Tuhan

Posted: Selasa, 24 Februari 2009 by Divan Semesta in
0

TEKA yang berteki ini saya dapet dari dosen saya, kapan waktunya, sudah along time ago.begini pertanyaannya:

“Kita bisa melihatnya setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik bahkan. Menteri juga bisa melihatnya. Tapi tidak sesering kita. Presiden apalagi. Jarang banget melihatnya... tetapi, tuhan tidak bisa melihatnya. Pertanyaannya, apa yang engga dapat dilihat Tuhan?

Mau tahu jawabannya? Sebentar, ini bukan masalah SARA, ini jawabannya ilmiah. Sini saya bisikkan jawabannya ke kupingmu: “SESAMANYA!”

Saya sepakat. Dalam pikiran saya, tuhan itu maha kuasa. Maha pencipta. Tuhan itu Esa. Tuhan itu satu. Tuhan itu tunggal. Karena itu yang tidak dapat dilihat adalah SESAMANYA.

Sejenak sepi. Sebuah pernyataan ganjil, tak disangka. Tapi tidak dapat dibantah kebenarannya. Demikian hebatnya si penemu tekateki ini. Dengan kemampuan mengolah kata, membalik logika, dia mencari celah. Membalik kelemahan menjadi kelebihan. Bahkan dengan kepiawaiannya seolah-olah manusia punya kelebihan dibanding sang Penciptanya. Sekarang tugas kamu bikin tetateki yang engga basi. Sudah siap?

----------------------
Nice post
Grabbed from hoaknyadivansemesta.multiply.com (ini bukan multyply gw ya)

READ MORE!

Direct Action II

Posted: Senin, 23 Februari 2009 by Divan Semesta in
6

(sambungan direct action 2)

MEMBACA
tulisan direct action karangan Divan Semesta memang membuat jiwa muda ini terprovokasi. Ia pandai betul mengaduk-aduk emosi pembaca. Jika ia mau, ia bisa menandingi Romi Rafael. Kalimat demi kalimat yang ia tata sudah seperti pendulum besi yang bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menghipnotis pembaca. Mengingat dahulu ia adalah penggemar berat Nietsczhe, tak aneh jika tulisan-tulisannya itu mirip seperti palu raksasa yang siap meluluh-lantakkan kesadaran pembaca. Saya tidak bermaksud membesar-besarkan Divan Semesta. Namun, memang seperti inilah kiranya yang sering saya rasakan ketika membaca sebagian besar tulisan-tulisan beliau. Saya terhasut. Saya terhanyut.

Namun, sekarang saya sudah tahu di mana saya mesti terhanyut, dan di mana saya mesti memegang akar-akar pohon pemikiran saya sendiri, untuk kemudian menepi, bangkit berdiri, dan berteriak lantang kepada beliau: “Woi, Divan Semesta! Kali ini aku nggak mau terhanyut oleh derasnya arus celotehan igauanmu! Aku ingin membuktikan kepada kamu, bahwa meskipun kadang masih suka sedikit goyah, aku masih bisa bertahan dan berdiri tegap dengan kepala menantang!”

Saya memang sepakat dengan definisi direct action yang Divan Semesta paparkan. Direct Action memang seperti itu. Direct Action atawa aksi langsung adalah sebuah bentuk kontrol diri yang tidak perlu memusingkan segala macam bentuk hirarki. Saya punya kepala, saya punya tangan, saya punya kaki, dan saya punya kuasa terhadap tubuh saya sendiri atas apa yang akan saya lakukan nanti. Peraturan daerah tidak mengerti tentang saya. Undang-Undang Dasar Seribu Sembilan Ratus Empat Puluh Lima tidak akan pernah paham atas apa-apa saja yang terjadi di dalam diri saya. Begitu pula dengan pemerintah daerah mau pun pemerintah kota, pokoknya segala macam bentuk regulator yang ada di muka bumi, tidak akan pernah berhasil mengerti tentang saya. Itu sebabnya saya butuh direct action. Saya butuh aksi langsung untuk memenuhi segala keinginan saya yang tidak pernah terpenuhi oleh undang-undang peraturan mana pun. Inilah anarki! Inilah DIY (do it your self)! Inilah direct action!

