Taubat!

Posted: Jumat, 27 Maret 2009 by Divan Semesta in
5

1
ORANG orang yang suka lagu old school macam Panbers, atau Koes Plus, rata-rata pak si pak pak (maksud sy preman). Kalau pun bukan preman kebanyakannya gemar berkelahi, baju dendi dan nggak anti minum tuak.
Kenapa bisa kayak gitu ya?
2
AKTIVIS Falun Gong mungkin menganggap bahwa siksaan terberat yang pernah mereka rasakan adalah siksaan yang di timpakan oleh rezim komunis China. Sahabat-sahabat yang pernah dipenjara di Palestina, mungkin menganggap siksaan mental berupa berbulan-bulan dikurung dalam ruang gelap yang kotor adalah siksaan terheibat. Dan siksaan yang dirasa Farhad Utsmanov dan saudara/i tercinta di Usbekistan adalah siksa yang di kenakan rezim Islam Karimov. Nah, berhubung sy belum pernah maka siksa terberat yang pernah saya rasakan adalah ketika saya masih berstatus sebagai mahasiswa.
Bayangkan penderitaan saya, saudara.
Hampir selalu, setiap sy pulang, lagu cadas melebihi lengkingan gitar Hemmetnya Metallica, diperdengarkan di ruangan Bus ber-ac .
Jika supir bus mulai merogoh dashboard itulah alamat buruk. Alamat nestapa. Oh saya tak mungkin bisa lari kemana-mana ketika supir mulai mensiut siut bibirnya... siulan supersonik... dan ketika senandung dimulai dan supir bus mulai menganggap kotak besar yang ia kemudikan sebagai ruangan karaoke, lalu opa-opa serta granma, dan tak lupa lelaki-lelaki bertato dan bertubuh kekar mulai bernyanyi:
"Cukup sudah penderitaanku
Mengapa dulu kau tinggalkan diriku
Tanpa pesan apapun padaku
Kala itu cintaku sedang tumbuh
Kau biarkan menjadi layu
Kini kau datang lagi padaku
Setelah kau siksa diriku
Terlambat sudah
Terlambat sudah
Semuanya tlah berlalu"
Lagu Terlambat Sudah, Panbers benar-benar menyiksa!
Itulah bala terhebat yang ditimpakan orang lain ke atas diri sy.
Ketika roda bus menggelinding di puncak maka doa sapu jagat dan doa khusnul khatimah pun dipanjatkan:
Ya Allah bihaa ya Allah bihaa ya Allah bi husnil khatimah

Taubat! Taubaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!
Ya Allah Taubaaaaaaaaaaaaaaaaaaat!!!

READ MORE!

Kekerasan Tanpa Batas

Posted: Senin, 23 Maret 2009 by Divan Semesta in Label:
13

DI PELIPIR masjid itu aku kembali bertemu dengan teman lamaku, seseorang yang pernah membawa obor untuk menerangi jalanku, seseorang yang membuka jalan untuk ku lebih dalam mengenal islam. Dari kejauhan aku tertegun menyaksikan dirinya.
Ia menghampiriku dan kalau tak salah kami pun saling berpelukan. Aku tak tahu apakah pelukan itu menjadi sebenar-benarnya pelukan seandainya dia mengetahui jalan yang kutempuh saat sedikit berbeda dengan jalan yang ditempuhnya dan ini bukan hal yang fundamental. Aku mengetahuinya benar, sehingga aku berdoa agar pertanyaan tak terlontar dari mulutnya.

“Apa kamu masih mengkaji.” Mengkaji bisa diartikan berada dalam organisasi yang ia ikuti atau masih menyetujui ide-idenya. Inilah pertanyaan yang paling kutakuti. Setidaknya ketika aku berhadapan dengan sahabat-sahabatku, jika orang lain aku tak begitu peduli, aku tak menanggungkan beban untuk keras dalam menjaga sebuah ikatan.

Aku menghela nafas saat ia mengajukan pertanyaan itu. Mau tak mau harus ku sampaikan keluh kesahku, bahwa bukan satu atau dua kali aku bersua dengan pertanyaan yang ia tanyakan. Terakhir aku ditanya hal yang sama, hubunganku dengan seorang teman menjadi renggang selama setahun meski beberapa bulan yang lalu hubungan kami mulai berlangsung cair kembali.

