Event for All of You: Berandalan Tuhan!

Posted: Selasa, 27 Januari 2009 by Divan Semesta in
0

Hadirilah acara konser amal SOUND FOR PALESTINA bersama komunitas pengamen sejakarta menampilkan THE ROOTS OF MADINAH (17.00WIB), SYIFA ARDHI (14.00WIB), PMDI RYHMES (13.00WIB) THUFAIL AL GHIFARI (16.00 WIB) band - band IKJ, Teater Remaja Masjid Sunda Kelapa dan pembacaan puisi juga penggalangan dana untuk Palestina. KAMIS 29/01/2009 Tempat teater kecil TAMAN ISMAIL MARZUKI dari pukul 09.00-21.00 WIB

Mudah2an saya bisa datang!

READ MORE!

Akan Kupiting Tuhan!

Posted: by Divan Semesta in
2

Tuhan lupa hingga ia menyisipkan pelangi di antara awan. Dulu ia pernah berjanji tidak lagi mengirimkan banjir bah ke atas dunia. Dan pelangi itu merupakan penanda agar tuhan tidak menyalahi janjinya.

Sahabatku tersenyum membaca kisah itu.

“Jika tuhan pelupa,” ujarnya, “bisa-bisa orang yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah dan menjauhi tabu, memiliki kemungkinan untuk dicelup di dalam wajan neraka.”

Dan siapapun pasti tidak mau mengibaratkan dirinya dengan sosis mr celup.

"Bagaimana dengan orang yang seumur hidupnya menghabiskan diri dengan perbuatan cela?” sahabatku kembali bertanya.

“Bisa-bisa tuhan malah mengirimkan dia ke neraka. Sebab tuhan bisa lupa. Dan kalaupun tuhan tidak lupa…dia bisa kita dipiting. Setelah dipiting tinggal diancam… Tuhan, masukan aku ke surga! Kalau nggak … lu gua piting lagi. Mau? Mau? Mau?”

Masalah piting memiting ini memang diberitakan dalam al kitab.
Diceritakan bahwa seorang nabi pernah memiting tuhan dan tuhan mencicit ketakutan --bukan hanya oleh smackdown-an melainkan juga karena datangnya fajar.

Tuhan macam mana yang takut oleh cahaya?

Content bible atau injil memang luar biasa aneh. Saat membacanya tak ubah, si pembaca seperti halnya dibawa ke dalam Illias, Odissey dan dongeng-dongeng pagan yunani lainnya.

Tak heran jika di eropa dan amerika kemudian didominasi oleh pamahaman anti tuhan dan agnostisme.

Tak heran, sungguh masuk akal sebab kitab suci yang pernah menjadi ruh Byzantium itu diisi oleh kisah nabi yang dibuat mabuk arak lantas anaknya gantian menyetubuhi sang nabi; kemudian ada lagi kisah bagaimana nabi tergioda oleh wanita yang dianggapnya sundal dan yang luar biasanya ia mengetahui bahwa sundal itu merupakan janda anaknya –yang merupakan leluhur kristus.

Sudah?

Belum! Karena kita harus membaca verses yang menceritakan bagaimana tegaknya zakar menyerupai kekekaran zakar kuda (aku tidak menyarankan untuk membayangkan). Belum lagi yang bercerita mengenai buah dada yang ranum seperti rangkaian buah kurma.

Uf,
Aku tak tahu mengapa orang-orang faith freedom demikian melecehkan al quran, sementara kitab suci mereka luar biasa melecehkan derajat kemanusiaan.

Apa mereka tidak pernah membaca kitab sucinya sendiri?

Apa tidak pernah terbetik dalam pikiran mereka bahwa kitab suci yang mereka pegang adalah kitab suci yang tercemar.

Dan hal lain lagi yang membuatku sulit mengerti adalah: di saat teks sebuah kitab suci berisi teks-teks yang menjauhkan manusia dari kemanusiaannya, kalangan islamliberal atau anandkhrisna mengatakan bahwa seluruh agama itu sama.

Aku tak habis pikir.
Bagaimana dengan kamu?

READ MORE!

