Tegap Menantang (Bab 39 Tamat)

Posted: Senin, 14 September 2009 by Divan Semesta in
2

Riang yang diharuskan untuk mengambil jalan lain melewati pondokan, tidak mengetahui jika pondokkan yang berada dibelakang tubuhnya sudah diobrak-abrik orang suruhan sang Bapak. Lima belas menit di depan Riang, Fred menjauhi Kardi yang tengah menggiring seekor pitbull, diantara puluhan tukang onar yang membawa dua jerigen bensin dan beberapa orang yang mempersenjatai diri mereka dengan pistol dan senjata tajam.

Riang terus berjalan. Rasa letih membuat pikirannya tak fokus. Langkahnya semerawut. Usai mengambil jalan potong melewati pondokkan, Riang membayangkan betapa jauhnya perjalanan. Ia masih harus memasuki hutan kopi, melewati air terjun beserta lorong-lorongnya lalu melewati perkebunan teh dan lahan pertanian yang luas.

Riang hampir-hampir putus asa. Ia benar-benar tak sanggup jika harus sampai saat ini juga. Fisiknya yang diforsir kemarin malam, memaksa dia mengistirahatkan dirinya di depan hutan kopi, tepat di bawah pohon tempat ia dan Taryan pernah mengumpulkan jambu.

Kericik air membuat istirahat yang diniatkan sebentar membuatnya menjadi lama. Angin membantu menghela kesadarannya. Riang tertidur. Pada awalnya ia tak memimpikan apa pun jua, namun di akhir-akhir tidurnya, ia terkenang kembali sahabat-sahabatnya. Taryan, Fidel, Bentar dan Eva, Antoni, bahkan Agus menyapanya. Informasi mengenai aksi, perihal kemungkinan pembalasan yang dilakukan penanam modal di Punclut, larangan beristirahat di pondokkan dan segala kemungkinan buruk lain yang diceritakan Waluh membuat alam pikirannya bergerak. Dalam mimpi bola mata Riang mengendut-endut cepat. Ia mimpi yang bukan-bukan.

Riang bangun. Mimpi buruk menjadikan pengisian energi tubuhnya tidak berlangsung baik. Tidur siang satu jam tidak mengaruniakan kebugaran sempurna. Ia baru merasa segar setelah air terjun memijat punggungnya. Setelah air terjun ia lewati Riang memasuki kawasan kebun teh, lalu menyaksikan menyaksikan bagaimana angkasa dicoreng morengi asap hitam.

Was-was melanda. Ia berjalan cepat seolah ikuti lomba. Tak jauh dari hamparan rumput Jepang, ia melihat rumah kayu Fidel terbakar api. Atap rumbianya sebagian habis menjadi abu lalu dihembuskan angin. Riang bersembunyi. Di lahan mentimun, ia melihat orang-orang menampakkan wajah tegang.

Orang-orang itu mencari rekaman tindak penembakan yang mereka lakukan dalam aksi warga Punclut yang pertama. Fred merasa dongkol rekaman yang ia informasikan kepada sang Bapak tidak ditemukan, baik di pondokan dan di rumah kayu Fidel.

Rencana lain harus dilaksanakan. Lelaki bertubuh atletis yang berada di luar rumah memberi isyarat. Ia berteriak agar Fred keluar. Bensin diguyur pada dinding rumah. Lelaki itu memerintahkan pria lainnya untuk mengelilingi rumah, memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa keluar lalu menyebar informasi pembakaran rumah kayu dan –menyebarkan informasi— mengenai usaha melenyapkan barang bukti penembakan di Punclut.

Botol bensin dilemparkan ke atap rumah. Sebuah letusan terdengar. Botol bensin pecah diserempet peluru. Gesekan yang ditimbulkannya menyalakan api. Api muncrat turun di berbagai sisi atap rumbia. Api berlari cepat menuju dinding. Berlari mengagumkan mengelilingi tiang-tiang, jendela dan pintu lalu menggabungkan diri pada satu titik. Asap hitam mulai muncul, lalu di sapu angin. Api bertambah besar.

Lelaki bertubuh tegap bak perenang pekan olahraga nasional itu berteriak lagi. Ia memastikan agar Fred keluar rumah. Ia tak mengetahui jika di dalam rumah itu Fidel mengintai dari celah pintu bawah tanah. Fidel merangkak setelah mengetahui rumah kayu menjadi panas oleh api. Secepat gerilyawan pembebasan Fidel merangkak. Ia mengambil mulut Fred lalu membantingnya.

“Apa yang kau cari?!” bisik Fidel mengancam.

Fred diam.

“Apa yang kau cari itu memusnahkan nuranimu sendiri?!” Fidel mengingatkan.

Tapi Fred tetap diam. Ia lebih memilih memfokuskan konsentrasi untuk membebaskan diri. Fred bukan bukan orang sembarang. Ia mengetahui beberapa teknik keluar dari kuncian. Fred bukan orang biasa yang pernah dikalahkan Waluh usai mempraktikkan kekejian pada seekor ayam.

Keluar dari pitingan itu Fred segera menghantam kepala Fidel menggunakan tulang belakang tengkorak kepalanya. Beberapa kali daerah di wajah dihantam membuat hidung Fidel patah. Darah membuat mulutnya terasa asin. Alis Fidel koyak. Fred langsung berdiri, menendang tulang rusuk Fidel, tetapi tangan Fidel yang bergerak cepat membuat tubuh Fred kembali tidak seimbang.

Fred terjatuh. Ia dikurung oleh tubuh Fidel. Ia menggapai-gapai kaki kursi. Tangan Fred segera membentuk benteng pertahanan seperti yang dilakukan Chris Jhon sang petinju. Kursi mental ke samping, melenceng keluar jendela. Tak ada satu orang pun yang berani masuk ke dalam. Api semakin besar. Asapnya membuat sesak. Waktu semakin sempit. Fidel menubruk Fred. Kepalanya meleset menuju ulu hati, tetapi lengannya melingkar di kepala Fred. Setelah Fidel memastikan posisi tangannya, kakinya langsung menyambar perut Fidel menggunakan dengkul dan menghentak, membalikkan tubuh Fred sekuat tenaga menuju lantai. Punggung Fred membentur tiang. Tulang lehernya retak. Nyerinya tak terkira. Asap semakin tebal. Paru-paru ke dua lelaki itu sudah sampai pada batas yang tak dapat ditolerir.

Dengan sisa kekuatan Fidel meninggalkan Fred yang tergolek tak memiliki kemampuan. Fidel merayap menggunakan lengan dan dengkulnya. Ia membuka pintu bawah tanah lalu terjatuh. Pintu tertutup. Asap menyusup ke dalam. Fidel merangkak, menjauhi asap. Di tiga perempat lorong bawah tanah ia pingsan.

Di atas ruang bawah tanah, Fred menggelepar seperti ayam yang dulu pernah disiksa olehnya. Tangan Fred terlihat dari luar jendela, diubari api, menjadi gosong. Api mengamuk membuat atap rumah ambruk. Palang penyangga terjun bebas mengakhiri rasa sakit yang menjalar di tubuh lelaki itu.

DI LAHAN MENTIMUN, Riang yang sudah bisa menguasai dirinya mengendap-endap, memutar. Ia memiliki harapan, menuruni lereng bukit lalu berlari menuju tempat Fidel biasa membincangkan segala hal dengannya. Dalam keadaan itu ia tak mengingat jika sesuatu terjadi di luar kesadaran. Jemari tangannya menancap di tanah. Di lereng bukit itu ia merangkak cepat seperti binatang berkuku tajam. Bukit itu dengan mudah ia daki.

Riang menuju semak-semak. Asap terlihat meleleh dari pintu yang tersembunyi. Ia bergegas masuk ke dalam. Asap membuat Riang terganggu. Ia membuka baju dan menggunakannya untuk menyaring asap.

Lorong gelap. Lampu padam. Riang tak bisa menyaksikan apa-apa. Ia ragu untuk melanjutkan. Beberapa meter ke depan Riang memutuskan untuk berhenti, tetapi beberapa langkah kemudian ia sudah tidak tahan. Nafasnya serasa tercekik. Ia berbalik dan … sebuah tangan tiba-tiba memegang pergelangan kakinya. Riang jongkok meraba. Instingnya bermain. Ia menarik tangan Fidel, menyeret tubuhnya. Di tangga ia memanggul tubuh Fidel ke atas.

Saat pintu lorong terbuka ia merasa lega. Udara segar yang meski masih bercampur asap menolongnya. Riang membanting pintu dan melemparkan tubuh Fidel ke luar, namun … belum selesai ia mengatur nafasnya, sebuah laras senapan menempel di kepalanya.

“Di sini Bang!” seseorang berteriak antara tegang dan senang.

Pitbul menyalak. Riang mendengar langkah kaki mendekatinya. Ia mengangkat tangan tak memiliki kesempatan melawan. Riang diikat. Ia melihat wajah sahabatnya berjelaga, namun ia bersyukur masih bisa melihat gerakan halus di dada. Jantung Fidel masih memompa darahnya. Perutnya masih berdenyut konstan.

Riang bersyukur sahabatnya masih bisa bernafas. Kini, yang ia khawatirkan hanya dirinya. Orang-orang berkumpul mengelilingi Riang. Riang tak mampu menatap wajah mereka. Ia memilih berdamai. Lalu ketika salakan anjing terdengar didekatnya, Riang merasakan wajahnya berputar. Tulang pipinya berguncang disepak. Dalam pening ia melihat seseorang mengayunkan kembali kakinya. Orang itu hilang akal. Kaki mendarat di tubuh dan wajah Riang. Darah bertebaran di tanah. Lidah Riang tergigit. Gigi gerahamnya terasa nyeri.

“Siapa suruh menghabisi dia, goblog!” Lelaki bertubuh atletis memaki. Kardi yang memukuli Riang sampai habis disergap, sementara anjing yang ada di tangannya di alihkan. Sebelum kesadaran Riang pupus, ia melihat mulut yang benar-benar dikenalnya meludah. Ludahnya bau pasaran, bau mayat!

Setelah amukan api reda, beberapa lelaki diperintahkan untuk menuruni tangga, memasuki lorong bawah tanah. Berbekal senter mereka memeriksa buku-buku yang berwarna kecoklatan lalu membalikan risbang. Mereka tak menemukan rekaman yang dibicarakan Fred. Mereka hanya berharap pada dua orang yang tertangkap. Puluhan orang itu kemudian berjalan. Mereka bergantian menjinjing Fidel dan Riang seakan klan kanibal yang tengah menjinjing hewan buruan.

MALAM HARINYA, Waluh, Bentar dan Eva sampai di rumah kayu. Mereka hanya melihat reruntuhan. Diantara reruntuhan itu tercium bau daging matang. Ketiga orang itu mengais-ais arang. Ketakutan akan takdir seorang sahabat membuat mereka ketakutan.

Sebuah tangan mereka temukan terlihat hitam kaku dan meregang, di balik reruntuhan. Bentar dan Waluh membuka sisa bakaran perlahan dan memastikan bahwa mereka tidak mengenal tubuh yang hangus itu. Tinggi tubuh mayat tersebut lebih pendek ketimbang tubuh, Fidel sahabat mereka. Bentar kemudian mencari-cari pintu ruang bawah tanah. Ia menemukan dan membukanya, menyalakan senter lalu masuk memeriksa dan tak menemukan seorang pun juga di sana.

Ketiga orang itu segerameninggalkan rumah kayu dengan perasaan yang berkecamuk. Sampai di tempat seorang kawan mereka bergerak cepat, mengumpulkan teman yang tersisa. Tak ada yang hilang kecuali Fidel dan Riang. Dan pada saat seseorang memberitahukan Fred hilang, bulu kuduk ketiga orang yang telah menyaksikan jasad yang gosong terbakar itu meremang.

Orang-orang segera menyusun rencana. Draft kronologis peristiwa Punclut dan kemungkinan keterkaitan antara dirusaknya pondokkan dan dibakarnya rumah kayu serta penemuan mayat tak dikenal mereka susun. Jam sepuluh pagi draft digandakan lalu dibagikan pada beberapa lembaga advokasi yang mereka percaya dan media massa lainnya.

Aksi lanjutan disusun. Informasi berantai di tangkap seluruh jaringan gerakan sub culture di Bandung serta beberapa organisasi lainnya. Jam satu siang hari itu, Riuh rendah orang-orang menyemut, berkumpul di gedung sate Bandung.

Jalan di samping kiri gedung pemerintahan yang bersambung dengan Bandung Indah Plaza segera diriuh rendahi pekikan. Klakson digonggongkan. Kendaraan pribadi dan angkutan menyingkir. Yel-yel membakar. Dari arah Jatinangor ratusan orang berdatangan mengeluarkan bunyi begemuruh. Arus massa terbelah menjadi dua, saat bus kuning membelah jalan. Penumpang bus itu sesak. Di atasnya berdiri lima orang. Tiga menggunakan slayer dan ikat kepala yang lainya memegang megaphone. Di jalanan patroli polisi tampak terkejut. Empat orang polisi yang saat itu tengah istirahat belari memastikan pagar gedung dewan terkunci. Tak ada barikade berduri.

Surat yang baru disampaikan setengah jam lalu membuat aparat tak siap. Mereka membutuhkan waktu untuk mengkoordinasikan anggotanya di lapangan. Waktu jeda itu dimanfaatkan oleh rombongan lain yang berjumlah seratusan. Rombongan ini menentang arah ratusan orang yang berjalan menuju gedung pemerintahan. Mereka anak-anak muda pakaiannya di dominasi warna hitam. Rambut beberapa orang diantaranya ditegakkan lem uhu melawan grafitasi. Warna-warna menyala. Beberapa orang melilitkan rantai anjing di saku celana, beberapa lainnya mengenakan rantai di leher.

Wartawan terpilah menjadi dua. Mereka ragu-ragu untuk tetap bertahan di gedung pemerintahan atau mengikuti aksi lainnya. Beberapa wartawan yang akurasi informasinya bisa dipertanggungjawabkan mengambil sepeda motor, beberapa di antaranya berlari menuju RRI.

Rombongan seratusan orang ini menemukan gerbang RRI yang sudah ditutup satpam. Penjaga keamanan tampak kebingungan. Bentar yang berada di dalam rombongan melakukan negoisasi. Jumlah orang yang ada di belakangnya memuluskan jalan.

Auman! Pekikkan! Kemarahan menyala-nyala di udara. Mereka masuk, menduduki ruangan, dan beberapa orang lainnya menuju ruang siaran. Waluh dan Bentar mengambil mike. Beberapa orang kawan mencari operator radio, meminta mereka untuk menyiarkan apa yang ingin mereka sampaikan, on air!

Seorang operator menolak. “Bisanya hanya siaran tunda!” kata dia. Tetapi dari ruang siaran seorang teman berteriak. Ia mendapatkan operator yang bisa mengacak program RRI nasional. “Siang ini berita bisa kita bajak!” teriaknya.

Operator itu segera di paksa masuk ke dalam ruang siaran. Di bawah tekanan operator muda itu hanya memakan waktu hampir setengah jam untuk mengacak siaran pusat. On air!

Saat siaran baru berjalan beberapa menit, seorang kawan lain masuk. Ia berteriak membuat kaca ruang siaran berembun. “Situasi kacau! Polisi sebentar lagi datang! cepat! Teman-teman berusaha mempertahakan!”

Bentar mengambil inisiatif. “Masukkan wartawan!” ujarnya. “Biar mereka menjadi saksi penangkapan kita.” Setelah berkata demikian ia mempercepat apa yang ingin di sampaikannya.

WTO, IMF, World Bank, serta imbas penanaman modal asing dan dibukanya pengelolaan hajat hidup orang banyak dan sumber daya alam selain oleh Negara ia jabarkan. Bentar sampai di puncak kemarahannya ketika membeberkan penyerobotan tanah di berbagai daerah. Ia menceritakan kronologis Punclut. Seluruh keterkaitan yang masih menjadi dugaan ia jabarkan. Hilangnya Fidel dan Riang penemuan mayat membuatnya berang. Makian di selipkan … puisi-puisi… pekikan kaum bercaping…kesadaran akan emansipasi … pestisida korupsi… anjing… anjing dan anjing dilontarkan. dan …

Dar! Dar! Dua buah letusan letusan tiba-tiba terdengar.

Seorang wartawan yang terkena gas air mata mengingatkan. “Polisi menyerbu!” Suaranya hingga ke dalam. Pintu ruangan didobrak! Kaca pecah! Lampu kilat berkejaran. Wartawan yang ada di dalam ruangan merekam kejadian yang tak mungkin terulang.

