan menghela nafas, “mertuaku sudah kirimi aku kabar mengenai keadaan di Magelang.”

Riang tahu apa yang akan dibicarakan. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya pura-pura tertawa. Riang merasakan sesak.

“Yang?” tanya Taryan tampak ragu-ragu. “Awal bulan depan aku pulang. Uang simpananku sudah lebih dari cukup untuk membiayai perjalanan pulang.” Taryan tahu Riang lemas.

“Bagaimana dengan penduduk Desa dan Karno?” Riang memaksa bertanya.
“Keadaan di desa aman. Beberapa bulan sejak kepergianku Karno ditangkap. Ia kembali berbuat onar.”
“Karno pasti kapok membuatmu begini.” Riang tak memiliki harapan. Ia menepiskan kekecewaan,
Taryan tersenyum. “Ya, Karno pasti malu padaku.”
“Kau akan membalas perlakuan orang-orang di desa, Yan?”

Taryan melambungkan pandangannya, “Untuk apa? Katanya. “Semua hal yang kualami sudah ada ketentuannya. Semua sudah digariskan. Dia berkehendak agar aku keluar dari desa, menemui orang-orang di sini, menemui Situ. Hidup seperti ini memberiku banyak hal. Banyak yang kudapatkan.”

“Pasti banyak sekali!” Riang tersenyum. Ia mulai mengikhlaskan kehendak Taryan. “Pokoknya, kalau Situ pulang, jangan lupa memberitahu! Jangan membuatku marah seperti pagi tadi!”
“Tadi pagi apa?!” Taryan mengelak.
“Kau tinggalkan aku di rumah Fidel!”
“Lha, aku sudah membangunkanmu!”

Riang murung.

Nafas Taryan terhempas. Ia mengatur pernafasan. “Aku pasti bilang Yang,” angguk Taryan dalam. “Yang … terimakasih untuk segalanya,” nada suara Taryan tertekan.

“Terima kasih untuk apa?”
“Untuk perhatianmu ketika aku sakit … atas perhatianmu … atas segalanya, semuanya! Terima kasih atas kesetiakawananmu … atas bimbinganmu!”
“Sudah-sudah tak perlu begitu! Kalau mau pergi, pergilah sana!” humor kuli Riang keluar. “Pergi Kau! PERGI SANA!”

Retina mata kedua orang itu bocor. Ada air yang mengucur, meninggalkan bekas yang hangat di hati, membuat siapapun yang tidak pernah merasakan panasnya api persahabatan cemberut.

RIANG LUPA pesan Fidel untuk membawakan buku harian Pepei. Sore itu fokusnya hanya berkemas, melupakan buku yang juga penting bagi Fidel. Ia memasukan seluruh barang yang dimilikinya. Keesokan paginya, Riang kembali ke rumah kayu Fidel. Pemilik pondokan tidak mengantarnya hingga pagar. Mereka tahu, sesekali, Riang masih akan menginap di pondokan.

Beberapa hari kemudian Riang kembali ke pondokan. Tidak ada satu orang pun di sana. Taryan masih bekerja. Bentar mengantar Eva yang sedang mengikuti tes. Bosan menunggu, Riang menemani Fidel belanja persediaan makananan. Setelahnya, di tengah jalan pulang menuju pondokan, ia melihat Taryan menyetop angkutan. Dipikirnya, Taryan yang akan lebih dulu sampai di pondokkan. Ternyata tidak. Sejam kemudian wajah sahabatnya yang tengil itu tampak. Taryan menjinjing empat buah kantung hitam besar.

Taryan menghempaskan tubuhnya. Ia memberikan satu kantung untuk Bentar dan Eva, dan meminta maaf karena tak bisa membalas budi baik keduanya

“Maaf! Maaf! Lebaran masih lama!”

Komentar Bentar usai mereka mengatakan terimakasih membuat Taryan tertawa. Ia kemudian mengambil sebuah kantung hitam lainnya. “Ini untukmu!” katanya. Ia menghadiahi Riang sebuah buku tulis tebal bergembok. Kantung lainnya berisi makanan untuk orang-orang yang berkumpul di pondokan.