Jika dikatakan bahwa aku trauma, kau bisa saja mengatakan aku terlampau manja. Maka yang harus kukatakan saat itu hanyalah, “Aku sedang tak bisa berbagi.”`Mengapa, tanyanya. Karena, kebanyakan orang bukan bertanya untuk mengetahui, tapi menginterogasi.

“Aku bukan residivis, aku bukan penjahat yang harus dipertaubatkan, dan jika saatnya tepat aku akan membicarakan hal itu padamu.”

Ia mengangguk. Senyumnya seolah merupakan cerminan bahwa ia belajar dari setiap setapak yang ia jejak. “Asal Divan masih berada di lingkungan yang islami,” ucapnya, “dan masih memiliki keinginan dan upaya untuk menyebarluaskan islam, maka apapun pilihannya tidak menjadi masalah.”

Sejenak, aku merasa sejuk oleh perkataan. Sayangnya itu hanya sementara sebab ia menambahkan ungkapan yang bagiku klise (meski kutahu, kadang klise itu bukanlah hal yang buruk)

“Sy hanya ingin tahu,” desaknya. “Ketika kamu memiliki pikiran yang baru, maka kita bisa tukar pikiran. Hingga saat ini saya masih menganggap apa yang sy yakini, organisasi tempat sy berkiprah adalah organisasi yang paling argumentative dalam melakukan perubahan sosial…” kelanjutan dari perkataan itu silahkan kamu merabanya.

Aku tak mengatakan apa-apa. Aku hanya khawatir senyumnku menyiratkan senyum yang sinis. Saat itu aku mati-matian berusaha meredam pantik kesombongan kala berpikir “I have once like you are now.”

Aku pernah mengalami hal yang kau alami, perkataan yang kau katakan.
Aku pernah!

* * *

Di luar pengalaman berada di tempat yang sama dengan apa yang temanku alami itu, aku pernah mengatakan pada beberapa orang bahwa apa yang kuyakini sukar kusampaikan secara metodologis. Tapi entahlah, aku meyakininya, aku melihat gambaran jelas terhadap yang kuyakini meski tidak atau belum bisa menggambarkannya secara jernih.

Kali ini, hanya untukmu, aku akan memberi sedikit gambaran pemahamanku yang terakhir. Dan intinya adalah: aku menganggap bahwa tidak ada satu gerakan pun yang bisa strick terhadap statementnya. Ungkapan ini pernah pula diungkap oleh Next Revolt dengan ungkapan yang berbeda, bahwa kita sering menemukan sebuah gerakan yang tidak mentoleransi apabila suatu hal ‘negatif’ dilakukan oleh gerakan lain, tetapi pada sisi lainnya gerakan tersebut mentoleransi perkara apa yang harusnya dilakukan tetapi tidak mereka lakukan.

Sebelum aku berlanjut aku sampaikan dulu bahwa Apa yang tidak dan dilakukan bukan kaitannya dengan akidah atau kemaksiatan mutlak yang benar2 bisa dipastikan seperti halnya saat si Muhaimin Iskandar menarik massa dengan menggugah kelamin para lelaki menggunakan pantat chaotic penyanyi organ tunggal dalam sebuah kampanye di Jawa Timur, atau yang kaitannya dengan sumpah setia terhadap thagut demokrasi nasionalisme liberalisme, atau dan atau lainnya.

Sampai disini aku yakin kau mengerti sehingga aku akan melanjutkan perkataanku bahwa:

Semua gerakan social yang bercorak keislaman tidak ada yang bisa strick terhadap statementnya, tidak ada yang bisa strick terhadap apa yang dilakukan rasulullah. Ini real. Ini sebuah gambaran yang nyata.

Hari ini hatiku condong pada gerakan mujahidin. Aku bersimpati atas Al Qaida, pada perjuangan berdarah negara syariat Chechnya, atau daulah islam di Iraq, tetapi simpatiku tetap tak menghalangi kekesalanku ketika pengikut mujahidin seolah mengatakan bahwa mereka adalah yang paling heroic, hingga kadangkala melecehkan demonstrasi puluhan ribu masa, kemudian mengatakan bahwa metoda merekalah yang paling realistis dan sesuai dengan sunnah rasulullah.

Pikiranku benar-benar menginterupsi itu.