Direct action sudah ada semenjak Adam dan Hawa masih bersemayam di surga. Tindakan Adam mengunyah buah khuldi yang kemudian berhasil membuatnya terjerumus ke bumi adalah direct action paling purba yang pernah tercatat di dalam lembaran sejarah.

Namun, setelah membaca Direct Action karangan Divan Semesta, saya merasa sepertinya Divan Semesta telah menyempitkan makna Direct Action. Ia memaparkan direct action hanya dalam kerangka pembangkangan saja. Contoh-contoh direct action yang ia tuliskan hanya berkutat di situ-situ saja: menusuk tulang iga seseorang yang telah menyodominya, melempar kaca mobil balap yang knalpotnya sungguh-sungguh sialan di gendang telinga, mencorat-coret poster wajah caleg, menempeli tembok-tembok rumah tim sukses salah satu partai dengan segala macam bentuk slogan, dan lain semacamnya. Sehingga direct action yang ia tuliskan itu seperti terjebak dalam lingkaran: aksi balas dendam. Sedangkan, bagi saya, direct action bukanlah melulu tindakan balas dendam. Meski pun balas dendam memang bisa juga di katakan sebagai direct action, tapi tidak hanya sebatas itu.

Direct action bukanlah tindakan yang rumit. Tidak perlu mengaduk-aduk adrenalin untuk melakukannya. Yang diperlukan hanyalah kesadaran dan kesiapan untuk menerima konsekuensi. Direct action adalah pilihanmu. Apa yang kamu inginkan adalah hak kamu, apa yang kamu dapatkan adalah konsekuensi kamu.

Contoh direct action tidak perlu jauh-jauh. Membantu seorang pengemis buta menyeberang jalan, sebab kamu tahu kalau meminta bantuan ke polisi “si pengayom rakyat” akan sangat membuang-buang waktu. Itulah direct action. Membuang sampah pada tempatnya. Mengantarkan ibu kamu berpergian ke rumah saudara. Mengulurkan tangan untuk membantu seseorang yang ingin naik kereta. Mempersilakan ibu-ibu untuk duduk di dalam bis kota yang penuh. Itulah direct action. Saya tak perlu memberikan contoh banyak-banyak, sebab saya tahu kalian adalah orang-orang pintar, yang hanya dengan diberi sedikit contoh saja pasti kalian sudah cepat sekali paham.

Begitulah. Di sini saya ingin memperluas makna direct action yang tidak dipaparkan oleh Divan Semesta. Direct action bukanlah aksi yang melulu berisikan api pembangkangan, melainkan tentang hubungan antar manusia yang romantis. Direct action tidak melulu mengampanyekan semangat balas dendam, tetapi juga mengajarkan kepada kita tentang sebuah tindakan sukarela tanpa perlu ada hasutan. Inilah direct action di mata saya. Direct action sederhana yang akan membuat kehidupan ini menjadi lebih indah dari biasanya.

Salam,
Tukangtidur
-------------------
Setubuh Rex! Sepakat maksudnya.

READ MORE!

Kesepian yang Getir

Posted: by Divan Semesta in
0

IBU saya gemar menonton televisi. Beliau bisa tahan sampai berjam-jam “nongkrong” di depan layar kotak ajaib itu. Pagi hari ia menonton acara infotainment, siang hari ia sibuk mencatat persentase perolehan sms kiriman pemirsa dalam acara Idola Cilik, dan malam harinya ia setia mengikuti kisah cinta Farel dan Fitri yang penuh liku dalam sinetron Cinta Fitri. Tiada hari tanpa televisi, mungkin pernyataan itu tepat sekali jika ditujukan kepada ibu saya.

Mengapa bisa demikian? Begitulah yang selalu saya tanyakan setiap hari. Mengapa ibu saya bisa begitu betah berlama-lama menonton acara televisi yang (menurut saya) amat sangat membosankan? Saya jadi teringat dengan tulisan-tulisan saya terdahulu, yang selalu mengampanyekan semangat antitelevisi. Saya tersenyum sendiri. Saya gencar sekali mempropagandakan antitelevisi kepada orang-orang, sedangkan ibu saya sendiri gemar sekali menonton televisi. Tentu saja saya bukan anak tolol, yang akan berkata kepada ibunya seperti ini: “Bu, jangan nonton tipi mulu. Nggak baek. Tipi itu merusak banget. Liat aja sinetronnya kayak begitu. Pamer kekayaan, padahal negara ini kan miskin. Liat aja acara-acara infotainmen, itu kan sama aja membudayakan prilaku gosip alias ghibah. Bu, tipi itu nggak bagus banget. Semua yang ditampilin di tipi itu kan membodohi umat semua, Bu!”