Selasa menjelang Ashar itu, Waluh, Bentar dan kawan-kawanya digelandang polisi menuju truk bak terbuka. Mereka tak melawan. Pembajakan yang mereka lakukan tak sia-sia. Peristiwa pembajakan kantor dan pembajakan berita resmi RRI itu menjadi kisah yang gaungnya tak mungkin hilang di masa yang akan datang.

MANAKALA PEMBAJAKAN RRI BERAKHIR di sisi terluar kota itu, Riang merasakan tubuhnya mengalami banyak guncangan. Kelokan, jalan berbatu yang telanjang tanpa aspal membuat seluruh isi truk terguncang. Tak jauh dari tubuhnya, Fidel berbaring, mempertahankan posisinya, berpura-pura pingsan sambil mencerna keadaan. Truk berhenti. Lelaki yang ada ada di dalam truk menyeret tubuh Fidel dan Riang.

Suara jangkrik terdengar. Riang dan Fidel tak melihat apa-apa. Mata mereka ditutup kain semenjak mereka di lemparkan ke dalam truk. Tubuh Fidel di gotong, sementara Riang diperintahkan berjalan jongkok. Seseorang lelaki mendekati Riang.

“Sudah kuingatkan di Merbabu!!”

Riang berusaha menerka dalam diam.

Kardi tertawa dingin. “Aku setanmu!” ujarnya. “Tak aku sangka kita akan bertemu lagi!” ia kemudian duduk dan berbisik. “Kali ini kau akan mati! Mati! Mati ditanganku!”

Ancaman itu membuat Riang ketir. Ia tak terlatih mengelola emosinya menghadapi penculikan. Dalam kepalanya muncul gambaran-gambaran penyiksaan. Gambaran itu makin rindang, berbuah lebat. Sebelum ngeri yang sesungguhnya mendatangi, Riang dihancurkan oleh kemungkinan-kemungkinan negatif yang di sodorkan pikirannya. Riang strees. Ia mual.

Malam itu Riang dimasukan ke dalam sebuah ruangan tak berwarna selain hitam. Lampu dimatikan. Tak ada makanan. Organ tubuhnya mulai berkerja mengambil cadangan lemak. Makanan masih bisa ditangguhkan, tetapi air. Riang kehausan. Di hari ke dua, matahari menyerobot masuk. Riang di gelandang keluar, diperintahkan jongkok untuk memakan makanan anjing. Ia mendengar suara riuh dari kejauhan. Riang menyaksikan Fidel dikalungi tali. Ia bersyukur masih bisa melihat lelaki itu. Riang terharu. Ia tak melihat ketakutan di wajah Fidel.

Fidel demikian tenang saat ia dibawa ke dekat Riang. Fidel ditelanjangi hingga hanya menggunakan cawat. Ia di guyur air dingin dari dalam tong. Tubuhnya memar-memar di beberapa bagian. Warna merah sisa darah masih menempel. Fidel mengigil. Ikatan pada tubuhnya di perketat lalu Fidel dimasukan ke dalam tong berisi air. Fidel dipukuli, dipaksa masuk ke dalam airnya. Tong ditutup. Beberapa puluh detik kemudian tong bergetar lalu rubuh. Air mancur keluar, Fidel mengap-mengap. Wajah tenangnya terlihat merah padam.

“Di mana video itu!?” lelaki bertubuh atletis membentak.

Fidel menatap. “Terbakar bersama kawanmu!” ungkapnya.

Lelaki itu marah. Ia tak percaya, Fidel pastilah berdusta. Lelaki itu ingin mengetahui batas kekuatan yang dimiliki Fidel. Ia memasukan Fidel lagi ke dalam tong lainnya yang berisi sedikit air. Batu kerikil di masukan ke dalam tong. Kali ini bukan hanya dikeram. Lima orang mementungi tong itu dengan kayu dan sepatu, lalu tong digelindingkan di turunan. Tong berlari hingga menyimpang dari jalannya lalu berhenti setelah membentur pohon. Fidel dalam keadaan tak sadarkan diri saat tong di buka. Ia ditarik ke atas oleh seutas tambang. Di dekat Riang, Fidel dipaksa siuman.

Lelaki bertubuh gempal yang ingin terlihat garang lantas mengambil tusuk gigi. Ia menginjak lengan Fidel lalu tusuk gigi itu ia masukan ke dalam kuku Fidel. Fidel menahan sakit. Mulutnya mengatup, merapal-rapal sesuatu yang tak asing bagi orang yang menyiksanya. Fidel terus merapal. Rapalan itu tak mengalihkan rasa sakit yang tak tertahan tak terbayangkan. Jeritan terdengar ketika tusuk gigi yang ketiga membongkar kuku jari tengah. Fidel merintih di hadapan Riang. Fidel yang biasa terlihat gagah berusaha melawan rasa sakitnya.

Betapa menyakitkan melihat orang yang Riang kagumi dihinakan. Riang meneteskan air mata menyaksikan peragaan kejahatan yang belum sampai batasnya. Riang tak hendak memperdulikan keadaannya. Dalam suasana sempit Riang teringat kembali atas apa yang telah Fidel lakukan padanya. Ia teringat masa-masa ketika dirinya masih teronggok dalam bentuk bebatuan dan Fidel ulet memahatnya. Riang berubah menjadi karya seni yang indah. Riang teringat ketika Fidel mengatakan, akan selalu ada hari esok. Akan selalu ada hari kemenangan. Kejarlah kemenanganmu di masa ini. Cintailah hidup, akan tetapi jika takdir sudah menentukan dan kemenangan tidak berada di tangan maka kemenangan itu akan tiba bagi orang yang mempercayai kehidupan sesudah kematian.

Apakah tidak ada kemenangan Riang di dunia? Riang masih ingin menikmati sari pati kehidupan. Ia ingin keluar dari celah sempit ini. Tidak sendirian. Ia ingin bersama Fidel.

Riang memperhatikan wajah Fidel yang kuyu di hadapannya mulai bercahaya. Matanya yang bengkak mulai terbuka. Entah mengapa Fidel tersenyum padanya. Riang tahu, dalam kondisi hidup mati seperti ini, adalah manusiawi untuk memperlihatkan ketakutan, tapi Fidel mulai tersenyum. Ia berusaha menenangkan Riang dengan senyumannya seolah mengatakan, santai … Ini hanya kepingan. Atau, menguatkan Riang bahwa pengalaman seperti ini sudah seringku alami. Kita akan baik-baik saja.

Fidel memberi energi positif. Ia berusaha menguatkan Riang. Berada di dekatnya ibarat mendekati sebuah adaptor. Ibarat mempersilahkan diri ditranfer energi besar yang disalurkan secara alami.

Riang tak sadar, ketika ia tengah memperhatikan Fidel, lelaki bertubuh atletis berbisik. “Mungkin kau kuat, tapi apa kau kuat melihat temanmu kami siksa?!” Lalu lelaki bertubuh atletis memberi tanda pada lelaki berbadan gempal untuk berhenti menyiksa Fidel.

Lelaki berbadan gempal itu mengganti posisi. Ada kesenangan psikotik di matanya. Ia menuju Riang, lalu mengikat lengan Riang pada sebatang pohon. Orang-orang berkumpul lalu membantunya mebogemi tubuh Riang. Ulu hati Riang mulai kempis, ekspresi wajahnya kacau, tubuhnya dihantam sampai ringsek. Riang bersujud di tanah. Ia hampir tak kuat menahan sakitnya. Lalu generator dinyalakan. Percikan api yang muncrat membuat Riang ketakutan.

Fidel terus tersenyum, tetapi senyum itu malah menimbulkan dengki. Lelaki bertubuh gempal memergoki. Ia kesal lantas, tas! tas! Percikan api muntas. Tas! Tas! Tas! Tubuh Riang di sengat. Peredaran darahnya beku. Matanya mebeliak merah Riang kejang-kejang hingga membuat dahan pohon bergoyang.

Fidel menyadari, memfokuskan diri pada penyiksaan di hadapannya justru akan memperlambat upaya dia membebaskan diri. Fidel bergegas. Patahan-patahan tusuk gigi yang sebelumnya dipergunakan untuk menyiksa, ia gunakan untuk memutuskan serabut tali rami yang mengikat tangannya. Ketika tusuk gigi sudah tak berfungsi, ia meraba-raba dan menemukan ceceran kerikil yang membuatnya pingsan di dalam tong. Gesekan batu kerikil ia percepat pada tali rami. Dan ketika ketajaman batu kerikil itu berkurang, tali rami putus.

Fidel memperhatikan keadaan seksama. Ia melihat orang-orang menyaksikan penyiksaan itu dari jarak yang bisa Fidel taksir. Ia melakukan kalkulasi lalu melihat letak senjata. Senjata yang paling dekat adalah yang tersemat di pinggang lelaki gempal yang tengah menyetrum Riang. Belati itu terselip di pinggang, disarungi kulit sapi. Fidel telah menentukan momentum.

Jerita Riang kembali terdengar. Beberapa lelaki yang menyaksikan penyiksaan sudah merasa tak kuat, akan tetapi mereka berpura-pura menguatkan diri. Sama halnya ketika tusuk gigi membongkar kuku Fidel, orang-orang itu menganggap kekejaman yang lelaki gempal praktikan sudah keterlaluan. Ada sikap manusia yang tersisa di dalam diri mereka tetapi lelaki bertubuh gempal itu tidak. Ia binatang, melebihi binatang ternak.

Riang terus menjerit. Tubuhnya meronta lidahnya terasa kering, air liurnya mencelat kemana-mana dan ketika jeritan terkeras itu menihilkan suara generator, Fidel segera berdiri dan berlari menubruk. Ia Menghantam iga dan merampas pisau. Seseorang mencabut pistol.. Fidel menjadikan tubuh lelaki bertubuh gempal sebagai tameng.

“Buka!” Fidel memerintahkan mereka untuk membuka ikatan di tubuh Riang.

Tak ada yang bergerak. Mereka menanti reaksi lelaki bertubuh atletis.

“Kepung dia!”

Fidel dikelilingi. Ia tak mungkin memiliki kesempatan. Ia memilih mempertaruhkan kemungkinan yang belum terpikirkan oleh gerombolan orang ini. Fidel menikam pelan di punggung belakang lelaki bertubuh gempal. Lelaki itu berontak, memaksa diri berbalik dan tikaman ke dua merobek pipinya. Lelaki itu terhuyung, meminta bantuan. Tangannya mendompleng bumi, jemarinya meremas tanah.

Fidel berlari zig-zag ketika letusan terdengar. Peluru menembus pohon pisang, dan masuk ke dalam tanah. Fidel terus berlari. Pisau digengaman tangannya mulai menembus bahu seorang lelaki. Ia mencabut pisaunya lalu berlari mencari sasaran lain. Darah muncrat dari leher. Usus dicungkil, menjulur keluar. Gerombolan itu kalang kabut. Lelaki bertubuh atletis memerintahkan mundur, menjaga jarak. Fidel terus berputar.

“Kardi!” Lelaki bertubuh atletis berteriak.

Kandang di buka. Salakan anjing terdengar. Fidel gentar. Sebelum pitbul sampai di tempat itu ia berharap bisa membebaskan Riang. Fidel terus menerus berlari dan memangsa orang-orang dengan pisau yang ada di genggamannya. Seseorang yang menguatkan diri memungut pipa. Pisau dan besi berbenturan. Di saat itulah Kardi datang dan melepaskan tali kekang.

Pitbul menyerang, ia melompat terjang. Mengigit paha. Fidel tak mau merasakan rasa sakit itu. Ia tusukkan pisau di kepala pitbul. Anjing itu mati di tempat. Tertatih Fidel mendekati Kardi. Pitbul ke dua dilepaskan, memutar mencari kesempatan. Ketika pisau merobek baju Kardi, pitbul melompat mencengkramkan pisau email yang menempel di rahangnya pada tengkuk Fidel.

Ini pertarungan penghabisan. Pistol menyalak. Lengan kiri Fidel tertembus peluru. Dalam sisa kekuatannya ia terus maju, menihilkan rasa sakit. Ia ingin membawa seseorang dalam kematiannya. Fidel menangkap tangan Kardi menggunakan tangan yang dikoyakkan peluru. Kardi hilang keseimbangan. Tubuhnya maju tak bisa di tahan. Tubuhnya menjadi lahan. Pisau tertanam, menancap hingga tepian jantung, tepat di bagian tubuh yang sama saat ia membunuh seseorang lelaki gagah di dekat stasiun Yogyakarta.

Fidel membungkuk. Ia mulai kehabisan tenaga. Taring pitbul itu mulai meretakkan leher, hampir menembus otak kecilnya. Fidel tersenyum. Seyum itu sedemikian cantik. Sebuah senyuman yang mewah. Sebuah senyum agung yang berbekas.

Fidel memberikan senyum yang tak akan bisa Riang lihat lagi untuk selamanya. Senyum itu adalah pertukaran yang sebanding. Sebuah senyum kebahagiaan ketika seseorang mempertaruhkan hidup untuk sesuatu yang diyakininya.

Ia terkulai. Fidel meninggal. Tubuhnya kandas.

Riang menangis. Ia tak lagi memikirkan kesakitannya sendiri. Riang tergolek lemas. Cahaya hidupnya di matikan paksa. Ia melihat orang-orang mendekati tubuh Fidel, memastikan. Urusan Fidel di dunia ini sudah tamat. Kini tubuhnya di seret anjing. Lelaki bertubuh atletis lalu meminta seseorang untuk datang menangani. Anjing pitbul di beri daging. Rahangnya mengendur. Gigi taringnya lepas dari tengkuk Fidel.

Jasad Fidel dimasukan ke dalam tong. Riang menangis lagi. Ia melihat jasad itu dihinakan. Ia tak tahan atas perilaku itu. Uratnya mengencang. Riang tak merasa tubuhnya berguncang-guncang dan tali yang menahan dirinya tiba-tiba terlepas. Riang tidak tahu apa yang terjadi. Yang ia tahu ia marah. Kemurkaan membuat seluruh kenekatan dan kekuatan menetap di tubuhnya. Riang merasa jika dirinya seperti di pisahkan dari jasadnya. Ia seakan menyaksikan sebuah kejadian dalam film, menyaksikan tubuhnya kalap, menyerang orang-orang yang menggelindingkan tong yang berisi Fidel, sahabat tersayangnya.

Riang pukul mereka.

Ia mencakar!

Ia menendang dengan kekuatan yang memenclengkan tiga orang.

Tong Fidel berhenti menggelinding. Riang menghentikannya. Mendirikannya. Ia tak mendengar hembus nafas. Ia tak mendengar rintih kesakitan. Riang belum bisa menerima jika sahabatnya sudah berkawan dengan ajal.

Riang murka dengan derajat kemurkaan yang tak pernah dirasakannya. Ia mengambil seonggok kayu, mematahkan satu orang yang menyergap badannya. Dua orang datang memiting Riang. Mereka tak kuat menahan kekuatan magis itu.

Empat orang tak sanggup.

Lima orang dihempaskannya.

Delapan orang, Riang hampir takluk.

Ia dikerubungi. Tangan kakinya di pasung.

Riang terus melawan. Ia masih menggelepar. Digunakannya segala macam cara. Digigitnya salah satu diantara mereka. Kepingan daging jatuh. Raungan-raungan yang menjijikan.

Mulut Riang di hantam. Mulutnya dimasukan kain. Ia tersumbat. Riang melemah. Ia tak mampu lagi berbuat apa-apa dan derapun datanglah!

Pukulan dan tendangan bersatu dengan ludan dan makian. Dirinya adalah tempat sampah. Puas sudah! Tubuh Riang di masukan ke dalam tong. Inilah saat-saat dimana kepasrahan datang. Tak ada yang bisa menolong Riang.

Tong ditutup…
Cahaya hilang.
Tong..tong..tong..tong..tong..tong.
yang biasa diisi bensin, solar, minyak tanah
saat ini di isi manusia.

Tong…tong..tong..tong…
menjadi lorong yanghitam
seperti putaran roda bis …
serasa masuk ke dalam penggilingan.
…berputar…berputar semakin cepat.

suara geledak geleduk…
Suara…suara pukulan yang bising di telinga.
Seperti gemuruh seperti ada ledakan…
Ada drum band.

Semakin cepat betputar…

Pening…pusing…
Riang ingin muntah. Aku ingin muntah.
“Heiiii…buka! Aku mau muntah! Tolong!
Wu..wue…wuek..
WHO…EEEKKKKK!
Tong berhenti berputar. Tong didirikan.
Ada cahaya.