Nietzche dalam Diriku

Posted: Senin, 19 Januari 2009 by Divan Semesta in
8

Sampai saat ini Nietzche masih mempengaruhiku. Demkian dengan Soren, Berdayev (tetapi tidak untuk Sartre). Namun si filsuf palu, si rajawali gila yang cakar terkuatnya adalah Spoke of Zarathustra itulah yang paling merubah diriku (mungkin lebih tepatnya –secara general--- menguatkan diri untuk mempercayai diri sendiri, berada diatas lutut dan kaki sendiri)

Saking cantik dan menariknya Nietzche, aku bahkan pernah mengatakan bahwa kitab yang paling indah di dunia itu bukan Al Quran. Alasannya sederhana, aku muslim dan sayangnya aku tak merasakan cita rasa seperti halnya ketika aku merasakan kecantikan Spoke of Zarathustranya Nietzche.

Temanku mengatakan sebaiknya aku mempertimbangkan apa yang kuakui, meski pun ia tahu bahwa dengan pengakuan itu bukan berarti aku memurtadkan diri. Ia mengetahui benar bahwa aku hanya berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. Dan lagi-lagi ia pun mengatakan bahwa sangatlah wajar jika aku tidak merasakan taste nya al Quran karena aku tidak mengerti bahasa Arab. Maka –masih menurutnya-- aku menjadi sangat keliru ketika menilai al Quran dari terjemahannya.

Maka aku pun mengajaknya mendatangi alam berpikirku.
“Jika jawabanmu hanya seperti itu kupikir Spoke of Zarathustranya Nietzche akan menjadi semakin indah jika aku mengerti bahasa ibunya (kalau tidak salah bahasa German).”

Bagaimana tidak indah, jika penterjemahannya menjadi sesuatu yang sangat indah. Kurasa, tastenya Nietzche mungkin hanya bisa disamakan oleh Saad atau perkataan-perkataannya imam Ali (karena terjemahannya demikian indah).

Aku bukannya menafikan Quran sebagai sebuah kebenaran pada saat itu, karena aku memahami bahwa kebenaran al kitab tersebut bisa ditelusuri melalui otentisitas dan kandungan-kandungan keajaiban yang ada di dalamnya (coba baca Membumikan dan Wawasan Qurannya Dr. Quraisy Shihab).

Aku hanya menganggap bahasa Al Quran tidak memberikan memberikan banyak influence yang diawali dari apresiasi bahasa. Kalau tidak salah baca, hal yang kurasakan ini pun pernah dirasakan Goenawan Mohammad.

Tapi aku bukanlah kakek tua Goen. Aku masih mempercayai, aku masih mengimani Al Quran… dan ketika seorang temanku bernama Khusnul dengan santainya mengatakan, bahwa apresiasiku terhadap Nietzche wajar karena, “keadaan keadaan mental yang pas dengan Spoke of Zarathustra-nya Nietzche.”

Aku merasa sebuah hijab terbuka setelah beberapa tahun, aku tak bisa mendeskripsikan perasaan apa yang kualami ini.

Aku mulai merenung kembali mengapa Spoke of Zrathustra benar-benar mempengaruhi diriku..

Di akhir umur 23 aku sungguh mengagumi diri.
Benarlah yang dituliskan Ade dalam Belajar Nakal (buku yang luar biasa).
Pada kisaran umur itu aku merasa tak terkalahkan, aku memiliki sahabat yang luar biasa dan aku semakin merasa di atas, seperti rajawali, aku merasa tak ada satu pun yang sanggup menjatuhkan logika berpikirku.

Aku berada di tengah kemabukan atas diriku sendiri.

Dan pada umur 24 aku pun berkenalan dengan Spoke of Zarathustra.
Cocoklah sudah.
Mabuklah sudah.
Aku mabuk oleh kekuatanku sendiri.
Pada kreatifitasku.
Pada diriku.
Disanalah fase benar-benar mencintai hidup.
Amor fati!
Aku mencintai diri dan hidupku ini.

Kini ketika umurku beranjak di dua delapan, aku mendapatkan jawabannya.
Aku kemudian merenung kembali,
memperhatikan bagaimana sahabat-sahabatku beberapakali kupergoki menangis karena alunan al Quran yang mereka katakana luar biasa.