Jika mau mengikuti rasul apa yang dilakukannya (di luar sahabat melakukannya), maka cara pergerakan bukanlah begitu. Gerakan dakwah tidak diperkenankan untuk angkat senjata, rasulullah pernah mengatakan: “Sabar-sabar,” ketika ada seorang sahabat yang disiksa (namun aksi secara individu tetap diperbolehkan). Sehingga dari hal itu –setidaknya sebuah gerakan—mengatakan bahwa perkara jihad adalah perkara perjuangan individu bukan kelompok. Dan dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa yang dilakukan mujahidin tidak strik dalam meneladani pola gerakan rasulullah. Karena yang berjuang itu diorganisir. Dan jawaban retoris, “jika mempertahankan diri (hanya sendiri) saja sukar apalagi melawan kejahatan yang terorganisir, dan memenangkannya?” tetap tidak masuk hitungan karena lagi-lagi kalau mau strick rasulullah tidak pernah melakukan perlawanan fisik terogansir sebelum munculnya sebuah Negara.

Dan disinilah sorak soray terjadi. Gerakan-gerakan non violence sebelum berdirinya Khilafah kemudian mengatakan bahwa gerakan kami yang paling real mengikuti tauladan manhaj kenabian; bahwa kamilah yang paling argumentative, relevan, dan logis dalam menggulirkan perubahan.

Kamu pun pasti sudah berkali-kali mendengarkan statement seperti itu atau malah mengungkap hal seperti itu.
Saudara, aku hanya mengingatkan: manhaj kenabian yang bagaimana? Apa yang kamu pelajari itu politik dan ekonomi yang keterlaluan porsinya. Dimana pengajaran tentang shalat, mengenai doa, membedakan mana bidah dan bukan secara akurat? Selama ini aku tidak pernah merasakan.

Apakah gerakan rasulullah yang selama 13 tahun sebelum menuju negara madinah itu mengajarkan politik dan ekonomi dengan porsi yang bahkan hampir bisa dipastikan diuraikan di setiap pengajaran.

Jika individu di dalam gerakan rasulullah diperintahkan untuk berjamaah. Apa di dalam pergerakan yang kau ikuti anggota-anggotanya sudah berjamaah, dan mendapat sangksi kala tidak berjamaah?

Apa dalam gerakanmu menghafal quran, memahami sebab turunnya ayat sudah menjadi rutinitas? Apa rasulullah mengkaji kitab kitab yang dikarang oleh para mujtahid? Memusingkan diri membahas tentang ideology atau definisi berfikir dan filsafat meski untuk membantahnya?

Tidak. Rasulullah mendapat wahyu langsung dari Allah. Maka setiap gerakan jika ingin strick seharusnya hanya memiliki alquran dan hadist saja untuk dijinjing-jingjing dan disombong-sombongkan, bukan kitab-kitab karangan pendiri gerakan tertentu saja.

Jawaban ini sebenarnya ada di pengalamanku dan kamu.

Saat ini aku benar-benar meyakini bahwa setiap gerakan memiliki aneka macam cara untuk menjebak individu dari gerakan lain untuk menyetujui pikiran yang dikembangannya. Entah gerakan violence/non violence.

Saat ini aku menyakini bahwa (di luar gerakan si goblok Muhaimin, atau gerakan yang mengimani demokrasi dan juga agama kebangsaan) setiap individu berhak memilih organisasi untuk menerapkan dan mengembangkan pemahaman islamnya.

Antara Mujahidin dan partai yang akidahnya masih berada lurus di relnya, sebenarnya tidaklah ada yang perlu dipertentangkan. Inilah mengapa, aku akan mengatakan:
“Setelah mengkomparasi antar gerakan menggunakan pikiran, pilihlah alat perjuangan menggunakan hatimu.”

Itulah jawaban mengapa aku condong pada gerakan islam yang hendak melakukan tindak kekerasan tanpa batas… kecuali dengan batasan hukum syara.

READ MORE!

Tiket ke Surga

Posted: Kamis, 19 Maret 2009 by Divan Semesta in
1

BEBERAPA waktu lalu, seorang pemuda berusia 16 tahun lari dari rumahnya untuk memimpin peperangan di Afghanistan. Orangtuanya berharap ia dapat kembali menemui keluarganya ketika ia sedikit dewasa dan tangguh, namun ia sangat keras kepala dan menolak untuk kembali.
Mujahidin telah berbicara kepada orang tua pemuda itu dan memberitahunya bahwa ayah dan ibunya berharap ia kembali ke rumah.