Tutup tong di buka.
Riang melihat ke atas.
Wajah dipenuhi cairan lambungnya sendiri.
Lelaki itu tersenyum sinis…
Ya ia rasa mengenalnya.
Riang berusaha konsentrasi…


Riang mengenalnya.
Ya…seperetinya dia Kardi.

H a l u s i n a s i

Mata Riang semakin kabur.
Ia dijambak. Diludahi dua kali.

“Kau akan mati!”

Lelaki itu memasukkan beberapa buah benda.

Tong ditutup kembali.
Berputa…putar lagi…
Tong-…tong….
Riang mulai merasakan perih…
Ada tusukan…tusukan kecil…
Benda apa yang dimasukkan lelaki itu?

…tubuh Riang seperti ditusuk paku …
Riang mengeram menahan sakit. Ia kencing.
Pipis di celana…
Riang berak di celana!
…tong
…tong
... tong …

Kepala kembali di atas,
kaki di bawa
Leher nyeri tertancap…
Semua badan nyeri tertancap…
Kesakitan memuncak…

Inilah ambang batas ketika Riang tak menyadari segalanya.

Seperti masuk ke alam baka.
Kesakitan perlahan dicerna.
Kesakitan dan pening di lahap.
…di cerna…
Tida..tiba..
Riang masuk ke dalam kedamaian. ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………putaran…putaran ini …………………………… …………………. Seolah ia berdiri di atas bumi melanglang… layang layang. Riang seakan
keluar dari tong dan menyaksikan bumi dari luar pengaruh gravitasi. Indahnya. Tong ini tidak jauh dari bumi yang sedang berotasi. Ada kedamaian. Terus berputar pada porosnya.
….. …………………………….bumi ini adalah tong ……………………………………
…………………………………aku adalah bumi ini……………………………………..
………..…………………………...….ektase……………………………………………..
……………………Apa ektase yang dirasakan Rumi seperti ini …………………………
…………………………………..Riang mengantuk………………………………………..
………….damai…………

Damai..damai….
Allah…………….
……Allah………….Allah…
Allah….Allah…..Allah……....Allah……...Allah……….
Allah……….Allah…….Allah………
Mengapa aku menyebut naman-Nya?
Allah……Allah…….Allah……..kenapa ia melafadzkan kekhasan-Nya?
Allah…..Allah………..Allah……….
Allah………Allah………Alllah………………..
Allah………Allah………………Allah………
Allah………Alllah……………..Allah…….

Damai sekali…

Sejuk…

Tong..tong berputar…

Apakah Fidel merasakan hal yang sama di tong itu?
Riang berharap ya. Ia berharap anugerah yang serupa.
Kuharap ia dapatkan. Keajaiban menihilkan kesakitan….

Ya Tuhan…
Ya Tuhan…
Ayo terus putarkan…
Semakin cepat semakin nikmat….
Semakin dahaga….semakin terasa damai.

Bumiku adalah tong ini…tong ini adalah bumiku….

Riang mulai tak merasakan putarannya…
Ia berada di poros bumi…
Allah mematikan hukum alam untuknya
…huah…

Riang mengantuk…lalu senyap… dan tertidur lelap.

RIANG BANGUN, menanti apa yang terjadi. Tapi, di luar tak terdengar apa pun. Ia menunggu. Terus menunggu. Setelah cukup lama, tong itu ia goyangkan, ke kanan, ke kiri hingga terjatuh. Ia meneendang tutupnya! Tutup tong terbuka, Riang merangkak dan berdiri. Dilihatnya keadaan sekeliling.

Tak ada manusia selain dirinya. Ia berada di tengah hutan. Mereka membuang Riang di jurang. Jauh dari keramaian. Mereka sudah menganggapnya mati.

Riang melongok ke dalam tong sekali lagi. Ia menemukan celana pendek dan puluhan paku. Ia lantas memperhatikan tubuhnya sendiri. Tak ada bekas paku dan tusukan. Tubuhnya hanya terasa pegal. Riang kebal. Ia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Ia mengenakan celana pendek, kemudian berputar-putar mencari tong lain yang berisi jasad Fidel.

Riang berharap keajaiban tetapi ia tak menemukannya. Ia hanya bisa berharap Tuhan mematikan hukum alam pada Fidel. Ia berharap luka yang tertancap di tengkuk, luka yang membuat tubuh Fidel robek dan memar akan terasa seperti yang dirasakannya.

Seandainya Fidel benar mati, ia berdoa semoga tong yang di tempatinya menjadi lorong kecil yang membebaskan dirinya dari dunia yang profan.

Tak ada kekhawatiran.
Riang seperti terbebas dari angka
Ia menjadi nol lagi.
Hilang semua asa. Lenyap seluruh asa
Ia berjalan… terus berjalan.

Dan jika orang-orang memandangnya kalah, tak mengapa! Sebab bagi dia kemenangan tidak ditentukan dari hidup dan matinya seseorang, melainkan tetap beradanya dia di dalam ruang kebenaran…selama-lamanya! Seabadi-abadinya!
Riang memanterakan bahwa dirinya tidak pernah kalah. Bahwa Fidel tak pernah tunduk untuk mengalah. Ia akan selalu berdiri tegap …

Menantang!
dan mengancam!


-TAMAT- :)

READ MORE!

Mobilisasi (Bab 38)

Posted: by Divan Semesta in
0

Mundur ke belakang. Keluarga Sekarmadji merupakan salah satu warga desa yang dirugikan semenjak pendirian hatchery (lahan pembibitan udang) di Cianjur Selatan, sejak kuwu Daryo mengumumkan “Lahan ini bukan punya kita! Sudah ada kuitansinya! Punya orang luar!

Warga desa mengerti fungsi kuitansi tetapi pada siapa orang luar membeli tanah yang sudah mereka garap sejak tahun 1970-an.

Tak pernah ada yang memiliki tanah di pinggiran samudera Hindia itu. Mungkin VOC pernah mengklaim kepemilikannya, tapi VOC sudah lama hengkang, bahkan sejak kedudukannya di ganti Belanda yang kemudian pergi diusir Jepang, lalu Jepang terkena karma diusir sekutu, kemudian warga sekitar dan solidaritas kemanusiaan antar ummat manusia berjuang menggunakan senjata dan --melalui-- perundingan internasional demi mengusir agresi yang dilakukan tentara dari negeri Holand.

Perjalanan sejarah desa Cibenda itulah yang menjelaskan mengapa karuhun-karuhun desa yang usianya sudah melebihi delapan puluhan bersyahadat bahwa tidak ada tanah untuk hatchery. Mereka bersaksi bahwa tanah di Cibenda adalah tanah tak bertuan salian tanah milik Allah, kecuali tanah milik Allah!

Tanah kosong itu memang miliki Allah tetapi beberapa tahun setelah merdeka tanah itu menjadi milik negara yang kemudian oleh penduduk desa ditanami pandan laut: untuk disamak, ditanami padi: tentu saja untuk di makan, di tanami ketela dan ribuan pohon penghasil santan untuk dijadikan sebagai mata pencaharian..

Lalu, setelah berpuluh-puluh tahun penduduk desa melakukan usaha mandiri atas tanah milik negara –yang tidak diurus negara itu—tiba-tiba tanah-tanah di patok. Tanah itu bukan lagi dimiliki negara. Tanah menjadi milik swasta. Menjadi milik perorangan melalui kongkalingkong badan pertanahan tanpa bincang-bincan persetujuan dengan penduduk desa.

Penduduk desa tidak tahu, sebenarnya status tanah di Cibenda itu telah diselesaikan di kota hanya dalam hitungan hari, di saat yang bersamaan ketika mereka melihat sebuah papan pengumuman: tanah sengketa berdiri di tengah-tengah lahan pencaharian mereka. Itulah mengapa, ketika kuwu Daryo dan aparat desa yang juga ditunjuk menjadi fasilitator ganti rugi hektaran tanah mengizinkan truk-truk tronton datang, penduduk desa terperangah.

Truk yang bagi warga desa besarnya termasuk aujubillah itu membawa kayu, potongan besi penyangga dan semen. Seorang supir truk yang bersahabat dengan penduduk desa memberi bocoran, tempat itu akan dibangun apa. “Pabrik pengalenga udang!” katanya, tetapi buruh lain yang wajahnya sukar untuk dipercaya mengatakan, untuk pabrik terasi juga.

Ketika cor-coran beton ditumpahkan, warga Cibenda bertambah bingung “Yang di sana untuk untuk resort!” jelas Kuwu. “Itu bagus, bahkan nanti di daerah kita akan ada bianglala seperti di Ancol!” kata Kuwu berbelit-belit.

Mau bianglala atau gula biang, tak satupun warga desa yang peduli. Mereka tak memerlukan apa pun selain tanah yang sudah mereka garap turun temurun selama berpuluh tahun itu menjadi tempat garapan seperti semula, atau kalaupun tidak, penduduk desa Cibenda mendapatkan hak untuk diikutsertakan dalam perundingan nasib tanah di wilayah mereka.

Perundingan tak pernah dilakukan. Hal inilah yang membuat tensi darah penduduk desa naik.

“Aing geus teu tahan! saya sudah tidak tahan! Kumaha aing bisa hirup mun kieu! Bagaimana saya mau hidup kalau begini! Paeh geus aya nu nentukeun, mati sudah ada yang menentukan” cerocos Mang Uple siap berperang.

Keesokan harinya, Mang Uple yang sebelumnya tak begitu dianggap warga, memasuki areal pembangunan yang konon hendak dijadikan pabrik pengalengan. Golok di tangan kanannya, menjadikan Mang Uple yang bertubuh kecil menjadi besar menakutkan.

Mang Uple mengetahui, Mang Uple sadar jika hanya dengan golok di tangannya, pembangunan pabrik pengalengan tidak akan berhenti. Golok yang menghantam pondasi beton hingga beberapa kali menjadikan goloknya roheng dan tumpul, namun Mang Uple tidak kehilangan akal. Di dekat generator ia menancapkan goloknya pada batang pisang.

Mata Mang Uple menyala-nyala. Jerigen solar ia lemparkan! “Kaluar maraneh! Kaluar! Keluar semua! Keluar semua!” ia mengusir buruh bangunan.

Solar menempel di bedeng. Golok di cabut. Korek api menyala. Bedeng terbakar. Buruh-buruh bangunan yang semula hanya memperhatikan mendadak marah. Mereka kemudian berlari mengejar Mang Uple hingga sampai batas pagar pembangunan.

Mang Uple berhasil meloloskan diri. Tanggung jawab Mang Uple saat ia sendiri menyerahkan diri ke kator polisi, menaikan posisinya di hadapan warga desa dan juga menaikan daya tawar warga dihadapan pengelola hatchery. Dan karena Mang Uple pula, kasus kasus penyerobotan tanah di desa Cibenda lolos dan di dengar hingga kemana-mana meski media masa ragu-ragu memberitahukannya. Di Cibenda, Mang Uple kini menjadi ikon yang melebihi Ernesto Che Guvara, karena ikon ini terdiri dari darah dan daging yang hidup di tengah-tengah warga desa.

Suasana panas yang mengasyikan itulah yang mengundang beberapa orang untuk mendatangi desa yang juga merupakan tempat kelahiran Sekarmadji. Kasus yang terjadi di desa Cibenda sebenarnya hanya satu kasus dari kasus lainnya yang bertebaran namun dipencilkan. Waluh segera menggali informasi di Cibenda kemudian bersama beberapa orang lainnya mengorganisasikan kasus-kasus di desa-desa lainnya, termasuk yang terjadi di wilayah Punclut.

Membela bagi orang semisal Waluh dan yang lainnya memang merupakan kengerian yang mengasyikan. Kegemaran mendekati bahaya memang ‘penyakit kejiwaan’, namun tak apalah jika penyakit kejiwaan tersebut di salurkan pada hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan.

“Jangan sinis begitu!” kata seorang pejabat. ”Pemanfaatan lahan tidur di Punclut bukan anti kemanusiaan!” katanya.

”Benar,” Waluh memotong, ”pemanfaatan itu tidak anti kemanusiaan, tetapi jika pemanfaatannya melibatkan warga yang sudah menggarap turun temurun di sana,” ujar Waluh tenang.

”Pengelolaan air terjun oleh pihak swasta akan menghasilkan apa yang kita kenal sebagai trickle down effect!” pejabat mantan lulusan Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia, mengaum menggunakan salah satu komponen di dalam teori ekonomi pasar bebas. “Lihatlah villa-villa yang bertebaran di sekitar air terjun,” kata dia. ”Penduduk mendapat rezeki dari kerja menjaga villa-villa di sana, pikirlah yang sehat, belum lagi ...”

”Ya!” Fidel memotong ucapan si pejabat dengan sinis. ”Trickle down effect adalah upah yang didapat penjaga villa di kawasan Punclut dari kapitalis pemilik tambang! Ya! Trickle down effect adalah secuil upah yang di dapat penduduk setempat, usai memperbaiki pipa sumber air, usai pemodal di Jakarta memprivatisasi kepemilikan sumber air Punclut demi pendirian pabrik air mineral, yang akan mematikan akses penduduk untuk mengkonsumsi air langsung dari mata airnya! Ya! Trickle down effect adalah upah minimum regional yang didapat jutaan buruh setelah bekerja habis-habisan, sementara dari memerkosa sumber daya alam pemilik, pejabat dan kroninya terbiasa menghabiskan beratus kali lipat upah minimum regional per/bulan hanya untuk membeli Virtue! Ya! Trickle down effect merupakan alat pembenaran keserakahan yang dilegalisasikan oleh negara! Trickle down effect adalah pembayaran atas tindakan amoral terhadap minyak, lng, batubara, air terjun, mata air, dan segala sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan jika trickle down effect dianggap sebagai upah, maka penjaga, buruh bangunan, buruh tani adalah gadis yang dilacurkan, sementara kaum kapitalis dan sistem yang menaungi sistem tersebut adalah mucikarinya!”

Di mana-mana aktivis bertaruh di meja judi. Nyawa ditaruhkan dengan pembebasan tanah ala Mao di iringi lagu this song of freedom Redemption Song dan untuk pertaruhan ini, Riang tidak pernah dilibatkan. Anak gunung Merbabu itu benar-benar dilokalisir dari koordinasi yang sejak kedatangan aktivis-aktivis straight edge, skin head, kolektif anarki, mahasiswa yang mengadvokasi tanah warga, dan beberapa kolektif lainnya yang tergabung dalam gerakan bawah tanah Bandung di rumah kayu Fidel.

Riang mungkin menganggap dianaktirikan, tetapi Fidel dan kawan-kawannya tidak menganggap demikian. Semua ada perencanaannya. Dan jika saat itu tiba, seseorang bahkan tak mungkin membendung kecenderungannya untuk bersikap heroik atas tuntutan yang dilandasi pertanggungjawaban seseorang pada Pemilik tongkat bisbol hari pembalasan.

Riang teringat betul apa yang pernah dikatakan Fidel padanya, bahwa “Perenungan teologis yang tidak membawa pada pergerakan akan membuat seseorang lumpuh!” dam dalam perjalanan mengantar Milea menuju rumah sakit itu, Riang cemburu atas aksi kedua yang dilakukan Fidel dan kawan-kawannya di Punclut. Aksi mereka merupakan pengejawantahan direct action yang pernah Fidel ucapkan.

Cerita Waluh mengenai aksi yang tidak Riang ikuti justru tidak menjadikan Riang untuk berhati-hati. Semangatnya justru malah menderu-deru. Ia ingin berada di tengah-tengah kaum yang mengidentifikasi dirinya dengan pembangkangan massal terhadap WTO pada tahun 1992 di Seatle. Ia ingin melawan trinitas WTO, IMF, World Bank yang ia belum mengetahui sepenuhnya apa. Ia ingin bersama Fidel yang bergerak karena keyakinannya teologisnya.. Ia ingin m\empraktikkan direct action: melakukan aneka pencurian yang sebenarnya merupakan tuntutan keadilan, menghancurkan bangunan dan instalasi yang dipersiapkan pengembang mata air Punclut dengan kunci Inggris, pipa besi yang ditemukan di lokasi keributan, atau melemparkan molotov setelah memastikan buruh pembangunan aman dikondisikan.

Riang mengingat benar apa yang Fidel ucapkan ketika membicarakan direct action dihadapan anak-anak muda yang setiap minggunya berkumpul di pondokan.
“Jika kalian sudah melampirkan berkali-kali surat pemberitahuan tetapi birokrasi tidak meresponnya, maka kalian berhak mengobrak-abrik lapak minuman keras, pelacuran dan judi yang berlangsung di hadapan kalian! Jika pemerintah hanya memberikan vonis empat tahun bagi koruptor yang memakan uang masyarakat ratusan, milyaran bahkan trilyunan rupiah maka kalian berhak menusuknya di pengadilan lalu menyeret koruptor itu untuk dibunuh di hadapan pengadilan rakyat! Jika kalian merasa kecamatan telah berlaku tidak adil meminta administrasi KTP hingga ratusan ribu rupiah, maka kalian berhak mencuri uang dengan jumlah yang sama di kantor kecamatan itu! Jika majikan kalian tidak mau membayar gaji yang telah menjadi hakmu, maka curi computer yang ada di kantormu!