Sahabatku Heri bahkan pernah menangis terseguk, menghentikan bacaan shalatnya ketika ia membaca surat yang mengisahkan tentang bagaimana keterpisahan ibu dengan anak, anak dengan suami: meski dalam satu barisan tidak ada yang sanggup menolong karna kesempatan untuk tolong menolong telah ditutup oleh hari penghisaban. Setiap manusia diharuskan mempertanggungjawabkan eksistensinya.

Kisah mengenai keadilan, mengenai penghapusan nepotisme di tuangkan dengan sangat indah di sana. Dan sahabatku itu menangkap banyak ayat-ayat al Quran melebihi daya tangkapku terhadapnya.

Bukan hanya sahabatku yang itu saja yang mengalami.

Aku bisa mengatakan Mahdi seorang pria muda yang pengaruh Quran terhadapnya melebihi influence Zarathustra pada diriku. Atau sahabat-sahabat yang lainnya.

Benar apa yang Khusnul sampaikan. Kadang influence sebuah buku tergantung pada kondisi kejiwaan seseorang. Dan ketika magnum opusnya Nietzche telah menghabiskan sekitar empat tahun masa eksistensialis ku, sepertinya … kini saat yang tepat bagiku untuk kembali mempelajari kandungan Quran: mempelajari kandungannya sehingga aku bisa merasakan bagaimana nikmatnya merenung, bagaimana rasanya tertawa atau terseguk ketika ayat-ayat Quran dialunkan.

Di danau filsafat aku telah berenang terlalu jauh.
Aku harus kembali ke tepian.
mengancingkan pakaian,
menuju lepas pantai,
dan meminta bantuan sahabat-sahabatku
untuk membimbing,
menuju samudera luas tak berbatas itu...

untuk mencintai hidup
dan belajar mencintai sisi yang lainnya:
kematian.

READ MORE!

Seiris Luka

Posted: Jumat, 16 Januari 2009 by Divan Semesta in
2

Seorang pria di tempat kerjaku kelihatannya kelihatan sok, dari cara berjalan dan bahu yang ditegak-tegakan. Tapi toh itu kelihatannya, dan aku tak pernah menjatuhkan vonis padanya.

Siang itu ia berhenti diantara dua bilik ruangan. Aku melihat kekhawatiran terpatri di wajahnya dan tiba-tiba pria itu mengeluh:

“Kenapa sih kita tidak menggalang dana… untuk solidaritas?”

Tentunya solidaritas Palestina.

Lalu aku mendekat. Aku berusaha mencairkan suasana. Berusaha memutar, untuk menahan diri dari magnet perasaan yang menguasainya (dan sesungguhnya menguasai diriku juga)

“Mas Mer-C juga buka sumbangan,” sahutku. “Tapi, kalau Mas mau nyumbang senjata, ada jalurnya juga kok.”

Ia kemudian diam.

“Sekarang dingin ya Mas, apalagi di sana,” lanjutku menambahkan.

“Iya,” ia menerawang. “Masya Allah…” Aku melihatnya tersekat. “Orang-orang disana bahkan sudah memakan rumput, Mas!”

Aku tak sanggup untuk melanjutkannya.

Sekarang aku bisa melihat sisi dirinya yang sama rapuh dengan yang kumiliki.
Ya kami memang rapuh.
Tapi itu memang sudah sepantasnya.

***
Usai menggorganisasikan beberapa konsep yang baru saja dilimpahkan atasanku, aku beranjak menuju pantry, tempat biasanya aku menyeduh kopi.

Di dalam ruangan yang hangat itu aku merasa betah. Bukan, bukannya sok-sokkan proletar atau sok-sokan merakyat. Tidak. Aku seperti itu karena aku memang merasa nyaman. merasa hangat.

Sambil menyeduh kopi, pa Kosim, salah seorang office boy tersenior mendadak masuk sambil bicara:

“Keur neangan jelema eh,” ia tergopoh-gopoh.
“Keur naon pa?” tanyaku.
“Baturan urang boga elmu, … elmu ngilangkeun jelema.”
“Keur naon ngilangkeun jelema?”
“Keur ngebom Israel atuh! Keur ngasupan jelema nu mawa bom ka pabrik senjata! Atawa keur ngabom satelit!”