Namun pemuda itu kemudian berkata jika siapapun di antara Mujahidin bisa menjamin bahwa Allah akan mengampuni semua kesalahannya dan memasukkannya ke surga di hari akhir nanti, maka ia akan kembali.Tentu saja semuanya terdiam. Waktu perlahan berlalu dan setelah beberapa bukan dalam Pelatihan Jihad, ia terpilih untuk melaksanakan sebuah misi.

Mujahidin berhasil menciptakan kerusakan yang luar biasa bagi pihak musuh dalam misi ini, meskipun Mujahidin dihadang oleh para munafikin dan sekutunya, dan pertarungan tidak sesuai rencana. Setelah pertarungan dengan para munafikin selesai, hanya pemuda itu yang syahid. Mujahidin harus mengembalikan jenazah pemuda itu.

Panglima provinsi merasa sedih atas syahidnya pemuda ini, bukan karena pengorbanan/kesyahidannya tapi karena memikirkan apa yang akan ia katakan terhadap orang tuanya.Jenazahnya terbujur di atas rumput selama dua hari, darahnya masih segar dan tidak ada tanda-tanda bahwa jenazah itu akan membusuk.Hari ketiga, mereka menyediakan van untuk mengangkut jenazah pemuda itu dan menyerahkannya kepada orangtuanya dan mereka memutuskan untuk memberitahukan kedatangan mereka menuju desa.

Perjalanan menghabiskan waktu satu hingga dua hari, untuk itu hingga kedatangan mereka ke rumah pemuda yang syahid itu, diperlukan waktu lima hari dan tidak ada bau busuk maupun darah mengering sama sekali.

Mereka membawa jenazah pemuda itu keluar dari van dan menempatkannya di halaman rumahnya. Warga mulai berdatangan dan bertanya-bertanya, dan Mujahidin berusaha keras untuk menjelaskan dan menguatkannya dengan ayat al Quran dan Hadist, meskipun tak seorangpun mau mendengarkan mereka.

Tiba-tiba saja mujahidin diminta meninggalkan halaman karena ibu pemuda itu ingin menyaksikan jenazah anaknya dengan mata kepalanya sendiri. Untuk itu, mereka pergi dan menunggu di depan gerbang, tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kecuali berdoa kepada Allah dalam hati.

Salah seorang mujahidin mendengar tangisan dari perempuan itu. Ibu pemuda itu duduk di samping jenazah, kepalanya bersandar di dada jenazah anaknya sembari menangis. Kemudian, cerita mulai berubah, semua orang diam dan Mujahidin meneriakkan takbir, "Allaahu Akbar!"Sang ibu menegakkan kepalanya dan melihat ke arah perempuan-perempuan yang duduk di sekeliling pemuda syahid itu dan berkata:"Kalian semua menangis karena kalian kehilangan keponakan atau anak asuh kalian...Aku menangis karena aku telah kehilangan tiket ke surga. Anakku yang syahid ini, ingin pergi berperang dan aku tidak mengizinkannya, hingga aku selalu menghubungi dan memintanya kembali. Tapi anak ini lebih memilih untuk membuat Tuhannya bahagia dan sekarang aku tak lagi memiliki saham dalam perjuangan dan kematiannya, dimana anakku yang lain? Bawalah ia padaku!"

Kemudian perempuan itu pergi dan mendatangi anak lainnya yang masih berusia 11 tahun. Kemudian ibu dan anak itu berjalan menuju ke gerbang tempat para Mujahidin menunggu, dan berkata:"Kalian, orang-orang yang telah membawa anakku yang syahid. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kalian dan semoga Allah menjaga kalian dalam jalan jihad ini. Anakku yang sekarang syahid pergi tanpa izin dariku dan ia meraih kesyahidan dan aku tidak mendapatkan satupun kebaikan darinya.

Sejak saat ini, melalui anakku yang lain, satu-satunya anakku yang bersisa. Ia masih berusia 11 tahun, untuk itu aku memohon kepada kalian, wahai para pemberani, tanganilah ia. Dan jika saatnya para pemimpin kalian syahid, bawalah anak ini ke garis terdepan dan biarkan ia tercabik-cabik oleh roket hingga aku bisa mengatakan pada Allah swt di hari kiamat nanti bahwa aku telah menyerahkan salah seorang anakku hanya untuk Allah dan Islam."