“Apa yang kita bicarakan ini mengerikan,” seorang pemuda baik hati mengungkapkan. “Jangan-jangan nanti kalian mensahkan pemboman terhadap orang sipil tak berdosa untuk meraih tujuan!?”

“Tidak!” jawab Fidel. “Jika hal itu dilakukan maka itu merupakan tindakan yang salah kaprah! Keyakinanku menentang tegas hal itu! Tak satu agama pun yang membenarkan tindakan barbarian tersebut!”

“Tapi itu tindakan melawan hukum. Itu tindakan anarkis!”

“Aku hanya akan melawan hukum yang sudah terbeli! Ini bukan tindak anarkis dalam pengertian kamus. Direct action adalah sebuah kontrol individu yang hanya segelintir orang yang bisa melakukannya. Direct action buka tindakan chaotic! Direct action bukan tindakan mensahkan bangsat, keculasan, kejahilan orang-orang yang dijiwanya hanya terdapat keinginan mau menang sendiri, merasa benar di kepala sendiri! Ini adalah tindakan mata di balas mata yang tidak popular di kalangan kalangan Ghandiisme, atau pasifisme! Ini hanya tindakan pengambilan hak yang sudah dicuri individu, komunitas, bahkan penindasan yang dilakukan oleh aparatur negara! ”

“Tapi cara damai harus dilakukan!”

“Sudah kami lakukan!” tegas Fidel setelah mengutip kasus Punclut, Cibenda Cianjur Selatan, Ciamis dan lainnya. “Kami sudah melakukan cara yang disebut baik-baik itu! Media cetak sudah kami bombardir dengan surat pembaca! Kami sudah melayangkan surat pemberitahuan ke berbagai instansi untuk menyelesaikan penembakkan dua orang warga Punclut, intimidasi dan kebangsatan lain yang terjadi di sana! Tapi tidak ada tindakan! Kami sudah bosan! Kami tahu jika tindakan ini tidak mutlak membuat bangsat sadar, tapi direct action akan memberi efek jera, karena tindakan ini bukanlah cara pertama dan satu-satunya melainkan sebuah alternative cara yang bisa dilancarkan apabila tindakan pesuasif dipentalkan oleh kebebalan! Kami bukan pengikut Ghandiisme, kami bukan Pasifis!” dan jawaban yang disampaikan Fidel menjadi pembeda antara direct action dengan aksi teroris. Direct action hanyalah tindakan pengambilan hak ketika birokrasi, hukum dan negara menjelma telah menjadi zombie.

Riang membayangkan bagaimana Fidel mengancam ruang dewan ketika hal-hal yang baik dalam pengertian formal sudah tidak digubris. Riang membayangkan bagaimana Fidel dan kawan-kawannya mengancam dewan dengan konsep direct action, mengancam dewan dengan tindakan yang sebenarnya tak jauh dengan budaya vendetta dan ia, si anak gunung Merbabu itu menyadari betapa mengerikannya jika ia tidak melibatkan diri karena ia yakin pada suatu hari akan berhadapan dengan dengan Pemilik tongkat bisbol.

Riang kini sadar, ia tumbuh di dalam lingkungan yang didirikan bukan untuk bermain-main. Cerita Waluh terhadap peristiwa penghancuran penyerobotan tanah untuk instalasi air menyadarkannya bahwa Fidel tidak hanya membicarakan apa yang diyakininya, tetapi melaksanakannya dengan perencanaan yang matang.


KISAH PENGAMBILALIHAN hak atas air dan tanah untuk kepentingan warga Punclut yang diceritakan Waluh dalam perjalanan menuju rumah sakit pun tidak bisa digolongkan ke dalam sebuah tindakan sporadis minim strategi. Pada saat peristiwa Punclut terjadi, petani penggarap, warga desa beberapa daerah lain yang lahannya diserobot menggunakan puluhan truk datang berbondong.

Aparat keamanan yang dipusatkan di gedung dewan tak menyadari jika Fidel dan kawan-kawannya bergerak menjauhi pusat keramaian. Mereka menyerbu Punclut dan berhasil melakukan tindakan keras tanpa ceceran darah di tanah.

Fidel dan kawan-kawannya membumihancurkan super struktur pembuatan instalasi air. Inilah tindakan balasan setelah penembakkan dilancaran pihak pengelola dalam aksi Punclut yang pertama dan inilah yang membuat Riang malah makin tergila-gila.

Riang terlalu platonis. Riang ingin diceburkan ke dalam dunia yang berwarna itu. Ia tak sabar, namun saat ini ia masih membutuhkan rehat. Bagaimana pun juga, mengingat-ingat tamparan Milea membuat metal Riang lemah. Tamparan itu benar-benar memarut fisiknya.

READ MORE!

Mobilisasi (Bab 38)

Posted: by Divan Semesta in
0

Mundur ke belakang. Keluarga Sekarmadji merupakan salah satu warga desa yang dirugikan semenjak pendirian hatchery (lahan pembibitan udang) di Cianjur Selatan, sejak kuwu Daryo mengumumkan “Lahan ini bukan punya kita! Sudah ada kuitansinya! Punya orang luar!

Warga desa mengerti fungsi kuitansi tetapi pada siapa orang luar membeli tanah yang sudah mereka garap sejak tahun 1970-an.

Tak pernah ada yang memiliki tanah di pinggiran samudera Hindia itu. Mungkin VOC pernah mengklaim kepemilikannya, tapi VOC sudah lama hengkang, bahkan sejak kedudukannya di ganti Belanda yang kemudian pergi diusir Jepang, lalu Jepang terkena karma diusir sekutu, kemudian warga sekitar dan solidaritas kemanusiaan antar ummat manusia berjuang menggunakan senjata dan --melalui-- perundingan internasional demi mengusir agresi yang dilakukan tentara dari negeri Holand.

Perjalanan sejarah desa Cibenda itulah yang menjelaskan mengapa karuhun-karuhun desa yang usianya sudah melebihi delapan puluhan bersyahadat bahwa tidak ada tanah untuk hatchery. Mereka bersaksi bahwa tanah di Cibenda adalah tanah tak bertuan salian tanah milik Allah, kecuali tanah milik Allah!

Tanah kosong itu memang miliki Allah tetapi beberapa tahun setelah merdeka tanah itu menjadi milik negara yang kemudian oleh penduduk desa ditanami pandan laut: untuk disamak, ditanami padi: tentu saja untuk di makan, di tanami ketela dan ribuan pohon penghasil santan untuk dijadikan sebagai mata pencaharian..

Lalu, setelah berpuluh-puluh tahun penduduk desa melakukan usaha mandiri atas tanah milik negara –yang tidak diurus negara itu—tiba-tiba tanah-tanah di patok. Tanah itu bukan lagi dimiliki negara. Tanah menjadi milik swasta. Menjadi milik perorangan melalui kongkalingkong badan pertanahan tanpa bincang-bincan persetujuan dengan penduduk desa.

Penduduk desa tidak tahu, sebenarnya status tanah di Cibenda itu telah diselesaikan di kota hanya dalam hitungan hari, di saat yang bersamaan ketika mereka melihat sebuah papan pengumuman: tanah sengketa berdiri di tengah-tengah lahan pencaharian mereka. Itulah mengapa, ketika kuwu Daryo dan aparat desa yang juga ditunjuk menjadi fasilitator ganti rugi hektaran tanah mengizinkan truk-truk tronton datang, penduduk desa terperangah.

Truk yang bagi warga desa besarnya termasuk aujubillah itu membawa kayu, potongan besi penyangga dan semen. Seorang supir truk yang bersahabat dengan penduduk desa memberi bocoran, tempat itu akan dibangun apa. “Pabrik pengalenga udang!” katanya, tetapi buruh lain yang wajahnya sukar untuk dipercaya mengatakan, untuk pabrik terasi juga.

Ketika cor-coran beton ditumpahkan, warga Cibenda bertambah bingung “Yang di sana untuk untuk resort!” jelas Kuwu. “Itu bagus, bahkan nanti di daerah kita akan ada bianglala seperti di Ancol!” kata Kuwu berbelit-belit.

Mau bianglala atau gula biang, tak satupun warga desa yang peduli. Mereka tak memerlukan apa pun selain tanah yang sudah mereka garap turun temurun selama berpuluh tahun itu menjadi tempat garapan seperti semula, atau kalaupun tidak, penduduk desa Cibenda mendapatkan hak untuk diikutsertakan dalam perundingan nasib tanah di wilayah mereka.

Perundingan tak pernah dilakukan. Hal inilah yang membuat tensi darah penduduk desa naik.

“Aing geus teu tahan! saya sudah tidak tahan! Kumaha aing bisa hirup mun kieu! Bagaimana saya mau hidup kalau begini! Paeh geus aya nu nentukeun, mati sudah ada yang menentukan” cerocos Mang Uple siap berperang.

Keesokan harinya, Mang Uple yang sebelumnya tak begitu dianggap warga, memasuki areal pembangunan yang konon hendak dijadikan pabrik pengalengan. Golok di tangan kanannya, menjadikan Mang Uple yang bertubuh kecil menjadi besar menakutkan.

Mang Uple mengetahui, Mang Uple sadar jika hanya dengan golok di tangannya, pembangunan pabrik pengalengan tidak akan berhenti. Golok yang menghantam pondasi beton hingga beberapa kali menjadikan goloknya roheng dan tumpul, namun Mang Uple tidak kehilangan akal. Di dekat generator ia menancapkan goloknya pada batang pisang.

Mata Mang Uple menyala-nyala. Jerigen solar ia lemparkan! “Kaluar maraneh! Kaluar! Keluar semua! Keluar semua!” ia mengusir buruh bangunan.

Solar menempel di bedeng. Golok di cabut. Korek api menyala. Bedeng terbakar. Buruh-buruh bangunan yang semula hanya memperhatikan mendadak marah. Mereka kemudian berlari mengejar Mang Uple hingga sampai batas pagar pembangunan.

Mang Uple berhasil meloloskan diri. Tanggung jawab Mang Uple saat ia sendiri menyerahkan diri ke kator polisi, menaikan posisinya di hadapan warga desa dan juga menaikan daya tawar warga dihadapan pengelola hatchery. Dan karena Mang Uple pula, kasus kasus penyerobotan tanah di desa Cibenda lolos dan di dengar hingga kemana-mana meski media masa ragu-ragu memberitahukannya. Di Cibenda, Mang Uple kini menjadi ikon yang melebihi Ernesto Che Guvara, karena ikon ini terdiri dari darah dan daging yang hidup di tengah-tengah warga desa.

Suasana panas yang mengasyikan itulah yang mengundang beberapa orang untuk mendatangi desa yang juga merupakan tempat kelahiran Sekarmadji. Kasus yang terjadi di desa Cibenda sebenarnya hanya satu kasus dari kasus lainnya yang bertebaran namun dipencilkan. Waluh segera menggali informasi di Cibenda kemudian bersama beberapa orang lainnya mengorganisasikan kasus-kasus di desa-desa lainnya, termasuk yang terjadi di wilayah Punclut.

Membela bagi orang semisal Waluh dan yang lainnya memang merupakan kengerian yang mengasyikan. Kegemaran mendekati bahaya memang ‘penyakit kejiwaan’, namun tak apalah jika penyakit kejiwaan tersebut di salurkan pada hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan.

“Jangan sinis begitu!” kata seorang pejabat. ”Pemanfaatan lahan tidur di Punclut bukan anti kemanusiaan!” katanya.

”Benar,” Waluh memotong, ”pemanfaatan itu tidak anti kemanusiaan, tetapi jika pemanfaatannya melibatkan warga yang sudah menggarap turun temurun di sana,” ujar Waluh tenang.

”Pengelolaan air terjun oleh pihak swasta akan menghasilkan apa yang kita kenal sebagai trickle down effect!” pejabat mantan lulusan Fakultas Ekonomi Unversitas Indonesia, mengaum menggunakan salah satu komponen di dalam teori ekonomi pasar bebas. “Lihatlah villa-villa yang bertebaran di sekitar air terjun,” kata dia. ”Penduduk mendapat rezeki dari kerja menjaga villa-villa di sana, pikirlah yang sehat, belum lagi ...”

”Ya!” Fidel memotong ucapan si pejabat dengan sinis. ”Trickle down effect adalah upah yang didapat penjaga villa di kawasan Punclut dari kapitalis pemilik tambang! Ya! Trickle down effect adalah secuil upah yang di dapat penduduk setempat, usai memperbaiki pipa sumber air, usai pemodal di Jakarta memprivatisasi kepemilikan sumber air Punclut demi pendirian pabrik air mineral, yang akan mematikan akses penduduk untuk mengkonsumsi air langsung dari mata airnya! Ya! Trickle down effect adalah upah minimum regional yang didapat jutaan buruh setelah bekerja habis-habisan, sementara dari memerkosa sumber daya alam pemilik, pejabat dan kroninya terbiasa menghabiskan beratus kali lipat upah minimum regional per/bulan hanya untuk membeli Virtue! Ya! Trickle down effect merupakan alat pembenaran keserakahan yang dilegalisasikan oleh negara! Trickle down effect adalah pembayaran atas tindakan amoral terhadap minyak, lng, batubara, air terjun, mata air, dan segala sumber daya alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dan jika trickle down effect dianggap sebagai upah, maka penjaga, buruh bangunan, buruh tani adalah gadis yang dilacurkan, sementara kaum kapitalis dan sistem yang menaungi sistem tersebut adalah mucikarinya!”

Di mana-mana aktivis bertaruh di meja judi. Nyawa ditaruhkan dengan pembebasan tanah ala Mao di iringi lagu this song of freedom Redemption Song dan untuk pertaruhan ini, Riang tidak pernah dilibatkan. Anak gunung Merbabu itu benar-benar dilokalisir dari koordinasi yang sejak kedatangan aktivis-aktivis straight edge, skin head, kolektif anarki, mahasiswa yang mengadvokasi tanah warga, dan beberapa kolektif lainnya yang tergabung dalam gerakan bawah tanah Bandung di rumah kayu Fidel.

Riang mungkin menganggap dianaktirikan, tetapi Fidel dan kawan-kawannya tidak menganggap demikian. Semua ada perencanaannya. Dan jika saat itu tiba, seseorang bahkan tak mungkin membendung kecenderungannya untuk bersikap heroik atas tuntutan yang dilandasi pertanggungjawaban seseorang pada Pemilik tongkat bisbol hari pembalasan.

Riang teringat betul apa yang pernah dikatakan Fidel padanya, bahwa “Perenungan teologis yang tidak membawa pada pergerakan akan membuat seseorang lumpuh!” dam dalam perjalanan mengantar Milea menuju rumah sakit itu, Riang cemburu atas aksi kedua yang dilakukan Fidel dan kawan-kawannya di Punclut. Aksi mereka merupakan pengejawantahan direct action yang pernah Fidel ucapkan.

Cerita Waluh mengenai aksi yang tidak Riang ikuti justru tidak menjadikan Riang untuk berhati-hati. Semangatnya justru malah menderu-deru. Ia ingin berada di tengah-tengah kaum yang mengidentifikasi dirinya dengan pembangkangan massal terhadap WTO pada tahun 1992 di Seatle. Ia ingin melawan trinitas WTO, IMF, World Bank yang ia belum mengetahui sepenuhnya apa. Ia ingin bersama Fidel yang bergerak karena keyakinannya teologisnya.. Ia ingin m\empraktikkan direct action: melakukan aneka pencurian yang sebenarnya merupakan tuntutan keadilan, menghancurkan bangunan dan instalasi yang dipersiapkan pengembang mata air Punclut dengan kunci Inggris, pipa besi yang ditemukan di lokasi keributan, atau melemparkan molotov setelah memastikan buruh pembangunan aman dikondisikan.