Lantas salah seorang office boy lainnya yang biasa menjadi kurir uang ke bank nimbrung.

“Kumaha mun urang nyokot duit management. Duitna dipake keur ngirim duit ka Palestina.

Mendengar itu aku sama sekali tidak ingin tertawa.
Aku yakin sang office boy tidak akan melakukan apa yang ia katakan.
Dan aku pun berusaha menghindari kegaiban yang tak jelas juntrugannya itu, tapi… terus terang hal itu membuatku terharu.

Aku mulai menyadari wajah-wajah yang seolah tak terpengaruh tragedi,
ternyata menyimpan beban kegetiran.

Wajah yang terkesan biasa saja itu ternyata menyimpan kepedihan…
Memendam luka yang sama.
Seiris luka yang sama … di dada…

---------------------
Kadang Adieu (jendelanalar.blogspot,com) itu pintar :),
Ia benar… ketika mengutip
”knowing nothing is better than knowing at all.”
(The Used, On my Own)

READ MORE!

Stylish

Posted: by Divan Semesta in
0

Badannya tegap, dan berhubung dia pernah menjadi manager Erha Clinic, penampilannya telihat menarik. Rambutnya hampir selalu terlihat basah, pakaian kerjanya senantiasa di seterika rapih dan kadang ia menjadikan kacamata sebagai bando. Lelaki yang kukenal ini memang stylist. Tp aku tidak begitu melihat dia dari penampilannya.

Sudah dua bulan ini aku menodongnya menjadi pembicara dalam session training yang ku kelola. Perusahaan kami memang tengah berada di situasi yang tak menguntungkan, karenanya departemen ku harus menggunakan otak extra memanfaatkan (jangan dipahami negatif ya) sdm yang kami miliki sebagai kekuatan tersembunyi.

Dan aku, melihat pria itu memiliki potensi karena pembicaraan yang sering kami lakukan mengesankan itu. Dan ia pun menyanggupi ketika aku menodongnya (masalah mendongnya dengan pistol atau apa, itu urusanku).Aku meminta dia untuk memilih waktu dan ia memilihnya.

Dan peristiwa buruk pun datang. Pada hari seharusnya ia pentas, ia mengatakan tak bisa. Dan aku pun menggantikan posisinya. Aku mengajukan lagi jadwal dan ia menyanggupinya. Dan di waktu seharusnya ia mengisi ia tidak mengisi dengan alasan yang sama. Dan sejak saat itu aku tidak menganggap janjinya perlu ku anggap serius.

Hingga tak lama kemudian aku kembali bertemu dengannya. Ia bercerita panjang lebar mengenai kekecewaannya terhadap managemen (termasuk departemen tempatku berada).

“Ngapain gw ngebantu lu, kalau departemen lu jg nggak ngebantu gw.”

Terkesan kasar kata-katanya, namun aku tidak merasa hal itu menggangguku. Aku hanya menganggap dia semakin runtuh dihadapanku. Itu saja.

Perkara ia memiliki hak itu perkara lain (karena jika melihat dari pekerjaan yang dilakukan ia layak mendapat apa yang kami dapatkan).

Aku tidak sakit hati karenanya. Aku juga bukan decision maker.
Tidak apa-apa.
Lagipula, masalah keduniawian seperti ini selalu enteng buatku.
Ada lebih banyak hal yang lebih urgen untuk kupikirkan, dan kuambil hati.

Tentu saja, cerita tidak begitu saja selesai karena beberapa waktu yang lalu saat tengah membawa secangkir kopi, aku memergokinya masuk ke dalam ruang rapat. Saat ia berbalik keluar dari ruangan yang hampir selalu disesaki asap itu ia berkata:

“Ada yang pengen gw omongin,” ujarnya.
Lantas kami memasuki ruang rapat. Kutanyakan apa keperluannya.
“Gw Cuma mau buat pengakuan dosa.”
Ia lalu membicarakan tentang perkataannya yang sinis padaku.
“Gw khilaf… harusnya gw nggak ngomong ky gitu.”
Aku masih menunggunya bicara.
“Kemaren gw ngerenung tentang keikhlasan, quantum ikhlas,” ia melanjutkan. “Harusnya orang seumur gw udah harus nyampai kesana. Tapi, ini nggak. Gw mau minta maaf...” pria itu mendesah. “Hm… untuk training ke depannya, insya Allah gw siap!”