Saya nggak akan berkata seperti itu ke ibu saya. Sebab, sekarang saya sudah tidak ingin lagi menjadi sosok pemuda kolot seperti dulu, yang selalu berkata: “Lawan!”, “Matikan Tipimu!”, dll. Sudahlah. Biar saya saja yang benci televisi. Saya nggak mau melibatkan oranglain. Bertarung melawan hegemoni televisi biar saya jadikan sebagai pertarungan pribadi.

Soalnya, setelah mengamati kemesraan ibu saya dengan televisi, saya jadi sering merasa malu terhadap televisi. Televisi telah berhasil menemani hari-hari ibu saya yang sepi. Ya. Bisa dikatakan ibu saya adalah seorang perempuan yang hari-harinya selalu sepi. Beliau tinggal di rumah kakak terakhir saya. Setiap pagi kakak terakhir saya dan suaminya pergi bekerja. Tinggallah ibu saya di dalam rumah. Memintal kesunyian. Ketiga anaknya telah menikah dan hidup bersama suami-suami mereka. Saya memang belum menikah, tapi saya tinggal bersama kakak pertama saya dan jauh dari ibu saya. Seminggu sekali saya pergi ke rumah kakak terakhir saya, untuk berjumpa dengan ibu saya. Dalam perjumpaan itulah akhirnya saya menemukan gambaran betapa ibu saya dan televisi terlihat begitu akrab. Begitu mesra. Saya sangat cemburu ketika menyaksikan ibu saya tertawa-tawa menonton sinetron Menantu dan Mertua. Saya memang ikut nonton bareng bersama beliau. Itu sebabnya saya membuat tulisan ini. Menyaksikan kedekatan ibu saya dengan televisi dan mengingat tulisan-tulisan lama saya yang antitelevisi, membuat saya tersenyum kecut. Mengapa dulu saya begitu egois?

Jika dulu ibu membaca tulisan-tulisan lama saya yang antitelevisi, mungkin beliau akan berkata seperti ini: “Enak aje lu kalo ngomong! Matiin tipi. Matiin tipi. Otaklu kemane? Lu pikir enak idup di dalem kamar yang kagak ada tipinye? Kagak enak! Elu sibuk kerja, kakak-kakaklu sibuk kerja dan ngurusin anak-anaknya. Siapa yang ngurusin gue? Ibu udah tua, Di! Elu belum pernah ngerasain jadi tua, sih. Kagak enak. Sepi banget. Daripada bengong aja kayak oranggila, mendingan gue nonton tipi. Nonton Idola Cilik, Cek n Ricek, Cinta Fitri. Ati-ati lu kalo nulis. Emang sih tipi itu kebanyakan nggak bagusnye, tapi mau gimane lagi? Merasa sepi itu kagak enak. Jadi ngeri. Soalnya jadi inget mati. Kalo lo mau gue nggak nonton tipi, elu mau nemenin gue tiap hari? Mau kagak lu? Yang nemenin gue di saat-saat sepi itu cuma tipi doang, Di. Anak-anak udah pada kawin dan udah pada pergi semua. Tinggal orangtuanya yang terbungkuk-bungkuk di dalem rumah memintal-mintal kesunyian!”

Untungnya ibu saya tidak membaca tulisan-tulisan lama saya itu. Syukurlah. Setidaknya saya tidak perlu merasa berdosa karena telah melukai hati beliau. Maafkan anakmu ini, Ibu, karena tak bisa menemanimu setiap saat. Tidak seperti televisi, yang selalu ada di saat kamu membutuhkannya.

Salam,

----------------------------
Hadi
Seorang anak yang baru saja belajar merangkak

READ MORE!