Riang mengingat benar apa yang Fidel ucapkan ketika membicarakan direct action dihadapan anak-anak muda yang setiap minggunya berkumpul di pondokan.
“Jika kalian sudah melampirkan berkali-kali surat pemberitahuan tetapi birokrasi tidak meresponnya, maka kalian berhak mengobrak-abrik lapak minuman keras, pelacuran dan judi yang berlangsung di hadapan kalian! Jika pemerintah hanya memberikan vonis empat tahun bagi koruptor yang memakan uang masyarakat ratusan, milyaran bahkan trilyunan rupiah maka kalian berhak menusuknya di pengadilan lalu menyeret koruptor itu untuk dibunuh di hadapan pengadilan rakyat! Jika kalian merasa kecamatan telah berlaku tidak adil meminta administrasi KTP hingga ratusan ribu rupiah, maka kalian berhak mencuri uang dengan jumlah yang sama di kantor kecamatan itu! Jika majikan kalian tidak mau membayar gaji yang telah menjadi hakmu, maka curi computer yang ada di kantormu!

“Apa yang kita bicarakan ini mengerikan,” seorang pemuda baik hati mengungkapkan. “Jangan-jangan nanti kalian mensahkan pemboman terhadap orang sipil tak berdosa untuk meraih tujuan!?”

“Tidak!” jawab Fidel. “Jika hal itu dilakukan maka itu merupakan tindakan yang salah kaprah! Keyakinanku menentang tegas hal itu! Tak satu agama pun yang membenarkan tindakan barbarian tersebut!”

“Tapi itu tindakan melawan hukum. Itu tindakan anarkis!”

“Aku hanya akan melawan hukum yang sudah terbeli! Ini bukan tindak anarkis dalam pengertian kamus. Direct action adalah sebuah kontrol individu yang hanya segelintir orang yang bisa melakukannya. Direct action buka tindakan chaotic! Direct action bukan tindakan mensahkan bangsat, keculasan, kejahilan orang-orang yang dijiwanya hanya terdapat keinginan mau menang sendiri, merasa benar di kepala sendiri! Ini adalah tindakan mata di balas mata yang tidak popular di kalangan kalangan Ghandiisme, atau pasifisme! Ini hanya tindakan pengambilan hak yang sudah dicuri individu, komunitas, bahkan penindasan yang dilakukan oleh aparatur negara! ”

“Tapi cara damai harus dilakukan!”

“Sudah kami lakukan!” tegas Fidel setelah mengutip kasus Punclut, Cibenda Cianjur Selatan, Ciamis dan lainnya. “Kami sudah melakukan cara yang disebut baik-baik itu! Media cetak sudah kami bombardir dengan surat pembaca! Kami sudah melayangkan surat pemberitahuan ke berbagai instansi untuk menyelesaikan penembakkan dua orang warga Punclut, intimidasi dan kebangsatan lain yang terjadi di sana! Tapi tidak ada tindakan! Kami sudah bosan! Kami tahu jika tindakan ini tidak mutlak membuat bangsat sadar, tapi direct action akan memberi efek jera, karena tindakan ini bukanlah cara pertama dan satu-satunya melainkan sebuah alternative cara yang bisa dilancarkan apabila tindakan pesuasif dipentalkan oleh kebebalan! Kami bukan pengikut Ghandiisme, kami bukan Pasifis!” dan jawaban yang disampaikan Fidel menjadi pembeda antara direct action dengan aksi teroris. Direct action hanyalah tindakan pengambilan hak ketika birokrasi, hukum dan negara menjelma telah menjadi zombie.

Riang membayangkan bagaimana Fidel mengancam ruang dewan ketika hal-hal yang baik dalam pengertian formal sudah tidak digubris. Riang membayangkan bagaimana Fidel dan kawan-kawannya mengancam dewan dengan konsep direct action, mengancam dewan dengan tindakan yang sebenarnya tak jauh dengan budaya vendetta dan ia, si anak gunung Merbabu itu menyadari betapa mengerikannya jika ia tidak melibatkan diri karena ia yakin pada suatu hari akan berhadapan dengan dengan Pemilik tongkat bisbol.

Riang kini sadar, ia tumbuh di dalam lingkungan yang didirikan bukan untuk bermain-main. Cerita Waluh terhadap peristiwa penghancuran penyerobotan tanah untuk instalasi air menyadarkannya bahwa Fidel tidak hanya membicarakan apa yang diyakininya, tetapi melaksanakannya dengan perencanaan yang matang.


KISAH PENGAMBILALIHAN hak atas air dan tanah untuk kepentingan warga Punclut yang diceritakan Waluh dalam perjalanan menuju rumah sakit pun tidak bisa digolongkan ke dalam sebuah tindakan sporadis minim strategi. Pada saat peristiwa Punclut terjadi, petani penggarap, warga desa beberapa daerah lain yang lahannya diserobot menggunakan puluhan truk datang berbondong.

Aparat keamanan yang dipusatkan di gedung dewan tak menyadari jika Fidel dan kawan-kawannya bergerak menjauhi pusat keramaian. Mereka menyerbu Punclut dan berhasil melakukan tindakan keras tanpa ceceran darah di tanah.

Fidel dan kawan-kawannya membumihancurkan super struktur pembuatan instalasi air. Inilah tindakan balasan setelah penembakkan dilancaran pihak pengelola dalam aksi Punclut yang pertama dan inilah yang membuat Riang malah makin tergila-gila.

Riang terlalu platonis. Riang ingin diceburkan ke dalam dunia yang berwarna itu. Ia tak sabar, namun saat ini ia masih membutuhkan rehat. Bagaimana pun juga, mengingat-ingat tamparan Milea membuat metal Riang lemah. Tamparan itu benar-benar memarut fisiknya.

READ MORE!

Plak (Bab 36)

Posted: Jumat, 04 September 2009 by Divan Semesta in
0

MILEA HILANG. Sudah beberapa hari ini ia meminta izin tak masuk kerja. Dr Nurlaila tak mengetahuinya. Seisi pondokkan tak tahu apa yang terjadi. Riang takut. Seisi pondokkan takut. Rumah Milea sepi. Tetangganya pun tak bisa memberikan informasi. Fidel mengecek air terjun. Milea tak ada di sana. Seluruh pondokkan khawatir. Hampir semua orang dewasa di pondokan tahu, bahwa sejak kematian orangtuanya ia terperangkap dalam tubuh orang dewasa dan kematian Pepei menjadikan keadaan ini bertambah sulit.

Ada kemungkinan lain. Fidel mengemas tenda dan sleeping bag, menyerahkannya pada Riang. “Pergilah ke Ranca Upas,” kata Fidel. “Esok kami menyusulmu.”

Fidel tidak bisa meninggalkan aksi yang menjadi tanggungjawabnya. Hari ini seluruh anggota SNB dan beberapa veteran bentrokan berdarah kasus air Punclut berkumpul di pondokan. Informasi sudah tersebar. Mereka bermaksud menampakkan reaksi yang lebih keras. Ini berarti bahwa patok-patok tanah harus di cabut dan mereka berharap aksi ini menjadi aksi terakhir hingga pemerintah dan media massa mau mengangkat masalah penyerobotan sumber air yang disertai intimidasi fisik menjadi masalah nasional.

Riang tidak pernah diikutsertakan aksi sebelum dan setelah aksi pemukulan di Punclut. Beberapa orang, terutama Fidel dan orang di pondokan memiliki pertimbangan sendiri mengapa Riang tidak ikut disertakan dalam aksi. Karenanya, mereka tidak menganggap Riang kehilangan solidaritas terlebih dalam aksi ini Riang dibebankan tugas untuk mencari Milea. Riang pun melenggang ketika suasana pondokkan mulai tampak hiruk pikuk..

SEPANJANG PERJALANAN sejak terminal terakhir hingga Kawah Putih dan pemandian air panas, pepohonan meranggas. Batangnya berwarna hitam. Ujung-ujung dahan yang paling tinggi kecoklatan. Daun-daunnya luruh terserak seperti peminta-minta berbaju kumal di pinggir jalan. Tanda-tanda kebakaran reda di penangkaran rusa Ranca Upas. Usai Riang membayar tiket masuk petugas jagawana menunjukkan lokasi mobil fiat hitam yang menurutnya sudah berada di tempat parkir sejak dua hari yang lalu. “Pemiliknya, tadi pagi memberi makan rusa,” ungkap jagawana. Riang cukup lega mendapatkan kepastian itu. Ia pun beranjak masuk. Sekitar satu kilometer dari pos penjagaan ia menemukan fiat hitam Milea.

Milea tidak ada di mobilnya. Ia kemudian menaiki tempat pengamatan di mana wisatawan leluasa melihat penangkaran hingga batas pagarnya yang paling jauh. Puluhan gelondongan kayu, menjadi tempat berpijak. Atap tempat pengamatan rusa ini terbuat dari ijuk hitam yang lembab ditumbuhi lumut. Terlihat dari sana, pagar penangkaran dan kumpulanan rusa yang bertingkah malas. Tak satu pun dari puluhan rusa itu yang meloncat-loncat seperti dalam bayangan anak-anak. Mereka berdesak-desakan saling menghangatkan.

Di sana Riang tak melihat tanda-tanda keberadaan Milea. Ia turun dari tempat pengamatan, menyinggahi warung satu persatu. Milea tetap tak dia temukan. Riang menunggu cukup lama. Ia mulai khawatir.

Menjelang sore, udara di tempat itu mendadak menjadi dingin. Atap bumi mengisyaratkan mendung. Kekhawatiran Riang bertambah. Mendung meng-arang. Cahaya benderang keluar dari balik awan. Beberapa detik kemudian suara halilintar terdengar.

Milea…Milea… dengung Riang.

Mendung memblok senja. Cuaca kelam dan warna menghitam.

Pletak! …
Pletak! …
Pletak! …

Riang mengaduh. Bongkahan es terjun dari lngit. Bunyi suara keras teredam dempul. Kap dan atap fiat hitam Milea terlihat penyok dari kejauhan.

Milea… berilah pertanda.

Riang berlari ke tempat pengamatan. Ia memastikan. Ia berteriak. Tak ada jawaban. Gema di telan cuaca buruk. Suara di makan gemuruh batu. Riang merasa hilang sandaran. Ia membutuhkan sesuatu.

Ya Tuhan lindungilah Milea… Ya Tuhan….Riang bersujud.

Ya Tuhan berilah aku kesempatan menyembahmu…. Berilah keajaiban agar hatiku tidak kotor menafikann-Mu. Ya Tuhan penguasa alam, penguasa amarah dan badai, penguasa kebaikan dan murka, lindungilah Milea dari badaimu.

Riang bersujud. Ia tak mempedulikan bongkahan batu es yang mendarat di punggungnya. Riang terus bersujud di hamparan rumput.

Lelaki tua penjaga warung melihatnya dari kejauhan. Ia mengambil payung lalu belari dan menyeret Riang. “Setelah hujan es reda, Abah bantu mencari kawanmu Nak!” lelaki tua itu membujuknya.

Tetapi, kapan hujan es ini akan berhenti? Setengah jam berlalu. Empat puluh lima menit…satu jam… satu setengah jam… dua jam…. Hujan tak juga reda.

Riang harus berusaha. Tak ada doa yang tak diiringi kerja. Ia harus berusaha. Pak tua meminjaminya ponco, senter dan payungnya. Riang menerobos hujan, namun baru beberapa langkah ia berjalan Riang mendengar sayup teriakan.

“Tunggu Nak, aku ikut!”
Riang berbalik arah, mengambil bilah kayu bernomor yang biasa digunakan Pak Tuan untuk menutup warung. Pak tua mencegah. “Tak perlu, teu nanaon, tidak apa-apa.” katanya. “Kudu buburu, harus cepat-cepat.” Ucapan pak tua mengisyaratkan keyakinan yang kuat. “Lekas pergi Nak! Adikmu tak bisa menunggu!”

Riang berbohong saat Pak Tua menanyakan status Milea. Mereka kemudian berjalan menembus hujan dan angin kencang, mengelilingi pagar penangkaran.

Setengah jam kemudian hujan es hilang berganti hujan yang mencopot tulang. Mereka memasuki rawa. Kaki kedua orang itu semakin sulit digerakan. Setiap melangkah setiap itu pula Riang memforsir tenaga keluarkan kakinya dari benaman Lumpur. Tak berapa lama kemudian sandal Riang putus, amblas ke dalam lumpur. Bersusah payah mereka keluar dari rawa. Hujan dan lumpur tak lagi menyulitkan namun berjalan di dalam hutan bukannya tanpa halangan. Jalan setapak berubah menjadi jalan air. Beberapa kali kaki mereka tergelincir.

Di dalam hutan Riang mulai merasa lelah. Sudah tiga jam berlalu. Langkah adalah doa yang berjalan. Riang tak mau kalah. Tetapi, tanda-tanda tak juga tampak. Pak tua memandangnya. Riang merasa kasihan. Ia mengerti. Mereka membutuhkan tambahan bantuan. Kedua orang itu pun beranjak menuruni bukit.

Saat-saat menuju pos jagawana itu, hujan menembus dedaunan. Riang tak bisa membayangkan bagaimana hujan berlangsung di tempat terbuka. Hutan lebat ini tak mampu meredam serbuan air. Malam kemudian datang dan menjadikan jarak pandang berkurang, sementara senter yang mereka pegang tidak bisa menembus jarak lebih dari dua meter. Di luar itu kegelapan paripurna meraja. Adakah kegelapan merupakan perlambang? Riang mengingat perjalanannya di Kopeng saat menemukan kertas koran yang memberitakan kematian Pepei. Kejadian buruk itu menjadikan pikiran Riang tak karuan. Apakah ini pertanda? Riang mengusir jauh-jauh pikiran negative dalam benaknya. Ia membuang pikiran bangsat itu menuju pinggiran jalan setapak, membuangnya ke dalam semak-semak. Riang terus berjalan dan …….. bruk!............... Pak tua ambruk. Sebuah benda mengait kedua kakinya. Riang mengarahkan senter ke bawah, dan ia pun … berteriak.

“Pak … adikku…!”

Posisi tubuh Milea telungkup. Riang mengambil tubuh itu, dam membersihkan wajahnya.

“Milea…..?” Riang berbisik.

Detak jantung Milea melemah. Badannya membiru.

Riang mengenali gejala itu. Milea terkena hipotermia.

Keadaan darurat tak membutuhkan banyak tanya. Pak tua mengerti. Ia segera membantu menempatkan Milea ke punggung Riang. Pak tua melangkah cepat, tetapi Riang tak bisa mengikuti. Jalan setapak terlalu licin. Mereka melewati jembatan. Air kali terlihat mengepul. Melewati jembatan Riang memantapkan langkahnya. Ia berlari melawan waktu. Seratus meter dari jembatan sebuah telaga tampak. Bau belerang tercium di sela hujan.

“Telaga air panas?!” Riang berteriak.

Pak tua mengangguk.

“Ada pemandiaannya?”

Hujan masih mengucur deras. Riang mengulangi beberapa kali pertanyaannya. Pak Tua mengerti. Ia berlari menuju sebuah bangunan. Pintu pemandian terkunci. Kaki Pak Tua melayang. Pintu pun dobrak berderak. Di dalam pemandian tak ada penerangan. Cahaya senter menyoroti bak yang kusam dan dinding yang berwarna kuning. Riang langsung menceburkan diri. Ia memangku badan Milea, dan memeluknya erat.

Riang meminta tolong pada Pak Tua untuk melanjutkan perjalanan ke pos jawagana. Mereka membutuhkan bantuan. Riang kembali berpikir cepat. Riang memberi instruksi “Di tas saya ada tenda! Tolong Bapak dirikan tenda itu di dalam warung dan sediakan minuman serta makanan hangat! Jangan lupa ambil kantung plastik besar yang bisa Bapak bawa! Air di sini harus dimasukan ke dalam tenda!” katanya.

Pak Tua tak tersinggung, “Itu saja?” jawaban yang keluar dari mulutnya.

“Ya!”

Ketika Pak Tua pergi, Riang menyenteri wajah Milea, kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding bak. Riang meletakan wajah Milea di dadanya. Tanah yang melekat di dahi Milea, ia seka. Pipi yang semula membiru, mulai terlihat merah. Rambut Milea yang panjang mengambang di petmukaan air. Ya Tuhan! Riang benar-benar takut kehilangannya. Ia menciumi pipi Milea. Mencium hidungnya, mata, bibirnya. Riang takut kehilangan Milea.

Ya Tuhan, dengan nyala-Mu, hangatkanlah tubuh Milea.

Ya Tuhan. Hanya pada-Mu aku menggantungkan harapan.

Ya Tuhan buatlah Milea siuman.

Bibir Milea yang semula mengatup terbuka. Merekah. Indah.

“Kaa… ka Pepei…” Milea mendesah.

Berbahagialah Pepei yang sedemikian dirindukan, yang sedemikian diharapkan. Berbahagiah Pepei.

Milea terus menerus mengerang.

HUJAN PERLAHAN REDA. Dari kejauhan kecipak langkah Pak Tua terdengar. Tak ada langkah lain yang menyertainya.