Bagiku, moment itu begitu mengharukan.
Aku tidak mau memanfaatkan kata maaf untuk menodongnya mengisi training. Aku hanya bilang padanya. “Kalau mas sudah siap, tinggal sms sy.”

Hanya itu. lalu, karena aku memang harus menyelesaikan sesuatu, pintu kututup. Aku baru saja melihat manusia yang kembali mereproduksi mentalitasnya. Aku tidak melihat pria itu sebagai seorang manusia kerdil, manusia sekepalan batu. Ia menutup kesalahannya (yang sebenarnya sangat manusiawi) dengan cantik Ia menjadi begitu gagah. Menjadi sedemikian gigantiknya.

Hm… hari itu aku benar-benar melihat pria itu sebagai pria yang stylish…stylish dalam arti yang sesungguhnya.

READ MORE!

Boikot dan Bajak!

Posted: Minggu, 11 Januari 2009 by Divan Semesta in
5

Demi Allah, kami sekeluarga akan berusaha menjauhkan diri
dari produk-produk yang menyokong tetap tegaknya Zionis Israel!

Boikot dan Bajak!

READ MORE!

Bulannya Nyawa

Posted: Rabu, 07 Januari 2009 by Divan Semesta in
0

Ada bulan… ungkap Nyawa terbata, sambil melihat jendela.

"Mana bulannya?" Tanya Manda.

Ira tidak melihat bulan itu.
Ia lalu merendahkan kepalanya.
Ia tertawa.
Ternyata dibalik rimbun daun pohon jambu air itu, bulan mengintip kami bertiga.

Saya masih diam sambil memperhatikan Nyawa yang terbata-bata berceloteh.

“Bulan, bulan," panggilnya. "Sini bulan tidur ma Wawa." Ia menepuk2 bantalnya. "Di bulan, minum cucu bulan, makan ot, makan ot.”

Maksud cucu tentunya susu, sedangkan maksud ot adalah quacker oat yang selalu Ira suapkan sehari tiga kali padanya.

Saya melayangkan pikiran, tersenyum betapa saya dikarunia keluarga yang selalu membuat saya ingin pulang.
Setiap sore pikiran saya selalu melanglah ke Nyawa.
Ingin selalu mendengar ia menguik “jangan panda!” akibat saring seringnya saya mengitik-itik pinggang dan ketiaknya yang wangi.

Hm, Nyawa sudah lumayan besar. Terharu rasanya ketika ia mulai terbiasa merangkai kata. Dan ira tentu saja boleh berbangga karena banyak hal-hal yang bersifat spiritual saat ia melihat Nyawa tumbuh dibesarkan oleh tangan dan lisannya.

Dia merawat Nyawa baik-baik, membawanya setiap minggu ke toko buku, mengulang hafalan doa sesaat sebelum kami melihat wajahnya yang tak berdosa terpejam.

Hm saat menulis ini,
saat saya istirahat, saya pun masih melamunkannya.
Memikirkan apa lagi yang nanti bakal ia ceritakan di malam hari.

Adakah malam ini bulan masih ada di atas tempat tinggal kami.
Adakah malam ini bulan tersenyum pada sahabat kecil Nyawa, di sana...
di jalur Gaza?


Bersinarlah terus,
Bulan... Nyawa...
Bercahayalah terus,
Bulannya Nyawa...

READ MORE!

Pemilu : Pencuri

Posted: Minggu, 04 Januari 2009 by Divan Semesta in
3

"Memilih untuk tidak memilih
memang merupakan alasan yang demokratis.
Tetapi bukan dengan alasan sampah macam itu kita melakukannya!.
Memilih untuk tidak memilih merupakan alasan teologis!
Sebab kita muslim!
Stay Moslem
Don’t vote!"

Itu kata sahabat-sahabat saya.

"Mari bertamasya saat hari pemilu tiba!
Jangan biarkan pemilu mencuri hari libur kita!"

Itu kata saya.

READ MORE!

Bisik William Keating: Carpe Diem

Posted: by Divan Semesta in
0

Terkadang rasa sakit itu mengidap seperti kanker,
membuat pikiran kita sesak.
Cukup untuk membuat kita menangis manakala sepi, meskipun musim semi.