Muslim Rohingnya

Posted: by Divan Semesta in
0

TAHUN 2009 diawali berbagai berita menyedihkan bagi umat Islam. Bukan hanya di kawasan Gaza darah umat Islam mengucur, tetapi di kawasan kita, Asia Tenggara, darah umat Islam ‘kembali’ tercecer. Muslim Rohingya mengungsi ke Indonesia dengan kapal setelah mereka disiksa dan diusir tentara Thailand tanpa motor, tanpa layar, dan tanpa bekal. Mereka mengaku mengungsi karena dipaksa menjadi penganut Buddha, jika tidak jari mereka akan dipotong oleh rezim militer Myanmar. Kisah mereka semakin menyedihkan ketika berbagai media menyebut darah saudara sesama Muslim kita sebagai ‘manusia perahu dari Rohingya’ dan banyak dari generasi muda (bahkan generasi tua) Muslim di Indonesia yang belum mengenal mereka.

Perkenalkan: Muslim Rohingya

Membicarakan Muslim Rohingya tidak bisa dilepaskan dari aspek geostrategis tempat tinggal mereka, Arakan. Arakan, sebelumnya disebut Rohang, merupakan wilayah di bagian barat laut Myanmar dan berbatasan dengan Bangladesh (lihat peta). Bangsa Rohingya telah tinggal di Arakan sejak manusia mulai mengingat mereka. Mereka adalah rakyat dengan budaya dan peradaban khas dibandingkan etnis lain di Myanmar. Mereka merupakan keturunan campuran Bangsa Arab, Moor, Patani, Mongol, Bengali, dan Indo-Mongoloid. Hasilnya, kebanyakan dari mereka memiliki kulit gelap yang khas dan lebih mirip Muslim Bangladesh ketimbang suku Birma.

Sebagaimana dakwah Islam dibawa oleh para pedagang, maka Islam pasti akan mudah dijumpai di wilayah-wilayah strategis, sebagaimana sifat alami kedatangan para pedagang. Tidak heran jika Islam telah datang dan dipeluk warga Arakan semenjak abad ke-7 Masehi. Sama seperti masa kedatangan Islam ke wilayah strategis Malaka dan Palembang (Sriwijaya).

Wilayah Arakan ini ditinggali oleh dua etnis, Rakhine yang Buddha dan Rohingya yang Muslim. Dari jumlah penduduk Myanmar yang sekitar 50 juta, dan penganut Islam 8 juta (2006), sekitar 3,5juta dari mereka adalah Muslim Rohingya dari Arakan. Disebabkan penyiksaan melalui pembersihan etnis dan tindakan genosida terhadap Muslim Rohingya, sekitar 1,5 juta orang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah dan hati mereka semenjak kemerdekaan Myanmar pada tahun 1948. Mereka kebanyakan mengungsi ke Bangladesh, Pakistan, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Thailand.

Sebagian besar Muslim Rohingya menggantungkan hidupnya kepada pertanian. Sebagian kecil saja dari mereka yang menjadi nelayan, pedagang, dan pebisnis. Ada juga yang menjadi seniman, pandai besi, dan pemahat. Oleh karena diskriminasi terhadap mereka, Muslim Rohingya menjadi tuna wisma. Sawah mereka dirampas oleh penghuni baru yang kebanyakan Buddha. Produk pertanian pun diberikan pajak yang tinggi, termasuk peternakan, seperti sapi, kambing, dan unggas. Mereka juga terpaksa menjadi buruh tani dengan bayaran yang sangat murah dan hidup di bawah garis kemiskinan.

Saat ini, jumlah pedagang dan pebisnis Rohingya benar-benar turun drastis. Mereka tidak diperbolehkan untuk menjalankan perdagangan dan bisnis dengan bebas. Kadangkala, mereka harus membagi bisnis mereka dengan golongan Buddha yang tidak berbagi peran maupun investasi. Rezim militer telah melarang Muslim Rohingya untuk membela hak-hak mereka atas pendidikan dan pekerjaan yang layak. Rezim militer bahkan telah berhenti melakukan perekrutan PNS dari kalangan Muslim Rohingya semenjak tahun 1970an. Tidak boleh ada prajurit Myanmar yang berasal dari kalangan Muslim Rohingya.