“Tak ada jagawana, Nak! Mereka pergi!” jelas Pak tua terengah.

Di saat-saat genting Riang dilatih agar tak merasa butuh terhadap penyesalan. Ia melakukan apa yang bisa ia lakukan.

“Kantung plastiknya ada Pak?” tanyanya.

“Hanya ada tiga. Hendak diapakan, Nak!?”

“Masukkan air panas kedalamnya,” Riang menunjuk pancuran.

Derasnya aliran air membuat ketiga kantung plastik besar itu cepat terisi. Pak tua mengikat dan membawa satu kantung menuju warung, sementara Riang keluar dari bak, dan segera memfokuskan diri pada nafas serta langkah kakinya. Riang berlari.

Memasuki warung Riang merasa sesak, “Di mana tendanya?” tanya Riang.

“Ada di kamar.”

Tenda masih teronggok di lantai. Pak tua meminta maaf. Ia tidak mengerti cara mendirikannya.

Luna lantas dibaringkan di atas papan. Riang segera membuka ikatan dan menepiskan rangka tenda. Dengan satu gerakan, tenda tiba-tiba berdiri membentuk doom secara ajaib, membuat Pak Tua takjub. Riang langsung menghamparkan kantung tidur di dalamnya. Ia meminta Pak Tua untuk memasukan plastik berisi air panas ke dalam tenda.

Riang membopong Milea. Saat membuka bajunya, Pak tua paham apa yang dikerjakan Riang. Ia mundur, mengambil kantung air yang tersisa.

Riang menutup tenda. Nadinya berdenyar hebat. Desing jantungnya melebihi rentetan AK-47 senjata khas pejuang Afghanistan. Ia lantas mengangkat kaus Milea yang basah, menahan nafas.

Ya Tuhan jangan Kau biarkan kejahatan menguasai diriku. Riang membuka kaus dalam Milea. Riang silap. Untuk pertama kalinya ia melihat dada wanita. Pikiran-pikiran aneh melintas.

Tuhan, ampuni diriku. Jauhkanlah kejahatan. Jauhkanlah.

Riang mempercepat apa yang memang harus dilakukan. Ia tak mau menghayati tubuh Milea. Ia menolak dan menganggapnya menggarap patung.

Milea adalah patung. Patung adalah Milea. Riang utarakan mantra.

Saat membuka kancing celana jeans Milea, Riang mengalihkan pandangannya. Ia mempercepat apa yang ia lakukan lalu menjalani tahapan pertolongan selanjutnya: memasukan Milea ke dalam kantung tidur. Riang merebahkan diri di samping Milea sembari merangkul pinggangnya. Dua tubuh merapat. Rekat.

Tak berapa lama, satu kantung plastik berisi air panas lainnya sampai. Saat Pak Tua hendak kembali berlari, Riang tiba-tiba mengingat mobil Milea. Ia berteriak. “Pak… tolong carikan kunci mobil di celana jeans adik saya.”

Pak Tua tak menemukan kunci yang diminta. Ia kembali mengambil plastik berisi air panas yang terakhir. Setelah menyelesaikan apa yang Riang pinta, Pak Tua keluar dari warungnya. Ia menanti mobil untuk memberi pertolongan. Hingga tengah malam tiba tak ada satupun derum mobil yang terdengar sampai di warung.

Hanya ada dua orang di warung malam itu. Riang menyaksikan bagaimana Milea masih memanggil Pepei dalam igauannya. Setiap kali Milea mengigau saat itu pula Riang mendekapnya. Igauan Milea baru hilang ketika subuh datang.

Jantung Milea mulai berdetak seperti biasa. Fase kritis mereka lewati. Riang merasa lega. Ia pun mengantuk, tertidur dan bermimpi: tubuhnya terperosok ke dalam jurang tak berdasar. Perasaan tegang mengganggunya. Riang terbangun, dan terkejut merasakan geliat yang luar biasa di tubuhnya.

Milea siuman. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan siapa yang tengah menghimpit tubuhnya. Tangan Riang lantas menyusup. Ia meraba-raba kantung tidur, lalu membuka risletingnya pada bagian dalamnya. Milea sadar apa yang terjadi. Ia tiba-tiba berteriak tertahan. Milea bangkit dan berbalik. Ia tak sadar jika tubuhnya polos, tak terhalang oleh sehelai benang pun.

Wajah Milea terlihat pias menyaksikan tubuh telanjang di hadapannya. Riang malu! Ia segera menutup tubuhnya menggunakan kantung tidur..

Milea tak percaya. Ia marah dan hempasan itu pun datang.

Plak!!!

Milea menutup wajahnya..

“Aku tak menyangka!” Ia terisak.

Riang mengambil celananya. Ia mengambil tangan Milea.

Milea menepiskan tangan Riang, kasar, “Mana pakaianku!?” teriaknya histeris.

Riang menunjuk.

Milea mengenakan baju dan celana yang basah.

“Masih basah. Nanti Kau sakit,” Riang membujuk. “Gunakan saja baju dan celanaku,” katanya.

Milea hilang keseimbangan. “K-K-Kau…Kau…”Emosinya tertahan.

“Aku menemukanmu tak sadarkan,” jelas Riang.

“Kau memanfaatkan keadaan!!!” suara Milea terdengar serak.

“Dengar dulu! Tolong Milea… tolong dengar penjelasanku!”

“Tidak! Tidak ada yang perlu di jelaskan!” Amarahnya di telan tangisan. Dengan tubuh yang lemas, Milea berjalan ke pintu …dan

Bruk!!!

“Milea kau salah sangka.” Lirih Riang.

Milea tak mendengar penjelasan Riang. Ia pingsan.

Riang kembali membaringkan Milea di dalam tenda. Kening wanita itu panas. Milea panas. Ia harus dilarikan ke rumah sakit. Riang segera keluar dari warung. Ia tak menemukan Pak Tua. Riang kembali masuk ke dalam warung, menuju dapur, mengambil dua bungkus mie, menggoreng dua buah telur untuk sarapan.

Hingga makanan itu dingin Milea tak menjamahnya. Wanita itu masih tak sadarkan diri.
Situasi ini berbahaya. Riang lantas meninggalkan Milea, mencari kunci ke dalam hutan, menuju tempat Milea rubuh. Ia tak menemukan. Kunci teronggok di dalam bak pemandian air panas. Riang menemukannya tak berapa lama kemudian, lalu berlari kencang mecari Pak Tua hingga pos jagawana.

Riang menemukan Pak Tua terkantuk-kantuk di pinggir jalan, tak jauh dari pos jagawana. “Bapak bisa mengendarai mobil?” tanya Riang.

“Bisa juga motor, Nak!”

“Mana motornya?”

“Tidak punya, Nak.” Pak Tua tak hendak melucu. Ia hanya menjawab.

Hingga pagi ini ia belum menemukan satu mobil pun yang melintas sejak kemarin malam. “Sebentar lagi penjaga pos datang,” ujar Pak Tua berusaha menenangkan Riang.

Ada kepastian yang membuat hati Riang tenang. Riang berbalik ke warung. Dalam perjalanan itu ia mendengar bunyi motor trail yang ia kenal. Riang bersyukur. Waluh datang pada saat yang diperlukan.

JAM SEMBILAN SIANG ITU, Milea sudah mendapat perawatan. Waluh kembali ke Ranca Upas mengambil motornya yang tertinggal. Riang bersikeras untuk mengucapkan terima kasih pada Pak Tua, tetapi Waluh menolaknya, “Biar kusampaikan saja!” ujarnya tegas.

Waluh kemudian mengingatkan Riang pada situasi tak menentu yang ia ceritakan dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia bukan saja menyarankan, tetapi memerintahkan Riang untuk menjauhi pondokkan.

“Pergilah ke rumah kayu Fidel,” katanya. “Istirahatlah dulu! Siang ini, aku, Bentar dan Eva menyusul.”

Riang tiba-tiba teringat Fidel.

Bukankah Fidel berjanji akan menjemputnya di Ranca Upas?

READ MORE!

Liburan yang Tak Mungkin Tiba (Bab 34)

Posted: by Divan Semesta in
0

Begadang membuat tubuh Fred limbung. Tidur hanya dua jam membuat jalannya, seperti orang yang baru menenggak minuman keras. Fred kecapaian menyusun laporan yang dipesan. Laporan itu seharusnya ia kerjakan bertahap, ia cicil sedikit demi sedikit, tapi kebiasaan menjadikan laporan itu menumpuk.

Sampai di sebuah rumah, Fred menekan bel dua kali. Seorang berseragam biru, kamera cctv mengintipnya dari atas gerbang. “Mari masuk Mas.” Lelaki berseragam biru, mengenal Fred baik “Bapak ada di dalam,” katanya.

Gerbang terbuka. Fred masuk. Ia diantar pemuda berseragam biru berbadan tegap. Ia melewati pintu yang dipasang alat deteksi. Fred kemudian berjalan di ruangan besar yang menyerupai lobi hotel bebintang lima. Dua tangga mengulir sementara lidah karpetnya menjulur berwarna hijau. Sampai di lantai, lidah itu menyebar memenuhi seluruh ruangan. Lukisan-lukisan menempel pada dinding ruangan. Guci yang berasal dari perahu penjelajah China yang karam di abad 12 terlihat terawat. Kamera menggantung hampir di setiap sudut ruang.

Fred merasa tak nyaman saat mendengar salakan anjing. Di masa kecilnya kuping kanan dia pernah digigit anjing. Setengah kuping yang tersisa itu mewajibkan Fred untuk memanjangkan rambutnya. Fred terus berjalan mendekati suara yang membuatnya tak nyaman. Saat ia melihat dua ekor anjing berada dalam jeruji pagar yang memisahkan rumah dan lahan tempat latihan, Fred memberanikan diri keluar rumah. Lelaki yang disebut bapak oleh penjaga meminta dia untuk menemuinya di tepi luar pagar.

Di bawah payung rumbia, lelaki paruh baya yang akan Fred temui terlihat santai. Kaus kutang tidak mampu menekan gelambir lemak pada perutnya

“Kemari!” bapak berkacamata hitam, yang mulutnya di penuhi cerutu yang gemuk itu memanggil.

Fred ragu. Seekor anjing memandangnya lekat. Kekuatan tenaga ke dua anjing itu diekspresikan oleh dua kaki depan yang terangkat hingga tigapuluh centimeter dari tanah. Garis lekukan otot dua anjing tersebut tampak di sekujur badannya. Di kepalanya, otot pipi terlihat kencang dan kuat. Otot kepala sekitar telinga dan kepala bagian atas tampak rata, sementara otot pada paha belakang, kaki depan serta kepala ke dua anjing itu terlihat besar. Ekor kedua anjing itu mengibas liar.

Fred mengetahui anjing jenis apa yang menggonggonginya. Gigi kedua anjing itu setajam belati. Cengkraman taringnya tidak bisa dibuka, selain menggunakan pengungkit. Taringnya bahkan mampu membuat ban motor besar pecah. Kedua anjing pitbull itu mampu mematahkan leher seekor sapi, mematikan herder, membunuh babi hutan dan manusia dengan kondisi yang menggenaskan. Yang paling menakutkan adalah, anjing pitbull itu memiliki kemampuan melompati pagar setinggi setengah meter tanpa ancang-ancang yang berarti.

Fred memang berhak khawatir. Ia orang baru bagi si anjing. Ia tak bisa membayangkan jika kedua anjing itu berlari melompati pagar lalu membuat kuping kirinya rebing. Fred bukan saja tak mau kehilangan kuping. Fred tak mau mati tersia karena lehernya di pitek rahang anjing.

Sang majikan memberi kode pada penjaga untuk menenangkan kedua pitbull. Penjaga lelaki yang jauh-jauh hari Riang cari itu segera menggiring pitbull masuk ke dalam kandang. Kedua anjing itu menyalak ke arah Fred kemudian pergi mengibaskan otot ekornya yang liat.

SEJAK berada di terminal Dago, Kardi menunggu cukup lama. Kepergiannya dari terminal Dago ia anggap sebagai sebuah anugerah. Dalam pikirannya semula, menjadi penjaga anjing bukan sesuatu yang ia angankan, dan tak dapat ia banggakan. Tetapi, anjing yang mana, dan anjing yang seperti apa? Jika menjadi penjaga anjing nenek-nenek atau menjadi pengantar anjing tante-tante genit macam cihuahua, atau menjaga anjing yang jika dilempar sepatu hak tinggi sudah mengkeret, menguik-uik macam pudle, mungkin Kardi boleh kecewa.

Di tempat ini ia memperoleh kepercayaan menjaga anjing yang semula ia recehkan. Dua pitbull itu benar-benar membuatnya bangga. Kardi merasa dipercaya.

Saat ini, Kardi, mulai menyadari posisinya. Ia hanyalah preman biasa. Seorang pengacau liar yang hanya dianggap sebelah mata. Ia menyadari bahwa kekuasaan yang benar sebenar-benarnya dapat ia temukan pada diri sang Bapak. Otak, kekayaan, kemampuan mengorganisasi orang-orang, dan tentu saja kelihaian sang Bapak dalam berpolitik yang licik merupakan syarat tinggi dalam meraih kekuasaan.

Kardi mulai berkaca. Keinginan itu membuatnya merelakan diri untuk mengabdi. Kardi ingin yang lebih tinggi. Ia ingin yang membukit, menggunung, ia ingin memancang hingga ke langit-langit. Berjalan perlahan pun tak apa. Menjaga serta melatih pitbull merupakan awalan yang sempurna. Kardi cukup puas dan bangga.

DUA PITBUL yang kembali ke dalam kandang menjadikan Fred merasa aman untuk menyerahkan catatannya. Ia melihat kertas yang malam kemarin ia kerjakan dengan susah payah, dilihat si Bapak pun tidak. Lelaki paruh baya itu malah meminta Fred untuk mencoba cerutunya. Fred tak terbiasa, tapi ia mengambilnya.

“Kau kelihatan capai?!” Sang Bapak membujuknya. “Liburlah.” Cerutu terbakar. Pipi yang gemuk kempong.

Fred tak terbiasa menghisap cerutu. Ketebalan dan harga cerutu tak pernah membuatnya cocok. Fred mencoba tertawa, “Entah sejak kapan, aku tak berlibur,” katanya sambil terbatuk.

“Itulah…” Batuk Fred ia jadikan pembenaran, “kerjaan seperti yang Kau lakukan ini bisa membuat orang menjadi gila,” ia menunjuk kertas yang Fred serahkan padanya. “Kau terlalu stress! Nikmatilah hidup… berliburlah …”

Fred hanya tersenyum.

Lelaki paruh baya itu mengetahui maknanya. “Kau berhak melupakan kerjaanmu. Kau perlu memulihkan diri… berliburlah!” Lelaki itu faham. Memata-matai bukanlah perkerjaan yang mudah. Menjadi mimikri membuat mental Fred ringsek. “Mainlah ke Sengigi,” bujuknya, “Tenangkan dirimu, seminggu dua minggu di sana. Jangan menolak tawaranku. Istirahatlah di sana.”

Catatan yang tersusun rapi dibawa masuk ke dalam ruangan. Catatan itu berisi siapa yang menggerakkan ratusan orang kolektif bawah tanah saat mereka menuntuk hak masyarakat Punclut atas air. Catatan itu menjabarkan dengan detail mengenai kegiatan seni di pondokan, rapat-rapat terorganisir yang diadakan di rumah kayu Fidel, kondisi tempat rapat hingga kebiasaan orang-orang yang aktif dan simpatisan lain yang ikut memfasilitasi aneka macam kegiatan.

Sejak aksi yang menyebabkan amuk massa di Punclut, rencana pendirian perusahaan air mineral yang dimiliki lelaki setengah baya itu terbengkalai. Tanah perusahaan airnya menjadi sengketa, terlantar dikeroposi masa.

Kerugian harus segera di tambal. Catatan Fred membantu lelaki setengah baya itu melengkapi dan menjabarkan apa saja yang harus dibutuhkan saat ia memerintahkan orang-orang suruhannya untuk melakukan eksekusi.

Kesimpulan sudah di dapat. “Terima kasih.” ujar Fred. Ia mengatakan akan berlibur setelah memastikan semuanya selesai. Fred masih berusaha menunjukan harga dirinya yang tersisa.

Fred membuka pintu taksi. Tak ada yang dipikirkanya selain ingin membalas dendam atas waktu yang ia habiskan selama beberapa malam di hadapan komputernya. Ia ingin segera menghilang di peraduan. Fred ingin tidur, melupakan segalanya. Melupakan pengkhianatan pada orang-orang yang sudah menghargainya. Ia hanya ingin tidur. Tidur sehat yang dipikirnya akan membuat dia terbebas dari rasa bersalah.