Terkadang rasa sakit itu bertingkah seperti anak kecil yang menjengkelkan,
tetapi dalam satu waktu porsinya bertambah liar,
membuat berdebar, menampakkan bagai badai.

Tapi kadang kita pun mesti undur diri sejenak dari kebisingan.
Berusaha menyadari bahwa kita hanya bisa sedikit melakukan.
Di saat itulah hidup menuntut kita untuk menyeimbangkan diri.

Alam pegunungan, arus deras, wajah cantik wanita terkasih kita,
wajah lelaki yang kita pandang bijaksana membisikan
bahwa kita harus tetap mencintai kehidupan.

Carpe diem, bisik William Keating…
amor fati …ujar sebuah tattoo permanent,
dan yang sedikit lebih kasar namun realistis: seize the day!

Berpikir tentang keindahan,
tentang mereguk hari,
mereguk jus biang lala,
tentang menyesapi ruh kehidupan yang kita jalani,
akan membantu kita menyesuaikan posisi kejiwaan
ketika badai informasi datang
mengabarkan kondisi sahabat dan saudara kita nun jauh di sana.

Bukan, aku memberikan saran, bukan untuk melupakan.
Karena jika waktunya nanti tiba,
ruh kehidupan itu akan memberikan kekuatan tak terkira.
Saat memanggul senjata,
saat berhadapan bukan hanya dengan teori
tetapi dengan darah dan daging yang di cemooh semesta,
maka kita akan memiliki kekuatan jiwa yang luar biasa.

Jangan biarkan amarah mengontrol.
Kendalikan amarah itu untuk kita tuangkan pada saatnya tiba.

READ MORE!

Twilight

Posted: by Divan Semesta in
0

Pria itu membuat banyak orang mabuk. Hanya sedikit yang bersikap seperti orang Indian bangsawan seperti Winetou atau Klekih Petra, yang mampu menahan gesture tubuh dan warna muka yang menunjukkan kekaguman. Mau tidak mau gaya bertutur pria berambut panjang ikal bak anggota band metal tahun 1990-an itu memang luar biasa. Jika kebanyakan intelektual kebanyakan bergaya dingin, hingga mengakibatkan banyak orang terkantuk-kantuk, pria ini tidak. Ia merogoh hati dan mengombang-ambingkan pikiran. Ia menyitir ayat berkenan tentang kezaliman yang dilakukan terhadap anak yatim dan tak beribu.

Aroaytalladzi yukadzibubiddiin. Ujarnya. Diselingi gaya bertutur dengan tangan keatas ketika ingin menyeru dan mengaduk-aduk perasaan dengan mengarahkan tangan kea rah jantungnya saat berbicara tentang ketertatihan kalangan miskin tertindas, mau tidak mau pria ini harus diakui sebagai orang yang brilyan dalam melakukan permainan kata.

Ia berkhutbah menyuarakan bahwa IMF, privatisasi merupakan sumber kejahatan yang membuat masyarakat marjinal tidak menimati kesehatan, pangan, pendidikan, yang kalaupun tidak gratis sudah seharusnya dibuat murah.

Ia menjadikan ayat Quran sebagai batu. Dilemparkannya batu itu, pletak! Mengenai kepala-kepala yang tak sadar mengenai bahaya neo liberal. Ia sertakan analisis-analisis kelas, yang kaum pergerakan sudah paham asal muasalnya dari ide mana. Hal inilah yang kemudian membuat saya, tertarik untuk berdiskusi dengannya.

“Apa pandanganmu tentang Marx?”

“Apa salahnya dengan Marx?” tanya dia membalikan pertanyaan dengan saya, seolah ia memang sudah mengetahui maksud di balik pertanyaan itu.

“Bukankah Marx tidak mempercayai agama?” tanya saya mengujinya.

Ia tersenyum gemilang. “Itu salahnya Bung! Marx tidak membenci agama. Ia hanya melihat praktik agama kristiani yang salah. dari hal itu jangan dianggap Marx membenci agama.”

“Jadi Marx sesungguhnya tidak membenci agama?”