Mendengar berita ini, Mujahidin langsung menggemakan takbir dan tiba-tia dari setiap rumah, bapak-bapak dan ibu-ibu membawa anaknya untuk menyerahkannya di jalan Allah swt, meskipun Mujahidin telah menolak mereka karena mereka tidak memiliki cukup ruang dan yang kedua hal ini akan membuat organisasi itu terbongkar.

Dari sebuah rumah, seorang ibu menyerahkan anaknya yang masih kecil berusia lima tahun dengan pesan yang terdengar seperti ini:

"Gunakanlah anakku yang lima tahun ini, ikatlah badannya dengan bom, dan biarkan dia ada di jalanan, ketika orang-orang Amerika bertemu dengannya, melihat dan mendekatinya, ia akan meledak dan membunuh banyak musuh-musuh itu!"
Semoga Allah memberkahi kita dengan putra dan putri yang banyak, insya Allaah, amiin, kemudian mereka datang ke medan peperangan, ambil bagian dan bergembira karena membunuh dan mengancam musuh-musuh

Allah swt!



---dilanun dari arrahmah--

READ MORE!

Belajar Melangkah Lagi (1)

Posted: Selasa, 03 Maret 2009 by Divan Semesta in
5

SEORANG sahabat baru baru ini menceritakan bahwa tempat kerjanya seakan al catraz. Ia merasa terpenjara. Ia telah mencapai titik didihnya. Kulminasi kekecewaan yang dia alami bukanJustify Full dikarenakan ia kekurangan uang. Dalam hal material setidaknya dalam sudut tetangga memandang ia telah mendapatkan lebih dari segalanya. Tetapi ia merasa kurang. Ada sisi yang tidak bisa ia lepaskan: panggilan jiwanya.

Untuk pribadi , saya tak tahu apakah saya telah menyambut panggilan jiwa saya. Saya tidak tahu tapi secara general saya merasa nyaman atas apa yang saya dapatkan. Dan ini bukan dikarenakan sy telah menyesap semua yang ada di diagram maslow. Tapi saya tidak peduli apa hidup saya harus di cocokkan dengan piramida tersebut. Karena bagi saya ketika Ira telah mengatakan bahwa apa yang saya lakukan sedikit banyaknya sudah benar, dan dia memiliki impian yang sederhana sama halnya dengan impian saya, maka permasalahan dunia, dalam tanda kutip telah saya selesaikan.