READ MORE!

Zine (Bab 33)

Posted: by Divan Semesta in
0

“Dengan nama Tuhanmu! Mabuklah!” Waluh memberi Riang setumpuk zine.

Milea tertawa. Ia mengeluarkan setumpuk zine lain dari ranselnya.

“Banyak sekali!” Riang mencicit minta ampun. Ia membalik-balikan tumpukkan zine itu hingga lecek. Prisca Pricilia, Kontaminasi Kapitalis, No Compromise, HC, Openmind, Tiga Martil, Brigade Lawan Arus, Apocalypse hanyalah beberapa zine yang Riang pegang ditangannya.

Bundelan kertas yang dipegangnya adakalanya sarkas namun full logika. Di penuhi makian yang berseni, sinisme, kritisme, skeptisisme. Ada yang memadukannya dengan data, ada pula yang sembarang nyablak mengenai kehidupan sehari-hari yang dipenuhi kesegaran caci maki. Zine-zine adalah tempat pembuangan.

“Tempat modol, beol!”

“Jangan bicara kotor! Ada anak-anak di sini!” Eva mengingatkan.

Riang mengerti. Bukankah ekskresi adalah membuang sesuatu. Fred tidak berlebihan. Membuat zine pada hakikatnya seperti yang pernah dikatakan Fidel dan dikuatkan Fred, adalah juga membuang kesakitan. Jadi, kata Waluh jika Kau ingin membuatnya, jangan pernah terbebani berpikir mengenai apa tulisanmu berguna atau tidak, bagus atau jelek. Zine adalah tempat berbagi. Zine adalah tempat pelepasan, yang isinya tidak seperti yang Riang dapatkan di media massa atau majalah-majalah yang dikatakan Waluh, majalah mainstream. Zine-zine itu bernyawa! Memiliki jiwa-jiwa! Uh… uh Riang tertantang untuk mencipta!

“Bagaimana dengan desainnya? Bagaimana dengan izinnya!?”

“Memang syarat membuat zine harus ada izin dari pemerintah? Memang pemerintah bisa mengatur seluruh kehidupan kita?” Waluh tergelak. “D.I.Y do it your self! Semangat zine ada di sana! D.I.Y adalah pengambilan alihan kontrol yang dilakukan negara dan menggantikannya dengan kontrol individu! Zine itu otonom! Buat sendiri, tulis sendiri! Kalau kau tidak bisa menulis, curi tulisan orang! Pembajakan untuk pengetahuan adalah sah! Untuk masalah desain-mendesain, gampang! Yang penting saat ini, selesaikan saja dulu tulisanmu!”

Riang pun mengalihkan seluruh tulisannya pada buku catatan ke atas selembar kertas kuarto. Setelah memodifikasi bahasa dan ia merasa kontennya sudah cukup. Riang pun melapor. “Sudah selesai!” katanya.

“Tambahkan ini!” Fidel mengambil puisi-puisinya.

“Muat juga terjemahanku ini!” Waluh mengeluarkan print out mengenai biografi Zapata.

“Lha desainnya bagaimana?” tanya Riang.
Milea membawakan majalah bekas yang menumpuk di gudang.

“Gunting topi tentara itu” Fidel menunjuk foto topi tentara pada sebuah majalah. “Gunting semua. Preteli. Gambar apa saja. Ban, pisau dapur, pistol, gelas mineral, obeng, gambar kerbau, apa saja yang Kau anggap cocok dengan karakter tulisan yang akan Kau muat di dalam zinemu!” Fidel tahu Riang bingung. “Gunting saja!” sahutnya. “Tak usah bertanya!”

Fidel meminta Milea untuk membantu Riang menggunting paragrap tulisannya. Setelah gunting menggunting selesai. Fidel mengambil kertas kosong, yang segera ia penuhi dengan guntingan paragrap tulisan yang terkumpul. Kertas menjadi penuh warna setelah dihiasi gambar-gambar yang terkesan tak beraturan.

“Tunggu sebentar!” Waluh membawa lembaran kertas-kertas itu. “Jangan kemana-mana,” teriaknya pada Riang.

Riang menunggu. Bagaimana jadinya, majalah tanpa izin itu? Bagaimana bentuk majalah aneh yang dikerjakan dengan kepercayaan diri di luar batas itu?

Dua jam kemudian, suara knalot yang menyejarah sampai di pondokan. “Aku memfoto copi 200 eksemplar. Ini!” Suar bruk! zine yang diikat tali rapia terdengar keras.

Riang membukanya. Oladalah! Megaphone nama zine-nya! Namanya tertera jelas, teramat sederhana namun Riang melihatnya menyala, deemikian meriah! Uah! Cup! Cup muah! Segala macam bentuk sukacita! Semua suka cita! Tak ada bir tak ada psikotropika yang membuat huru hara! Semua gembira! Derit kereta uap Christopher Morley! Terima kasih untukmu duhai dewi penggandaan masal! Duhai kekasih para nabi dan mesin foto kopi!

Zine Megaphone membuat Riang bangga! Bagaimana bisa? Aku yang membuatnya? Oh tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak! Riang berteriak dalam hati. Kepalanya benar-benar iritasi! Riang tersenyum gembira seolah hari itu adalah hari di mana amalan baik diterima menggunakan tangan kanannya.

“Kita distribusikan siang ini!”

“Mengapa tidak?!” Riang menjawab tantangan Bentar.

“Tapi uangnya mana?!”

“Uang apa?”

“Ini masalah sensitif Bung!” Bentar menghentikan kegembiraan Riang. “Kau pikir foto kopi dua ratus eksemplar menggunakan daun?! Dua ratus eksemplar itu menggunakan uangku!”

Riang terpojok.

“Uang simpananmu! Uang simpananmu!” Bentar seperti satuan pamong Kemarikan! Kamarikan!”

Riang menghabiskan uang di dompetnya.

“Segini sih cuma dua puluh lima eksemplar!” ejek Bentar.

Fidel tertawa. “Kubayar lima puluh eksemplar untuknya!”

Milea ikut serta. “Aku tujuh puluh lima!”

“Lima puluh eksemplar yang lainnya mana?!” wajah Bentar mulai tampak seperti anggota asosiasi penagih hutang.

Tak ada lagi yang relakan uangnya.

“Ngutang Mas,” Riang memelas. “Ngutang ya Mas?”

Fred memperagakan tangannya. “Om, om minta uang om. Om kasihan Om!”

“Yah, kalau begitu aku talangi saja!” Bentar pura-pura kecewa.

“Ashik! Asyek!” Riang berhula-hula! Ia tahu semua orang bermain sandiwara.

DALAM ETHOS D.I.Y, seseorang tak mungkin mengetahui berapa eksemplar zine yang sudah ia sebarluaskan. Di luar kopian yang dikeluarkan pembuatnya, zine dapat menggandakan diri tanpa bisa dikontrol. Pembajakan atas suatu karya seni, suatu perbuatan yang di dalam dunianya dilakukan tanpa izin tetapi tetap dengan mencantumkan nama penciptanya sebagai bentuk penghormatan. Gairah membajak inilah yang mampu menjadikan sebuah zine yang hanya dicetak 100 eksemplar, menggandakan dirinya hingga menjadi 5000 eksemplar.

Pembajakan adalah perlawanan! Adalah salah satu keyakinan utama bahwa ilmu pengetahuan harus dikembangkan tanpa batas. Melalui distro-distro, dan Peniti Merah Jambu, sebuah jaringan informasi penerbitan zine, Megaphone masuk ke daftar zine baru yang dicari.

Riang tak tahu jika Megaphone-nya ditenteng orang di sebuah beberapa gigs (konser) Skin Head di Jakarta, dibicarakan wanita yang cuping hidungnya dihiasi tindikan. Ia tak mengetahui jika potokopian Zine-nya dibarter dengan uang dan zine luar kota yang berbeda, ditukar dengan kaset, ditukar dengan kaus, ditukar dengan keikhlasan.

Megaphone mengganda tersebar hingga ke Malang, sebuah kota yang ethos D.I.Y kolektif underground-nya nya tak perlu di ragukan kembali. Respon yang tak terduga pun berdatangan. Satu bulan semenjak pendistribusian zine Megaphone, enam buah surat sampai di pondokkan. Riang tak menanggapi surat-surat itu. Ia bukannya besar kepala. Uang Riang tidak mencukupi untuk membalas surat-surat yang entah dari mana itu.

“Kita cantumkan e-mail di edisi Megaphone selanjutnya,” Milea menyarankan.

Mengenai, email itu barang apa, Riang tak tahu. Ia mau belajar. Ia rela menjadi anak bawang. Milea mengajari Riang, sesuatu yang di abad informatika ini merupakan sesuatu yang sangat sederhana. Diajaknya Riang ke warung internet. Di sederhanakannya pengetahuan teknologi komunikasi untuk Riang. Keduanya tak sadar. Riang dan Milea, tak memahami jika hubungan mereka menjadi hangat. Zine semakin menautkan hubungan mereka.

Semenjak dibukanya alamat surat elektronik Megaphone, korespondensi pun berlangsung dengan baik selama dua edisi ke depan. Saat edisi ke lima tengah di siapkan dua buah subjek melaut di dunia elektrik dan sampai di geladak maya perahu Riang. Dari seseorang yang mengakui kera Ngalam, arek Malang, seorang wanita --yang sejak edisi ke dua Megaphone dilepaskan-- memberi tanggapan. Ia mengajak Riang bertemu, sementara dari Jakarta sebuah attachment meminta Riang menjadi salah satu pengisi obrolan santai mengenai Zine dan ideologi contra cultura

Menerima surat yang terakhir itu liver Riang jadi tak seimbang. Ia berdebar. Aku yang anak desa ini? Aku … Aku …tulisanku di baca mahasiswa yang sebentar lagi sarjana? Oh Atlas menduduki bola bumi! Dunia terbalik! Oh, Riang masih ingin hidup seribu tahun lagi!

“Datangilah Jakarta!” dukung Fidel. Ia bersemangat saat mengetahui berita itu.

Percaya diri Riang masih setengah. Riang berharap Fidel menemaninya. Semisal purwaceng dan ginseng, Fidel adalah suplemen yang berkhasiat, buat Riang. Fidel tak menampiknya.

SABTU SUBUH mereka berkemas menuju stasiun. Jam sembilan pagi kereta memasuki stasiun Gambir Jakarta. Di stasiun itu nyala emas terlihat membeku di kejauhan. Monas berdiri sendiri di tengah lahan gersang paving block. Kereta ekonomi oranye datang. Perjalanan mereka lanjutkan hingga Pondok Cina.

Saat kereta singgah di Pondok Cinta, dari jendela kereta seseorang wanita membawa nama Riang pada selembar karton. Mereka turun.

Seorang mahasiswi menyalami Fidel. “Mas Riang,” terkanya.

“Bukan.” Fidel menunjuk orang di sampingnya.

Riang keteteran. Apa wajahnya tidak tampak intelek? Apa performa dirinya tidak meyakinkan? Riang tidak menggunakan stavolt. Kepercayaan dirinya naik turun saat itu.

Wanita yang mengaku bernama Nizar itu tidak merasa nyaman dengan kesoktahuannya. Ia menyogok Riang dan Fidel menuju kantin. Di areal kantin, Nizar memesan makan pagi lalu menyerahkan kertas biodata. Riang merasa lega. Nizar tidak mempermasalahkan jenjang pendidikannya dan beban Riang hilang setengah ketika Nizar mengatakan, “Terserah Mas, membahas apa asal yang nanti disampaikan terkait dengan tema yang diketengahkan.”

Usai makan, tak jauh dari kantin, Riang kemudian dipertemukan dengan seorang pembuat zine Lelaki pembuat zine Arvatar yang Nizar perkenalkan mengaku menggunakan nama pena Illuminat dalam zinenya, namun nama aslinya Joned. Nama yang sedikit aneh di kuping orang Jawa Tengah itu membuat Riang sukar menyembunyikan tawanya. Di kepala Riang sepertinya ada speaker yang terus menerus mengumandangkan nama Joned. Illuminati. Joned. Illuminati… Jauh sekali zine dengan nama pembuatnya, pikir Riang. Di hadapan lelaki yang rambutnya gimbal dan kakinya dibalut boots tinggi itu Riang mati-matian menahan tawa. Riang tidak mau dihabisi lelaki botak menyeramkan itu. Bagaimana ia sanggup melawan jika kausnya saja bertuliskan: sendiri melawan sistem. Luar binasa!

Masuk ke dalam auditorium Fidel memisahkan diri. Riang dan Joned menunggu tepat di hadapan meja panjang. Tak beberapa lama kemudian acara di mulai. Seorang pria lainnya bergabung Ia mengenakan planel. Rambutnya cepak. Bibirnya di tindik.

“Bleeding Balerina zine.” Demikian ia memperkenalkan produknya.

“Riang. Dari Megaphone zine.”

Lelaki itu tertawa karena lupa menyebut nama. “Namaku Sama!” ucapnya.

“Nama mas Riang?” Riang tak percaya.

“Namaku Sama!”

Riang ragu. “Nama mas sama dengan namaku?”

Lelaki itu menunjuk mukanya. “Namaku Sama! Bukan Riang!”

Riang berpikir keras. “Sama… Riang?”

Lelaki itu kesal. “Nama aku Sama! Sama! Sama! Bukan Riang!”

Riang mencerna cukup lama. Tak merasa nyaman. Ia tak menanyakan lagi kebingungannya pada lelaki yang kemudian moderator memanggilnya Sama. Obrolan aneh yang tak bertahan lama itu terjadi di tengah suasana ramai. Riang merasa dipandangi mahasiswi cantik. Riang grogi. Ia merasa terbebani. Bagaimana jika tak bisa bicara? Bagaimana jika ia menjadi tuna rungu? Keringat mendadak bermunculan di sela jemarinya. Riang gemetar. Di dadanya ada tambur. Lidahnya berubah menjadi sekering savana. Dua kali ia mengosongkan gelas mineral, dan tindakannya itu membuat kandung kemihnya kembung. Riang kebelet kencing.Ya Tuhan. Bagaimana ini. Kantungi batu! Riang teringat petuah masa-masa remajanya, namun di mana ia harus memungutnya? Carilah yang berat-berat, bisikan nenek moyangnya datang. Mikropon? Tidak mungkin! Boots Joned? Uh itu akan mendatangkan perang etnis Rwanda. Keringat Riang sampai di bagian belakang lehernya. Ini masa kritis.


“Mbak … mbak!” Riang tak menyadari jika didekatnya tergeletak mike. Sound system yang dipancangkan di setiap rangka bangunan merekam dan mempidatokan suaranya. Panitia yang tengah membagikan kopi-an zine bereaksi.

“Mau apa?!” Sama menawarkan pertolongan.

“Pengen pipis. Ndak tahan!” Riang tak sadar jika ia memegang senjata pamungkasnya.
Sama yang penampilannya berbanding terbalik dengan kebaikan hati segera merebut mike, lalu menekan tombolnya. Mike mati, tetapi suara seseorang yang tengah menggenggam biological future weapon itu terlanjur didengar seisi ruangan. Riang sadar ia ditertawakan. Ia merasa malu, tetapi pipis adalah prioritas utama dan pertama. Tak ada yang lebih penting darinya. Riang langsung berjalan cepat setelah panitia memberi Riang kode untuk mengantarnya.

Saat misi terselesaikan dan prioritas utama telah Riang tunaikan yang tertinggal dalam diri Riang adalah rasa malu. Riang malu. Ia mencuci wajahnya keras. Kini, gardu listrik kepercayaan dirinya bukan saja tanpa stavolt. Kepercayaan diri Riang hilang.

Fidel mengetahui tentang hal itu. Ia keluar dari tempat duduknya kemudian meminta panitia yang tengah menunggu Riang untuk kembali ke ruangan. Fidel menungguinya cukup lama dan menyaksikan bagaimana ketika pintu kamar mandi wajah yang lepek, seolah-olah wajah itu merupakan makanan basi swalayan yang dikomplain beberapa pelanggan melalui surat pembaca Kompas.

Fidel berusaha membantu Riang untuk bersikap biasa. Ia memasang mimik tak memiliki ingatan. Ia memasang sikap biasa hingga menjadikan Riang merasa aneh dengan sikapnya. Ia tak sadar jika Fidel mengambil inisiatif, mengalihkan perhatiannya. Fidel membicarakan beberapa arahan tanpa sekalipun mengetengahkan subjek yang menjadi bahan ketakutan Riang. Dan sekembali Riang ke dalam auditorium, kepercayaan diri Riang tumbuh kembali.