“Lainnya lagi?” Agus mendesak. Anak itu melihat beberapa kantung yang belum jelas pemiliknya. Taryan tersipu ketika Eva menegur anak kecil itu. Barang-barang di dalam kantung-kantung yang tersisa itu untuk Radia anak dan keluarga Taryan di Magelang.

Malam ini menjadi malam penghabisan antara Riang dan Taryan. Orang-orang yang mengenalnya bermain habis-habisan. Suara biola Bentar dan gitar yang bermantra mempertemukan kegembiraan yang ada di dalam hati dan mencuatkannya. Masing-masing berusaha memberikan kemahiran, memaksimalkan apa yang mereka miliki untuk membuat Taryan gembira.

Malam itu Riang tidak mengatakan sesuatu yang berharga untuk Taryan, namun Riang meyakini adanya keberadaan ikatan yang sulit dipahami kecuali oleh orang yang mengerti. Jika bahasa lisan tidak selalu mewakili keadaan yang sebenarnya untuk apa seseorang melisankan. Riang tidak mau memaksakan dirinya, ia tak mungkin bisa, karena bahasa yang agung iu tak bisa diwakilkan keluasannya oleh lidah manusia yang terbatas. Riang diam dan membiarkan simbol bahasa yang menyemesta berjalan alami apa adanya.

Ke dua orang ini pun tidur saat pertengahan malam menjelang. Wajah mereka terlihat teduh tanpa tekanan, minim beban seperti bayi pada sebuah mobil yang melaju kencang di sebuah jalur bebas hambatan.

Saat saat yang tak Riang harapkan itu datang. Derit—derit roda besi yang memasuki stasiun, menunggu ribuan orang sebelum gerbongnya beranjak menuju arah tempat terbitnya matahari di ufuk timur. Riang berharap, jalur yang Taryan tempuh bersama kereta itu akan membawanya kepada kebenderangan, menuju arah kebahagiaan.

“Yan?!” Riang berusaha menutupi kesedihannya.
“Apa?”

“Situ ndak layak lagi dihina. Kalau situ bertemu dengan petugas yang dulu menendangmu perlihatkan seluruh kekayaanmu! Sombongkanlah tiketmu! Pelihatkan uang kertas yang kau kumpulkan itu! Biar dia tahu Yan!... Biar mereka tahu.”

Taryan yakin tidak akan bertemu dengan petugas sialan yang pernah ia ceritakan pada hampir semua penghuni pondokan. Di balik jendela kereta, Taryan menunduk. Wajahnya muram.

“Yan!” Riang membentak. “Jangan seperti itu!” ia menegurnya. “Ayo ketawa Yan!.Ayo ketawa! Sama-sama ketawa!

Riang tertawa seperti terpaksa. Ia mengeluarkan tangannya dari jendela.Fidel, Bentar, dan Eva memahami permainan emosi saat mereka mengantar Taryan pergi.

“Hua...ha...ha...ha!.”
“Hua...ha...ha...ha!.”

“Teruslah tertawa Yan!...teruslah tertawa! Jangan pernah berhenti mentertawakan dunia! Jangan pernah bersedih! Terus tertawa! Jangan berhenti!”

Taryan terbahak-bahak! Ia tak tahu apa yang harus ditertawakan tetapi mulutnya terbuka. “Hua… ha… ha… orang gila! Orang gila!”

Riang tertawa diejek Taryan. Ia berteriak ketika roda kereta berputar pelan. “Aku selalu mendoakan! Kau senantiasa kudoakan!”

Riang terseguk.

Selamat jalan kawan! Berkah kepulanganmu itu... adalah milikmu. Kali ini, jangan biarkan orang lain merampasnya! Rebutlah kebahagiaan bersama Radia dan anakmu, ....bersama keluarga besarmu ...
Doa Riang Merapi menyertai langkah panjangmu!
Kereta menjauh lalu hilang ditelan kelokan.

READ MORE!