Muslim Rohingya adalah penganut Islam yang taat. Kebanyakan tetua Rohingya menumbuhkan dan merawat janggut dan para wanitanya mengenakan hijab. Semua rumah Muslim Rohingya dikelilingi oleh dinding bambu yang tinggi. Ada masjid dan madrasah di setiap desa. Lelaki muslim mengerjakan sholat di masjid berjamaah sedangkan yang wanita sholat di rumah. Ikatan sosial / ukhuwah yang melembaga di antara Muslim Rohingya dikenal dengan sebutan Samaj. Semua aktivitas sosial seperti pembagian daging kurban, membantu orang miskin, janda, anak yatim, dan orang yang membutuhkan pertolongan, serta fungsi pernikahan dan penguburan diemban oleh Samaj. Ulama juga memainkan peranan penting dalam masyarakat, terutama terkait hukum privat, seperti urusan keluarga. Sayangnya, sekarang Muslim Rohingya terdesak oleh tekanan budaya Buddha. Menurut junta militer, Muslim Rohingya harus mengadopsi pemikiran ras dan budaya Birma serta Buddha.

Awal Kisah Tragis Muslim Rohingya

Selama Perang Dunia II, pasukan Jepang menginvasi Myanmar, lalu wilayah ini berada di bawah kekuasaan kolonial Inggris dan menyebutnya sebagai Birma. Pasukan Inggris mundur dan memunculkan vacuum of power yang menciptakan kekerasan komunal. Termasuk kekerasan di antara warga desa Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya. Pada tanggal 28 Maret 1942, sekitara 100.000 Muslim Rohingya (hampir separuh dari populasi Muslim Rohingya pada waktu itu) dibunuh oleh orang-orang Buddha Rakhine.

Pada masa junta militer, Muslim Rohingya dipaksa untuk meninggalkan nama-nama Islam dan menggunakan nama-nama Birma. Setiap bangunan yang mengesankan simbol Islam diratakan dengan tanah. Ratusan masjid telah diledakkan. Pembangunan masjid baru atau renovasi masjid juga dilarang. Pagoda, biara, dan kuil Buddha didirikan di setiap sudut dan sela-sela tanah Muslim Rohingya. Pelajar muslim dicuciotaknya di sekolah-sekolah di mana ajaran-ajaran anti-Islam dijejalkan kepada mereka. Islam dan budaya Islam selalu digambarkan dengan cara-cara yang memalukan, menghinakan, merendahkan, dan menyimpang.

Sebelum junta militer merebut wilayah Rohingya pada tahun 1962, Muslim Rohingya tak kalah maju dengan komunitas Buddha di Arakan. Hanya karena kemiskinan, diskriminasi dan penyiksaan terus-menerus atas diri mereka, jumlah pelajar Rohingya turun drastis. Mereka dipersulit untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi di kampus dan universitas. Larangan-larangan bagi Muslim Rohingya telah diberlakukan untuk mencegah mereka mendapatkan karir profesional karena mereka dipertanyakan kewarganegaraannya.

Sebelum tahun 1962, komunitas Rohingya telah diakui sebagai etnis nasional endogen Birma. Mereka memiliki perwakilan di Parlemen Birma, dan beberapa di antaranya telah ditunjuk sebagai menteri dan sekretaris parlemen. Pada masa pemerintahan Presiden U Nu, Sultan Mahmood yang merupakan hartawan dan orang berpengaruh Rohingya menjabat sebagai Sekretaris Politik, lalu menduduki jabatan Menteri Kesehatan. Anggota kabinet lainnya adalah Abdul Bashar, Zohora Begum, Abul Khair, Abdus Sobhan, Abdul Bashar, Rashid Ahmed, dan Nasiruddin (U Pho Khine). Beberapa tokoh seperti Sultan Ahmed dan Abdul Gaffat menjadi sekretaris parlemen.

Setelah rezim militer berkuasa, mereka telah menghilangkan hak politik Muslim Rohingya secara sistematis. Dengan diundangkannya UU Kewarganegaraan tahun 1982 mereka disebut sebagai warga ‘non-kebangsaan’ atau ‘warga asing.’ Muslim Rohingya pun resmi dideklarasikan sebagai warga yang pantas ‘dimusnahkan.’

Rezim junta militer mempraktekkan dua kebijakan de-Islamisasi di Myanmar: pemusnahan fisik melalui genosida dan pembersihan etnis Muslim Rohingya di Arakan, serta asimilasi budaya bagi umat Islam yang tinggal di bagian lain Myanmar. Tujuan utama mereka adalah merubah wilayah strategis Arakan (lihat peta) yang didominasi Muslim menjadi didominasi kalangan Buddha dengan merubah konstelasi demografis Arakan. Bahkan kini nama Arakan diubah pemerintah menjadi Rakhine, nama khas Buddha.