Impian saya sederhana, sy ingin memiliki rumah sederhana, memiliki satu buah kendaraan beratap yang baik, dan menyekolahkan anak saya ke sekolah yang mampu membimbingnya mengenai makna hidup ini. Saya tak punya impian berlibur setiap tahun ke Karibia, atau mengemudikan yatch pribadi di lautan eropa, memiliki rumah ya sebesar Buckingham palace atau rumah pemilik SDSB di Bogor atau bahkan mengimpikan rumah sebesar rumah pramudya ananta toer. Impian saya benar-benar sederhana.
Saat memutuskan batas impian yang sederhana itu, saya bahkan telah bicara dengan atasan sy. Ini artinya saya berbincang dengannya . Dan ia tahu mungkin selamanya saya tak ada di perusahaan tempat saya bekerja. Kalaupun masih, saya jelaskan nggak akan neko-neko, tapi bertanggung jawab pasti. Bahkan jika impian itu terpenuhi saya pernah terbayang untuk jualan juice, gado-gado atau gorengan hanya untuk pemasukan sehari-hari saja.
Ketika impian sudah terpenuhi (dari segi material) sy ingin menghabiskan diri untuk mengejar banyak hal. Mengejar ketertarikan saya. Saya ingin Nyawa memahami pola fikir saya. Saya ingin ia berjalan dengan kayakinan yang sempurna sebagai muslimah dan dengannya sy menjadi tak khawatir jika ia membaca beragam buku dan berdialog dengan orang-orang yang berbeda pikiran dengannya. Saya ingin mengeksplorasi ide-ide islam, menelaah Al Quran, melakukan aksi untuk menerapkan apa yang saya pelajari. Sy ingin melatih diri saya. Naik gunung, arung jeram, belajar teknik berkelahi, mempelajari bahan peledak, mengancingkan pistol supaya tak menyalak. Saya ingin melatih diri untuk mempersiapkan perang yang sering dianggap sinis oleh orang-orang. Saya tak peduli karena saya mempelajari sejarah bahwa Hitler tak pernah bisa berhenti jika tak diekspansi, dan orang-orang sakit di Siera Leone, yang memuntungi lengan bayi dan kanak-kanak hanya untuk menunjukkan kekuasaannya tidak bisa di tumbuk selain dengan penaklukan. Apabila dunia yang saya tempati masih seperti ini, maka perang memang harus berlangsung di masa depan.
Impian saya benar-benar sederhana, dan ini semua saya utarakan kepada sahabat saya itu.
“Urang ge hayang kitu deui!” ungkapnya sedikit meratap.
Ah, seperti halnya sebuah kata-kata: kami memang diikat oleh terajut sebuah ikatan yang rekat seperti halnya ikatan ideology yang mampu mengendalikan matahari dari bumi. Dan dari pemahaman mengenai ikatan inilah saya menjadi sedikit sedih.
Saya tahu bagaimana jiwa dia sesungguhnya. Saya sungguh-sungguh tahu bahwa di dalam dadanya bergolak keinginan seperti halnya keinginan yang sama dengan saya dan sahabat yang lainnya. Ia merenungi mengapa, bahkan meminta saya untuk memarahinya.
Sahabat, saya tahu siapa dirimu. Saya memahami engkau sungguh. Saya memahami bahwa penemuan-penemuan mengenai jawaban kejiwaan telah kau selesaikan sejak lama. Saat ia berbicara saya mengetahui ia telah menemukan jawabannya dan ia sesungguhnya menginginkan affirmasi.
Ia memang menginginkan itu. Kau memang membutuhkannya. Maka secara tidak langsung, merapatlah perlahan. Hubungi sahabat-sahabat yang masih merindukanmu. Kau tahu sahabat? Kami tidak pernah menutup pagar ikatan persahabatan ini. Kami sengaja membuka pintu itu agar kau mengetahui tempatmu kembali. Bahwa sahabat-sahabat ini selalu merindukanmu. Perlahanlah tak usah terlalu hardcore. Mainkan saja music atomic kitten yang easy listening. Mari belajar melangkah lagi.

READ MORE!

Miserable Asylum

Posted: Minggu, 01 Maret 2009 by Divan Semesta in
3

(chapter 1 mengenai sakit jiwa)
WANITA itu kurus. Wajahnya selalu ditekuk. Bertemu orang pun jarang tersenyum.

Saya tidak begitu aneh dengan kelakuaannya sebab ibu saya pernah bercerita mengenainya.. Waktu di awal-awal mencari kosan, wanita tersebut keliatan galak sekali: judes dan jutek. Melihat kamar pun kepalanya seperti mendongak. Lihat kanan lihat kiri minim kata-kata lalu pergi. Tapi beberapa waktu kemudian dia membawa uang untuk menyewa ruangan kosan.

Itu baru kejadian yang pertama, kejadian lainnya banyak (termasuk yang terakhir ini sy dengar)

“Si mba itu emang aneh,” kata Ira. “Masak dia ngebongkar-bongkar baskom merah jambu buat setrikaan. Mana nggak bilang maaf, padahal di sana ada Isum yang lagi nyetrika. Bongkar baju, bongkar celana, langsung pergi aja.” Orang yang aneh, tambahnya.

Lalu sy pun mendengarkan cerita lainnya. Beberapa waktu lalu wanita itu pernah di jambret handphonenya. Sialnya kejadian itu tepat di tanjakan rumah ibu saya. Wanita itu berteriak-teriak meminta tolong tapi tidak ada reaksi dari sekitar. Anak-anak muda yang biasa menjaga cd, penunggu warung kelontong juga tukang parkir tidak beranjak dari tempatnya. Mereka Cuma melihat.

Setelah kejadian itu saya mulai berprasangka pada anak-anak muda yang suka nongkrong di jalan. ternyata, beberapa bulan kemudian, sy mendapat kabar bahwa bibi saya pernah bertanya langsung pada anak-anak di atas mengenai peristiwa penjambretan itu. anak-anak muda itu ketawa. “Biarin aja nggak usah ditolongin,” katanya. Lanyas muncullah keluhan terhadap sikap individualistik si wanita: entah jutek atau judesnya, entah pandangannya yang melecehkan (menurut anak itu) dan sebagainya.