“Benar. Kalau seandainya agama mainstream di zamannya berperan seperti agama Kristen yang dijadikan landasan perjuangan di amerika latin, sudah pasti Marx tidak akan mengetengahkan agama sebagai candu. Islam pun demikian.”

“Demikian bagaimana.”

“Islam adalah agama pembebasan. Agama keadilan. Islam adalah teologi pembebasan.”

Saya tertawa. teologi pembebasan itu sekuler, sementara Islam tidak layak untuk disandingkan, dibuat untuk memenuhi kekeringan spiritualitas penganut agama sosialis marxis! Menyamakan islam dengan teologi pembebasan akan mengkerdilkan Islam.”
Dan kami pun terus bertentangangan hingga berdentam-dentam.

***
Baru baru ini sahabatku mengirimkan sebuah surat elektronik. Ia merayakan kesahnya mengenai ungkapan: islam itu wajah lain dari kapitalisme. Ungkapan itu dilontarkan temannya dengan mengatakan:

“Klo kita ngambil untung dari suatu komoditas yang kita jual (M'=M2-M1) maka sebenernya kita telah memperlakukan kaum buruh dengan tidak manusiawi. soalnay nilai-lebih yang kita ambil adalah kerja-lebih-mereka-yang-tidak-kita-bayar.”

Duhai. Dulu di taun 2006 ketika saya bertemu dengan pria berambut panjang bak vokalis Dragon Force, Islam dikatakan perwujudan dari sosialisme. islam itu kiri sejak asal muasal, sejak nabi adam. Sementara, saat ini, pada tahun 2008 ini saya mendapatkan ungkapan Islam merupakan wajah lain dari kapitalisme.

Bingungnya alam berpikir dalam menyamakan Islam dengan Sosialisme dengan Islam merupakan wajah lain dari Kapitalisme, membuat saya tersenyum. permasalahan ini sudah jauh-jauh hari saya selesaikan,. Dan saya yakin sahabat saya itupun telah menyelesaikannya. Ia hanya sedikit resah.

Bagaimana mungkin Islam itu sosialis atau islam itu kapitalis, sementara Islam itu agama langit, sementara sosialis dan kapitalis itu agama bumi. Agama yang dibuat oleh pemikir di muka bumi. Bagaimana mungkin bisa menyamakannya? Namun, jika saya hanya berpendapat demikian tentu selesai sudahlah tulisan ini.

Tidak, lebih dari itu sebenarnya saya hanya ingin sedikit berbagi alat agar kita tahu maksud orang-orang yang menguliti scalp kapitalisme dengan mengatasnamakan Islam selaku teologi pembebasan yang saat ini sudah menjadi hysteria seperti hysteria anak-anak muda meliahat edwar cullum dalam twilight.

Tanyakan saja pada mereka, kenapa kalian hanya mengkritik kapitalisme sementra kalian tidak mengkritik sosialisme, marxisme sebagai ide yang juga harus dikritik.

Lihat saja, imbasnya saat kau menanyakan itu.

Apa dia akan mati-matian mengatakan:

“Islam itu memperjuangkan keadilan dan sosialisme-marxis-komunisme pun memperjuangkan keadilan!?

Keadilan adalah jargon, setiap ide pasti akan mengatakan demikian, tetapi apakah setiap ide memiliki devinisi keadilan yang sama. Jika pembagian waris yang adil dalam Islam adalah demikian dan demikian, bagaimana adil menurut Sosialisme-Komunisme-Marxisme. Di bagi rata? Jika keadilan adalah emansipasi wanita dan pria untuk bekerja dan anak-anak di masukan ke dalam kamp negara untuk dididik (yang sayangnya dalam sejarah dikelola oleh wanita juga) apakah keadilan ini sama dengan islam: bahwa kewajiban laki-laki adalah mencari nafkah untuk keluarganya, dan sang istri hanya berkewahijban membesarkan anak (termasuk mencari pengetahuan untuk mendidik sang anak) maka dimanakah kesamaan antara sosialisme-marxisme-dan Islam?

Apalagi jika dibenturkan dengan teori nilai lebih yang –menurut teman sahabat saya itu—menjadikan Islam yah mirip-mirip dengan kapitalisme.