Riang mendapat kesempatan terakhir bicara dalam obrolan santai itu. Joned dan Sama mengawalinya. Dua orang itu terbiasa bicara di hadapan orang. Dengan analogi yang menyentil, pemaaparan mereka menjadi renyah. Ketika giliran Riang tiba, Riang merasa kandung kemihnya serasa mau bocor. Tak percaya diri datang membuatnya kembali kalut. Ia melihat Fidel. Riang membutuhkan bantuannya. Di sudut kiri atas auditorium Fidel pun berdiri memberi energi. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencontohkan agar Riang mengikutinya. Rasa nyaman menjalar, membuat Riang merasa ringan saat Fidel mengacungkan jempol.

Genggaman pada mike Riang perkuat..

“Ehm… selamat siang. Siang-siang selamatan!”

Orang-orang terhibur. Ada senyum yang ditebar dan saat suasana hangat di ruangan itu menyebar, dengan cerdasnya Riang mengambil kesempatan, mulai berkicau. Ia tidak membicarakan mengenai counter hegemoni dan contra cultura terhadap kapitalisasi yang di musuhi kebanyakan pembuat zine. Ia hanya membicarakan hal yang sederhana bagaimana zine bisa membuatnya merasa lega. Merasa berharga. Merasa bulat, menjadi utuh dan penuh. Tentu, pembicaraan yang begini, tidak sepenuhnya sesuai dengan tema panitia yang bombastis. Riang tidak menangkap efek negatifnya kekecewaan panitia, tetapi ia tak membutuhkan waktu lama untuk mengobati kekecewaan mereka. Riang membayarnya! Kontan tanpa bon!

Dalam sesi berikutnya, beberapa orang kemudian mengutarakan pendapatnya mengenai materi ketiga zine. Ada diantara komentator yang memuji artikel mengenai perjuangan Zapatista bersama suku asli di Chiapas Mexico dan memberi apresiasi mengenai essay konsepsi ideologi yang diuraikan zine Megaphone. Mereka tidak tahu jika tulisan itu bukan Riang yang membuatnya. Riang berharap, Fidel mau membicarakan hal tersebut, tetapi dari kejauhan ia hanya melihat Fidel memberi tanda, bahwa dirinya menyerahkan sepenuhnya pembahasan pada Riang.

Riang memberikan jawaban tuntas, lalu dari tengah-tengah peserta tiba-tiba seseorang pria meminta panitia untuk memberikan mike. Ia sudah memendam apa yang ingin ia utarakan sedari tadi. Di sesi pertama, pria itu sudah mengangkat tangannya berkali-kali tetapi moderator tak memberinya kesempatan. Lelaki itu mengambil mike. Wajahnya terlihat biasa tetapi mulutnya luar biasa. “Zine ini sampah total,” katanya. Pria itu memasukan tangannya, ke saku celana dengan gaya yang hampir menyerupai tolak pinggang. “Apalagi ketika zine ini membicara ideology,” lelaki itu melanjutkan. “Ideologi itu mencret. Mencret monyet. Karena ideology perang muncul. Antara manusia berjibaku, perang! Saling berseteru! Ideologi tak memiliki fungsi selain melakukan dekonstruksi! Melakukan penghancuran total manusia, apalagi ideologi agama. Nah, yang kau tulis dalam zine mu ini lucu. Kukatakan sekali lagi, ideologi yang kau sampaikan itu mencret. Seharusnya dunia tak memiliki ideologi, yang penting bagi manusia bukan ideologi tapi rasa saling menghormati.” Kata mencret berulang-ulang dikatakannya dengan santai, hampir tidak mengeluarkan emosi. “Apa pula ini?” Pria itu lalu mengewer-ewer zine Riang seolah jijik. “Zine ini seolah-olah memberitakan sesuatu, tetapi yang di muat di dalamnya bukan contoh berita. Bahasa dan kata-katanya tidak sesuai dengan kaidah jurnalistik. Di sini banyak sekali ketidak seimbangan. Orang yang membuatnya tidak intelek, selalu merasa paling benar. Cobalah berada di tengah, jangan membuat berita yang berpihak.”

Moderator yang kurang jam terbang mulai mengingatkan, tetapi dengan gaya sok-nya Riang mengatakan tidak apa-apa. “Biar ramai.” Katanya.

Moderator berpikir cepat. Ia yang bertanggung jawab mengendalikan forum, tetapi ia dituntut pula untuk membuat suasana menjadi hangat. Ia tergoda oleh tawaran “biar ramai”-nya Riang. Ia memberi Riang jatah bicara.

“Yang penting rasa saling menghormati,” Riang memulai, “tapi komentarmu tidak sesuai dengan apa yang Kau katakan. Ibarat kecelakaan, ucapanmu ibarat tabrakan beruntun truk tronton di jalan! Kau mengajarkan orang untuk saling menghormati, tapi Kau sendiri tidak memulai untuk menghormati keyakinan orang mengenai ideologi! Banyak hal yang juga harus di pertanyakan mengenai omonganmu tadi: apakah benar yang paling penting di dunia adalah saling menghormati. Apa bentuk saling menghormati itu? Apa saling menghormati akan menyelesaikan seluruh permasalahan manusia? Hidup di dunia lebih rumit dari itu. Negeri ini kaya. Bagimana agar kita dapat menikmati sumber daya alam yang sama? Bagaimana mendistribusikannya secara merata? Apa dengan saling menghormati masalah-masalah itu akan terselesaikan? Di sanalah salah satu arti pentingnya ideologi. Distribusi adalah salah satu unsur kecil yang diatur ideologi.” Riang tak merasa jika ia berbicara cepat. Nada bicaranya memperlihatkan emosinya naik. Hal itu menguntungkan sebab Riang menjadi lupa segalanya. Ia hanya terfokus pada apa yang ingin ia sampaikan.

Fidel terkejut dengan yang di sampaikan Riang. Ia tidak tahu hingga sejauh dan secepat itu nalar Riang terasah. Ia tak mengira. Fidel tak menyangka. Fidel yang semula bertopang dagu. Duduk siaga, menanti ungkapan-ungkapan macam apa yang diungkapkan anak desa Thekelan tersebut.

“Mungkin majalahku, zine yang kubuat itu tidak sesuai dengan harapanmu. Tidak apa. Aku tidak menganggapnya sebagai masalah, sebab sejak awal membuat zine Aku hanya ingin berbagi. Apalagi, jika bicarakan kaidah kata dan bahasa. Apa itu?” Riang mengangkat tangan dan bahunya. “Aku tak tahu. Apa aku harus memahami kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar dulu sebelum membuat zine? Kalau seperti itu kapan buatnya? Kalau seperti itu buat saja koran. Aku tidak mu terbebani. Biar saja orang mengatakan apa. Aku tak memerlukan tetek bengek peraturan berbahasa, tih peraturan itu manusia yang membuatnya. Aku juga bisa membuat aturan berbahasa. Aturan yang tidak memiliki aturan. Kenyataannya apa yang kutuliskan ini bukan untuk dijadikan koran harian. Zine adalah zine. Terserah yang membuatnya. Kalau yang membuatnya mau bicara tentang menghayal menjadi kambing, apa salahnya? Kalau zine bicara tentang mengupil yang enak memangnya kenapa? Kalau yang buatnya tidak menafikan keberpihakan, toh, kamu yang mungkin menganggap diri berada di tengah-tengah berpihak juga! Kalau Kau tetap merasa ini sebagai sebuah masalah, buat saja zine sendiri. Jangan dibuat susah!”

Bantahan Riang seperti setrika. Lelaki itu panas. “Bisa saja ngeles! Orang yang anut ideologi kebanyakannya memang kepala batu macam ini!” Ia yang santai menjadi deras. “Itulah kenapa –seperti yang kukatakan—ideologi membuat manusia saling berperang, terutama ideologi agama yang membuat manusia menjadi ganas. Agama itu virus akal budi!”

Riang tertawa. Tawanya semakin membuat panas. “Memang aku jagoannya! Aku jagoan ngeles!” Riang menyombong. Dalam benak Riang tergambar jelas bayangan masa lalu dia mengenai agama. Tergambar jelas bagaima cara Fidel menggambarkan kesalahan pengambilan kesimpulan yang pernah ia lakukan.

“Inilah ciri-ciri fundamentalis agama!” Pria itu menyimpulkan jawaban Riang ketus.

Riang langsung menggunting perkataannya. “Apa yang salah dengan fundamentalis?! Kamu pun fundamentalis! Fundamentalis tengah-tengah! Kalau Kamu mengatakan aku radikal maka Kau pun radikal! Kau pikir ada gunanya? Bahkan orang yang menulis artikel tentang ideologi di zine-ku jauh lebih baik ketimbang dirimu!” Riang melihat Fidel, tetapi Fidel menunggu. Ia membiarkan Riang. Ia mempercayakan padanya.

“Lihat di sana!” Riang menunjuk Fidel. Tak etis memang, tetapi Fidel melazimkan. “Dia, lelaki itu tidak pernah menyepelekan orang! Dia faham bagaimana berhubungan dengan manusia! Dia paham, seseorang berhak memilih jalan hidupnya, tetapi setiap orang pun berhak meninjau keyakinan yang lain. Yang dia lakukan dalam zine-ku hanya berkomunikasi. Caranya pun santun, berbeda dengan caraku! Dia tidak sok-sokkan seperti lagakmu! Dia yang menghormati orang lain biasa saja dengan mulutnya! Kamu! Kamu yang bilang ke sana kemari bahwa dirimu bukan fundamentalis, pada kenyataannya malah memperlihatkan bahwa pemahaman dirimulah yang paling benar!”

“Ah!” Pria itu membantah. Ia menunjukan artikel dalam zine Riang. “Sistem yang Kau propagandakan dalam zine mu itu sistem kuno! Ideologi purba yang tak berhak hidup di zaman modern ini!”

Moderator mencari artikel yang dimaksud lelaki itu. Ia berusaha masuk ke dalam perdebatan. “Di zine mas Riang ada pemahaman mengenai ideologi dan sistem yang tadi disebut purba,” moderator bertanya “bagaimana menjelaskannya?”

Riang sudah marah. “Bisa jadi yang diyakini Mas itu lebih purba ketimbang keyakinan sahabatku!” jelasnya pada moderator. Riang bukannya memaparkan pertanyaan. Ia malah kembali menyasar pria itu. “Purba dan tidak purba hanya propaganda! Propaganda tidak perlu dibicarakan karena propaganda bahasa tidak perlu di perbincangkan oleh pencari kebenaran!”

Pria itu membantah. “Tetap saja! Sesuatu yang purba tidak mungkin diterapkan lagi, di sini dan saat ini!” Pria itu bertahan. “Yang diperlukan manusia bukan formalisasi! Yang diperlukan manusia kesejahteraan, keadilan! Dasar muslim kepala batu!”

Riang sampai pada puncaknya. “Aku bukan muslim! Aku tak beragama!!” Wajahnya terlihat merah. Pria itu salah melakukan diagosa. Ia meminum racun. Auditorium benar-benar menjadi sepi! Moderator mulai berpikir untuk mengakhiri forum. Ia berusaha mencari jeda bernafas untuk memutus perdebatan, tetapi nafas Riang terlalu panjang. Seakan hutan belukar, jeda bernafas sukar moderator temukan.

“Keadilan! Kesejahteraaan!” sambung Riang. “Macam apa keadilan dan kesejahteraan itu? Keduanya filosofi kehidupan!” Riang marah. “Setiap manusia mudah saja membicarakan keadilan dan kesejahteraan! Camat, walikota tak ubahnya sama dengan tukang becak, tak jauh beda dengan gelandangan jika sudah membicarakan keadilan dan kesejahteraan! Keadilan dan kesejahteraan itu filosofi yang harus dibumikan! Apa yang dibicarakan temanku dalam tulisannya sudah jauh meninggalkan tetek bengek yang Kau koarkan! Ia sudah bicara bagaimana membumikan keadilan dan kesejahteraan dalam pengaturan sistem, dalam perangkat ideologi, dalam tataran yang bahkan bersifat matematis! Kau ku ajak berbisnis! Mari bisnis warung internet! Kita sama-sama menginginkan keadilan! Tapi keadilan yang bagaimana! Pembagian untukku sekian, sebagai pemilik modal, dan Kau sebagai pengelola warnet sekian! Hak kamu begini! Hak aku begitu! Dalam bisnis, dalam distribusi pengelolaan sumber daya alam, dalam pengelolaan harta warisan, dalam peperangan, dalam pengumpulan harta untuk distribusi kesejahteraan semua konsep harus dibumikan. Sekarang … keadilan dan kesejahteraan macam apa yang Kau inginkan itu! Bagaimana membumikannya! Mari kita membandingkan!”

Mendengar tantangan Riang, pria itu keracunan arsenik. Ia tercekik. Riang memberi tiger upper cut macam pukulan Guild Street Fighter dalam permainan ding-dong. Pria itu membisu. Ia terkena mantra, tak bisa bergerak. Pria itu beku seperti ditenung! Sunyi mengurung auditorium seakan karamba.

Di atas sana, tiba-tiba Fidel berdiri. Cahaya lampu ruang yang dibiaskan kaca-kaca bergoyang. Mata Fidel berkaca-kaca. Ia menepukan tangannya di udara. Fidel bangga! Gemuruh menjelma. Tepuk tangan di mana-mana, menggema! Untuk pertama kalinya, Riang dimuliakan. Tepuk tangan menjebol pertahanan jiwanya. Riang tak kuat menahan haru. Bukan karena kemenangan tetapi karena rasa kasihan. Pria yang dipukulinya habis pergi meninggalkan forum yang bukan lagi miliknya. Ia mundur perlahan. Riang memandangnya dengan penyesalan. Kemanusiaannya bermain. Lelaki itu hanya orang biasa, sama seperti dirinya. Ia manusia yang butuh dihargai bahkan setelah ia dikalahkan. Pria itu menghilang di balik kerumunan.

Moderator bernafas lega. Acara yang ia pandu berakhir klimaks. Ia mengakhiri tanggungjawabnya.

“Tatum valet auctoritas quantum valet argumentatio! Aforisma bahasa Latin mengatakan bahwa nilai wibawa hanya setinggi nilai argumentasinya. Mengutip terjemahan bebas sebuah ayat: silahkan sekolah yang tinggi-tinggi! Silahkan! Tetapi jika sekolah yang tinggi itu tidak membawa karya untuk manusia, maka sejarah dan masyarakat akan lupakan dan tinggalkan kita semua! Demikian perkataan Pram! Terima kasih! Dan … mari kita beri applause untuk mas Riang Merapi!”

Tepuk tangan menggema. Lebih meriah dari yang pertama. Dan hal itu justru membuat Riang bertambah sedih.

DEBAT YANG MENYIMPANG dari Zinee dan ideology contra cultura tentu tidak menjadikan orang-orang yang hadir berubah drastis pemikirannya. Perubahan paham tak semudah mengangkat tangan lebih tinggi dari kepala agar burung unta tidak menyerang manusia.

“Kadang manusia tidak bisa mengatakan seluruh isi kepalanya. Mungkin lelaki itu memiliki sejuta macam argumentasi untuk membalikan argumentasimu, argumentasi di dalam tulisanku,” kata Fidel. “Kadang, ketika emosi menyisihkan ketenangan dan peranan akal, argumentasi di dalam kepala yang semula luas, menjadi sempit. Mungkin karena kondisi psikologi yang kurang baik pada saat itu, lelaki yang ada di forum tadi tidak bisa mengeluarkan argumentasi dengan jernih. Bisa jadi Kau mengalami hal yang sama. Dalam kondisi normal Kau merasa mudah mematahkan pendapat-pendapat tertentu, tetapi dalam forum yang disesaki banyak orang, dalam forum yang di hadiri orang-orang yang sering kita lihat di televisi dan kita baca pendapatnya di media massa, ada kalanya kita merasa tertekan. Tekanan itulah yang akan menghambat manusia dalam mengungkapkan seluruh isi pikirannya.”

“Yang…” Fidel memalingkan padangannya. “Tak ada manusia yang kalah dalam diskusi.”

“Lantas yang kalah siapa?” tanya Riang.

“Yang kalah, adalah orang yang mengetahui bahwa dirinya salah. Yang kalah adalah orang yang hatinya sudah mengatakan bahwa argumentasinya tidak bisa dipertanggung jawabkan tetapi ia terus menerus melakukan pembenaran.”

Roda besi mulai mengayuh. Pluit panjang merusakkan gendang telinga masinis. Fidel tumbang saat mencium jok kereta yang tengik. Di saat yang sama, lelaki di sampingnya melamunkan banyak hal dan tentu saja: melamunkan Milea.

READ MORE!