“Insomnia,” kata Ira menawarkan kemungkinan.
“Insomnia? Siapa yang insomnia?” tanya saya.
“Itu … orang yang hilang ingatan…?”
“Oh si mbak itu amnesia.”

Saya tergelak.
Ini bukan hanya amnesia. Lebih dari sekedar amnesia …

Wanita itu tidak sadar bahwa dirinya sakit. Dan orang sakit itu banyak.
Lantas saya dan Ira mulai menderetkan nama sahabat, teman-teman dan keluarga.
Ternyata dunia tempat saya berada dikelilingi oleh banyak orang-orang sakit.

* * *

Dulu saya pernah berurusan dengan seorang wanita. Pemikirannya luar biasa. tapi tidak seimbang dengan perkembangan psikologi dan mental. Setahun kemudian, kakak si wanita itu datang dan menanyakan dengan wajah merah bara.

Saya mewajarkan sikapnya karena mungkin sy pun bakal bersikap sama jika adik sy lost control dan orang yang menyebabkan hal itu ada di hadapan sy..

“Divan,” tanyanya. “pernah meminang Susi Air (cieh namanya. Ini nama samaran)?”
dan saya jawab nggak pernah. Susi Air itu bukan tipe saya.
“Tapi Susi bilang kamu pernah mengkhitbahnya!”

Saya melihat keganjilan yang membuat terang. Sy mengelus dada, untung saya bersikap netral ketika wanita itu menceritakan jika dia pernah diintip oleh teman saya. Dan masih menurut pengakuan wanita itu, teman yang dituduh tukang ngintip tersebut pernah ia pukul gara-gara perilaku tak senonohnya. Dan saya yang kebetulan pernah dekat dengan lelaki yang dituduhnya, tidak pernah sekalipun melihatnya bersikap cabul. Sy anggap dia tak memiliki bakat.

Sy lantas menggali-gali lagi kebelakang apa yang pernah terjadi: bagaimana wanita itu mengirim buku satu kardus untuk saya miliki, mengirim buah-buahan dan acap mengirim surat nasihat dengan gambar-gambar pertarungan. Dalam gambarnya ia hampir selalu menyertakan pria dan wanita yang tengah memegang pedang. Luar bisanya lagi, pedang itu mengucurkan darah. Tes, tes. Mengingatnya kadang membuat sy merinding.

Sampai saat ini saya merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Saya tidak tahu nasib wanita itu seperti apa karena saya tidak mengetahui alamat kontaknya.

Saya khawatir apa yang dirasakannya itu muncul dari tukar pemikiran yang kami lakukan. Tukar pemikiran itu bukan tentang perasaan tetapi mengenai konsep perubahan yang antara kami tidak memiliki kesamaan.

Dan selanjutnya saya tidak bisa mengkontrol apa yang terjadi.

Di satu sisi saya merasa bersalah karena –sy merasa—akalnya yang hampir hilang dikarenakan benturan pemikiran (yang bagi saya biasa saja), tapi ternyata mengacaukan pikirannya.

Dia yang ingin merubah sy tidak pernah meyakinkan ketika berdialog (karena tipe dia bukan tipe sorang pembicara). Teman-temannya kemudian datang. Pemikiran sy tetap nggak bisa digoyang, Atasannya datang. Dan hal ini terus menerus terjadi selama berkali kali. Hingga kemudian sang kakak wanita malang itu mendatangi sy.
Ini sebuah pengalaman buruk.

Sungguh, saya berniat menceritakan banyak hal lain, namun cerita ini akan menjadi panjang. Dan saya hanya akan merangkumnya agar kalian tidak perlu membaca lama untuk mengerti apa yang ingin saya bagi.

* * *

Menurut teman sy, hal yang pernah dialami wanita itu pernah pula menjangkiti anak muda di sebuah sekolah di Bogor. Seorang murid sekolah terkenal di Bogor berteriak naik ke atas meja di saat pelajaran indoktrinasi (kalau nggak salah PPKn). Teriakan anak muda itu seperti halnya teriakan-teriakan dalam demonstrasi. Akal pria muda itu hilang.
Semenjak kasus itu muncul, pergerakan yang jaringannya termasuk paling kuat di Bogor di cut off.