Jawaban saya, mirip memang, karena di dalam Islam pun tidak dipermasalahkan jika seseorang mengambil keuntungan dari penjualan asal tidak berlebihan dan si penjual tidak diperkenankan untuk mengeksploitasi pekerja.

Tentu, eksploitasinya tidak seperti devinsi eksploitasi dalam kepala si leftist itu. eksploitasi dalam pandangan Islam adalah apabila pekerjan yang di berikan pada buruh, entah dari segi waktu dan materi yang didapatkan akan menjauhkan manusia dari hubungan dengan Allah. Jika seseorang terus menerus bekerja, yang karena kerjaannya itu ia tidak bisa meluangkan waktu untuk beribadah, apabila terus menerus bekerja sehingga ia tidak bisa merenungkan hidupnya, dan membagi waktunya untuk kehidupan keluarga maka disanalah eksploitasi terjadi. Dan lain sebagainya.

Jika devinisi keadilan dan ekploitasi diserahkan pada anak muda leftist itu, bahwa mengambil untung sebuah komoditas yang kita jual, maka kita bertindak tidak manusiawi, karena mengambil kerja lebih yang tidak kita bayar… maka kalau tidak mengambil untung, bagaimana caranya memberi gaji? Bagaimana membedakan antara orang yang memiliki modal, yang ia (pemilik modal itu) berpikir, dan bekerja dengan orang yang tidak punya modal dan bekerja?

Secara kasat matapun hal ini jelas berbeda. Jadi merupakan sebuah kewajaran di dalam kehidupan jika ada yang mendapatkan rizki lebih dan yang tidak. Hanya saja rizki lebih itu memang bukan didapatkan dari hasil ekploitasi. Dan definisi ekploitasi seperti yang diutarakan kalangan leftist harus dianggap sambil lalu saja.

Dianggap sambil lalu karena memang devinisi nilai lebih seperti yang diutarakannya –kalau mau main propaganda2-an-- tidak mencerminkan keadilan sama sekali. Dan yang menjadi pertanyaan. Jika tidak mengambil untung sama sekali, bagaimana orang leftist mau berjualan?

Apa mau mengumpulkan uang, dan setiap orang memiliki saham sehingga semua sama bekerja dan sama menanam uang, seperti konsep Koperasi Restoran Indonesia di Prancis?

Di dalam Islam ada konsep seperti itu pula tetapi ada pula konsep orang yang tidak memiliki modal, atau memiliki modal tapi tidak mau mengembangkan usaha sendiri dan dia bekerja untuk orang lain.

Tidak ada larangan untuk bekerja dalam bidang yang diperkenankan. Menjadi buruh yang halal itu bukan suatu kejahatan tapi bisa menjadi kemuliaan. Nah sekarang, buat para leftist, kalau orang nggak punya modal? Mau dapet uang buat usaha sendiri dari mana? Nunggu terus sampe mampus?

Makanya kalau ada yang mengatakan saya tidak mau diperbudak oleh kerjaan karenannya saya tidak mau menjadi buruh! Maka saya katakan kamu diperbudak oleh logika mu! Kamu terlalu banyak makan tulisan kekiri-kirian. Kemana aja sih kamu ini? Mau jadi buruh mau jadi pengusaha mau buat kerjasama kayak ‘koperasi’ boleh aja, silahkan. Asal halal silahkan.

Kamu tau nggak, kenapa Marx buat teori nilai yang nggak jelas itu? kalau kamu nganggap Marx itu hebat, silahkan saja tidak jadi soal bagi saya. Tapi saya mencoba memberi sebuah kemungkinan lagi. Bahwa, apa yang diungkap Marx tentang kerja bisa jadi karena dia emang nggak bisa kerja. Bahwa Marx secara tidak sadar menggunakan alam bawah sadarnya akibat penyesalan tidak mampu menafkahi keluarga hingga menelurkan konsep yang luar biasa radikal. Bisa jadi.

Hehehe. Itu nggak usah diambil hati kan saya bilang bisa jadi.

(Btw … Den, saya bener-bener bingung mau buat tulisan seperti apa. En, terlambat, huargh! Emotional Bank Accountnya jangan terlalu ditarik besar-besaran ya. Mudah-mudahan nggak ada Rush. Punten. Hampura)

READ MORE!