Sahabat lainnya pernah pula menceritakan hal yang sama mengenai penghuni rumah sakit jiwa Bandung. Yang luar biasa, di dalamnya terdapat banyak orang-orang pergerakan.

Ada pula seorang pria (yang kami kenal) di kala sakit menyebut-nyebut nama tokoh yang menjadi ideology sebuah partai. Pria malang itu berteriak parau di bangsal rumah sakit. Ia berkisah tentang perjuangan, mengenai rumitnya keadaan dan kekacauan. Matanya seperti kosong. Teriakannya seperti sebuah siaran yang keluar dari speaker radio lawas.

Menyedihkan sekaligus mengharukan.

Saya bersimpati. Apa yang terjadi pada contoh kecil dalam hidup saya, dan beberapa kisah yang diceritakan sahabat saya, lagi-lagi berawal dari benturan ide yang luar biasa keras.

Seseorang yang di dalam dirinya tertanam ideologi kemudian memahami bahwa lingkungannya maka dengan keberadaan ideologi ia berarti ia tengah menggenggam sebuah bara. Di awal perubahan pemikirannya (atau selanjutnya) seseorang akan terkejut. Ia akan menyalahkan sistem yang diberlakukan atas dirinya, atas masyarakat di sekitarnya. Ia memiliki kemungkinan besar untuk menyalahkan dirinya.

Dalam kasus-kasus di atas, penyalahan diri itu sampai pada penyalahan diri yang radikal. Ketika menyaksikan realita tak sesuai dengan idealisasinya, seseorang akan merasa sedih bahkan menangis.

Disaat seperti ini persiapan mental diperlukan.

Jawaban-jawaban, “Lawan aja! Guru kamu salah!” atau, “Tentang saja orang tuamu!” karena pola pikir mereka yang –dianggap-- rusak merupakan pola melawan tanpa mempertimbangkan strategi baik dan buruk (sesuai dengan etika islam atau tidak). Pola seperti ini akan mengakibatkan munculnya generasi generasi perlawanan dengan jiwa yang luar biasa rapuh. Hal ini menakutkan.

Celakalah mereka yang menginjeksikan pemikiran tetapi tidak mempersiapkan mental yang kuat untuk menghadapi kegalauan.

Jika di dalam jiwa kita terdapat keinginan melakukan perubahan social: jangan jadikan orang-orang disekeliling kita sebagai robot. Jangan anggap mereka seperti halnya benda yang bisa sembarang dimasukan chip program. Jangan sembarang menjadikan mereka manusia yang dikepalanya hanya ada kata-kata lawan-lawan tanpa berpikir melawan yang seperti apa.

Apa yang ingin saya bagi pun, tidak hanya terjadi di kalangan pergerakan.
Diperusahaan-perusahaan orang-orang terlihat rapih, berdasi, yang wanita harum tetapi banyak dari mereka yang sakit, lebih mementingkan luxnya sebuah materi ketimbang fungsi. Chris martin mengatakannya when you get what you want not what you need.

Banyak orang-orang yang memperbincangkan orang lain. Perbincangan itu dianggap kritik. Mereka tidak memahami bahwa kritik adalah sebuah hal yang indah: bukan kedengkian.

Sinetron sinetron rekaan Raam Punjabi dengan Kapitalisme Multivisionnya adalah refleksi senyata-nyatanya dunia tempat kita tinggal. Semua unsur kedengkian, penyakit hati, syakwasangka menjadi diraja di dalamnya. Pemilu adalah juga sebuah opera sabun yang nyata mengenai negara yang di dalamnya terdapat banyak manusia yang sakit jiwa.

Di sekeliling saya, disekeliling kamu banyak orang-orang yang sakit. Kerapuhan itu bukan hanya dari benturan-benturan pemikiran melainkan –pula-- dari propaganda penghambaan terhadap benda.

Usaha menanam kebajikan harus disertai managerial mental agar pada saat menggenggam bara itu kita tak harus menjadi "sakit" karenanya.

Inilah akhirnya…

---------------------------
Nb:

Nietzche itu menjadi gila karena emosinya labih, mentalnya keropos. Ia memiliki “idealisme” mengenai manusia dan masyarakat, tetapi “idealisme” itu bertubrukan dengan kenyataan. Dan ia tak berhasil memanage-nya. Nietzche gila. Ia terpejara dalam filsafatnya.

READ MORE!